"Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku sedang mengandung," ucapan Fiona berhasil membuat Arvel langsung diam. Tentu saja Fiona sangat senang mendengar hal itu, sepertinya dia berhasil membuat Arvel tidak marah kepadanya.
"A--pa?" Tanya Arvel sedikit terkejut.
"Iya aku sedang mengandung," jawab Fiona yakin, dia sungguh sangat senang bisa mendapatkan malaikat kecil dari Arvel. Itu tandanya tidak ada yang bisa memisahkan mereka, anak itu nanti akan menjadi pengikat di dalam hubungan mereka.
Kata-kata itu langsung bisa membuat Athena diam, dia merasa seperti ribuan kaca yang menyobek hatinya. Apakah pendengaran tidak salah? Fiona hamil anak dari Arvel. Tubuhnya luruh ke lantai dengan masih menggendong Archio. Pikirannya sudah melayang kemana-mana dan kalimat itu tadi begitu menyakitkan daripada kata-kata kebencian yang diucapkan Arvel kepadanya dulu.
Dia menghapus air matanya, lalu bangkit. Mungkin dengan ini bisa membuat Arvel bahagia, dia tidak boleh egois. Athena tahu Arvel tidak menginginkan anak darinya, dengan kehamilan Fiona mungkin saja bisa membuat Arvel memiliki seorang anak dari darah dagingnya sendiri.
Dia juga tahu diri, Fiona lebih pantas untuk menjadi ibu dari anak-anak Arvel nanti. Memilih antara berjuang untuk mempertahankan hubungan rumah tangganya dengan Arvel atau membiarkan Arvel bahagia dengan Fiona. Apalagi sekarang sudah ada buah cinta dari mereka, sangat susah sepertinya untuk mendapatkan Arvel.
"Kau tidak sedang bercanda kan?" Arvel masih belum percaya dengan perkataan Fiona tadi. Dia tidak yakin hal itu, tapi dia juga sangat senang mendengar berita bahagia seperti ini. "Kau pasti berbohong, iya kan?"
Fiona hanya mengangguk dan hal tersebut langsung membuat Arvel memeluk Fiona, hal yang paling dinantikan akhirnya akan menjadi kenyataan. Dia sudah menanti-nantikan kabar ini, dan akhirnya kenyataan itu bisa terwujud. Dia akan mendapatkan malaikat kecil dari Fiona, bukan Athena.
Athena masih berdiri kaku di tempatnya, kakinya sangat lemas untuk dijalankan. Antara masih percaya atau tidak dengan perkataan Fiona tadi. Dia hanya berharap ini adalah sebuah mimpi, padahal dia selalu bermimpi bisa mendapatkan malaikat kecil dari Arvel. Tapi kenyataannya malah berbalik, Fiona yang lebih beruntung daripada dirinya.
"b***h," panggil Arvel
Membuat Athena dengan tergesa-gesa menghapus sisa air matanya, dia tidak boleh terlihat lemah disini, Fiona akan suka jika dia terlihat lemah. "Iya tuan." Dia datang dengan masih membawa Archio dalam gendongannya, pandangannya tertunduk takut Arvel tahu jika dia habis menangis.
"Siapa yang kau bawa? Apa kau mengambil anak itu dari orang tuanya?" Fiona berkata pedas saat dia tahu Athena membawa seorang bayi. Melihat gadis seperti Athena membuatnya ingin marah, gadis belagu.
"Maaf, dia anak saya."
"Kau bilang anakmu? Apa itu anak haram mu bersama selingkuhan mu atau malah pelanggan mu?" Kalimat yang diucapkan Fiona sangat keterlaluan, dia tidak peduli itu. "Lebih baik kau cerai saja dengan Arvel, tidak ada gunanya lagi kau menjadi istrinya. Biar aku yang menggantikan posisi itu," lanjutnya.
"Ma---"
"Nanti aku jelaskan," potong Arvel.
"Jelas-jelas p*****r ini sudah kelewat batas, berani-beraninya dia membawa anak haramnya ke rumah ini." Fiona tidak terima, dia akan melakukan apapun untuk membuat Athena keluar dari mansion ini. "Kau seharusnya memarahinya, Ar!"
