Ponsel di sebelah Arvel berbunyi, dia menoleh dan melihat siapa yang menelpon nya pagi-pagi begini? Ternyata Taylor sekertaris nya. "Ah mengganggu saja," gerutunya karena terganggu dengan telpon dari Taylor.
"Hello sir."
"Ya kenapa?"
"Itu sir, saya hanya mau bilang nanti ada undangan untuk menghadiri pesta dari Mr. Smith."
"Batalkan saja! atau kau bisa menggantikan ku," rasa malas membuat Arvel tidak ingin menghadiri pesta itu. Dia masih tidak enak badan, lagipula hari ini dia ingin beristirahat sejenak. "Aku ingin beristirahat satu hari," lanjutnya.
"Maaf sir, tapi Mr. Smith ingin anda sendiri yang datang, karena ini berkaitan dengan kerjasamanya dengan anda."
"Baiklah, jam berapa undangannya?" Tak ada pilihan lain, Arvel harus menghadiri pesta itu. Kerjasama ini sangat menguntungkannya ditambah lagi ia bisa dengan mudah memperluas jaringan perusahaan di seluruh dunia.
"Jam tujuh malam sir."
Arvel langsung mematikan panggilannya dengan sepihak. Belum sempat menaruh ponselnya di meja, ponsel itu kembali berbunyi. Ia menghela nafasnya, ternyata Alia yang menelpon nya kali ini. "Hallo mom, ada apa?" Tanya Arvel yang sudah mengangkat panggilan itu.
"....."
"Iya mom, nanti aku datang."
"....."
Perintah Alia membuat Arvel terdiam, bagaimana bisa ia membawa jalang itu ke pesta bersamanya? Athena tidak akan ikut dengannya. "Tidak mom, Arvel pergi sendiri saja," tolaknya, walaupun Fiona sedang berada Paris, dia tidak akan pergi bersama Athena.
"......"
"Arvel tidak bisa, mom."
"......"
"Fine! tapi hanya untuk kali ini saja, mom." Mau tak mau Arvel harus menuruti perintah Alia kali ini, ibunya selalu saja mengancamnya. Sialan memang, tapi dia tidak punya keberanian untuk melawan ibunya.
"......"
"Itu terpaksa, mom."
"......"
"Maaf mom, Arvel tidak bisa, walaupun Athena sangat baik tapi hati Arvel hanya untuk Fiona." Sampai kapanpun perasaannya tidak bisa dibohongi, selama bertahun-tahun Fiona yang menempati hatinya, lalu dengan mudahnya Alia mengatakan untuk melupakan Fiona demi gadis asing yang bahkan belum dia kenal? Sangat mustahil!
"......"
"Fiona juga gadis yang baik, mom."
"......"
"Baiklah." Arvel tak bisa membantah perintah Alia kali ini, lebih baik dia menurut daripada nanti Alia tahu jika Fiona tinggal dengannya. Dia meletakkan ponselnya sambil memijat pelipisnya karena pusing, bagaimana bisa dia mengajak Athena ke mall untuk membeli dress?
Baru jam 9 pagi, lebih baik ia mengajak Athena pergi sekarang. Lagipula hanya membeli sebuah dress saja, dia hanya mengantarkannya lalu setelah itu pulang. Semakin cepat semakin baik, moodnya masih sangat bagus pagi ini.
Disisi lain Athena tampak mengambil piring-piring kotor di meja makan, Arvel masih berada di meja makan, dia sekali-kali melirik Arvel. Sampai suara Arvel membuatnya langsung menatap mata tajam Arvel, apa yang dikatakan pria itu?
"Bersiap-siaplah, b***h!"
"Maaf tuan, bersiap-siap untuk kemana?"
"Turuti saja perintahku! dan setelah selesai temui aku di depan!" Arvel langsung meninggalkan Athena yang masih diam. Dia harus ganti baju dulu, mungkin dia bisa sedikit menghirup udara segar pagi ini jika pergi keluar.
