Arvel pov
Mommy memberikan mansion mewah sebagai hadiah pernikahanku dengan p*****r sialan itu, sebenarnya aku sudah menolaknya tapi mommy terus memaksaku. Saat sudah sampai di mansion, aku menyuruh p*****r itu menjadi pembantu, awalnya dia menolak tapi setelah aku ancam akhirnya dia mau. Aku juga hanya mempekerjakan satu pembantu dan dua penjaga.
Awalnya aku merasa kasihan dengan p*****r itu, tapi saat melihatnya rasa iba ku langsung hilang. Gara-gara dia aku tidak bisa menikah dengan Fiona, karena lelah aku langsung masuk ke kamar tapi, jalang itu malah mengikuti ku. "Mau apa kau? Kenapa mengikuti ku?" Tanyaku dingin
"Meletakkan koper ini di kamar."
"Kamarmu bukan disini! Kamarmu ada di dekat dapur," kataku dan aku langsung masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikannya. Aku memang tidak akan sekamar dengannya, jadi aku menyuruhnya agar dia tidur di kamar pembantu. Bukankah aku sudah baik masih memperbolehkan tinggal di sini? Menurutku itu sudah lebih dari cukup.
Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur, rasanya sangat lelah dengan kejadian-kejadian akhir-akhir ini. Mulai dari mommy yang tidak menyukai Fiona, bertemu p*****r sialan itu, mommy menjodohkan ku, dan yang terakhir aku harus menikah dengan p*****r itu. Memikirkannya sudah membuatku pusing, belum lagi tugas kantor yang menumpuk. Karena terlalu banyak berpikir aku mulai mengantuk, dan akhirnya aku tidur.
"Tuan bangunlah, ini waktunya makan malam."
Aku merasakan ada suara yang membangunkan ku, suaranya begitu lembut sampai aku membuka mataku perlahan, dan ternyata p*****r itu yang membangunkan ku. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku kaget saat melihat dia berada di kamarku.
"Itu---" kenapa tiba-tiba dia gagap?
Aku melihat arah pandangannya dan yang benar saja aku tidak memakai baju, dengan cepat aku menutupi tubuhku dengan selimut. "Itu apa hah?" Bentak ku untuk mengalihkan perhatiannya.
"Sudah waktunya makan malam."
"Hmm, sekarang keluarlah dari sini!" Dia langsung pergi dari kamarku. Aku bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Aku menuju dapur untuk makan malam, aku melihat dia yang sepertinya sedang menunggu ku datang.
"Kau ingin makan apa?" Tanyanya.
"Tidak usah, biar aku ambil sendiri," tolakku mentah-mentah. Aku tidak ingin diperlakukan seperti suami olehnya, bagaimanapun juga aku tidak akan menganggapnya sebagai seorang istri. Tidak akan pernah. "Apa yang kau lakukan?" Wanita itu berani duduk di depannya.
"Makan malam, memangnya kenapa?"
"Jangan makan malam denganku! Kau makanlah di dapur. Jangan pernah berani makan di meja makan denganku!" Akhirnya dia pergi, dan lagi-lagi itu membuat hatiku merasa iba dengannya, tapi rasa iba itu seketika hilang saat mengingat bahwa dialah perusak hubunganku dengan Fiona.
Aku tak memperdulikannya, perutku sudah lapar jadi aku langsung makan masakannya. "Enak," gumamku dalam hati. Ternyata wanita itu pandai juga memasak, dia tidak menyangka masakannya akan seenak ini.
Arvel pov end
*****
Athena menghapus air matanya, ia harus kuat. Arvel sudah menjadi suaminya, jadi ia harus mempertahankan hubungan rumah tangganya. Athena keluar dan melihat Arvel yang sedang menonton televisi. Dengan cepat ia membersihkan piring yang kotor, perutnya berbunyi menandakan kalau ia lapar. Ia mengambil sisa makanan yang masih tersisa, kemudian ia pergi ke dapur untuk memakannya.
Sebelum tidur Athena membersihkan wajahnya terlebih dahulu. Besok ada kelas pagi, jadi ia harus bangun pagi besok, belum lagi ia juga besok harus memasak untuk sarapan. Pekerjaannya sekarang akan bertambah rupanya, dia harus bisa menjalani itu semua.