Benar Athena sudah tidak tahan lagi, "kau berhak mengejek saya, tapi tidak untuk anak saya." Dia akan meladeni ucapan Fiona, wanita tidak tahu malu. Status selingkuhan saja berani seperti ini, dimana harga diri Fiona sebagai wanita?
Fiona melotot melihat Athena yang sudah berani menjawab ucapannya, dasar gadis tidak tau malu!!! Awas saja gadis itu. Dia bisa membunuh Athena jika dia mau, lebih baik gadis itu musnah. "Kau---" dia menunjuk wajah Athena dengan tangannya tidak terima.
"Sudahlah, Fiona sedang hamil jadi urus semua keperluannya." Arvel membawa Fiona pergi dari hadapan Athena. Bisa gawat jika mereka bertengkar, Fiona yang berani disatukan dengan Athena yang gila, perpaduan yang sangat tidak sempurna.
Fiona berbalik dan tersenyum meremehkan ke Athena, dari sini sudah terlihat jelas siapa yang menang. Mau bagaimanapun dia akan lebih unggul, gadis di bawah umur saja belagunya minta ampun.
Athena menuju kamarnya, Archio sudah tidur. Dia meletakkannya di tempat tidur, tapi saat dia meletakkannya Archio, anak itu malah membuka matanya dan menangis. "Anak mommy kenapa? Kok nangis?" Dia menepuk p****t Archio agar tidak menangis lagi.
"Archi ingin apa? s**u?" Athena terus mengajaknya berbicara, Archio sudah sedikit tenang. Karena Archio dia sudah sedikit demi sedikit melupakan kejadian tadi. Apakah menyerah adalah jalan keluar saat ini? Bagaimanapun Athena sangat mencintai Arvel. Bagaimana nasib bayi dalam kandungan Fiona ke depannya?
Athena menoleh mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka, dia berpikir kalau itu adalah Emma tapi ternyata dugaannya salah, Fiona lah yang masuk. "Ada yang bisa saya bantu, nyonya?" Tanya Athena sopan. Dia sebenarnya tidak bisa bersikap seakan-akan selalu menghargai Fiona, tapi mau bagaimana lagi?
"Tak usah sok baik kepadaku, b***h!"
"Apa mau nyonya?"
"Pergi dari kehidupan ku dan Arvel!" Fiona kini sudah berada di depan Athena, dia akan membuat ancaman kepada Athena, semakin lama Athena semakin berani. "Kau harus segera menjauhi Arvel, ingatlah sebentar lagi dia akan memiliki anak."
"Maaf, saya tidak bisa," jawab Athena.
Fiona yang mendengar itu tidak terima, dia menjambak rambut Athena ke belakang dengan sangat kasar. "Ternyata kau cukup keras kepala." Dia mendorong Athena hingga jatuh, biar gadis itu tahu rasa. "Aku akan membuatmu menyesal karena kau telah berani macam-macam denganku." Dia menjepit pipi Athena sampai merah, tanpa rasa takut sama sekali.
"Argh.... Sialan." Athena menangkis tangan Fiona, dia tidak terima diperlakukan seperti ini. "Lepaskan aku! Selama ini aku selalu diam, tapi sekarang tidak lagi." Belum sempat dia melawan, Fiona sudah mendorong tubuhnya sampai jatuh ke lantai.
"Dan ya satu lagi, akan ku buat Arvel semakin membencimu." Fiona mengepalkan tangannya tak suka melihat Athena, menarik sekali. "Apa kau bilang? Lawan aku kalau begitu. Kita lihat siapa yang pantas untuk Arvel, kau hanya wanita lemah."
"Anda salah."
Karena Athena yang tidak bangun Fiona dengan cepat menendang perut Athena, "kau bermain dengan orang yang salah." Dia pun membantu Athena bangun dan memojokkannya di dinding, sebelum gadis itu melawan lagi nanti.
Athena diam bukan berarti takut, dia hanya tidak ingin memperkeruh suasana. Dia melihat Archio yang akan menangis, tidak jangan sekarang, Athena takut Fiona malah akan melukai Archio. Rasanya tangannya sudah sangat gatal untuk menonjok wajah Fiona, tapi dia masih bisa menahan emosinya.
"Kenapa diam hah? Kau tuli?" Teriak Fiona sambil mencekik leher Athena dengan memandangnya remeh. Dia tidak bisa lagi membiarkan gadis itu hidup tenang, sepertinya mulai dari sini fia harus merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Athena.