"Baiklah tuan."
Athena sudah siap, dia hanya memakai celana jeans dan hoodie putihnya. Dia langsung menghampiri Arvel, dirinya harus cepat sebelum Arvel marah karena terlalu lama menunggunya. Pria itu sangat benci menunggu, dia tahu akan hal itu.
Arvel sudah sekitar 10 menit menunggu Athena, dia bukanlah orang yang sabar dan seharusnya Athena tahu akan hal itu. "Kenapa lama sekali?" Bentaknya saat melihat Athena sudah berada di samping mobilnya.
"Maaf," kata Athena.
"Masuk! aku tidak punya banyak waktu!"
Athena masuk dan duduk di sebelah Arvel, dia masih belum tahu tujuan Arvel membawanya pergi. Di dalam perjalanan baik Arvel dan dirinya tidak ada yang membuka suaranya, dia terlalu takut untuk mengajak berbicara Arvel.
Sampai di sebuah mall mereka masih sama-sama diam, Arvel berjalan mendahului Athena yang masih berada di belakangnya. Dia langsung menuju ke tempat dress, penampilan Athena tidak boleh memalukan dirinya nanti.
Banyak wanita yang memandang Arvel kagum, Athena juga tidak bisa menyangkalnya kalau Arvel memanglah sangat tampan dan mungkin karena itulah banyak wanita yang ingin menjadi istri Arvel. Dia melihat Arvel berhenti di salah satu butik, Athena hanya diam menunggu Arvel mengatakan sesuatu. Pria itu tampak sedang berbicara dengan salah satu pelayan di butik itu, ada apa ini sebenarnya?
"Pilihan salah satu dress yang menurutmu bagus!" Arvel akan membelikan apapun dress yang diinginkan Athena, dia ingin gadis itu tampil sempurna malam ini, lagipula Athena tidak terlalu jelek bahkan bisa dikatakan gadis itu sangatlah cantik. Arvel mengakui jika Athena memang sangatlah cantik, bahkan bisa dibilang jauh lebih cantik daripada Fiona.
Perintah Arvel membuat Athena sedikit terkejut, dia masih tidak mengerti dengan tujuan Arvel sebenarnya. Apakah Arvel akan membelikan sebuah dress untuknya? Rasanya itu tidak mungkin. "Tapi tuan, aku hanya membawa uang beberapa dolar saja," balasnya dan malah membuat Arvel langsung menatapnya tajam.
"Turuti saja perintahku!"
"Baiklah tuan."
Athena bingung harus memilih dress yang mana? Semua dress disini mahal-mahal. Bahkan harganya yang cukup fantastis membuatnya langsung mengurungkan niat untuk mengambil salah satu dress yang dia sukai, bisa tidak makan selama berbulan-bulan jika dia membeli satu dress saja. Harganya berkisar sekitar ribuan dolar satu dress dengan brand terkenal, sangat gila untuk harga sebuah dress saja.
Ini sudah 20 menit berlalu, Arvel sudah tidak tahan lagi untuk menunggu Athena yang dari tadi belum selesai. Dia menghampiri Athena yang tampak kebingungan memilih sebuah dress saja, berbeda saat dia menemani Fiona yang lebih cepat dalam berbelanja, bahkan Fiona dalam waktu 10 menit bisa langsung mendapatkan 8 dress yang dia ingin beli.
"Kenapa lama? Apa kau tidak lihat sudah 20 menit berlalu, tapi kau belum memilih dress sama sekali." Arvel mengomeli Athena habis-habisan, dia ingin tidur setelah ini. "Kau tidak suka dress disini atau bagaimana? Cari toko lain saja kalau begitu."
"Maaf, tapi aku bingung mau pilih yang dress yang mana? Harga dress disini sangatlah mahal," ucapan Athena berhasil membuat Arvel menghela nafasnya. Tidak ada yang salah dengan ucapannya tadi, lalu kenapa Arvel menghela nafas?
