Athena mengikuti Fiona dari belakang, saat pintu kamar dibuka Fiona menyuruhnya untuk masuk ke kamarnya dulu. Sebenarnya Athena sedikit curiga, tapi dia berusaha untuk menghilangkan pikiran negatifnya. "Ada yang nyonya ingin bicarakan?" Tanyanya yang sudah berada di kamar Fiona. Pandangannya tertuju pada seluruh penjuru ruangan itu.
"Aku peringatkan kau, b***h! jangan pernah mencoba untuk mengambil Arvel dariku!" Ancam Fiona sambil menunjuk wajah Athena. Sampai kapanpun Arvel adalah miliknya, tidak ada yang boleh memiliki Arvel kecuali dia!
"Maaf nyonya saya tidak bisa menjaminnya, karena bagaimanapun Arvel adalah suami saya." Athena menyingkirkan tangan Fiona dari hadapannya. Benar bukan apa yang dikatakan Athena? Dalam negara dan agama Arvel adalah suami sahnya.
"Berani sekali kau," kata Fiona yang kini menjambak rambut Athena dan mendorong Athena sampai jatuh. "Aku peringatkan sekali lagi! jauhi Arvel!" Suara Fiona berubah menjadi tinggi. Dia begitu membenci Athena, jika sudah pada dasarnya p*****r yang tetap p*****r.
"Jauhi bagaimana maksud anda, nyonya? Saya dengan tuan Arvel sudah terikat janji pernikahan, lalu bagaimana saya bisa menjauhinya?" jawab Athena sambil berusaha berdiri. Dia tidak mau kalah dengan Fiona, posisinya lebih unggul daripada wanita itu.
Fiona langsung melototkan matanya tanda tak suka mendengar itu. "Buat Arvel membencimu!" sahut Fiona sambil mencengkram kuat tangan Athena. Apapun cara dia akan lakukan untuk menyingkirkan Athena, gadis itu tidak boleh merebut miliknya.
Athena menahan rasa sakit di tangannya karena ulah Fiona, "bukankah tuan Arvel sudah membenciku?" Percayalah dia sama sekali tidak akan menuruti keinginan Fiona. Sampai kapanpun dia akan menjadi istri Arvel, mereka tidak akan bercerai.
"Kalau begitu minta cerai dari Arvel dan biarkan Arvel bahagia bersamaku."
Seketika Athena langsung menggelengkan kepalanya, "maaf nyonya saya tidak bisa melakukan hal itu." Dia membuka pintu dan pergi meninggalkan Fiona, tapi Fiona malah menutup pintunya kembali. Tangannya terkepal melihat itu, dia tidak boleh emosi disaat-saat seperti ini. "Maaf nyonya kurasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi disini."
Fiona tersenyum meremehkan,"oh ya?" Fiona mendekati Athena yang masih berdiri di depan pintu. "Kau hanya seorang p*****r, apa kau tidak tahu malu? Berani sekali kau ingin mengambil Arvel dariku." Athena bukanlah saingan yang sepadan dengannya, dia jauh lebih unggul dari p*****r seperti Athena.
"Ma---"
Belum sempat Athena ingin menjawab, Fiona menampar pipi kanan Athena. Plak... "Apa kau bilang maaf? Tak ada gunanya kau meminta maaf. Gara-gara kau aku tidak jadi menikah dengan Arvel," kata Fiona sambil mencekik leher Athena.
"Tolong lepaskan saya, nyonya," ucap Athena mencoba melepaskan tangan Fiona yang mencekik lehernya. Athena merasa kesusahan bernafas, dia terus mencoba untuk memukul tangan Fiona. Dia masih bisa bersabar, tapi tidak lagi jika Fiona terus mengusiknya.
"b***h, dimana kau?"
Suara Arvel membuat Fiona langsung melepaskan cekikan di leher Athena, dia tidak boleh kelepasan. Bisa-bisa nanti Arvel akan memarahinya, lalu pria itu mengetahui semua kebusukannya. "Kau selamat kali, lain kali aku tidak akan melepaskan mu."