Mata Athena tidak lepas dari Archio, kalau Archio menangis bisa-bisa Fiona malah melakukan sesuatu kepada Archio. "Oek.... oek..." Dan yang benar saja, Archio malah menangis. Dia menggeleng saat Fiona melepaskan cekikan nya dan menghampiri Archio, wanita seperti Fiona itu sangat nekat.
"Anak tampan."
"Tidak! Saya mohon jangan sakiti Archio." Athena dengan cepat menghampiri Archio, terpaksa nanti dia harus melawan Fiona jika seandainya wanita itu menyakiti Archio. Dia berlari menghampiri Fiona, tapi Fiona lebih cepat menggendong Archio, wanita itu menatap Archio dengan senyuman miringnya.
"Halo..."
Tangisan Archio semakin keras, Athena berusaha merebut Archio, tapi Fiona tidak membiarkan hal itu terjadi. "Kumohon," pintanya yang sudah berada di depan Fiona dan ingin mengambil Archio, lagi-lagi dia tidak bisa merebut Archio.
"Sungguh kasihan bayi malang ini mempunyai ibu p*****r sepertimu." Fiona menatap Archio yang masih menangis, dia suka mendengar tangisan anak itu. Memang anak menyusahkan saja, anak tidak berguna, bisa-bisanya anak itu ingin mengambil perhatian Arvel. "Bagaimana kalau aku bermain-main sebentar dengannya?"
Athena langsung menggeleng, tidak dia tidak akan membiarkan Archio kenapa-kenapa. "Kau pecundang jika menyakitinya, lawan aku dan lepaskan Archio, kumohon." Dia memandang Fiona sendu, dari tadi dia terus saja takut dengan kenekatan Fiona.
"Oh... Jadi namanya Archio, nama yang bagus." Archio masih terus menangis di gendongan Fiona, tapi apakah Fiona merasa kasihan dan iba? Jawabannya sama sekali tidak. "Apa lebih baik aku membunuh bayi malang ini saja?"
Athena jatuh saat kaki Fiona menendangnya, dia kalah cepat lagi dari Fiona. Apa yang harus dia lakukan kali ini? Percuma saja kalau dia berteriak, Emma dan Josep tidak ada di rumah. Air mata Athena terus turun tidak tega melihat Archio yang terus menangis dari tadi, hatinya ikut merasa sakit mendengar suara tangisan itu.
"Ini akibatnya kalau kau bermain-main denganku, pelacur."
Saat Fiona ingin menjatuhkan Archio ke lantai terdengar suara yang menghentikan aksinya. Athena berharap Archio tidak kenapa-kenapa, lebih baik dirinya yang terluka dari pada Archio. Dia menutup matanya takut saat mengatakan itu, dia berusaha berdiri tapi dengan cepat Fiona selalu menendangnya.
"Apa yang kau lakukan, Fiona?"
Suara itu menghentikan aksi Fiona yang akan menjatuhkan Archio, dia berbalik melihat Arvel yang sudah berdiri di depan pintu kamar Athena, Arvel menghampirinya dan mengambil Archio dari gendongannya. "Ar---arvel?"
Athena bernafas lega akhirnya Arvel datang di waktu yang tepat, mungkin dia harus mulai waspada pada kehadiran Fiona. Bisa saja dia kecolongan, lalu Archio yang akan menjadi korban nanti.
"Kenapa kau ada disini Fiona?"
Athena berdiri, dia tidak menghampiri Archio, karena Archio sudah tidak menangis lagi saat digendong Arvel. "Biar dengan aku saja, dia harus minum susu." Aneh sekali, saat tadi Archio digendong Fiona menangis, tapi saat digendong Arvel anak itu langsung berhenti menangis.
"Aku saja," jawab Arvel.
"Umm... aku ingin lihat bayi Athena."
Arvel menatap tidak percaya, dia tahu Fiona tidak menyukai anak kecil. "Benarkah itu? Kau tidak suka dengan anak kecil, sangat tidak pandai berbohong." Archio juga menangis kencang saat Fiona tadi menggendong anak itu, jadi sudah bisa disimpulkan jika Fiona sempat ingin melakukan sesuatu.
"Benar kan Athena?"
