Athena sudah selesai berbelanja dan sekarang saatnya dia pulang, saat melihat taman kota entah kenapa dia ingin ke sana sebentar untuk beristirahat sambil melihat danau. Kakinya melangkah menuju kursi taman yang kosong, dia menikmati sejenak udara segar disini, cuaca saat ini sangat mendukung. Dia menutup matanya merasakan angin yang menerpa wajahnya, sangat tenang sekali.
Matanya tak sengaja melihat seorang gadis kecil yang sedang bermain dengan orang tuanya, melihat keluarga kecil itu tertawa bersama membuatnya ingin merasakan hal yang sama suatu saat nanti bersama Arvel, tapi apakah mungkin itu terjadi? Memiliki keluarga yang lengkap dengan Arvel.
Athena kaget tiba-tiba ada seorang wanita yang membawa bayi menghampirinya, wanita itu tampak ketakutan, dia langsung menyuruh wanita itu duduk di sampingnya. "Ada apa denganmu? Kenapa kau tampak ketakutan?" Tanyanya.
"Kumohon rawat dia," pinta wanita itu.
Athena menggendong bayi itu, dia menatap bayi itu lama. Kenapa wajahnya sangat menggemaskan dan juga sangat tampan? Bibirnya seketika tersenyum melihat bayi itu yang juga tersenyum ke arahnya. "Tapi---" belum sempat Athena menjawabnya wanita itu sudah lebih dulu berbicara.
"Kumohon dia sudah tidak punya orang tua dan sekarang apabila dia bersamaku dia bisa dalam bahaya," kata wanita itu sambil menangis.
Athena tak tahu harus berbuat apa? Dia ingin sekali merawat bayi ini, tapi bagaimana jika Arvel tidak mengizinkannya? Itu yang dia takutkan. "Aku tidak bisa, sebenarnya aku ingin tapi aku harus minta izin dulu kepada suamiku."
"Kumohon aku tahu kau orang baik, nyawa anak ini dalam bahaya," lanjut wanita itu.
Tak tahu kenapa Athena malah mengangguk sebagai jawaban, walaupun baru pertama bertemu dengan bayi itu dia merasa sudah sangat mencintainya. Tidak ada yang tahu bagaimana nanti kehidupannya, mungkin bayi ini memang dikirimkan untuknya.
"Terima kasih banyak sudah mau merawatnya, tolong sayangi dia seperti anakmu sendiri, dan ini semua pakaiannya." Wanita itu memberikan tas yang berisi pakaian bayi itu, akhirnya dia sudah berhasil mencari orang yang cocok untuk merawat anak majikannya itu.
"Dia anak orang kaya?" Tanya Athena, dia bisa melihat jika semua pakaian yang berada di tas adalah pakaian yang sangat mahal. Lagipula wajah bayi laki-laki terlihat sangatlah tampan, tidak seperti bayi pada umumnya.
"Iya, dia anak orang kaya."
Athena kembali menatap bayi itu, hatinya bergetar melihat anak setampan ini harus kehilangan kedua orang tuanya saat masih kecil. Dia berjanji akan selalu merawat bayi itu seperti anaknya sendiri, dia berjanji. "Siapa nama bayi tampan ini?"
"Kau berhak memberikannya nama, aku tidak bisa lama-lama. Aku harus pergi, sekali lagi aku ucapkan terima kasih." Wanita itu pergi meninggalkan Athena dengan bayi itu, dia harus segera pergi sebelum ada yang curiga.
Athena menatap bayi tampan itu, dia mengecup pipinya. Walaupun bukan anak kandungnya tapi Athena sangat menyayangi bayi tampan itu, sekarang dia punya kebahagiaan baru. "Mommy janji akan merawatmu dan menjagamu, mommy menyayangimu Archio," katanya sambil mengelus pelan pipi Archio.
Ya, Athena menamakan bayi tampan itu dengan nama Archio. Itu adalah nama yang sangat bagus untuknya, nama itu terlintas saja di dalam benaknya. Athena memutuskan pulang, sepanjang jalan dia sangat senang. Archio tampak tenang di dalam gendongannya, ah iya... Dia lupa membelikan s**u untuk Archio.