Mau tak mau harus Arvel lagi yang turun tangan, dia memilih kan Athena dress yang cocok. Matanya langsung jatuh pada sebuah dress navy selutut yang sangat elegan. Dia memberikan dress itu kepada Athena, pasti Athena akan sangat cantik mengenakan dress itu. "Cobalah dulu, mungkin itu akan cocok."
Athena menuruti perintah Arvel, dia hanya seperti anak kucing yang selalu menuruti keinginan Arvel. Setelah beberapa menit dia keluar dengan memakai dress yang sudah dipilihkan Arvel tadi, menurutnya ini sedikit terbuka, dia melangkahkan kakinya mencari Arvel untuk meminta persetujuan. "Tuan apakah ini tidak terlalu terbuka?" Tanyanya saat sudah berada di depan Arvel.
Arvel terpesona melihat Athena, dress itu sangat pas di tubuh Athena, mencoba menghilangkan pikirannya itu, dia tidak boleh jatuh cinta pada Athena. Apa yang gadis bermata biru itu katakan? Terlalu terbuka? bahkan dress itu sangat biasa dan menurutnya tidak terlalu terbuka. Fiona saja tidak suka model seperti itu, Fiona lebih menyukai dress yang terbuka.
"Tolong bungkus kan yang itu!" Arvel tidak menjawab ucapan Athena dan malah meminta pelayan untuk membungkus kan dress yang sedang dipakai Athena. Gadis itu sudah sangat sempurna memakai dress tadi, tidak perlu pilih dress yang lain.
"Silahkan langsung bayar di kasir."
Mereka memutuskan untuk pulang, lagipula Arvel tidak akan mengajak Athena untuk jalan-jalan terlebih dahulu. "Pakailah dress itu nanti malam!" Perintahnya dengan pandangan masih fokus mengemudi. "Jangan sampai kau telat lagi nanti, awas saja!"
"Baiklah," ucap Athena.
Setelah sampai di mansion Athena menaruh dress itu di kamarnya, tiba-tiba Emma masuk ke dalam kamarnya. "Kau habis dari mana Athena?" Tanya Emma yang melihat wajah Athena yang tampak berseri-seri.
"Apa ibu tahu? Arvel mengajakku pergi membeli dress ini," kata Athena sambil menunjukkan dress tersebut pada Emma. Dia begitu senang, mungkin saja nanti malah pria itu akan mengajaknya dinner bersama. "Dia juga mengajakku untuk pergi nanti malam."
"Ibu turut bahagia, Athena."
Jam sudah menunjukkan pukul enam petang, Arvel masih bergelut dengan selimutnya. Padahal acaranya dimulai pukul tujuh, seharian dirinya hanya bermalas-malasan, tadi setelah mengantar Athena ke mall dia langsung tidur. Akhirnya setelah dari tadi siang tidur, Arvel sudah bangun.
Dia langsung meregangkan otot-ototnya, melirik jam ternyata sudah jam 6 lewat 15 menit. Dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. "Shit.... Aku sampai lupa," gerutu Arvel yang sudah kalang kabut masuk ke dalam kamar mandi.
Disisi lain Athena tengah bersiap untuk pergi bersama Arvel, dia kali ini menggunakan make up natural. Semoga saja dia tidak akan membuat malu pria itu, dia sangat jarang sekali make up seperti ini. Entah wajahnya akan semakin cantik atau malah terlihat sangat jelek, dia tidak terlalu pandai dalam hal seperti ini.
Athena akhirnya sudah selesai 20 menit kemudian, dia tampak cantik dengan balutan dress berwarna navy nya, rambutnya sengaja dia urai menambah kesan simpel dan elegan. Tadi dia sempat menyempatkan untuk mencatok rambutnya, dan ternyata penampilannya kali ini sangatlah sempurna.