Athena bingung haruskah dirinya berbohong? Dia melihat mata Fiona yang menatapnya tajam seolah menginginkannya berbohong. Dia hanya takut kalau dia jujur bukan hanya dirinya yang kena masalah, tapi sekarang Fiona juga mengincar Archio. "Iya."
Arvel sedikit percaya saat Athena mengatakan itu, dia berjalan mendekati Athena dan menyerahkan Archio. Dia melihat Arvel yang sangat menyayangi Archio, atau itu hanya perasaannya saja? Tidak mungkin Arvel menganggap Archio seperti anak pria itu sendiri.
"Lebih baik kau istirahat, ingat kau sedang mengandung Fiona."
Apakah ini akhir dari semuanya? Mereka akan hidup bahagia bersama calon anak mereka dan bagaimana dengan nasib Athena ke depannya? Dia melihat ke arah Arvel yang tersenyum ke arahnya. Setidaknya sekarang dia punya Archio di kehidupannya, biar waktu yang menjawab semuanya.
Lagi pula apabila suatu saat nanti dia terpaksa meninggalkan Arvel, dia sudah mempunyai kenangan indah bersama Arvel saat di pesta kemarin. Menurutnya itu sudah cukup membuatnya bahagia, jika memang Arvel jodohnya pasti nanti pria itu akan kembali kepadanya.
*****
Arvel mengantarkan Fiona menuju kamarnya, dia bingung kepada dirinya sendiri, disisi lain dia begitu mencintai Fiona, tapi melihat foto Fiona bersama pria lain kemarin membuatnya sudah sedikit tidak mempercayai Fiona seperti dulu. Apa ia akan membalaskan dendamnya kepada Fiona, tidak sekarang.
Fiona sedang mengandung anaknya, bagaimana bisa dia melakukan hal itu. Dia akan berusaha melupakan kejadian kemarin dan terus menjaga Fiona yang sedang mengandung darah dagingnya, masalah Athena sama sekali tidak akan menjadi beban baginya.
"Arvel perutku sakit," ujar Fiona.
Arvel mendekati Fiona yang berada di tempat tidur, " yang mana?" Tanya Arvel dengan khawatir. Dia takut wanita itu kenapa-kenapa, tapi percayalah jauh di dalam hatinya perasaannya kepada Fiona sedikit demi sedikit sudah hilang. Malah dia merasakan sebuah kenyamanan jika bersama Athena, dirinya aneh kali ini.
"Jangan tinggalkan aku hiks...." Fiona tiba-tiba menangis dan memeluk Arvel, dia begitu takut Athena akan menang darinya, lalu wanita itu berhasil merebut hati Arvel. "Jangan sampai kau mencintai wanita p*****r itu, kau hanya boleh mencintaiku!"
Arvel membalas pelukan itu, di dalam hatinya ia sedikit tidak percaya bahwa anak yang dikandung Fiona adalah anak kandungnya. "Tidak, aku disini." Dia mengelus rambut panjang Fiona, pelukan ini tidak senyaman saat dia melakukannya dengan Athena.
"Aku mencintaimu."
Fiona tanpa aba-aba langsung mencium bibir Arvel, tentu hal itu membuat Arvel merasa tidak seperti biasanya. Tubuhnya menegang saat Fiona tiba-tiba menciumnya, dia tidak membalas ciuman itu, rasanya bibir Fiona tidak senikmat bibir Athena.
Melihat Arvel yang tidak membalas ciumannya Fiona menggigit bibir Arvel, walaupun wanita itu lebih berpengalaman soal ciuman dibandingkan Athena, tapi jujur dia lebih menyukai ciumannya bersama Athena. Sampai akhirnya dia membalas ciumannya kasar, meluapkan semua emosinya akhir-akhir ini di dalam ciuman itu.
Fiona tidak bisa mengimbangi permainan bibir Arvel dan akhirnya dirinya lah yang kehabisan nafas, dia terus memukul d**a Arvel karena kehabisan nafas. Setelah ciuman berakhir dia langsung memeluk Arvel , dan mencium pipi kanan dan kiri tak terkecuali ciuman singkat di bibir Arvel. "Apakah kau akan selalu bersamaku?"
"Iya, aku akan selalu bersamamu."
"Apa aku boleh bertanya?"
"Tanya saja."