Dia mampir sebentar di salah satu supermarket terdekat, uang bulanannya tinggal 25 dolar, mungkin Athena akan mencoba mencari pekerjaan karena sekarang dia juga harus menghidupi Archio. Benar kata Emma 100 dolar tidak akan cukup untuk satu bulan, maka dari itu dia berencana untuk mencari pekerjaan.
Selesai membeli s**u, dia melanjutkan perjalanannya menuju rumah. "Kau sangat tampan sayang, mulai sekarang aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungimu. Kita akan memulai semuanya nanti, terima kasih sudah datang ke dalam kehidupan mommy."
*****
Arvel sedang berada di ruang keluarga, hatinya hancur melihat Fiona yang telah mengkhianatinya, dia merencanakan sesuatu untuk mengungkap semua kebusukan Fiona. Dia sudah menyiapkannya sesuatu, kali ini dia harus bermain pintar untuk mengungkap semuanya.
Mata Arvel melihat Athena yang baru pulang dengan membawa barang belanjaannya dan tunggu kenapa gadis itu menggendong seorang bayi? Tapi dia mencoba untuk tidak memperdulikannya. Siapa tahu itu hanya anak dari teman Athena, kenapa dia terlalu ingin tahu seperti ini?
Athena menaruh barang belanjaannya di dapur terlebih dahulu setelah itu dia akan berbicara pada Arvel untuk meminta izin merawat Archio, dia melangkah kakinya mendekati Arvel yang sedang berada di ruang keluarga. "Aku ingin mengatakan sesuatu," ucapnya. Dia sangat gugup sekarang, takut Arvel tidak akan mengizinkannya merawat Archio.
Arvel menoleh mendapati Athena yang sudah berada di sampingnya sambil menunduk, "ada apa?" tanyanya cuek dan matanya kembali fokus pada layar televisi.
"Bolehkan aku merawatnya?"
Arvel penasaran dan langsung berdiri melihat bayi yang berada di dalam gendongan Athena, dia bisa melihat seorang bayi laki-laki itu. "Anak siapa ini?" Dia melihat Archio yang tidur di dalam gendongan Athena. Matanya juga menatap bayi itu tidak percaya, wajahnya sangatlah tampan dengan mata biru dan rambut kecoklatan.
"Tadi saat aku pergi ke taman ada seorang wanita yang memberikan bayi ini, katanya aku harus merawatnya, karena kalau bayi ini bersama wanita itu nyawanya dalam bahaya," terang Athena panjang lebar. Dia juga menceritakan bagaimana detail kejadian di taman tadi biar Arvel percaya kepadanya.
"Dan kau percaya?" Arvel tak habis pikir dengan perilaku Athena yang mudah percaya dengan orang lain. Memang dasar mudah sekali dibodohi ternyata, bagaimana jika nanti ada sesuatu yang terjadi setelahnya? Bahkan Athena bisa dituduh sebagai seorang penculik.
"Iya," jawab Athena pelan.
"Bagaimana kalau orang tua bayi ini mencarinya? Apa kau mau dituduh sebagai penculik?" Arvel tidak ingin ikut ke dalam masalah seperti ini, bisa-bisa reputasinya ikut hancur nanti. "Lalu masaki penjaga, tapi seharusnya aku senang jika kau masuk penjara."
"Tapi kata wanita itu bilang bayi ini sudah tidak memiliki orang tua," balas Athena. Lagipula dia percaya dengan ucapan wanita tadi. Tidak ada yang aneh, itulah yang membuatnya bisa percaya seratus persen. "Kenapa memangnya? Tidak ada yang salah."
"Terserah aku tidak peduli, aku tidak akan ikut campur kalau seandainya terjadi sesuatu denganmu karena bayi ini." Arvel sudah terlalu pusing, memikirkan Fiona saja sudah membuatnya marah dan sekarang Athena membawa bayi yang tidak tahu asalnya. Sungguh sangat mengesalkan, dia juga tidak akan peduli dengan nasib Athena ke depannya yang mungkin saja dalam masalah nantinya.
"Iya, aku akan menanggung semuanya kalau seandainya ada masalah, dan aku ingin mengatakan sesuatu lagi." Athena sungguh takut melihat mata tajam Arvel yang terus menatapnya, pria itu seperti ingin membunuhnya saja.
"Apa?"
"Aku akan bekerja, apakah boleh?"
"Terserah," balas Arvel.