Athena keluar kamar Fiona dan menemui Arvel yang tadi memanggilnya, dia berlari menuju ruang kerja Arvel, saat sudah berada di depan pintu ruang kerja Arvel, dia mengetuk pintunya terlebih dahulu. Pria itu tanpa sadar sudah menyelamatkannya, walaupun dia tidak takut dengan Fiona. Hanya saja pasti Arvel akan semakin membencinya jika dia menyakiti wanita itu, permainan halus dan licik digunakan.
"Masuk." Arvel mengalihkan pandangannya dari iPad nya ke Athena. "Apa yang kau bicarakan dengan Fiona?" Dia ingin tahu apa yang dibicarakan kedua wanita itu, perasaannya tidak enak.
Athena tak tahu harus menjawab apa? Mungkin berbohong adalah jawaban yang tepat untuk saat ini. "Tidak tuan, aku tidak berbicara sama sekali dengan nyonya Fiona." Dia berusaha tidak gugup di depan Arvel, harus tenang dan berani.
"Sekarang buatkan aku jus jeruk!"
Athena pergi untuk membuatkan jus jeruk untuk Arvel, sepertinya dia harus lebih berhati-hati dengan Fiona untuk saat ini, ini demi keselamatannya. "Hanya sebentar saja, pasti setelah ini Fiona akan kalah denganmu, Athena." Dia terus saja berbicara dengan dirinya sendiri, berharap semuanya baik-baik saja.
"Apa yang dikatakan nyonya Fiona padamu, Athena?"
Athena menoleh saat mendengar suara Emma. "Tidak ada Bu, dia hanya menyuruhku membantu menata baju di lemari," bohongnya. Lebih baik dia tidak memberitahu Emma, biarkan semua ini dia yang mengurusnya sendiri.
"Kau tidak sedang berbohong kan, Athena?" Curiga Emma melihat tingkah Athena yang menurutnya sedang menyembunyikan sesuatu. "Tidak perlu berbohong, kau bisa cerita jika memang tadi nyonya Fiona mengancam mu."
"Tidak, ibu tenang saja."
"Ibu siap mendengar semua ceritamu."
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama Athena."
"Athena pergi dulu, jus nya sudah siap," pamit Athena dengan membawa nampan berisi satu gelas jus jeruk. Dia pergi untuk memberikan jus jeruk itu untuk Arvel, setelah ini dia harus mengerjakan beberapa tugas kuliah. "Permisi, tuan ini jus nya." Dia meletakkan nampan berisi jus itu di meja Arvel, lalu menatap Arvel sebentar.
"Kau boleh keluar."
Beberapa jam kemudian...
Athena baru selesai mengerjakan tugas kampus, dia melirik ke arah jam ternyata sudah jam enam sore, ini saatnya dia harus membuat makan malam. Rencananya dia akan membantu Emma memasak kali ini, setelah itu baru dia akan menyelesaikan pekerjaan lain.
"Bagaimana sudah selesai tugasnya?"
"Sudah Bu," jawab Athena. "Kali ini kita mau masak apa, Bu?" Dia membersihkan tangannya di wastafel. Sampai saat ini dia masih belum mengenal Arvel lebih jauh, mulai dari makanan yang disukai pria itu dan yang tidak disukai.
"Steak dan spaghetti bolognese."
"Sini, Athena bantu."
"Iya, ini potong dagingnya."
"Bercerita lah tentang kehidupan ibu."
"Lebih baik kita bahas tentang dirimu saja Athena, ibu ingin mengenal lebih jauh tentang dirimu." Emma mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan Athena, dia sebenarnya hanya mengenal Athena dari Alia saja.
"Tidak ada yang menarik dalam hidupku."
"Jangan bicara seperti itu, Athena." Emma juga merasa kasihan dengan Athena, di umur nya yang masih belia dia harus berusaha mempertahankan rumah tangganya sendiri. "Kau harus bisa, pasti semuanya akan bahagia di saat yang tepat."
"Sekarang tujuan hidupku adalah berusaha membuat Arvel tidak membenciku," pikir Athena. Dia merasa itu adalah jalan keluar dari semua masalahnya, mungkin memang Arvel lah yang akan menjadi jodohnya, semoga saja.
"Aku yakin Athena suatu saat nanti tuan Arvel pasti akan mencintaimu sampai tidak ada yang bisa memisahkan cinta kalian."