"Apabila anak ini lahir, kau ingin anak ini laki-laki atau perempuan?" Fiona memegang tangan Arvel dan menuntunnya untuk memegang perutnya yang masih rata. Semuanya akan semakin lebih mudah dengan kehadiran anaknya ini, bahkan Arvel tidak akan pernah bisa meninggalkannya.
"Laki-laki perempuan itu sama saja, yang terpenting dia sehat."
Ucapan Arvel membuat Fiona senang bukan main, dirinya sekarang jauh lebih unggul dibandingkan Athena. Sampai saat ini dia masih lebih unggul, dan selamanya akan tetap begitu. "Lihat saja b***h, aku akan membuat Arvel sendiri yang akan mengusirmu dari rumah ini," kata Fiona dalam hatinya.
*****
Hari ini Athena akan mengajak Archio untuk kuliah, dia tidak ingin terus merepotkan Emma yang selalu membantunya. Dia menyiapkan semua kebutuhan Archio mulai dari s**u dan pakaian untuk berjaga-jaga, lalu dia keluar membawa tas gendong nya sambil menggendong Archio. "Ibu, Athena berangkat dulu," pamitnya.
Emma yang sedang mencuci piring pun menoleh, "apa tidak sebaiknya Archio di rumah bersama ibu saja?" Dia tidak tega, Athen kemana-mana selalu membawa Archio. "Lagipula sekarang tugas ibu sudah selesai, biar Archio bersama ibu saja."
Athena tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Athena tak apa membawa Archio, lagi pula pekerjaan ibu banyak, aku hanya tidak ingin merepotkan." Dia masih tetap membawa Archio, perasaan takut terus saja membuatnya tidak bisa meninggalkan Archio sebentar saja. Apalagi Fiona sekarang seperti mengincar anaknya, dia harus memastikan sendiri jika Archio aman.
"Kau tidak pernah merepotkan, Athena."
"Tak apa, aku bisa."
"Bukankah kau akan mencari pekerjaan?"
Pertanyaan dari Emma tersebut mengingatkan Athena, bagaimana bisa dia lupa untuk mencari pekerjaan? Nanti dia akan mencoba memikirkannya lagi. "Tak apa Bu, kalau begitu Athena pergi dulu." Dia masih kukuh dengan pendiriannya untuk mengajak Archio, anaknya tidak boleh kenapa-kenapa.
Saat akan keluar dari mansion Athena melewati Arvel dan Fiona yang berada di meja makan, dia berusaha untuk tidak memperdulikan hal itu. Dengan melihat kedekatan itu malah akan membuatnya sakit hati, jadi lebih baik dia menghindar saja.
"Kau mau kemana?" Tanya Fiona.
Perutnya itu membuat Athena menghentikan langkahnya, dia menatap sekilas Fiona lalu mengalihkan pandangannya ke arah Arvel yang sibuk menatap iPad. "Kuliah nyonya."
"Baguslah kalau kau pergi dan akan lebih baik kalau kau tidak kembali lagi," ucap Fiona dengan nada tidak sukanya. Selamanya akan tetap sama, dia membenci Athena. "Aku sangat senang jika kau tiada, dengan begitu Arvel akan menjadi milikku. Ups salah... Maksudnya Arvel sampai saat ini adalah milikku, kau yang sudah merebutnya."
"Fiona!" Tegur Arvel.
"Apa?"
"Get out of here, bitch."
"Kenapa kau membelanya? Apa kau sudah mulai suka dengan p*****r itu?" Tanya Fiona emosi, sepertinya Arvel sudah mulai berempati dengan Athena. Itu tidak bisa dibiarkan, jika hal itu terus terjadi bisa-bisa Arvel akan mulai membuka hati untuk Athena.
"Apa yang kau bicarakan? Apa kau masih meragukan ku?" Arvel kembali membentak Fiona. Padahal dia sama sekali tidak membela Athena, dia hanya mencoba untuk menenangkan suasana agar kedua wanita itu tidak bertengkar.
"Tapi tingkahmu seperti kau mencintai p*****r itu." Suara Fiona merendah, dia takut dengan bentakan Arvel tadi. Jelas-jelas Arvel tadi membela Athena, tapi pria itu masih saja menyangkalnya. "Benar bukan? Kau sudah membuka hatimu untuk gadis itu?"
"Kau meragukan perasaan ku?"
"Tidak, aku percaya padamu."