2.12 a.m
Athena lagi-lagi terbangun, ia mendengar suara dari arah dapur, tentu itu membuatnya sedikit takut apalagi ini jam 2 malam. Mencoba melawan rasa takutnya, ia keluar dan mengecek keadaan, siapa tahu ada maling atau penyusup. Dan ternyata itu adalah suara Arvel yang sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam kulkas, dia menghampirinya dan menanyakan sebenarnya Arvel ingin apa? Sepertinya Arvel sedang menginginkan sesuatu. "Tuan butuh sesuatu?"
"Tidak!" jawab Arvel dingin.
"Apa tuan lapar? Sini biar aku saja yang memasak." Athena mengambil bahan-bahan makanan dari kulkas, untung masih ada sayuran, telur, dan roti. Bisa rusak dapur ini nanti, apalagi pria itu sama sekali tidak bisa memasak.
"Sudah ku bilang tidak!"
Arvel kembali mengambil bahan-bahan makanan dari tangan Athena, seharusnya Arvel senang bisa menyuruhnya melakukan apapun. "Tuan bilang aku pembantu di sini, jadi biar aku saja."
Arvel menghela nafas, ia membiarkan Athena yang memasak. Lagi pula benar apa yang dikatakan Athena tadi, ini adalah salah satu tugas dari seorang pembantu. Masakan wanita itu enak, jadi dia tidak bisa menolaknya.
Setelah beberapa menit akhirnya Athena membawa sandwich buatannya untuk Arvel. "Ini tuan," kata Athena meletakkan sandwich itu di depan Arvel. Ternyata pria itu mudah lapar di tengah malam, bibirnya tersenyum membentuk sebuah senyuman tipis.
Tanpa banyak bicara Arvel langsung memakan sandwich itu tanpa memperdulikan Athena. Setelah selesai memakan sandwich ia berbalik menghadap ke arah Athena dan memberikan selembar kertas untuk Athena.
"Apa ini?" Tanya Athena.
"Baca," ucap Arvel.
Athena masuk ke dalam kamarnya dan melihat apa isi dari kertas tersebut. Sepertinya surat ini sangatlah penting, dengan perlahan dia melihat semua tulisan yang tertulis dengan rapi di kertas itu. Dia membaca judul dari surat itu, "peraturan untukmu"
"Tidak boleh ikut campur dalam urusanku."
"Jangan pernah sekali-kali mencoba melaporkan perilaku kepada mommy."
"Fiona mulai besok akan tinggal disini, jadi kau harus menuruti semua perintahnya."
"Aku akan memberimu uang untuk kebutuhanmu sendiri, jadi kau harus membeli barang-barangmu sendiri. Dan membedakan antara barang untukku dan untukmu, apapun itu termasuk bahan makanan."
"Aku memberimu uang 100 dolar untuk sebulan, apabila uang itu habis aku tidak akan memberikan uang lagi."
"Satu lagi jangan pernah membantah perintah Fiona."
Athena membaca semua itu dengan teliti dan tanpa terkecuali, dia begitu kaget membaca semua isi surat yang tadi diberikan Arvel. Ternyata pria itu sudah merencanakan tentang kedatangan Fiona, sialan memang.
"Apa sudah jelas semuanya b***h? Ini peraturannya! Kalau kau keberatan kau boleh angkat kaki dari rumah ini."
Kalimat itu adalah penutup terakhir dari surat yang dia baca, Arvel seakan sudah mempersiapkan bagaimana hari-hari mereka akan berjalan dengan kehadiran sosok ketiga. "Sialan kau, Ar. Awas saja nanti, akan aku buat kau menyesal dan memohon-mohon kepadaku hanya untuk sebuah kalimat maaf."
Keesokan harinya....
Athena menyiapkan buku-bukunya untuk kuliah hari ini, merasa sudah lengkap semua ia langsung menuju dapur untuk membuat sarapan. "Bahan makanannya tinggal sedikit," gerutu Athena melihat bahan makanan yang tidak begitu banyak, karena kemarin ia belum belanja.
