Authors POV
Pukul 5 sore, Alessa bangkit dari kursi putarnya dan menteng tas nya bersiap untuk pulang.
Yang dia butuhkan hanyalah mandi dengan air hangat lalu minum segelas s**u coklat kesukaannya.
"Jovita" Ucap Alessa yang menatap ruangan sekretaris nya yang sudah kosong.
"Dasar gak setia kawan" Umpat Alessa.
"Alessa bagaimana dengan pekerjaan mu?" Tanya Mr. Ratjendra.
"Aduh.. Aku pusing jika bapak terus bertanya tentang pekerjaan ku" Ucap Alessa memegang kepalanya dengan berlagak seperti orang yang frustasi.
"Cih Drama" Cibir Ratjendra.
Tanpa sadar mereka berjalan berdampingan, membuat semua karyawan menatap Alessa sinis.
Alessa langsung duduk di sofa yang ada di Lobby.
"Ngapain duduk disitu?" Tanya Ratjendra.
"Seperti yang anda lihat, saya sedang duduk" Ucap Alessa polos.
Ratjendra hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan karyawan nya yang satu ini, sangat polos dan menggemaskan.
Hanya Alessa satu satunya karyawan yang berani menjawab ucapannya, jika karyawan lain yang menjadi Alessa pasti mereka akan menjawab anggukan dan gelengan dengan kepala yang tertunduk kebawah. Jangan tanya Alessa, pasti dia akan menatap mata Ratjendra.
"Bukan itu maksud saya, kamu nunggu dijemput atau.." Ucapan Ratjendra terpotong dengan ucapan suara laki laki lainnya.
"Dia nunggu saya" Ucap Gavin dengan pakaian santainya dan jangan lupakan kacamata hitam yang bertengger diwajah tampannya.
Alessa melongo, bagaimana bisa Gavin menjemputnya sedangkan dia tidak meminta jemput. Bahkan dia belum minta jemput dengan siapapun.
"Ayo Alessa kita pulang" Ucap Gavin sambil menarik lembut pergelangan tangan Alessa, membuat gadis cantik itu ikut berdiri dan masuk kedalam mobil mewah milik Gavin.
Ratjendra hanya memasang wajah datarnya tanpa minat, ya dia tidak perduli sama sekali akan karyawannya itu. Tadi itu pertanyaan basa basinya saja.
"Alessa kamu sudah makan?" Tanya Gavin.
Alessa hanya mengangguk tanpa ada niatan menjawab, dia masih was was terhadap Gavin. Dan dia sudah siap memasang kuda kuda jika saja Gavin berbuat macam macam kepadanya.
"Kamu kenapa? Kok diem aja?" Tanya Gavin.
Lagi lagi Alessa hanya menjawab gelengan.
"Rumah kamu dimana?" Tanya Gavin.
Alessa menunjukkan arah rumahnya.
Alessa turun dari mobil milik Gavin.
"Makasih ya" Ucap Alessa tersenyum canggung.
"Oke, see you next week" Ucap Gavin.
Alis Alessa terangkat sebelah membuat Gavin tertawa.
"Saya ada flight besok sampai minggu depan" Ucap Gavin.
Alessa hanya mengangguk tak jelas, setelah Gavin pergi. Alessa berjalan masuk kedalam rumahnya.
"Mommy, Pilot itu seperti apa?" Tanya Alessa manja.
"Alessa masa kamu gak tau Pilot? Kamu kan bukan anak TK lagi" Ucap Audy.
"Bukan, maksud aku bagaimana pekerjaannya?" Tanya Alessa.
"Pekerjaannya penuh resiko dan tanggung jawab, dia tidak hanya membawa nyawanya saja tapi ratusan nyawa yang setia mengikuti dirinya" Ucap Audy.
Alessa memasang wajah suramnya.
"Kenapa sih nanya tentang pilot?" Tanya Christ.
"Ada laki laki yang menyatakan jatuh cinta pada aku, dia seorang Pilot" Ucap Alessa dengan wajah polos.
Christ tertawa terbahak bahak mendengar pernyataan putri manjanya itu.
"Kalo dia mencintaimu, ajak dia ke rumah. Temui Daddy dan Mommy, oke?" Tanya Christ.
Alessa hanya mengangguk paham.
"Bagaimana kerjaan mu little princess?" Tanya Audy.
"Seperti biasa, tidak ada yang berubah" Ucap Alessa santai.
"Kapan kamu akan pindah ke kantor Abang mu itu?" Tanya Christ.
Alessa langsung menggeleng cepat.
"Aku nyaman dikantor ku ini, aku ingin mencoba hidup dari hasil ku sendiri" Ucap Alessa.
Christ dan Audy hanya mengangguk mendengar penuturan putrinya yang begitu mandiri.
"Kantor kamu menang tender mega mall ya?" Tanya Christ.
"Iya Dad" Ucap Alessa.
"Siapa yang Arsiteknya?" Tanya Christ.
"Aku" Ucap Alessa sambil cengengesan.
"Ya ampun gimana rasanya?" Tanya Christ.
"Ya gitu minta cuma seminggu gambaran udah jadi" Ucap Alessa.
"Ya ampun jahat banget sih Tristan" Ucap Christ sambil tertawa.
"Dad kenal pak Tristan?" Tanya Alessa.
"Ya kenal lah sayang, dulu dia itu CS Papa pas masih SMA" Ucap Christ sambil menautkan jari kelilingkingnya.