Setelah banyak mengobrol panjang lebar akhirnya mereka sudah selesai dengan tugas memasak untuk makan malam, Athena melihat Arvel dan Fiona yang baru datang sambil bergandengan tangan. Hatinya tentu saja mulai panas melihat itu, mereka sama sekali tidak menghargai perasaannya.
"Aku ingin makan diluar saja," kata Fiona.
"Makan malamnya sudah siap."
"Ayolah sekali saja."
Athena yang melihat itu hanya diam sambil meremas baju yang ia pakai, ternyata kedekatan mereka membuat hatinya terasa sakit. Padahal ini baru awal nya saja, bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Sialan memang semua ini. Kehadiran Fiona sepertinya akan menjadi malapetaka.
"Baiklah, kalian bisa makan makanan itu, kecuali kau!" Arvel menunjuk wajah Athena. Dia memang sengaja melakukan itu, tujuannya hanya satu. Biar Athena tidak lagi memiliki perasaan kepadanya, setelah itu Athena pasti akan melayangkan gugatan cerai.
"Baik tuan," balas Athena. "Sialan kau, Ar."
"Sabar Athena."
Athena hanya tersenyum, mau menangis tapi dia tahu ini bukanlah saat yang tepat untuk mengeluarkan air matanya. Tantangan di dalam hidupnya baru saja dimulai, saat ini dia harus menyiapkan mentalnya untuk menghadapi cobaan hidupnya yang mulai terasa berat.
*****
Three day later
Fiona masih tinggal bersama Arvel dan sejak itu juga Athena selalu saja melihat kebersamaan mereka, sekarang Fiona berada di ruang keluarga bersama Arvel. Athena datang untuk membersihkan ruangan tersebut. "Maaf tuan, saya izin mau membersihkan ruangan ini," izin Athena.
"Yang bersih!"
"Baik nyonya."
"Apakah hari ini kau jadi pergi?" Tanya Arvel yang matanya masih fokus pada televisi. Dia sama sekali tidak memperdulikan kehadiran Athena, dia tidak membenci wanita itu tapi lebih tepatnya menghindari.
"Iya, cuma 2 hari, kau tenang saja."
Fiona memeluk lengan Arvel. Semua itu tak luput dari penglihatan Athena. Di dalam hatinya dia terus terus saja mengumpat, rasa kesal dan gemas membuatnya ingin menendang wajah Fiona menggunakan kakinya.
"Kau sudah mengemasi barang mu?"
"Sudah, tinggal berangkat saja."
"Cepatlah kembali, aku pasti akan merindukanmu."
Athena yang mendengar ucapan Arvel pun ingin meneteskan air mata sekarang juga, kenapa berpura-pura kuat itu sangat menyakitkan? Padahal dia bisa saja menyingkirkan Fiona dengan cara kekerasan, tapi dia tidak bisa melakukannya.
"Hai bahkan aku belum pergi." Fiona yang melihat Athena cemburu dengan cepat langsung mencium bibir Arvel, lagi-lagi dia sengaja melakukannya. Dia harus sering-sering memperlihatkan kedekatannya dengan Arvel kepada Athena, biar wanita itu tahu dan sadar diri.
Mereka malah melakukan hal yang membuat Athena ingin pergi dari ruangan itu. Fiona tak tinggal diam, dia mencoba memperdalam ciumannya dan Arvel tak bisa menolak ciumannya. Athena bahkan tidak menyangka kalau mereka akan melakukan hal itu, mencoba mengalihkan pandangannya dengan menunduk, tapi suara desahan Fiona menggema di ruangan itu.
Apa yang harus Athena lakukan? Apakah dia harus pergi dari sini? Arvel melepaskan ciumannya. Melirik ke arah Athena yang masih menunduk, dia sebenarnya tahu jika Athena memiliki rasa kepadanya. Itulah sebabnya dia berusaha membuat wanita itu membencinya, dan setelah itu mereka bisa berpisah.
Fiona tersenyum puas, Athena tidak akan bisa merebut Arvel darinya. Dia melirik jam ternyata sudah pukul 5 sore, dia harus cepat-cepat pergi ke bandara. Penerbangan dari New York ke Paris akan berangkat jam setengah 6. "Arvel ayo, kita pergi! waktuku tinggal sedikit." Dia berlari dan saat berada di depan Athena dengan cepat dia dengan sengaja menyenggol tubuh Athena.