Athena memutuskan untuk membuat pancake saja, Mungkin pancake ini hanya akan cukup untuk satu orang saja. Jadi biar Arvel saja yang sarapan, ia bisa beli makanan di kampus nanti. Setelah selesai Athena menyiapkan pancake itu di meja makan, tak lama Arvel datang dan sudah rapi dengan baju kantor nya. Saat Arvel sudah berada di hadapannya, dengan cepat Athena pergi menuju dapur dan membiarkan Arvel makan dengan tenang.
"Tunggu," kata Arvel."
"Iya, kau butuh sesuatu?"
Tanpa basa-basi Arvel meletakkan uang sebesar 1000 dolar di atas meja, "ini uang untukmu 100 dolar dan sisanya untuk membeli bahan makanan untukku dan Fiona." Arvel menjelaskan dan Athena hanya mengangguk paham, wanita itu harus sadar diri mulai dari sekarang.
Setelah Arvel berangkat ke kantor, Athena juga langsung berangkat kuliah. Jarak rumah dengan university nya cukup jauh, sekitar 3,5 km. Karena waktu yang dimilikinya cukup banyak ia memutuskan untuk berjalan kaki daripada naik bus umum atau taksi. Ia termasuk gadis yang pemalu, karena sikapnya itu membuatnya sulit untuk mencari teman, dan sampai sekarang ia tidak memiliki teman sama sekali.
Jam kuliah dimulai, Athena segera mengeluarkan buku-bukunya dan mendengarkan dosen yang mengajar. Sampai ada seseorang yang masuk ke dalam kelasnya, ia mendongak melihat siapa yang masuk kelasnya. Mungkin murid baru, ia kembali mencatat materi.
"Disini kalian mendapatkan teman baru," ucap Miss. Ana selaku dosen Athena yang sedang mengajar. "Silahkan perkenalkan dirimu," lanjutnya.
"Perkenalkan namaku Ashley Rhys Lancaster," kata Ashley (murid baru)
1.54 p.m
Selesai sudah kuliah Athena hari ini, sebelum pulang ia memutuskan untuk ke supermarket untuk membeli kebutuhannya dan Arvel. Ia berjalan dan tanpa sengaja melihat sebuah ponsel seseorang jatuh dan sang pemilik tidak menyadarinya, dengan cepat ia mengambilnya dan memberikan ke sang pemilik.
"Tunggu!" teriak Athena agar sang pemilik ponsel bisa mendengar suaranya, dan ya akhirnya sang pemilik ponsel itu langsung menoleh. "Hai tunggu!!!"
"Kau memanggilku?"
"Iya, ini ponselmu tadi jatuh."
"Terima kasih, ngomong-ngomong kita satu kelas bukan?"
"Oh iya, kau murid baru itu kan?"
"Iya, perkenalkan namaku Ashley." Gadis itu mengulurkan tangannya untuk bisa bersalaman dengan Athena, dia ingin berteman dengan Athena. "Kau siapa?"
"Athena." Athena menjabat tangan Ashley.
"Senang bisa bertemu denganmu Athena dan terima kasih banyak telah mengembalikan ponselku," balas Ashley. "Athena maukah kau menjadi temanku?" Tanyanya dengan begitu ragu. Dia belum mendapatkan teman sama sekali, mungkin Athena bisa menjadi teman pertamanya di kampus ini.
Pertanyaan Ashley berhasil membuat Athena merasa senang karena baru kali ini ada seseorang yang mau berteman dengannya. "Dengan senang hati," ucapnya, dia sampai lupa untuk cepat pulang hari ini. "Kalau begitu aku pamit dulu, Ashley."
"Iya Athena, hati-hati dijalan."
"Iya," sahut Athena.
Athena sudah sampai di supermarket, ia mengambil troli belanja. Mengambil semua kebutuhan dapur, ia sengaja membedakan belanjaannya dengan Arvel. Untuk Arvel ia memilih daging, sayur, dan masih banyak lagi tanpa harus melihat harga karena uang Arvel yang diberikan tadi cukup banyak.
