Sekarang adalah hari pernikahan antara Athena dan Arvel, di sisi lain Athena sangat senang bisa menikah dengan Arvel yang dari dulu adalah pria yang dikaguminya tapi disisi lain Athena merasa bersalah karena ia berada diantara hubungan Arvel dan Fiona.
Semua ini terjadi ketika Athena menolong Alia dari kecelakaan, membuat Alia merasa bahwa Athena lah yang cocok menjadi pasangan Arvel, karena Athena memiliki hati yang sangat baik. Hubungan Athena dan Alia pun semakin dekat hingga Alia berniat untuk menjodohkan Arvel dengan Athena.
Awalannya Athena menolak perjodohan itu dengan alasan kalau Arvel tidak akan mau menikah dengannya, tapi Alia terus memaksanya bahkan sampai memohon supaya Athena mau menikah dengan Arvel. Athena sudah setuju sedangkan Arvel menolaknya mentah-mentah, membuat Alia kecewa dengan anaknya itu. Alia sampai masuk rumah sakit karena Arvel menolak perjodohan itu, mau tak mau Arvel harus menuruti perintah sang ibu.
Hari di mana yang menurut orang-orang adalah hari yang paling membahagiakan kini hanya sebuah awal penderitaan bagi Athena. Sejak tadi Arvel terus memandangnya benci, tidak ada ketulusan di mata Arvel. Bahkan Athena bisa melihat kepalsuan perilaku Arvel kepadanya yang sangat manis saat resepsi digelar.
"Sayang, semoga kalian selalu bahagia," kata Alia yang sudah berada di depan Arvel dan Athena. Mereka hanya tersenyum menanggapi ucapan Alia.
"Terimakasih mom." Arvel memeluk sang mommy. Athena hanya diam menyaksikan interaksi Antara Arvel dan Alia.
"Athena gak mau peluk mommy?" Tanya Alia yang melihat Athena hanya diam dari tadi.
Athena maju beberapa langkah, sedangkan Alia merentangkan tangannya. Athena sangat senang bisa merasakan pelukan seorang ibu, setelah kejadian 3 tahun lalu ia bahkan tidak bisa merasakan pelukan hangat sang ibu lagi. Tapi setelah bertemu Alia, ia bisa merasakan kembali kehangatan pelukan seorang ibu.
"Hai sekarang kalian pasti lelah bukan? Lebih baik kalian ke kamar dan istirahat," ujar Alia yang melihat kaki Athena yang terlihat pegal, karena memakai high heels.
"Ya sudah kita ke kamar dulu, good night mom," ucap Arvel sambil mencium pipi Alia.
Arvel dan Athena menuju kamar hotel yang telah disediakan, Arvel dari tadi hanya diam, tidak ada percakapan antara dirinya dan Athena. Ia sudah memperingati Athena untuk tidak berjalan disampingnya.
"Ingat kau harus berjalan dibelakang ku! karena aku menganggap mu sebagai pembantu bukan seorang istri. Kau mengerti?" Bisik Arvel saat berada disebelah Athena.
Athena masih mengingat dengan jelas ucapan Arvel tadi saat resepsi digelar. Tak mau ambil resiko Athena hanya menurut, ia juga tidak bisa membantah ucapan Arvel.
Arvel membuka pintu kamar, desain kamar yang sangat mewah menyambut mereka. Arvel merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sedangkan Athena masih bingung harus berbuat apa? Tak mau ambil pusing Athena langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Athena mulai membersihkan wajahnya dari make up, ia mencoba melepas gaun yang membungkus tubuhnya tapi hasilnya nihil. Athena kesulitan untuk melepas resleting di bagian belakang gaun. "Kenapa susah sekali?" Gerutu Athena.
"Apakah kau ingin mandi sampai besok?" Teriak Arvel melihat Athena belum juga keluar dari kamar mandi.
"Tunggu sebentar," kata Athena sambil berusaha melepaskan gaunnya.
"Hai! jangan bertingkah seperti ratu di sini! Ingat bagiku kau hanya pembantu!" Muak Arvel.
"Keluar tidak? Keluar tidak?" Bingung Athena. "Keluar, ya Athena kau harus keluar dan meminta bantuan Arvel." Athena harus berani meminta tolong kepada Arvel.