Emma mendekati Athena yang masih tidak percaya jika dirinya akan secantik ini. "Kau cantik sekali Athena," puji Emma melihat penampilan Athena dari atas sampai bawah. Sangat berbeda dengan Athena yang biasanya, gadis itu memang benar-benar cantik.
"Terima kasih," balas Athena.
"Lebih baik kau segera temui tuan Arvel."
"Kalau begitu Athena pergi dulu."
Mata Athena menangkap Arvel yang baru saja turun dari tangga, dia sedikit terpesona dengan penampilan Arvel kali ini, Arvel memakai jas yang serupa dengan warna dress nya, karena terlalu terpana melihat Arvel dia sampai tidak sadar kalau Arvel sudah berada di depannya.
"Apa kau akan terus disitu?" Arvel sedikit memandang Athena takjub, bagaimana bisa Athena sangat cantik malam ini? Tapi dia berusaha menghilangkan pikirannya itu dengan menatap Athena tajam. "Dengarkan baik-baik b***h, jangan membuatku malu saat kita di sana nanti. Kau hanya perlu menuruti semua kata-kataku." Dia mulai memperingati Athena, gadis itu harus berkelas malam ini.
Athena hanya mengangguk paham, sebenarnya Athena masih belum tahu Arvel akan mengajaknya ke mana? Sepertinya Arvel akan mengajaknya ke sebuah pesta. "Kita akan kemana? Apa penampilanku sudah bagus? Aku sungguh sangat takut."
"Kau sudah cantik."
Jawaban Arvel berhasil membuat Athena salah tingkah, pria itu mengakui jika dirinya cantik? Arvel berbohong atau mengatakan yang sebenarnya? Hari ini sepertinya adalah hari yang paling bahagia. "Apa aku akan memalukan nanti? Aku masih tidak yakin dengan tampilan seperti ini."
"Kau cantik, lalu kenapa malu?"
Arvel sudah berjalan terlebih dahulu dan Athena lagi-lagi hanya mengikutinya dari belakang, keadaan di mobil sangat hening, kedua insan itu sama-sama tidak ada yang bersuara. "Apa yang harus aku lakukan di sana nanti?" Athena memecahkan keheningan diantara keduanya.
Arvel langsung menoleh ke arah Athena, dia menatap Athena dengan penuh tanda tanya. "Kau hanya harus bersikap seperti wanita yang berkelas, kau sudah sangat cantik jadi hanya sikapmu yang perlu sedikit diubah. Contohnya jika berjalan nanti jangan menunduk, mengerti?"
"Iya mengerti," balasnya.
"Bagus jika kau mengerti."
Akhirnya mereka sampai di salah satu hotel ternama di New York, saat Athena ingin membuka pintu mobil, Arvel sudah terlebih dahulu membukanya. Tidak biasanya Arvel seperti itu, mungkin hanya karena pesta ini. Dia tidak boleh terlalu membawa perasaan, Arvel tidak mungkin melakukannya tanpa alasan.
"Hai apa yang kau lakukan? Untuk saat ini berjalanlah di sampingku," bisik Arvel membuat Athena harus menuruti perintahnya. Dia menggandeng tangan Athena yang dingin dan berkeringat, ada apa dengan Athena? Begitu saja gugup? Memang dasar perempuan.
Athena menegang saat Arvel menggenggam tangannya, antara senang dan sangat gugup, jantungnya kini sudah mulai tidak bisa dikontrol lagi. "Kenapa harus seperti ini? Kau membuatku semakin gugup. Tidak perlu bergandengan," dia berusaha melepaskan genggaman tangan Arvel.
"Diam... Memang seperti ini."
"Aku ingin pulang saja."
"Apa yang kau bicarakan?"
"Aku malu."
"Malu apa hah?"
"Sudahlah tidak usah dibahas."