Arvel mengejar Fiona, "tunggu!"
"Ayo Arvel!"
"Josep taruh koper Fiona di mobil!"
Arvel mengantarkan Fiona ke bandara, setelah itu ada telpon dari sekretarisnya yang mengatakan kalau ia harus ke kantor untuk menandatangani berkas penting. Tidak tahu kenapa sekarang kepalanya sedikit pusing? Sekarang sudah pukul 10 malam, saat ia sudah berada di depan mansion nya yang tampak sepi. Hanya Josep yang masih berjaga, ia keluar dari mobil dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion.
Tidak tau kenapa tenggorokannya kering? Hal itu membuatnya harus ke dapur untuk mengambil minuman. Saat membuka kulkas tiba-tiba kepalanya pusing dan rasanya tubuhnya sangat lemas, dia langsung duduk di lantai untuk meredakan rasa sakit.
"Tuan, baik-baik saja?" Athena yang baru saja datang terkejut melihat Arvel duduk di lantai. "Ada apa? Kau sakit?"
Arvel tak menjawabnya, rasa pusing itu membuatnya lemas. Apa dia demam? Tiba-tiba dia sakit, padahal tadi pagi keadaannya masih baik-baik saja. "Auw... Sht...." Dia memegang kepalanya, rasanya seperti berputar-putar.
Athena yang tidak tahu Arvel kenapa? Dia mendekati Arvel dan mencoba memegang tangan Arvel, ternyata suhu tubuh Arvel sangat tinggi. Dia yakin Arvel demam, dengan cepat ia membantu Arvel berdiri, tubuh Arvel yang berat membuatnya sedikit kewalahan.
Dia ingin sekali meminta tolong Josep, tapi dia tidak ingin merepotkan Josep. Belasan kali dirinya terus mencoba tapi usahanya sia-sia, dia tidak kuat bila harus membawa Arvel sampai kamar. Tak ada pilihan lain selain dirinya harus meminta bantuan kepada Josep, dia meninggalkan Arvel untuk meminta tolong Josep.
"Josep," panggil Athena.
"Ya Athena," jawab Josep.
"Bisakah kau membantuku?"
"Tentu saja, apa yang bisa aku bantu?"
"Ikut aku!" Athena menarik tangan Josep.
"Hai kita mau kemana?"
Setelah sampai Athena mendekati Arvel, sedangkan Josep bingung apa yang harus dia lakukan? Athena menunjuk Arvel yang masih terduduk sambil menahan rasa sakit. "Josep, bantu aku membawanya ke kamar, dia demam tinggi."
"Ayo."
Arvel hanya pasrah karena badannya sudah tidak kuat lagi, Athena langsung membukakan pintu kamar Arvel. Josep meletakkan Arvel di ranjang king size nya, sekarang tinggal saatnya Athena yang beraksi. "Terima kasih Josep."
"Sama-sama, aku pergi dulu."
Setelah melihat Josep yang pergi, Athena membenarkan posisi tubuh Arvel, melepaskan sepatu Arvel. Dia ingin keluar untuk mengambil obat, tapi Arvel malah menahan tangannya. "Ada apa?"
"Jangan tinggalkan aku," gumam Arvel.
Athena kaget tidak biasanya Arvel bersikap manja seperti ini, dia kembali dan duduk di samping tempat tidur Arvel. "Tidak tuan, aku hanya ingin mengambil obat serta makanan. Aku tahu kau belum makan," terangnya, tapi Arvel belum melepaskan genggamannya.
"Tidak, kau disini saja," tolak Arvel.
Athena menghela nafasnya, ternyata Arvel memiliki sifat yang sangat manja saat sakit. "Aku janji akan kembali, biarkan aku ambil obat dulu," katanya menyakinkan pria itu. Akhirnya Arvel melepaskan genggamannya dan membiarkannya pergi, dia pergi ke lantai satu.
Athena mengambil baskom dan mengisinya dengan air es, tak lupa juga satu kain kering. Dia memutuskan untuk membuat soup, karena makanan tadi malam sudah habis. Setelah selesai dengan sup nya, dia juga tak lupa mengambil obat penurun panas. Setelah semua yang dibutuhkan sudah siap, dia membawanya ke kamar Arvel.