Athena membuka pintu kamar mandi dan melihat apakah Arvel masih berada di kamar? Saat membuka pintu Athena terkejut bukan main karena Arvel sudah berdiri didepannya.
"Apa yang kau lakukan didalam hahh?" Bentak Arvel yang melihat Athena baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sebenarnya---" Athena belum melanjutkan kata-katanya, tapi Arvel sudah memotong ucapannya.
"Sebenarnya apa hahh? Kau sekarang mulai banyak bicara b***h," kata Arvel yang sangat kesal dengan Athena.
"Apakah kau bisa membantuku membuka gaun ini? Tanganku tidak sampai." Tanya Athena sedikit takut.
"Berbalik lah!" Tanpa sadar Arvel mengucapkan kata tersebut. Athena berbalik dan Arvel mulai membuka resleting gaun Athena.
Arvel terdiam saat melihat punggung putih Athena yang polos dengan cepat Arvel langsung menggeleng kan kepalanya. "Tahan Arvel tahan, dia bukan Fiona," gerutu Arvel dengan dirinya sendiri. "Hanya Fiona yang pantas kau sentuh." Sekali lagi otak Arvel terus menerus menolaknya.
"Terima kasih." Akhirnya suara Athena tadi membuat Arvel tersadar. Arvel masuk kamar mandi dengan wajah datarnya, sedangkan Athena menuju tempat kopernya.
Arvel sudah selesai membersihkan tubuhnya, ia melihat Athena yang berada di balkon kamar. "Kau tidur di sofa, aku tidak sudi tidur satu ranjang denganmu!" perintah Arvel sambil menuju tempat tidur dan ia langsung merebahkan tubuhnya.
Athena yang mendengar itu menoleh, kata-kata Arvel sekali lagi berhasil membuat hatinya terluka. Apakah dirinya sangatlah kotor sehingga Arvel sampai tidak mau tidur dengannya? Tapi tak apa mungkin suatu hari nanti Arvel akan berubah. Tak mau membuat Arvel marah akhirnya ia menuruti perintah Arvel tadi. Ia merebahkan tubuhnya di sofa, pikiran Athena melayang kemana-mana.
"Tuhan apakah aku tidak pantas mendapatkan cinta dari Arvel?"
"Mommy Daddy aku merindukan kalian."
"Apa yang membuat Arvel begitu membenciku?"
"Aku bisa melihat kebencian di matanya, aku ingin bahagia, tapi kapan kebahagiaanku akan datang?"
Karena kelelahan Athena sudah masuk kedalam alam mimpinya. Begitupun dengan Arvel yang sudah dari tadi tidur.
2.00 a.m
Athena terbangun karena merasa kedinginan, telapak kakinya terasa sangat dingin. Selimut di kamar ini hanya ada satu itupun sedang dipakai Arvel. Hal yang lebih buruknya Athena juga tidak membawa baju yang sedikit tebal, ia hanya membawa beberapa kaos dan celana saja. Ia juga tidak bisa mengubah temperatur AC nya, karena kata Alia Arvel tidak bisa tidur kalau suhu kamar tidak dingin.
Tidak kehabisan akal Athena keluar menuju balkon, di sana udara nya tidak sedingin di kamar. Ia duduk di bangku balkon, bintang di malam hari kali ini sangat banyak membuatnya betah berada di balkon. Memandangi bintang-bintang itu adalah kegemaran Athena dari kecil.
Tanpa sadar dari tadi Arvel memperhatikan Athena dari dalam kamar. Ada rasa sedikit iba dengan Athena, perkataannya mungkin saja membuat Athena terluka. "Dia pantas mendapatkannya, karena dia hubunganku dengan Fiona hancur," batin Arvel.
Arvel tidur kembali dan tidak memperdulikan Athena yang berada diluar. Memang bisa dilihat kalau ia tidak mempunyai sedikit rasa perduli dengan orang yang sangat dibencinya. Tapi itulah sikapnya sejak dulu, keperduliannya sangat kecil dan ia juga keras kepala.
Matahari mulai menampakkan sinarnya, Athena terbangun dari tidur nyenyak nya. Ternyata semalam ia ketiduran di balkon, menoleh kebelakang terdapat Arvel yang masih nyenyak dengan tidurnya. Ia bangkit dan masuk kedalam kamar untuk mandi. Setelah 15 menit ia sudah selesai dengan ritual mandinya dan beranjak dari kamar mandi. Ia melihat Arvel yang belum juga bangun. Athena sekarang bingung, apakah ia harus membangunkan Arvel? Tapi bagaimana kalau Arvel marah? Dan sekarang adalah waktunya untuk sarapan.