Athena lega akhirnya dia bisa bekerja untuk mencukupi kebutuhannya dengan Archio, mungkin Archio dikirim Tuhan untuk menemaninya. Saat sudah sampai di kamar, dia dengan hati-hati membaringkan tubuh Archio di atas tempat tidurnya. Emma datang membawa sebotol s**u untuk Archio. Ya, Athena sudah menceritakan semuanya pada Emma.
"Ini susunya." Emma menaruh botol s**u itu di meja, dia mendekati Athena. "Nama panjangnya siapa?" Tanyanya sambil duduk di sebelah Athena. Dia sangat senang melihat Athena yang bahagia dengan kehadiran Archio, gadis itu pantas bahagia.
"Apakah tak apa kalau aku menggunakan nama belakang Arvel, Bu?" Athena ingin memberikan nama belakang Arvel untuk nama Archio, tapi dia takut pria itu akan marah dan tidak setuju.
"Sebenarnya tak apa, tapi ibu cuma takut tuan akan marah. Kau tahu sendiri, Archio bukan anak kandung tuan."
"Kalau begitu pakai nama belakang Athena saja," balas Athena. Nama belakangnya juga tidak terlalu buruk. Lebih baik dia menggunakan nama belakang ayahnya saja, itu lebih baik.
"Ide yang bagus." Emma mengangguk.
"Ibu juga boleh memberikan nama."
"Bagaimana dengan Archio Atlantic Gray?"
"Athena setuju, namanya sangat indah." Athena mencium pipi bayi tampan itu dan dia kaget karena Archio yang tersenyum ke arahnya, bayi yang sangat menggemaskan. "Hai Archi," sapanya. Dia sudah membuat nama kesayangan untuk Archio.
"Sini biar ibu coba gendong."
"Baiklah."
"Hai Archio ini grandma."
Archio tersenyum ke arah mereka, Athena sekarang merasa bahagia, dia sudah tidak kesepian saat Archio datang. "Oh iya Bu, Athena mulai besok akan cari pekerjaan."
Emma mengalihkan pandangannya ke arah Athena, "ada apa sampai kau tiba-tiba ingin mencari pekerjaan?" Dia sebenarnya tahu alasan gadis itu. Uang yang diberikan Arvel tidak cukup untuk kebutuhan Athena, itulah sebabnya gadis itu mencoba mencari pekerjaan.
"Athena merasa uang yang diberikan Arvel tidak cukup untuk kebutuhan Athena, apalagi sekarang ada Archio." Athena bisa membayangkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk merawat Archio, apalagi kebutuhan seorang bayi tidaklah sedikit
"Bilang saja kau butuh uang tambahan."
"Athena tidak enak."
"Bagaimana dengan Archio saat kau bekerja?" Bukannya Emma tidak ingin menjaga Archio saat Athena bekerja nanti, tapi tugasnya sebagai pelayan di mansion ini juga sangat banyak. "Kau mengajaknya nanti?"
"Menitipkan ke penitipan anak."
"Ibu belum bisa bantu menjaga Archio."
"Tak apa, aku mengerti."
Archio tampak tenang saat meminum s**u yang diberikan Athena, bahkan dari tadi dia tidak menangis. Kini Athena sudah seperti ibu kandung Archio, mereka seperti memiliki ikatan yang kuat. Dia juga sangat senang karena Archio tidak rewel, dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri akan selalu menjaga Archio sampai kapanpun.
"Mommy menyayangimu Archi."
Tengah malam....
Athena terbangun di tengah malam, karena Archio ingin minum s**u. Dia langsung menggendong Archio menuju dapur karena tidak ingin meninggalkan Archio sendirian di kamar, jadi dia membawa bayi tampan itu ke dapur.
Disisi lain Arvel merasa sangat lapar, entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu lapar saat larut malam. Langkahnya menuju dapur untuk mencari makanan, tak ada satupun makanan yang masih tersisa. Dia mengeluarkan telur, belum sempat mengambil telur itu dia mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Athena yang melihat Arvel ingin mengambil telur dari dalam kulkas. Pria itu selalu saja terbangun tengah malam, dia sudah tahu jika Arvel tengah kelaparan. "Mengagetkan saja."
"Bukan urusanmu!" Arvel melanjutkan kegiatannya, dia mengambil 2 telur dan mengocoknya di dalam mangkuk kecil. Selalu saja ada Athena di saat-saat dia kelaparan seperti ini, mungkin Tuhan mengirimkan gadis itu untuk menjadi babu nya.