Saat membuka kamar, matanya melihat Arvel yang sedang bergelut dengan selimutnya. Dia duduk di sisi ranjang, dan mengelus pelan tangan Arvel yang masih terasa sangat panas. "Bangunlah, kau harus makan dulu setelah itu baru minum obat."
Arvel yang mendengar suara itu langsung membalikkan tubuhnya dan dengan cepat memeluk Athena, dia membutuhkan gadis itu. Bersama Athena dia merasa seperti nyaman sekali, keadaannya memang sedang tidak baik-baik saja, tapi dia bisa merasakan sebuah kenyamanan yang sesungguhnya.
Athena terkejut dengan pelukan tiba-tiba Arvel, jantungnya kini sudah tidak bisa dikontrol, dia merasa sangat senang karena ini pertama kalinya Arvel memeluknya. "Makan dulu," bujuk Athena yang kemudian membalas pelukan hangat Arvel, bahkan ia bisa merasakan kenyamanan saat Arvel memeluknya.
Mata tajam Arvel memandang Athena dengan lembut. Entah sudah berapa kali jantung Athena berdetak kencang, dia mengambil sup dari nampan dan memberikannya kepada Arvel. Pria itu harus makan dulu sebelum minum obat, perut Arvel juga sama sekali belum terisi apa-apa.
"Suapi," kata Arvel dengan sangat manja.
Athena menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja Arvel, kali ini Arvel sungguh sangat lucu dan menggemaskan. Dia akhirnya mau tak mau harus menyuapi Arvel, ini adalah momen yang sangat langka. "Aku akan suapi, tapi makanannya harus kau habiskan."
Baru beberapa sendok Arvel sudah menjauhkan sup itu dari hadapannya, tapi Athena terus memaksanya untuk makan lagi. "Sekali lagi," kata Athena sambil mendekatkan sendok berisi sup di depan mulut Arvel.
"Tidak!" Tolak Arvel.
Hal itu membuat Athena menghembuskan nafasnya, sangat susah ternyata mengurus Arvel saat sakit. "Padahal baru tiga sendok, sekali lagi saja ya?" Bujuknya lagi dan Arvel tampak menerima bujukan itu. Dia tersenyum senang melihat Arvel yang menurut, pria itu seperti kucing yang sangat menggemaskan.
Arvel memakan suapan terakhir, Athena merasa senang melihat itu. Dia merasa sangat bahagia bisa sedekat ini dengan Arvel, pertama kalinya dia bisa dengan bebas menatap mata coklat Arvel. "Sekarang minum obatnya, setelah itu tidur." Dia memberikan obat untuk Arvel, dari tadi dia terus saja memperhatikan Arvel.
"Pahit."
"Obat memang pahit."
"Minum."
Athena memberikan segelas minuman lagi, semoga besok panas pria itu akan turun. "Sekarang tidur," perintahnya sambil mengompres dahi Arvel. Dia juga menarik selimut untuk menutupi tubuh pria itu, setelah Arvel tidur dia akan pergi.
Dari tadi Arvel masih belum mau menutup matanya, tentu hal itu membuat Athena juga tidak bisa kembali ke kamarnya untuk istirahat. "Tidurlah Ar," ucapnya sambil mengelus rambut Arvel. Dia sudah seperti seorang ibu yang mengurus bayi besar, apa perlu dia juga mendongengkan sebuah cerita supaya Arvel tidur?
Tangan Arvel menarik tubuh Athena ke dekapannya, tidak bisa dimungkiri jika pelukan dan sentuhan yang diberikan Athena membuatnya begitu nyaman. Dia menikmati semua sentuhan itu, bahkan dia juga bisa merasakan suara detak jantung Athena yang terus saja berdebar kencang.
Athena mencoba melepaskan pelukan itu, tapi Arvel malah semakin mengeratkan nya. Dia membenarkan posisinya agar Arvel lebih nyaman memeluknya, tak terasa air matanya jatuh tanpa sebab, melihat Arvel yang memeluknya erat membuatnya sangat bahagia. Dia mengusap lembut rambut Arvel, mencoba menikmati saat-saat dirinya bisa dekat dengan Arvel.