"Bangunkan atau tidak?" Pikir Athena dalam hati.
Athena sudah putuskan untuk membangunkan Arvel, masa bodoh ketika nanti Arvel memarahinya. Dari tadi malam Arvel belum makan itu yang membuat Athena semakin yakin untuk membangunkan Arvel. Ia menuju samping tempat tidur, melihat sejenak wajah damai Arvel ketika tidur. Ia merasa beruntung bisa menikah dengan Arvel, ya walaupun Arvel sangat membencinya.
Tangan Athena memegang tangan Arvel dan menggoyangkannya. "Arvel bangunlah ini sudah jam 8," kata Athena dengan lembut. Belum muncul tanda-tanda Arvel bangun, Athena kembali menggoyangkan tangan Arvel lagi. "Arvel bangunlah!" Athena sedikit meninggikan suaranya agar Arvel mendengarnya.
Tidak disangka Arvel malah menarik Athena kepelukan nya. Merasa terkejut dengan adegan yang tiba-tiba itu, Athena tak tau harus melakukan apa sekarang?
Athena berusaha melepaskan pelukan itu, tapi Arvel semakin mengeratkan pelukannya. Wajah mereka sangat dekat membuat Athena bisa merasakan nafas hangat Arvel. Jantung Athena sudah tidak bisa dikontrol, tiba-tiba mata Arvel terbuka.
Dengan cepat Arvel mendorong dengan kuat tubuh Athena yang berada diatasnya, "apa yang kau lakukan b***h?" Geram Arvel saat melihat Athena berada diatasnya.
"Maafkan aku Ar, aku hanya ingin membangunkan mu," ucap Athena sambil berdiri.
"Jangan pernah membangunkan aku lagi!" kata Arvel dengan nada yang tinggi. "Dan ingatlah satu lagi! Jangan pernah memanggilku Arvel! Kau mengerti?" ancam Arvel memperingati Athena.
"Baiklah, maafkan aku." Arvel meninggalkan Athena dan menuju kamar mandi.
Mereka memutuskan untuk sarapan di rumah. Athena mengemasi kopernya, ia melihat Arvel yang sudah siap untuk pulang. Athena hanya mengikuti Arvel dari belakang, saat berada diparkiran Arvel berbalik menghadap Athena.
"Kenapa kau mengikuti ku?" Tanya Arvel membuat Athena bingung.
"Bukankah kita akan pulang?"
"Kau pulanglah sendiri, aku tidak akan membiarkan seorang jalang duduk di mobilku." Kata-kata Arvel membuat Athena terdiam.
Arvel masuk kedalam mobil dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan Athena yang masih diam.
Athena menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes. Ia mencoba untuk sabar dengan sikap Arvel, karena ini baru permulaan masih ada banyak kesedihan yang menunggunya. Ia melangkahkan kakinya menuju keluar parkiran. Mencoba kuat setiap Arvel mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatinya.
Ingin sekali Athena memesan taksi tapi, uangnya tidak cukup. Ia hanya membawa 5 dolar saja. Jarak hotel dan rumah Alia pun sekitar 2 km, cukup jauh memang. Sudah 20 menit Athena berjalan kakinya rasanya sedikit pegal karena semalam dirinya memakai high heels dan sekarang harus berjalan cukup jauh.
*****
Arvel sudah sampai di rumahnya, masuk kedalam rumah Arvel melihat Alia yang sedang berada dimeja makan dengan kakak dan kakak iparnya.
"Hai, sudah pulang?" Alia menghampiri Arvel.
"Iya mom," jawab Arvel dengan kalimat singkatnya.
"Sini sarapan dulu, mommy tahu kau pasti belum makan."
Arvel menuju meja makan, ia sama sekaali tidak merasa bersalah setelah meninggalkan Athena sendiri. Lagipula Arvel tidak perduli dengan keadaan Athena, dalam hatinya ia berdoa jika Athena kecelakaan dan meninggal, setelah itu pasti ia akan terbebas dari Athena. Semoga saja doanya terkabul.