Sedangkan untuk bahan makanan dirinya Athena hanya memiliki sayur-sayuran, mencoba untuk mengatur kebutuhan yang dikeluarkan agar cukup untuk satu bulan kedepannya. Untung saja Athena bisa mengatur pengeluarannya dengan berhemat, menjadi seorang vegetarian bukanlah ide yang buruk.
Saat sudah sampai di rumah, Athena melihat seorang wanita paruh baya dan dua orang pria yang berada di rumahnya. "Permisi kalian siapa?" Tanya Athena sopan, kemarin mereka masih belum ada.
"Tuan Arvel menyuruh kami bekerja disini," ucap wanita paruh baya itu.
"Oh... semoga kalian nyaman bekerja di sini," kata Athena ramah. Sekarang dia akan punya teman di rumah, mungkin saja ini adalah awal yang baik untuknya.
"Terima kasih nyonya."
Athena merasa sedikit tidak nyaman dengan panggilan itu. "Tidak usah panggil nyonya, kalian bisa memanggilku Athena saja." Dia lebih suka dengan panggilan yang biasa, kata nyonya membuatnya muak sendiri.
"Itu benar, dia juga seorang pembantu di rumah ini, jadi kalian panggil dia dengan namanya saja," sahut Arvel yang baru pulang dengan seorang gadis cantik di sebelahnya. Dia menatap tajam semua orang, termasuk Athena.
"Maaf sir," ucap mereka bersamaan.
"Kenalkan ini Fiona, kalian harus mengurusi kebutuhan Fiona dengan baik." Arvel memperkenalkan Fiona dihadapan mereka, dia memang sengaja membuat Athena sadar diri akan posisi wanita itu. Dengan begini Athena akan sadar jika Fiona jauh lebih pantas untuk menjadi istrinya, memang tidak ada gunanya si Athena itu.
"Baik sir."
Athena hanya diam sambil melihat Fiona yang bersama Arvel, tidak tahu kenapa hatinya sangat sakit melihat Fiona bersama Arvel. Membandingkan dirinya dengan Fiona, tidak salah Arvel lebih memilih Fiona daripada dirinya. Fiona jelas lebih unggul, memiliki wajah yang cantik, tubuh yang sempurna siapa yang tidak tertarik? Bahkan ia bisa melihat kalau Fiona berasal dari keluarga yang terpandang.
"Josep ambilkan koper Fiona di mobil!" perintah Arvel lalu meninggalkan mereka dan langsung menuju kamarnya bersama Fiona. Melihat Athena membuatnya ingin marah-marah, wanita itu sungguh membuat moodnya hancur nanti.
Athena pergi untuk menaruh barang belanjaannya, sampai ada yang menepuk pundaknya. Dia pun menoleh melihat siapa pelaku yang melakukannya, dan ternyata itu adalah pelayan yang dipekerjakan Arvel.
"Nyonya, kenapa tadi diam saja?"
"Athena, nama saya Athena."
"Maaf Athena, saya sudah tahu semuanya. Kalau kau adalah istri sah dari tuan Arvel, tapi kenapa tadi kau diam saja saat tuan Arvel membawa gadis lain untuk tinggal di rumah ini?" Tanya wanita itu.
"Aku tidak punya hak untuk melarangnya."
"Semua istri berhak untuk melarang suaminya berselingkuh dengan wanita lain."
"Mungkin itu hanya untuk istri di luar sana saja dan tidak untukku." Athena merasa tidak akan ada perubahan sama sekali jika dia melawan, lebih baik dia diam sambil merencanakan sesuatu yang nanti akan membuat Arvel tunduk kepadanya.
"Kalau kau butuh seseorang untuk bercerita, saya siap mendengarkan semua ceritamu Athena."
"Terima Kasih, ngomong-ngomong aku belum tahu nama anda." Athena sangat senang bisa mendapatkan teman, sekarang dia tidak akan merasa kesepian. "Kita belum saling kenal, siapa nama anda?"
"Perkenalkan nama saya Emma."
"Bolehkah aku memanggil anda ibu?"
"Tak masalah."
"Dari mana ibu tahu tentangku?"
"Itu, dari nyonya Alia."
"Dari mommy Alia?"