Athena tidak memperdulikannya, dia mengambil s**u Archio dan menuangkan 3 sendok s**u di botol s**u. Saat dia melihat Archio, anak itu belum juga ingin menutup matanya. Sesekali dia menatap Arvel yang masih saja fokus dengan terus yang digoreng, pria itu tidak bisa memasak sama sekali.
"Ah... Sialan, kenapa harus gosong huh?"
Umpatan Arvel membuat Athena menoleh, dia mematikan kompor sebelum telur itu tambah gosong nanti. "Biar aku yang buat saja." Akhirnya dia juga yang harus turun tangan, daripada nanti mansion ini kebakaran karena ulah Arvel.
Arvel membiarkan Athena yang memasak dengan masih menggendong Archio ditangan kiri, gadis kecil seperti Athena ingin merawat bayi? Sangat menarik bukan? Ciri-ciri gadis gila. "Biar aku yang gendong," katanya yang tidak tega melihat Athena.
Athena langsung menoleh, tanpa ragu dia menyerahkan Archio kepada Arvel. Pria itu tidak mungkin menyakiti Archio, itulah sebabnya dia percaya kali ini. "Jangan membuatnya menangis," ujarnya dengan sedikit memberikan peringatan.
"Iya-iya bawel." Arvel sedang mengamati wajah tampan Archio, hatinya menghangat saat melihat Archio yang tersenyum ke arahnya. Walaupun baru pertama kali melihat Archio, entah kenapa dia merasa sangat menyayanginya? Pantas saja Athena berniat merawat anak ini, walaupun asal usulnya tidaklah jelas.
"Siapa namanya?" Tanya Arvel.
"Archio," jawab Athena.
"Nama yang bagus, tapi lebih bagus kalau juga ada namaku di namanya." Entah kenapa Arvel mengatakan itu, dia juga tidak sadar sudah mengatakannya. Memang aneh sekarang, semenjak kejadian di pesta Smith, sikapnya kepada Athena sudah jauh lebih baik.
Athena tampak menghentikan kegiatannya, kenapa Arvel mengatakan hal tadi? Dia pasti sedang mimpi. "Apakah boleh?" Tanya Athena hati-hati, dia hanya takut pendengarannya lah yang salah saat mendengar ucapan Arvel.
"Kenapa tidak? Aku rasa Atlantic nama yang bagus," saran Arvel. Dia suka dengan nama itu, nama yang indah untuk anak tampan seperti Archio. "Nama tengahnya harus Atlantic atau Atlántico, tapi kalau perempuan bagus Atlanna, iya kan?" Pikiran Arvel sudah kemana-mana, bahkan dia sampai membayangkan mempunyai anak perempuan bersama Athena.
Apakah pendengaran Athena memang benar-benar terganggu? Ternyata Arvel juga menyukai nama yang diberikan Emma tadi. "Archio Atlantic Erlio?" katanya hati-hati.
"Umm... bagus."
Athena merasa senang melihat sikap Arvel yang sudah jauh lebih baik dari kemarin, akhirnya dia sudah selesai dengan masakannya. "Ini." Dia menaruh omelette itu di meja agar Arvel bisa memakannya, tugasnya sudah selesai. Dia kembali mengambil Archio agar Arvel bisa makan dengan nyaman, lalu juga memberikan s**u yang sudah dia buat tadi untuk Archio.
Arvel tampak menikmati omelette buatan Athena, pandangannya tak lepas dari Athena dan Archio. Bayi tampan itu berhasil mengambil hatinya dengan begitu mudah.
"Temani aku makan," ujar Arvel saat melihat Athena ingin pergi. Dia ingin gadis itu tetap disini, hatinya sedikit menghangat. Dari tadi pikirannya terus saja tentang anak, apa dia mungkin mendapatkan anak dari Athena? Atau mungkin dari Fiona?
"Selamat makan."
"Hmm..."
"Pelan-pelan makannya."
"Tidak usah mengajariku, aku tahu."
"Aku hanya mengingatkan."
Arvel dengan cepat memakan makanannya, sesekali dia memperhatikan Athena yang sedang bercanda dengan Archio. Sial, kenapa hatinya bergetar melihat pemandangan itu? Dalam hati kecilnya dia terus saja ingin melihat Athena seperti ini. Bahkan otaknya terus saja membayangkan jika nanti dia memiliki anak dengan Athena, apalagi anak perempuan. Sangatlah menggemaskan, iya kan?