Merasa Arvel sudah tidur Athena mencoba melepaskan pelukan pria tampan itu dengan hati-hati agar tidak membuat Arvel terbangun, tapi dugaannya salah, saat dirinya ingin mengangkat tangan Arvel yang melingkar di tubuhnya, tiba-tiba Arvel semakin menarik pinggang Athena.
Athena tidak tau harus bagaimana?
Apakah dia harus tidur bersama Arvel?
Tapi bagaimana kalau Arvel besok tahu?
Athena tak tega melihat Arvel yang seakan tidak ingin melepaskannya, dia mencoba membaringkan tubuhnya di samping Arvel. "Nyaman" itulah yang sedang dirasakan Athena saat berada di dekat Arvel. Dia masih belum menyangka bisa sedekat ini dengan Arvel, tangannya dengan berani menyentuh wajah tampan Arvel. Menyentuh pipi, hidung, alis, dan yang terakhir menyentuh bibir Arvel.
Tak disangka Arvel terganggu dengan belaian tangan Athena, dia membuka matanya dan hal yang pertama kali dia lihat wajah cantik Athena. Pandangannya beralih ke bibir merah Athena, dia sangat tergoda untuk mencium bibir itu, bibir Athena tampak sangat menggiurkan. Tanpa pikir panjang dia mencium bibir Athena, dan benar saja yang ada dipikirannya, bibir Athena sangat manis.
Sedangkan di sisi lain Athena tak tahu harus apa? Ini adalah ciuman pertamanya. Benar-benar sangat aneh rasanya, ciuman pertamanya diambil Arvel. Ternyata pria itu yang berhasil melakukannya, sekarang dia seperti gadis polos dan tidak tahu apa-apa.
Arvel terus mencium bibir Athena rakus, bahkan dia lebih menyukai bibir Athena daripada Fiona. Walaupun sangat jelas terlihat jika Athena masih belum berpengalaman, tapi dia menyukainya. Seketika dia kecanduan dengan bibirnya itu, dia ingin terus merasakannya.
Athena diam dan tidak membalas ciuman itu, sampai Arvel menggigit bibir bawahnya, dia meringis saat merasakan darah segar mengalir dari bibirnya. Rasa perih terasa saat Arvel kembali melumat bibirnya, ternyata seperti ini rasanya ciuman bibir.
Dan akhirnya Arvel mengakhiri ciuman itu, karena melihat Athena yang sudah kehabisan nafas. Dia mengecup bibir Athena yang basah karena ulahnya dengan tangannya, bibirnya sedikit terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman. "Tidurlah." Dia kembali mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Athena.
6.07 a.m
Athena terbangun, kenapa di perutnya ada sesuatu yang berat? Dia melirik ke kanan ternyata itu tangan Arvel. Mengingat kejadian semalam membuat pipinya seketika merona, sikap Arvel yang sangat manja padanya, lalu first kiss nya diambil oleh pria itu membuatnya tersenyum tidak jelas.
Dia menyingkirkan tangan Arvel dari perutnya, setelahnya dia mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil kembali mengecek suhu tubuh Arvel. "Syukurlah demamnya turun," ucapnya lega, karena Arvel sudah tidak demam lagi.
Athena melirik jam dinding ternyata sudah jam 6 pagi, dia langsung beranjak dari tempat tidur Arvel dan keluar untuk menyiapkan sarapan. Sampai di lantai bawah dia melihat Emma yang sedang mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkas. "Pagi Bu," sapa Athena.
"Pagi juga, Athena."
"Hari ini mau masak apa?"
"Pancake, muffin blueberry, scrambled egg, salad, dan omelette."
Athena mulai menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat semua itu, Arvel harus sarapan. Kalau tidak, pasti pria itu akan kembali sakit lagi nanti. "Biar Athena saja yang membuat ini, aku bisa."
"Baiklah. Oh ya sampai lupa, kata Josep tadi malam tuan Arvel sakit?" Emma bertanya sambil mengaduk adonan pancake. Dia akan menanyakannya kepada Athena, karena gadis itu yang semalam menemani Arvel.
"Iya, tapi demamnya sudah turun."
"Syukurlah."