Saat masuk hotel banyak orang-orang yang menyapa Arvel dan Athena, Arvel hanya mengangguk dan tersenyum tipis melihat itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya? Ada perasaan suka saat melihat reaksi orang-orang menatap iri dirinya dan Athena, dia dan Athena sudah seperti pasangan yang begitu serasi.
Athena hanya mengangguk dan tak memperdulikannya, dia dilanda rasa gugup karena ini pertama kalinya menghadiri sebuah pesta dan ditambah lagi tangan Arvel yang sejak tadi berada di pinggangnya membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Tanpa sadar juga dia mencengkeram erat tangan Arvel yang berada di pinggangnya, dia sungguh tidak nyaman dengan suasana seperti ini.
"Rileks, jangan gugup seperti itu."
Mata biru Athena menatap Arvel takut, ucapan Arvel berhasil membuatnya sedikit merasa tenang. Sikap pria itu sangat berubah daripada sebelumnya, benarkah ini Arvel yang dia kenal? Sikapnya lebih hangat dan sangat baik hari ini.
"Akhirnya kau datang juga Mr. Erlio," kata seorang pria paruh baya yang berada di depan Arvel. "Apakah ini istrimu?" Tanya pria itu yang bernama Smith.
"Iya, perkenalan namanya Athena." Entah kenapa Arvel malah memperkenalkan Athena pada Smith, dia juga tidak malu memperkenalkan istrinya itu.
"Smith."
Athena melihat Smith yang menjulurkan tangannya kepada Athena, dia tersenyum tipis. "Athena," jawabnya sambil menjabat tangan Smith, dia tidak tahu apalagi yang harus dilakukan setelah ini. Arvel ternyata mengajaknya untuk menghadiri pesta teman kerja pria itu, dia tidak terbiasa terlalu formal seperti ini.
"Kalau begitu saya permisi dulu, semoga kalian menikmati pestanya," pamit Smith yang ingin pergi meninggalkan Arvel dan Athena.
Arvel menuju meja yang telah didekorasi dengan cantik, Athena sangat senang saat mendengar Arvel yang telah mengakuinya sebagai istrinya didepan Smith. Dia sepertinya tidak sedang bermimpi kali ini, kejadian ini memang sungguh nyata.
"Tetaplah disini, b***h! aku akan mengambilkanmu makanan," bisik Arvel.
"Baiklah." Athena melihat sekelilingnya, banyak tamu undangan yang sedang berdansa, rasanya dia tidak akan mungkin bisa merasakan berdansa dengan Arvel, walaupun dia ingin merasakan hal tersebut, tapi dia menghilangkan pikirannya itu, lalu mencoba mengalihkan pandangannya ke sekeliling.
Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingnya, dia menoleh melihat siapa orang itu? Dia tersenyum saat pria yang duduk di sampingnya tersenyum padanya. Dia harus melakukan apa? Mengusir pria itu? Hal itu sangatlah tidak pantas dilakukan.
"Apakah kau sendirian ke pesta ini?"
"Tidak." Athena berharap Arvel segera datang, dia hanya takut kalau pria tersebut berniat jahat padanya. Tangannya dari tadi terus menggenggam satu sama lain, pria asing itu terus saja menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tidak usah takut, kenalkan namaku Max. Siapa namamu?" Tanya Max pada Athena.
"Athena."
"Senang bertemu denganmu Athena."
"Senang juga bertemu denganmu, Max."
Saat mereka sedang mengobrol, Arvel sudah datang membawa 2 piring makanan untuknya dan Athena, tapi dia melihat Athena yang malah sedang berbincang-bincang dengan seorang pria. "Awas saja kau, b***h. Aku sudah bersikap baik padamu hari ini tapi kau malah asyik berbicara dengan pria lain," gerutunya pelan. Dia mendekati mereka, tak disangka pria yang mengobrol dengan Athena adalah sahabatnya Max. "Ekhem...."