"Fuck... Kenapa bisa aku membayangkan hal menjijikkan itu?"
Arvel menggelengkan kepalanya, dia sudah terlalu jauh menghayal. Jangan sampai dia mencintai Athena, hanya Fiona tidak boleh Athena. Seharusnya dia sadar jika Athena terlalu baik untuk pria b******k sepertinya, dia tidak ingin mendapatkan gadis polos seperti Athena.
"Kenapa?" Tanya Athena aneh.
"Memangnya kenapa aku?" Arvel tidak menjawab pertanyaan Athena. "Bolehkan aku menggendong Archio lagi?" Dia mengalihkan pembicaraan, tapi dia benar-benar ingin menggendong Archio sebelum pergi ke kamar, dia mendekati Athena dan mengambil alih Archio.
"Dia sebentar lagi akan tidur."
"Ya, aku tahu itu."
"Kenapa rasanya aku begitu menyayangi Archio? Padahal aku baru melihat dan menggendongnya tadi?"
Pagi harinya...
Arvel berada di meja makan untuk sarapan, kali ini suasananya cukup hening, tidak ada yang berani berbicara. Athena juga hanya melihat Arvel dari dapur sambil menggendong Archio, dia tidak tahu kenapa wajah Arvel tampak berbeda seperti biasanya. Apa Arvel ada masalah?
Saat Arvel sedang fokus sarapan tiba-tiba ada yang memeluk lehernya dari belakang, Arvel sangat tahu siapa itu, dari bau parfumnya saja sudah ketahuan. Itu adalah Fiona, setelah kebenaran itu membuatnya muak melihat Fiona.
"Baby, I have good news."
"Apa?" Tanya Arvel malas.
Fiona duduk di sebelah kanan Arvel, "sebelumnya aku mau jelasin sesuatu, aku tahu kau melihat foto ku bersama seorang pria. Aku minta maaf sebelumnya, saat itu aku sedang mabuk berat." Fiona berusaha menyakinkan sang kekasih, bisa gawat jika dia bertengkar dengan Arvel.
Arvel melihat jelas tanda-tanda kebohongan di mata Fiona. "Kenapa mabuk?" Tanya Arvel cuek, hal membuat Fiona menelan ludahnya kasar. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi, tingkah Fiona sudah seperti jalang dari dulu.
"Aku diajak Anna," kata Fiona.
Entah itu sebuah kebohongan atau sebuah kenyataan? Arvel sudah tidak peduli lagi, lebih baik dia membiarkan wanita itu terus mengoceh. "......" Arvel tidak menjawab ucapan Fiona, dia malah melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.
"Maaf hiks..."
Arvel yang melihat itu diam tanpa ekspresi, Fiona memang banyak drama. Dia sudah sangat tahu jika air mata yang dikeluarkan Fiona hanya air mata palsu, dari mata Fiona saja sudah terlihat jelas jika ada kebohongan. "Maaf karena sudah berselingkuh di belakangku?"
Semua percakapan mereka tidak luput dari pendengaran Athena, dia merasa sangat kesal, kenapa Fiona kembali? Tapi Athena tidak seburuk itu. Lagipula Arvel lebih membutuhkan Fiona daripada dirinya, kebersamaannya dengan Arvel kemarin sudah membuatnya cukup senang.
"Bukan begitu."
"Kenapa tidak menjawab teleponku?"
"Ponselku rusak."
Kenapa Arvel sedikit percaya lagi dengan Fiona? Apakah dirinya akan memaafkan Fiona dengan semudah itu? Padahal dia tahu semuanya itu drama. Hanya saja dia sudah terjebak dalam cinta ini, menghilangkan perasaan kepada Fiona saja tidak bisa. "Kau membuatku khawatir." Dia masih merasa ada yang salah, benarkah jika Fiona memang mengatakan kebenarannya?
"Sekali lagi aku minta maaf." Fiona masih saja menunduk dan tidak berani menatap mata tajam Arvel, dia sampai lupa ingin mengatakan sesuatu. "Aku hanya ingin memberitahu kepadamu kalau aku sedang mengandung," ucapan Fiona berhasil membuat Arvel langsung diam.