*****
Athena sudah sampai di university nya, dia kini sedang menatap Archio yang dari tadi terus saja tersenyum. Sejak tadi juga Archio tidak begitu rewel membuatnya sedikit tenang, anak itu sangatlah penurut.
"Hai Athena," sapa Ashley.
"Hai juga Ashley."
"Hai, siapa bayi tampan ini?" Mata Ashley beralih pada Archio yang digendong Athena. Dia sangat suka melihat bayi yang digendong Athena, bayi itu sangat tampan dan juga lucu.
"Archio," jawab Athena.
"Apa ini anakmu Athena?"
Athena menjelaskan semuanya kepada Ashley, dia sudah mulai percaya dengan Ashley. Lagipula dia tahu Ashley bukanlah orang jahat, mungkin dari sini dia bisa sedikit membagikan masalahnya dan dari situ masalah perlahan-lahan akan hilang.
"Sini aunty gendong."
"Pelan-pelan, Ashley."
"Kau tampan sekali, ikut sama aunty saja ya?" Ashley mendudukkan dirinya di kursi taman, dia begitu suka dengan Archio. "Ish... Gemasnya, sayangnya aunty. Nanti kita jalan-jalan oke? Beli es krim terus coklat, mau kan?"
"Tidak aunty, Archio mau sama mommy."
"Sama aunty saja," balas Ashley.
Dan Archio dari tadi tersenyum dan tertawa saat Ashley mengajaknya berbicara, Athena senang bisa mendapatkan teman sebaik Ashley. Ternyata selama ini masih banyak alasan mengapa dia harus tetap berjuang, selama masih ada jalan maka dia akan tetap mempertahankan hubungannya.
"Oh ya... lalu bagaimana reaksi suamimu saat kau membawa Archio ke rumah?" Ashley mengalihkan pandangannya dari Archio ke Athena. Dia ikut prihatin dengan kondisi rumah tangga Athena, seharusnya temannya itu bersenang-senang di usianya yang masih 18 tahun.
"Katanya itu terserah padaku."
"....." Ashley diam.
"Ashley," panggil Athena.
"Ya, kenapa?" Ashley melihat Athena ingin menceritakan sesuatu padanya berusaha mendengarkannya dan memberikan solusi yang terbaik. "Kau ingin mengatakan sesuatu? Katakan saja. Aku akan mendengarkannya."
"Apa kau tahu dimana aku bisa mencari pekerjaan?"
Ashley sedikit terkejut, bukankah Athena sudah memiliki suami? Apakah suaminya tidak memberi uang? Suami macam apa itu, sudah berselingkuh lalu juga tidak memberikan nafkah, sangatlah b******k. "Apa suamimu tidak memberikanmu uang sehingga kau berniat mencari pekerjaan?"
Athena langsung menggeleng. "Dia memberikanku uang, tapi itu tidak cukup apalagi sekarang ada Archio." Selama ini dia sudah memikirkan semuanya, dan dia juga merencanakan apa langkah terbaik yang harus dia ambil. Yang pertama untuk mencari uang, lalu yang kedua untuk mendapatkan Arvel.
"Apa kau mau bekerja di cafe milik kakakku?"
"Mau, tapi apa tidak merepotkan?"
"Tidak, aku sudah menganggapmu saudaraku sendiri Athena." Ashley sangat senang memiliki Athena sekarang, dia nyaman bersahabat dengan gadis itu. "Jadi tidak usah sungkan lagi, kita sekarang sahabat bukan? Maka dari itu kita akan sama-sama membantu satu sama lain.
"Terima kasih banyak Ashley." Athena ingin sekali memeluk Ashley, tapi dia takut nanti Ashley akan marah. Bagaimanapun juga dia baru beberapa hari mengenal Ashley, itulah yang membuatnya masih sedikit tidak enak.
"Peluk saja."
"Bolehkah?"
Belum sempat menjawabnya, Ashley tanpa ragu langsung memeluk Athena."Mulai sekarang kita sahabat, Athena. Jangan pernah sungkan untuk meminta sesuatu padaku, mengerti?"
"Terima kasih Ashley, kau adalah orang pertama yang mau menjadi sahabatku." Athena rasanya sangat bahagia bisa menemukan orang sebaik Ashley, dia berharap pertemanannya ini akan membuat kehidupannya semakin lengkap.