Alessa hanya mengangguk paham.
"Kamu sih, ngapain coba ikut ikutan konstruksi juga mending jadi desainer kan sama sama gambar" Ucap Audy.
"Huh beda Mom rasanya, kalo arsitek lebih menantang" Ucap Alessa cengengesan.
Audy menggelengkan kepalanya saja.
"Yaudah Alessa mau kekamar dulu deh" Ucap Alessa.
_________________________________
Gavin sudah siap dengan pakaian formalnya, Aaliyah melihat abangnya yang turun langsung memekik keras.
"ABANG MAU KEMANA?" Teriak Aaliyah langsung bergelayut manja dilengan kekar Gavin.
"Seperti yang kamu lihat abang mau flight" Ucap Gavin mengelus kepala adiknya.
"Uncle Gave" Teriak Valen yang memakai pakaian khas TK, Valentina Wardhana anak Belvira dan Jordanio Smith.
"Hai keponakan Uncle yang cantik" Ucap Gavin langsung menggendong tubuh mungil Valen.
"Uncle lihat wajah Kakak Aaliyah" Ucap Valen menunjuk wajah Aaliyah yang sedang mengerucutkan bibirnya, Valen tidak ingin memanggil Aaliyah dengan sebutan 'Aunty' dan jadilah dia memanggil dengan sebutan Kakak.
Gavin hanya tertawa kecil.
"Hey Bocah, Uncle Gave milik ku" Ucap Aaliyah sambil memeluk Gavin.
"Kakak, Uncle Gave ini pacar ku" Ucap Valen sambil mengecup pipi Gavin, membuat semua orang yang ada disana tertawa terbahak bahak.
"Yes Dear, you're my sweetheart" Ucap Gavin mencium pipi Valen.
"Kalian curang" Ucap Aaliyah sambil melipat kedua tangannya didepan d**a.
"Sudah sudah lebih baik kalian makan" Ucap Artha.
Gavin mendudukan tubuhnya di kursi tepat berada diantara Aaliyah dan Valen, Ya Belvi mulai hari ini sampai beberapa hari kedepan akan menginap dirumah karena suaminya sedang ke luar kota.
Setelah sarapan Gavin langsung berpamitan dan berjalan sambil menarik kopernya itu.
"UNCLE ANTERIN ALEN SEKOLAH DONG" Teriak Valen yang masih asik dengan Sandwichnya.
Gavin memutar badannya, langsung menatap bocah yang sedang berusaha turun dari kursi. Gavin menggendong Valen untuk turun, Valen mengambil tasnya dan langsung berlari menuju mobil mendahului Gavin.
"Al kamu mau bareng?" Tanya Gavin pada Aaliyah yang sedang memakai sepatunya.
Aaliyah mengangguk dan langsung masuk kedalam mobil, TK Valen dan Sekolah Aaliyah itu satu yayasan jadinya satu lingkungan. Sesampainya mereka disana, bersamaan dengan Adara yang baru saja turun dari mobil.
"Dara" Panggil Aaliyah.
Adara menoleh dan melihat Aaliyah menggandeng keponakannya itu.
"Valen" Panggil Adara dan langsung menggendong Valen.
Mereka menatap Gavin yang menggunakan kacamata hitam turun dari dalam mobil, membuat seluruh mata tertuju padanya. Gavin mengetuk kaca mobil yang ada dihadapannya dari tadi belum juga bergerak, ternyata seorang perempuan sedang menelepon.
tok... tok.. tok..
Gadis dengan kacamata hitam itu mematikan sambungan telponnya lalu menurunkan kacanya, Oh my God! Alessa cantik sekali.
"Kenapa Gavin?" Tanya Alessa dengan suara lembutnya.
"Saya sedang buru buru" Ucap Gavin sambil menatap jam tangannya.
"Maksud mu?" Tanya Alessa dengan wajah polosnya.
Gavin menunjukkan mobilnya yang tepat berada dibelakang mobil Alessa.
"Apaan?" Tanya Alessa bingung.
"Gak bisa lewat" Ucap Gavin.
"Bilang dong kalo mobil aku ngalangin, aku kan bukan penerjemah kata" Ucap Alessa sewot.
"Ya saya udah bilang tadi" Ucap Gavin.
"Kapan?" Tanya Alessa.
"Mungkin saja kamu gak denger, lain kali dengerin kalo orang ngomong" Ucap Gavin langsung meninggalkan Alessa yang sudah kesal.
"ARGGGG! Jangan muncul dihadapanku lagi kau Gavin" Ucap Alessa begitu murka dan langsung menancap gasnya seperti orang kesetanan.
Gavin menancap Gasnya dengan hati hati, dan masuk kedalam kawasan Bandara.
seperti flight biasanya, Ravid selalu menunggu dirinya datang.
"Kapten lama banget sih dandannya" Ucap Ravid, dan langsung dihadiahi dengan buku melayang.
Pletak..
"Aduhh, galak banget sih" Umpat Ravid.
"Diam Vid, Saya sedang malas membalas celotehan alay mu" Ucap Gavin malas.
Mereka masuk kedalam Kokpit, tak lupa Pramugari yang menyambut hangat mereka berdua.
"Senang bisa flight bersama Kapten" Ucap Gadis itu yang Gavin baca name tagnya adalah Gladis.
Gavin hanya memberikan senyuman tipis nyaris tak terlihat itu.