Athena dan Max langsung menoleh mendapati Arvel yang sudah berada di belakang mereka, Max menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Arvel," kagetnya saat melihat Arvel berada di belakangnya.
"Kenapa?" Tanya Arvel.
Tentu itu membuat Max seketika ingin menahan tawanya, menurutnya Arvel sangat menyeramkan jika ekspresi wajahnya seperti itu. "Aku kira kau tidak akan datang," kata Max yang tidak menyangka sahabatnya itu akan datang.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau duduk disini?" Arvel tidak menjawab ucapan Max, dia malah bertanya kepada Max. Ada perasaan tidak suka saat melihat Max duduk dengan Athena, dia sangat tidak suka. "Pergilah!"
"Memangnya kenapa? Lagipula kursi di sebelah sini masih kosong," sahut Max.
"Lebih baik kau cari tempat duduk lain." Arvel sungguh tidak suka jika ada seseorang yang mendekati miliknya, dan lebih sialnya lagi itu adalah sahabatnya sendiri. "Aku bilang pergi, Max! Cari tempat duduk lain!"
"Tidak, aku tidak akan pergi," tolak Max.
"Sialan..."
"Ayo Athena kita cari tempat duduk lain."
Max menarik tangan Athena, tapi Arvel menahannya. Berani sekali Max mengajak Athena pergi, memang tidak tahu malu. "Jangan sentuh dia!" Peringatan Arvel pada Max berhasil membuat beberapa orang di sebelah mereka menoleh.
"Memangnya kenapa? Lagipula Athena tidak menolaknya," bantah Max yang tak mau kalah.
"Dia istriku! jadi aku berhak untuk melarangnya pergi denganmu." Tegas Arvel, kenapa dia merasa sedikit cemburu sekarang? Max berhasil memancing emosinya. "Sekarang pergi dari sini! Sialan kau ini, kau berniat merebutnya dariku?"
Max terkejut bukankah Arvel menikah dengan Fiona? Dia tidak percaya dengan ucapan Arvel tadi. "Bukankah kau menikah dengan Fiona?" Tanyanya bingung. Sahabatnya itu begitu mencintai Fiona, lali sekarang dia malah menikah dengan orang lain?
"Tidak, mommy malah menjodohkan ku dengan p*****r ini," jawab Arvel. Memang Max waktu itu tidak datang, entah apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya itu. "Sekarang kau sudah tahu jika dia istriku, jadi menjauh lah darinya. Mengerti?"
"Wah..... ternyata aku ketinggalan banyak berita." Sesal Max karena dia dulu tidak menghadiri pernikahan Arvel, karena harus mengurus perusahaan yang ada di London. "Ceritakan dari awal, aku ini memang sudah tidak menganggap ku lagi."
"Max," panggil seorang pria.
"Kalau begitu aku pergi dulu, oh ya kau harus menceritakan semuanya kepadaku besok. Ingat itu, Ar!!!" Max memperingati Arvel agar besok pria itu menceritakan semuanya padanya. "Sampai jumpa lagi, Athena." Max tersenyum ke arah Athena dan setelah itu pergi meninggalkan Arvel dan Athena.
Setelah acara makan-makan selesai sekarang adalah saatnya untuk berdansa, Arvel tampak tak berniat untuk berdansa dengan Athena. Dia lebih memilih untuk duduk, sampai ada seseorang yang mengatakan sesuatu lewat pengeras suara. "Bagi para undangan diwajibkan berdansa dengan pasangan." Suara Smith lewat pengeras suara membuat Arvel tak memperdulikannya.
Saat semua orang sudah berada di lantai dansa, hanya tersisa Arvel dan Athena yang masih belum ikut untuk ke lantai dansa. Smith yang melihat itu langsung menghampiri mereka. "Hai Mr. Erlio, apakah kau tidak ingin berdansa dengan istrimu?" Tanya Smith.