"Aku juga baru pertama kali mendapatkan sahabat sepertimu, Athena." Bukan hanya Athena, tapi Ashley juga sangat beruntung mendapatkan teman seperti Athena. "Sudah sudah, bagaimana kalau kita pergi ke kantin?" Ajak Ashley.
Athena mengangguk, Archio tampak senang saat Ashley yang menggendong nya. Sesampainya di kantin Ashley menyerahkan Archio ke pangkuannya, mereka mencari tempat duduk dulu. Anak itu sangat pintar sekali, dari tadi tenang dan tidak rewel sampai sekarang.
"Kau ingin pesan apa, Athena?"
"Eum... sandwich dan jus strawberry saja,"
"Oke... tunggu disini, biar aku yang pesankan."
Athena mengangguk sebagai jawaban, dia menunggu Ashley sambil melihat Archio yang sedang meminum s**u botolnya. Oh ya... sekarang Athena baru ingat dengan Alia, bagaimana jika Alia tidak mengizinkannya untuk merawat Archio? Lebih baik nanti Athena menelpon nya untuk meminta izin.
"Ini pesanannya." Ashley sudah datang.
"Terima kasih."
"Apa kau ingin langsung bekerja hari ini, Athena? Tadi aku mengirim pesan ke kakakku, katanya dia membutuhkan seorang pelayan." Ashley mencoba bertanya tentang pekerjaan yang diinginkan Athena, mungkin saja sahabatnya itu mau.
"Ya, hari ini juga tak apa."
"Bagaimana dengan Archio?" Tanya Ashley, yang khawatir jika tidak ada orang yang menjaga Archio. Dia bisa menjaga anak itu, tak masalah. Bukannya keberadaan dia malah senang, dia akan mengajak Archio jalan-jalan.
"Nanti aku coba cari penitipan anak."
"Jangan, biar sama aku saja."
"Tidak usah, nanti malah merepotkan."
"Tidak, aku ingin mengajak Archio pergi."
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak, aku sudah bilang jangan sungkan."
"Sekali lagi terima kasih banyak."
"Dalam persahabatan tidak ada kata terima kasih," balas Ashley. Sahabatnya itu terlalu berlebihan, padahal dia suka membantu Athena. "Bagaimana dengan si pelakor itu?" Tanyanya tiba-tiba membuat Athena yang sedang makan menghentikan kegiatannya sejenak.
"....." Athena masih diam.
"Jika kau tak ingin cerita sekarang tak apa, aku siap menunggu kapanpun kau siap menceritakannya kepada ku." Ashley akan terus ada untuk Athena, tidak tahu kenapa dia suka jika diandalkan Athena. "Tak apa jika kau tidak bisa lebih baik ceritanya besok-besok saja."
"Dia hamil."
"Apa benar itu anak suamimu?"
"Aku juga tidak tahu."
"Sebaiknya kau pastikan dulu."
"Apa kau tidak berniat untuk melaporkan perselingkuhan mereka pada ibu mertuamu?" Lanjut Ashley. Bila dia menjadi Athena, dia tidak akan diam saja. "Laporkan saja, biar mereka tahu rasa. Atau susun rencana untuk menghancurkan pelakor itu, jangan terlalu baik oke?"
"Aku sudah berjanji," jawab Athena.
"Jangan terlalu baik kepada mereka, kebaikanmu itu malah akan dimanfaatkan nanti. Kalau perlu aku akan membantumu memisahkan mereka, aku akan selalu membantumu Athena." Masalah seperti ini sangat mudah Ashley lakukan, menyingkirkan hama kecil seperti pelakor adalah hal yang menyenangkan.
Kata-kata Ashley membuat Athena begitu bahagia, dirinya sangat beruntung bisa bertemu dengan Ashley. "Tidak perlu," tolaknya. Mereka sudah bahagia bagaimana bisa Athena memisahkan mereka? Apalagi sekarang ada bayi dalam kandungan Fiona.
"Aku jadi ingin melihat seperti apa suamimu itu," kekeh Ashley yang ingin tahu. Benarkah suami Athena sangat tampan? Sampai banyak sekali pelakor yang bertebaran. "Dia tampan ya? Seksi? Atau bagaimana?"
"Kapan-kapan kau bisa datang ke rumah."
"Baiklah."
