«Mas, sarapan sudah siap,» kata Tindy sambil melongok ke arah kamar. Tindy tersenyum tipis. Ia juga sering ke salon untuk mencuci muka, atau sekedar merapikan rambutnya yang berombak. Tapi senyuman Tindy bukanlah senyuman kebanggaan karena memiliki suami tampan seperti Haryo.
Ada sesuatu yang tersembunyi dibalik senyuman itu, entah apa. «Aku tidak sarapan pagi ini».
«Aku ini memperhatikan kamu Mas, bukannya usil,» katanya sambil pergi dari kamarnya, langsung kearah ruang makan.
«Jangan tanya kenapa, Ibu sendiri tidak tahu. Tindy mengangkat bahu, lalu duduk di antara anak-anaknya, sarapan nasi soto ayam yang dia masak sendiri sejak sehabis subuh tadi, karena pembantu sedang tidak masuk kerja. » «Bapak itu sangat terkenal di kampus,» kata Lala anak sulungnya. «Suka mentraktir cewek-cewek cantik,» kata Lala sambil menggigit kerupuk yang baru saja diambilnya.
«Karena apa?»
Wajah Tindy muram. Bukan sekali itu dia mendengar bahwa suaminya suka mengganggu mahasiswanya yang cantik-cantik. Tidak,» kata Tindy, pura-pura tak peduli. » «Iya, Ibu tak akan marah, yang penting Bapak masih sangat perhatian kepada keluarganya,» kata Desy, anak ke duanya. »
«Benar, yang penting tetap sayang sama Ibu,» sambung Tutut, si bungsu. » Tindy hanya tersenyum mendengarkan celoteh anak-anaknya. » Hanya karena mereka bertiga Tindy bisa menjalani hidupnya. » Tak ada yang tahu, bahwa seorang wanita sangatlah peka melihat perubahan sikap suaminya, sekecil apapun. »
» « Apalagi kamu masih makan begitu,» kata Haryo sambil berlalu. » » «Atau ibu yang membelikannya?» tanyanya sambil menatap Ibunya, yang mulai berdiri untuk mengantar suaminya ke depan. » «Tidak, tak pernah,» sambung Tindy sambil berlalu. » » «Hati-hati Mas,» teriak Tindy. »
» » Tindy menghela nafas, dan menghembuskannya dengan kasar, lalu kembali ke ruang makan. » » » » « « Tapi nggak mungkin lewat ke sekolah kamu kan Tut, muternya terlalu jauh». » » «Ibu sudah selesai, setelah membereskan meja, kalian boleh bersiap-siap, Ibu malah belum dandan,» kata Tindy sambil berdiri. » «Iya bu, dandan yang cantik dan wangi, jangan kalah sama Bapak,» goda Lala. »
Tindy tersenyum lebar. » «Ibu kan tidak pandai berdandan,» kata Tindy sambil berlalu. » Tindy masuk ke kamarnya, dan bersiap untuk pergi ke kampus, tempat dia mengajar. » » Haryo, suaminya, mengajar di perguruan tinggi yang lain, sehingga ia tak pernah bisa bersama-sama. »
» «Ya, tentu saja, nanti isteri saya yang akan menanda tangani kontrak rumah itu. » Baiklah, berapa pun harganya, yang penting isteri saya setuju, Tentu, nanti dia akan sekalian membawa uangnya. » » » » .
«Apa kamu masih suka rumah itu?»
«Tentu saja aku suka, cuma harus ada beberapa yang diubah. Kamu bisa datang ke rumahnya untuk menanda tangani perpanjangan kontrak».
«Uangnya?»
«Tidak lama lagi akan aku transfer ke rekening kamu». «.
«Bukankah aku juga selalu ada disini hampir setiap malam?»
«Mengapa Mas tidak mau berterus terang saja sekalian, supaya Mas tidak harus sembunyi-sembunyi». «Nanti kita bicarakan lagi saja, ini aku sudah hampir sampai». Haryo memasuki halaman parkir. Haryo sengaja melewati mereka dan menyapa dengan manis.
«Selamat pagi Pak Haryo».
«Lagi ngomongin apa nih?»
«Belum dapat kiriman dari ortu nih Pak,» kata salah seorang yang diamini oleh teman-temannya. «Ya sudah, sarapan sana di kantin. ayo Bapak temanin, tadi Bapak juga belum sempat sarapan,» kata Haryo sambil menarik tangan salah seorang mahasiswa yang tergolong cantik. Tindy sedang mematut dirinya didepan cermin.
Ia juga hanya memoles wajahnya dengan make up yang tidak terlalu mencolok. «Ibu, kami sudah selesai membereskan dapur,» kata Tutut sambil masuk ke kamar ibunya. « Jadi kita semua yang harus membereskan rumah,» kata Tindy, «Iya Bu, kami tahu kok. Ibu sudah selesai?».
Tindy tersenyum sambil sekali lagi merapikan dandanannya. Saat itu Tindy baru mulai kuliah di sebuah perguruan tinggi. Tindy terkejut, yang menyapa adalah seorang laki-laki berbadan tegap dan berwajah ganteng. Padahal aku tidak lupa lhoh, sama kamu». »
Tindy mengawasi laki-laki ganteng bertubuh kekar itu dengan seksama. » Memang Tindy agak lupa, tapi wajah itu seperti dikenalnya. » «Kamu Hendri bukan?» Tindy mencoba menebak. » «Bagus, kamu masih ingat aku». »
«Lupa-lupa ingat sih, kamu dulu kurus, dan badan kamu kecil, sekarang beda banget». » «Bisa saja kamu. «Kamu kuliah disini ?» tanya Tindy sambil terus menatap Hendri. » «Iya, aku baru tahu kalau kamu juga kuliah disini». »
« Kamu semakin cantik Tindy,» kata Hendri. » «Hih, baru ketemu sudah merayu,» kata Tindy sambil tersipu. » » » «Aku heran, mengapa kita baru ketemu hari ini,» kata Tindy. » » .
«Kenapa?»
Orang tuaku tidak seperti orang tua kamu. « Keluargaku adalah keluarga yang tidak mampu». «Dan yang penting bisa setiap hari ketemu kamu». Tindy tertawa.
«Nggak, aku belum mau pulang,» kata Tindy, Dan si penyapa itu berlalu. «Tindy sayang... pulang bareng yuk?» sapa yang lain, tapi Tindy hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum. «Ternyata banyak ya penggemar kamu,» kata Hendri yang beberapa kali mendengar ajakan pulang bareng dari teman laki-laki Tindy.
«Boleh,» kata Tindy yang menyambut ajakan itu dengan gembira. Lalu keduanya berjalan ke arah kantin, memesan bakso dan es sirup yang menyegarkan.
«Aku kasihan sama kamu,» jawab Tindy sambil menghirup es sirupnya. « Tuh, kamu sampai terbatuk-batuk begitu,» kata Tindy penuh iba.
Ketika keduanya asyik bercanda itu tiba-tiba seseorang mendekati mereka, langsung duduk di samping Tindy.