Alia menyadari kalau Arvel pulang tidak bersama Athena, "hai dimana Athena?" Pertanyaan Alia membuat Arvel mendongakkan kepalanya.
"Masih dijalan mungkin," kata Arvel santai. Melihat wajah Athena membuatnya emosi, ia masih berharap Athena tidak akan datang.
"Kalian tidak pulang bersama?" Kini giliran Sean, kakak Arvel yang bertanya.
"Tidak." Arvel sama sekali tidak merasa bersalah.
"Harusnya kalian pulang bersama, ingat Arvel! Athena sudah menjadi istrimu," ujar Alia yang sedikit kecewa dengan Arvel.
Ketika Arvel ingin berbicara, ada suara ketokan pintu membuat mereka semua langsung menoleh.
"Biar mommy saja." Alia beranjak dan berjalan menuju pintu depan mansion.
"Siapa?" Tanya Alia, saat pintu sudah terbuka nampak Athena yang tersenyum manis. "Athena."
"Hai mommy," panggil Athena sambil tersenyum.
"Sini sayang masuk," ajak Alia dan Athena hanya menurut.
"Apakah kau sudah makan Athena?"
Athena belum menjawab pertanyaan dari Alia, saat Athena melihat kearah Arvel mata pria itu langsung menatap dirinya tajam. Mengisyaratkan bahwa ia tidak pantas makan dirumahnya. "Sudah mommy," bohong Athena.
"Kalau begitu lebih baik kalian ke kamar, karena besok kalian akan pindah," ujar Alia.
Arvel beranjak dan menuju kamarnya yang berada di lantai dua, setelah kedatangan Athena membuat mood nya kembali buruk. Ia harus mempersiapkan semua nanti setelah pindah dan tinggal berdua dengan Athena.
"Athena permisi dulu," pamit Athena sambil melihat kearah Alia, Sean, dan Selena. Athena menuju kamar Arvel sambil memegang perutnya yang lapar. Saat membuka pintu kamar Athena dikejutkan dengan Arvel yang berdiri persis didepannya. Athena masuk dan Arvel dengan cepat menutup pintunya.
"Bagus b***h, tetaplah jadi gadis penurut," ucap Arvel yang melihat Athena menurut untuk berbohong tadi.
"Kalau itu yang membuatmu senang, aku bisa apa?" Athena tersenyum miring ke arah Arvel, ini masih awalnya saja, masalah baru akan datang seiring berjalannya waktu nanti. Apalagia sekarang posisinya Arvel begitu membencinya, itu akan membuat Athena merasa sedikit tidak nyaman. Belum lagi kekasih Arvel yang mungkin saja akan datang dan menganggu hubungan rumah tangganya dengan Arvel nanti.
"Kau lapar bukan? Ini makan!" Arvel melempar sebuah apel kearah Athena. "Jangan pernah coba-coba makan satu meja denganku!" peringatan Arvel, dan inilah alasan tadi Arvel menyuruhnya berbohong. Ia begitu jijik jika harus disuruh Alia untuk makan bersama Athena. "Besok aku punya kejutan besar untukmu bitch."
"Aku dengan senang hati akan menunggunya Ar," jawab Athena berani.
*****
Sekarang Arvel dan Athena sudah berada di depan mansion pemberian Alia. Mereka masuk ke dalam mansion mewah itu, Athena sangat kagum dengan bangunan mansion, menurutnya mansion ini sangatlah mewah dan mungkin harganya juga sangat fantastis.
"b***h mulai sekarang kau yang akan menjadi pembantu di rumah ini, kau mengerti?"
Kata-kata Arvel berhasil membuat Athena menoleh. "Tapi, rumah ini begitu besar." Mata Athena menjelajahi seluruh mansion dan bagaimana bisa Athena membersihkan semua ini sendirian? Apalagi ia juga harus kuliah.
"Aku tidak perduli! Kalau kau keberatan kau bisa angkat kaki dari sini," kata Arvel dengan nada mengancam. "Ingat kau hanya menumpang di sini! Aku masih baik menyewa satu pelayan untuk membantumu, daripada tidak sama sekali."
Athena bersyukur setidaknya masih ada yang membantunya membersihkan rumah. "Umm... baiklah." Lebih baik sekarang ia menurut saja, Arvel bisa semakin membencinya jika ia melawan.