"Iya, dulu saya bekerja di tempat nyonya Alia dan nyonya Alia selalu menceritakan tentangmu." Emma ikut merasa senang, dia memang sudah mengenal Athena. Apalagi gadis malang itu harus menghadapi dan menjalani hubungan dengan Arvel, pria yang dari awal sama sekali tidak menginginkan pernikahan itu.
Mereka banyak mengobrol membuat mereka menjadi lebih dekat, Athena merasa senang mempunyai teman di rumah. Sekarang yang ada di otaknya adalah cara untuk memperbaiki semuanya, mengusir Fiona dari hubungannya dengan Arvel, lalu membuat Arvel bisa mencintainya.
"Athena, biar ibu yang memasak makan siang, lebih baik kau bersih-bersih dulu." Emma tidak tega dengan Athena yang langsung bekerja dia dapur setelah baru pulang dari kuliah, gadis itu butuh istirahat sejenak.
"Biar Athena bantu saja, biar cepat selesai." Athena masih ngotot untuk memasak, lagipula setelah ini dia juga masih harus mengerjakan beberapa tugas kampus, jika nanti dia istirahat takutnya malah dia menjadi malas.
"Tidak usah, kau bersih-bersih dulu nanti boleh bantu ibu."
Athena mengangguk pasrah dan langsung menuju kamarnya untuk mengganti bajunya dengan baju yang lebih santai, sebenarnya dia tidak tahu dengan bertahannya dia apakah akan membuahkan hasil atau tidak? Pernikahan ini akan membuatnya bahagia atau tidak? Dia sama sekali tidak tahu. Yang terpenting dia sudah mencoba untuk menyelamatkan hubungan pernikahannya dengan Athena.
Sekitar 10 menit berlalu Athena kembali ke dapur untuk membantu Emma memasak, "sini biar Athena saja yang potong sayurnya." Dia memotong sayur untuk dibuat sup, tugas seperti ini sama sekali tidak membebaninya.
"Athena, boleh ibu bertanya sesuatu?"
"Boleh."
"Kenapa kau tidak keberatan dengan kedatangan nyonya Fiona?"
Athena menghentikan gerakan pisau yang dipegang untuk memotong sayuran. "Kalau ditanya keberatan itu sudah pasti, istri mana yang rela membagi suaminya dengan wanita lain? Tapi itu sudah takdir untukku. Mungkin hanya dengan ini Arvel bisa bahagia," ucap Athena panjang lebar.
Emma yang mendengar itu merasa sedih. Bagaimana bisa gadis seusia Athena yang biasanya masih menikmati masa muda dengan bersenang-senang, sedangkan Athena harus berusaha membagi suaminya untuk gadis lain. Dengan cepat dia memeluk Athena, bukannya menangis Athena malah tersenyum dan membalas pelukan Emma. "Kau gadis yang kuat Athena."
Mereka kembali melanjutkan memasak, Athena menyiapkan berbagai makanan di meja makan. Lalu kembali memasak untuk dirinya sendiri, dia akan memulai program diet apalagi berat badannya sedikit naik turun akhir-akhir ini.
"Semuanya sudah siap, kenapa kau ingin memasak lagi?" Tanya Emma yang baru datang.
"Oh... aku memasak untukku sendiri."
"Bukankah kita tadi memasak banyak, lalu kenapa kau tidak makan makanan tadi saja?" Bingung Emma.
"Itu buat Arvel, dia sudah memberikan uang untukku jadi aku harus membeli makanan sendiri dan membedakan antara bahan makanan untuknya dan untukku," jawab Athena. Hal itu memang benar dengan apa yang terjadi, memang sialan sudah si Arvel.
"Bukankah uangnya juga milikmu?"
"Emm.... Arvel hanya memberikan uang 100 dollar untuk kebutuhanku selama satu bulan," terang Athena. Bukannya menjelek-jelekkan atau apa? Selama ini dia tidak terbiasa untuk berbohong. "Sebenarnya aku muak dengan sikap Arvel, walaupun aku melawan semuanya tidak akan berubah, itulah sebabnya aku diam."
"Apa cuma 100 dollar?" Kaget Emma, kehidupan di Amerika itu tidak murah bagaimana bisa hidup satu bulan dengan uang 100 dollar saja? Sangat miris sekali. Setidaknya di Amerika membutuhkan minimal 500 dolar atau lebih untuk satu bulan.