Mereka sudah selesai memasak, kini mereka tinggal menata semuanya di meja makan saja. Mereka melihat Arvel yang baru saja turun dengan pakaian santainya, termasuk Athena yang memperhatikan Arvel dengan begitu seksama. "Mungkin dia hari ini tidak akan masuk kerja," gumamnya pelan.
Arvel duduk , lalu matanya tak sengaja berpapasan dengan mata Athena, tapi dia lebih dulu mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia sama sekali tidak mengingat kejadian tadi malam. Bahkan wajah wanita yang semalam merawatnya saja dia tidak tahu, tapi dia bisa merasakannya.
Arvel pov
Setelah mengantar Fiona aku mampir dulu untuk menandatangani berkas penting di kantor. Aku belum makan malam kali ini, karena Fiona terus merengek tidak mau langsung ditinggal. Saat sudah sampai di mansion, Josep membukakan gerbang untukku.
Saat baru masuk ke dalam mansion tiba-tiba kepalaku pusing, tapi aku mengabaikan itu dan memilih untuk langsung menuju dapur untuk mengambil minum. Baru saja membuka kulkas kepalaku terasa sangat pusing dan badanku juga terasa sangat lemas. Mungkin itu efek karena aku belum makan malam, pikirku dalam hati.
"Arghhhhh......" bukannya semakin membaik kini malah kepalaku semakin pusing. Tubuhku luruh ke lantai karena sudah tidak kuat lagi, atau mungkin ini karena aku terlalu kecapekan? Sudah beberapa hari ini aku selalu bekerja nonstop.
"Tuan, baik-baik saja?"
Aku mendengar suara seseorang, tapi aku tidak menjawabnya karena rasa pusing itu membuatku sangat lemas. Sampai aku merasakan dia memegang tangan ku dengan begitu lembut, wanita itu berusaha untuk mengangkat tubuhku tapi tidak bisa, lalu dia pergi dan meninggalkanku sendiri. Tak tahu kenapa? Dia malah kembali lagi bersama seorang pria.
"Josep bantu aku membawanya ke kamar, dia demam tinggi."
"Terima kasih Josep."
Setelah itu mereka membawaku ke kamar, wanita itu mulai melepaskan sepatu yang ku pakai. "Jangan tinggalkan aku," pintaku tak tahu kenapa? Aku ingin gadis itu disini. Menemaniku dan memelukku semalaman, aku ingin hal itu.
"Tidak tuan, aku hanya ingin mengambil obat serta makanan. Aku tahu kau belum makan."
"Tidak, kau disini saja."
"Aku janji akan kembali, biarkan aku ambil obat dulu."
Entah kenapa aku sangat percaya dengannya kalau dia akan kembali, aku percaya dengan gadis asing itu. Dia pasti akan kembali untukku, dan tidak akan pernah meninggalkanku. Sembari menunggunya kembali aku mencoba untuk tidur sejenak, tapi usahaku sia-sia aku sama sekali tidak bisa tidur. Sampai ada suara yang membuatku langsung menoleh.
"Bangunlah, kau harus makan dulu setelah itu baru minum obat."
Ah ternyata gadis itu kembali.... Tak tahu kenapa aku malah langsung memeluknya dan untuk yang pertama kalinya aku merasa sangat nyaman saat memeluknya, pelukan ini lebih nyaman daripada pelukan Fiona. Kenapa aku bisa berfikir seperti itu? Pelukan Fiona selalu akan menjadi yang terbaik.
"Makan dulu," bujuknya.
Kemudian dia membalas pelukanku, hatiku sangat senang bisa memeluknya, rasanya aku ingin terus memeluknya seperti ini. Mataku menatapnya wajahnya yang menurutku sangat cantik, walaupun gadis itu tidak memakai make up. Aku melihatnya menegang saat aku menatapnya, gadis itu mengambilkan sup yang berada di nampan dan memberikannya kepadaku.
"Suapi." Dan tidak tahu kenapa aku menjadi manja dengannya? Ini sangat jauh berbeda dengan diriku. Dengan mommy saja aku tidak akan pernah semanja ini, tapi dengan gadis itu aku selalu merasa ingin diperhatikan.
Makanan itu sangat enak, tapi rasanya perutku terus menolak dan ingin memuntahkannya. Aku tidak bisa makan lagi, ingin muntah jika terlalu banyak mengunyah dan menelan makanan yang masuk.