"Tugasmu adalah memasak, membersihkan rumah, dan masih banyak lagi. Ingat pembantu yang aku sewa hanya membantumu membersihkan lantai dua saja. Karena aku tidak mau kau membersihkan kamarku." Athena diam tidak menanggapi perkataan Arvel.
Arvel menuju kamar lantai dua dimana itu adalah kamarnya nanti. Athena hanya mengikuti dari belakang sambil membawa kopernya. Arvel berbalik dan mendapati Athena yang berada di belakangnya , "mau apa kau? Kenapa mengikuti ku?" Tanya Arvel.
"Meletakkan koper ini di kamar," ucap Athena polos.
"Kamarmu bukan di sini! Kamarmu ada di dekat dapur," kata Arvel, ia lalu masuk ke dalam kamarnya.
Athena kembali ke lantai satu dan mencari kamarnya, kata Arvel kamarnya berada di dekat dapur. Satu pr buatnya sekarang, ia tidak tau letak dapur ada dimana? Mencoba menelusuri mansion dan akhirnya ia melihat dapurnya ada disebelah kiri. Ia menuju dapur tersebut dan melihat ada pintu yang berada di kanan taman dan kirinya langsung ke dapur.
"Apakah ini kamarku?" Athena membuka pintu itu perlahan dan mengintipnya, dan benar saja ruangan tersebut adalah kamar tidur. Athena sangat suka dengan kamar itu, tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu sempit dan juga poin pentingnya kamar itu dekat dengan taman.
Athena meletakkan kopernya dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang yang tidak begitu empuk. Ia sekarang harus memasak untuk makan malam, ia bangkit dari tidurnya dan menuju dapur. Berharap sudah ada bahan makanan di kulkas. "Syukurlah ada bahan makanan di sini," gumam Athena lalu mengeluarkan bahan yang akan ia gunakan untuk memasak.
Jarum jam menunjukkan jam tujuh malam, Athena sudah selesai dengan masakannya. Ia menata makanan di meja makan, Arvel sejak tadi belum juga keluar dari kamarnya. Ia berencana memanggil Arvel untuk makan malam.
Setelah selesai menatap makanan di atas meja, ia melangkahkan kakinya menuju kamar Arvel. Tangannya mulai mengetok pintu kamar, tidak ada jawaban dari dalam, ia mencoba membuka pintu kamar Arvel secara perlahan. Pintu kamar Arvel ternyata tidak dikunci, ia mencoba mengintip dan ia melihat Arvel yang masih bergelut dengan selimutnya. Ia masuk kedalam kamar untuk membangunkan Arvel.
"Tuan bangunlah, ini waktunya makan malam." Athena terpaksa memanggil Arvel tuan karena, Arvel yang memintanya memanggil dengan embel-embel tuan.
"Eumm......" Arvel mulai membuka matanya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Arvel kaget saat melihat Athena berada di kamarnya.
"Itu---" gagap Athena saat melihat Arvel yang tidak memakai baju. Arvel yang melihat arah pandang Athena langsung menutup tubuhnya dengan selimut.
"Itu apa hah?"
"Sudah waktunya makan malam."
"Hmm..... sekarang keluarlah dari sini!" Athena pergi dari kamar Arvel.
Setelah 10 menit menunggu akhirnya Arvel datang. Athena sudah berdiri di sampingnya.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Athena.
"Tidak usah, biar aku ambil sendiri," tolak Arvel membuat Athena hanya bisa menghela nafasnya, ia mendudukkan dirinya di depan Arvel.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Arvel saat Athena hampir duduk.
"Makan malam, memangnya kenapa?"
"Jangan makan malam denganku! Kau makanlah di dapur. Jangan pernah berani makan di meja makan denganku!" Arvel memperingati Athena dengan suara tingginya.
Athena berdiri dari duduknya, lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan Arvel. Dia berlari menuju kamarnya, ia mencoba menahan air matanya agar tidak turun di depan Arvel. Ia menumpahkan tangisannya saat berada di kamar. "Apa salahku Ar? Sampai kau begitu membenciku?"
"Kau adalah orang pertama yaang secara terang-terangan membenciku," lirih Athena pelan sambil menenggelamkan wajahnya bantal.
"Aku bodoh Ar, kenapa aku harus jatuh cinta kepada pria tidak punya hati sepertimu?"
"Pernikahan ini sebenarnya membawa kebahagiaan atau kesedihan?"