Arvel yang mendengar itu menghembuskan nafasnya kasar, dia tidak akan berdansa dengan Athena. "Tidak," jawabnya dingin. "Aku akan pulang saja, ini sudah malam. Istriku harus istirahat, kami akan pulang saja," bohongnya.
"Ayolah, demi kelancaran pesta ini."
"Baiklah." Arvel akhirnya menyetujui permintaan Smith, dia menarik tangan Athena menuju lantai dansa. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihnya kepada Athena, untuk membuat sebuah kenangan indah untuk Athena.
Athena masih tak menyangka jika sebentar lagi dia akan berdansa dengan Arvel, dia merasa sangat senang melihat Arvel mau berdansa dengannya, walaupun Smith yang memaksanya. "Kita berdansa? Tapi aku tidak bisa."
"Ikuti saja langkahku nanti."
"Tapi---"
"Diam dan lakukan!" Arvel memegang pinggang Athena, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Athena. Rasa gugup sedikit dia rasakan sekarang, melihat wajah Athena dari dekat membuatnya jantungnya terasa tidak normal. "Ikuti langkah ku!"
Seketika jantung Athena berdetak lebih kencang lagi, dia juga merasakan apa yang juga dirasakan Arvel. Dia tidak akan melupakan kejadian ini, mata mereka saling bertatapan, bahkan sekarang dia juga bisa merasakan hembusan nafas hangat Arvel.
Mereka berdansa mengikuti alunan musik yang berputar, Arvel tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Athena. Lagi-lagi dia harus dihadapkan pada bibir merah Athena yang menggodanya, bibir itu membuatnya gila. Dia yang sudah tidak tahan melihat itu, akhirnya memberanikan diri untuk melumat bibir Athena, bibir pink kemerahan Athena sungguh sangat membuatnya tergoda.
Rasa terkejut muncul saat tiba-tiba bibir Arvel mendarat di bibirnya, Athena diam tak tahu bagaimana dia harus membalas ciuman itu seperti apa? Arvel terus menciumnya lembut. Semakin lama ciuman itu membuatnya hanyut, dia pun membalas ciuman itu semampunya, karena dia belum pernah melakukannya sebelumnya. Kemarin lah pertama kalinya dirinya merasakan ciuman dan yang ini sudah kedua kalinya.
Arvel yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu semakin memperdalam ciumannya, dia juga sudah tidak bisa menolak ciuman itu. Dia menarik tengkuk Athena untuk memperdalam ciuman, ini lebih nikmat dibandingkan yang dia bayangkan sebelumnya.
Sedangkan Athena langsung mengalungkan tangannya di leher Arvel, karena melihat dia kehabisan nafas Arvel langsung melepaskan ciuman. Matanya menatap Arvel malu, kali ini pria itu sedang dalam keadaan sadar tidak seperti kemarin malam.
Arvel tak berbohong, bibir Athena lebih nikmat dibandingkan bibir Fiona. Dia memandang Athena yang pipinya tampak merah karena malu, berusaha untuk melupakan kejadian tadi Arvel kembali mengajak Athena untuk berdansa.
"Sepertinya aku pernah merasakan bibir itu," gumamnya pelan.
"Apa? Kau mengatakan apa?"
"Tidak apa-apa."
Memang benar Arvel sepertinya pernah merasakannya, tapi dimana? Ah ya... Dia ingat sekarang, bukankah itu seperti rasa bibir gadis yang merawatnya saat sakit kemarin malam? Arvel menghilangkan pikirannya itu, tidak mungkin Athena yang merawatnya kemarin malam.
Acara dansa selesai dan sekarang adalah waktunya untuk acara penutupan. Arvel dan Athena kembali ke tempat duduk, mata Arvel terus saja memandang Athena. Dia harus mengatakan sesuatu pada gadis itu, Athena tidak boleh semakin mencintainya. "Lupakan kejadian tadi."