"Sekali lagi," katanya.
"Tidak!"
"Padahal baru tiga sendok, sekali lagi saja ya?"
Bujuknya lagi, aku menerima bujukannya kali ini. Melihatnya wajahnya membuatku langsung luluh. Aku langsung memakan suapan terakhir, sekuat tenaga aku menahan makanan itu agar tidak keluar dari mulutku.
"Sekarang minum obatnya, setelah itu tidur."
"Pahit."
"Obat memang pahit."
"Minum."
"Sekarang tidur."
Gadis itu kemudian mengompres dahi ku, mungkin setelah itu demamku akan turun. Sampai dia kembali mengucapkan sesuatu yang membuatku tersadar--- "Tidurlah Ar," ucapnya sambil mengelus rambutku, aku menariknya ke dalam dekapanku.
Dia membenarkan posisinya agar aku lebih nyaman memeluknya, benar dugaan ku pelukan ini sangatlah nyaman. Dia mengelus rambutku, hal itu membuat ku semakin memeluknya erat. Aku menutup mataku, tapi itu sama sekali tidak bisa membuatku tidur. Selalu ada perasaan kalau gadis itu akan meninggalkanku saat aku tidur nanti, itulah yang membuatku tidak bisa tidur.
Dan benar saja gadis itu mencoba melepaskan pelukanku, tapi dengan cepat aku kembali menarik pinggangnya, mendekapnya erat seolah-olah aku tidak ingin dia jauh dariku. Aku sudah bisa tidur dengan nyaman, ini adalah pertama kalinya aku tidur nyenyak. Biasanya tidak bisa seperti itu. Aku merasakan tangannya mulai menyentuh wajahku mulai dari hidung, mata, alis, dan yang terakhir adalah bibirku.
Getaran aneh muncul, sentuhannya seakan membuat sengatan aneh di bibirku. Saat ku buka mataku hal yang pertama kalau aku lihat adalah wajah cantiknya, pandangan mataku langsung jatuh ke bibir merahnya. Membuatku ingin sekali mencicipi bibir itu, bibir yang tipis tapi begitu menggoda.
Tanpa basa-basi aku mencium bibirnya, dan yang benar saja bibirnya sangat manis. Dia tidak membalas ciuman itu, Mungkin ini pertama kalinya baginya berciuman, bahkan bibir ini lebih nikmat dibandingkan bibir Fiona.
Karena dia tidak membalas ciumanku, aku menggigit bibir bawahnya. Darah segar langsung keluar dari bibir itu, aku sangat menikmati ciuman ini. Aku tidak ingin melepaskannya, bibirnya terlalu nikmat. Ternyata gadis itu memang tidak pernah berciuman sebelumnya, dia masih belum mengerti bagaimana cara berciuman.
Dan akhirnya aku melepaskan ciuman karena merasa dia sudah kehabisan nafas, aku melihat bibirnya yang basah dan merah karena ulahku, aku mengelapnya dengan menggunakan tanganku. "Tidurlah," kataku sambil terus memeluknya.
Di pagi harinya tubuhku sudah lebih baik, aku memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor karena kemarin aku sudah mengurus beberapa berkas, lagipula tubuhku masih sedikit lemas. Aku kembali mengingat-ingat kejadian semalam, tapi aku lupa dengan wajah gadis itu. Entah kenapa wajahnya sangat mirip dengan p*****r itu.
Aku langsung menggeleng, tidak mungkin jalang itu. Jelas-jelas gadis yang semalam merawatnya begitu cantik dan tidak seperti Athena. "Ahh... Tidak mungkin p*****r itu yang aku cium semalam," gerutu ku. "Lebih baik aku ke bawah untuk sarapan," aku melangkahkan kakiku untuk keluar dari kamar.
Saat aku sudah berada di meja makan, mataku langsung tertuju pada jalang itu. Aku langsung mengalihkan pandangan ku, mencoba melupakan kejadian semalam, tidak penting juga aku memikirkan kejadian semalam lebih baik aku memakan sarapanku. Mungkin kejadian semalam hanya halusinasiku saja, tidak lebih dari itu.
Arvel pov end