"Iya, aku tahu itu."
"Uang 100 dollar tidak akan cukup."
"Walaupun tidak cukup, aku yakin akan cukup jika aku bisa mengelola uang itu dengan baik . Lagipula aku tidak akan membeli barang-barang yang terlalu mahal," kata Athena dengan yakin. Dia bisa mengatur semua keuangannya, perkara itu sama sekali tidak sulit.
"Athena, bahkan aku dalam satu bulan bisa menghabiskan uang lebih dari itu untuk kebutuhan sehari-hari," sambung Emma yang tidak yakin Athena bisa hidup hanya dengan uang 100 dollar saja. Gadis itu masih saja ngotot, padahal dia tahu Athena tidak akan bisa hidup dengan uang sekecil itu.
"Tenanglah Bu, aku yakin uang itu cukup." Athena yakin, mau cukup tidak cukup ia harus bisa bertahan dengan uang itu. Athena melanjutkan memasak, setelah selesai ia mencoba mengintip Arvel dan Fiona yang sedang makan di meja makan. Kebersamaan mereka membuatnya ingin meneteskan air matanya. Arvel tampak bahagia bersama Fiona, bahkan ia belum pernah melihat Arvel yang tersenyum lebar saat bersamanya.
"Sudah Arvel, aku sudah kenyang."
"Ayolah satu kali lagi," bujuk Arvel.
"Baby," panggil Fiona.
"Iya, kenapa?" Tanya Arvel.
"Jangan pernah tinggalkan aku," pinta Fiona dan Arvel tersenyum melihat tingkah Fiona. Dia tahu ada seseorang yang sedang mengintipnya, itulah sebabnya dia akan menunjukkan bahwa Arvel hanya mencintainya.
"Pasti, aku tidak akan meninggalkanmu."
Fiona mencium bibir Arvel dan Arvel langsung membalas ciuman Fiona, mereka berciuman tanpa rasa malu sekalipun. Semua itu tidak luput dari penglihatan Athena, hatinya bagai ditusuk ribuan jarum. Kenapa ia harus melihat adegan ini? Baik Arvel dan Fiona tidak tahu tempat. Mereka terlalu larut satu sama lain tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Athena mengusap air matanya kasar, tidak boleh ada yang melihatnya menangis, dia menuju taman untuk menenangkan hatinya.
Emma datang dan kemudian duduk di sebelah Athena, memeluk gadis itu dan membuatnya sedikit tenang. Athena sudah tidak menangis lagi, karena ada Emma di sampingnya membuatnya enggan menunjukkan sikap cengengnya ke orang lain.
"Kenapa kau harus sekuat ini, Athena?"
"Mau bagaimana lagi? Aku harus mempertahankan rumah tanggaku. Jika aku memisahkan mereka aku yakin Arvel pasti akan lebih membenciku, tak apa aku yang terluka asal aku bisa melihat Arvel setiap hari bahagia. Lagi pula dengan adanya Fiona aku jadi lebih sering melihat Arvel tersenyum," kata Athena sambil tersenyum ke arah Emma.
"Hai b***h dimana kau?" Teriak Arvel
"Sebentar tuan." Athena melepaskan pelukannya dengan Emma, dia segera menghampiri Arvel. Ada apa pria itu memanggilnya? Biasanya juga bodo amat. Dia terpaksa harus bergegas untuk mencari keberadaan Arvel, jangan sampai dia kena omel lagi.
"Lama sekali kau," gerutu Arvel.
"Apa yang bisa saya bantu tuan?"
"Antar kan Fiona ke kamarnya!!!"
"Mari nyonya saya antarkan ke kamar."
Semoga saja tidak terjadi apa-apa nanti, Athena berharap Fiona bukanlah wanita yang jahat dan tidak seperti apa yang dia
pikirkan sebelumnya. Karena bagaimanapun juga wanita itu sama sekali tidak punya hak atas Arvel, Fiona hanya wanita selingkuhan.
"Aku yakin ini hanya bertahan sebentar saja, Fiona tidak akan lama tinggal di sini."