Waktu berputar dengan cepat dan ini saatnya Athena bersama Ashley pergi ke cafe milik kakak Ashley. Archio dari tadi tidak rewel, apalagi Ashley membantunya untuk mengurus Archio. Dia dan Archio masuk ke dalam mobil Ashley, mereka langsung menuju cafe. Jarak nya lumayan dekat sekitar 10 menit kalau menggunakan mobil.
Mereka sudah sampai, Athena melihat cafe milik kakak Ashley yang sangat bagus, apalagi bangunan nya banyak terdapat tumbuhan hijau yang membuat cafe ini memiliki ciri khas sendiri. Ashley dan Athena melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe.
"Gimana? cafe nya bagus gak?"
"Sangat indah, aku suka konsepnya."
"Kakak memang suka konsep alam, oh ya... sini biar Archio sama aku." Ashley menggendong Archio, dia sudah tidak sabar untuk mengajak Archio jalan-jalan nanti. Sepertinya nanti dia akan mengajak Archio jalan-jalan ke taman, atau membeli sesuatu di mall?
"Kau yakin akan menjaga Archio?"
"Iya..."
"Ya sudah kalau gitu."
"Ya sudah, ayo aku tunjukan bagian luarnya, setelah itu nanti ke ruangan kakak." Ashley akan mengajak Athena untuk menemui kakaknya dulu, siapa tahu Athen nanti akan diterima bekerja disini.
Athena pun mengikuti Ashley menuju balkon atau bagian luar cafe, dia terpukau dengan konsep ini, cafe ini memiliki mengambil konsep alam. Ditambah lagi banyak tanaman yang merambat di pilar-pilar cafe, kalau begini dia akan betah bekerja di cafe ini.
"Ayo kita ke ruangan kakak dulu."
Mereka memasuki ruangan manager, saat pintu ruangan terbuka, Athena melihat seorang pria yang sedang fokus dengan laptopnya, dia tidak bisa melihat wajah kakak Ashley karena tertutup layar laptop. Sebenarnya dia juga penasaran, bagaimana wajah kakaknya Ashley itu?
"Kakak," panggil Ashley.
"Kebiasaan, gak usah teriak-teriak."
"Iya-iya maaf kakakku sayang, oh ya... kenalkan ini Athena."
Pria itu langsung menatap Athena dari atas sampai bawah, sedangkan Athena yang merasa tak nyaman akhirnya menundukkan kepalanya. Dia tidak suka jika ditatap seperti itu, rasanya sangat canggung dan aneh menurutnya. Selalu saja semua orang melihat orang-orang dari penampilan, dia menjadi sedikit tidak percaya diri sekarang.
"Jangan tatap Athena seperti itu kak, kau membuatnya takut." Tegur Ashley saat melihat kakaknya yang seperti mengintimidasi Athena, kakaknya membuat Athena tidak nyaman. "Matanya dijaga oke? Mata jelalatan."
"Jadi kau yang ingin bekerja disini?"
"Iya." Athena sedikit gugup.
"Mulai besok kau bisa bekerja." Pria itu berdiri dan menghampiri Athena, dia akan mengajak Athena berkenalan dulu. "Kenalkan, saya Allard," sapa Allard sambil menjulurkan tangannya. Dia tersenyum ke arah Athena, sepertinya gadis itu masih malu-malu.
"Athena." Athena menjabat tangan Allard.
"Siapa bayi tampan ini?" Pandangan Allard beralih kepada Archio yang berada dalam gendongan Ashley. Dia belum pernah melihat Archio sebelumnya, lalu adiknya bisa dengan mudah akrab dengan bayi itu.
"Ini anak Athena," jawab Ashley. Dia melihat raut kecewa saat tadi mengatakan hal itu kepada Allard, dia tahu sebenarnya Allard sedikit tertarik dengan Athena. "Tampan bukan? Namanya Archio, kak."
"Bolehkah aku menggendong nya?"
"Silahkan," balas Athena.
"Awas saja kalau jatuh," ancam Ashley.
"Iya-iya bawel."
Setelah sekitar 1 jam berada di cafe Athena pamit untuk pulang karena ini sudah sore, dari tadi Ashley menawarkannya untuk mengantarkannya sampai rumah, tapi Athena menolaknya secara halus. "Ashley, aku pamit pulang dulu," pamitnya.
"Beneran gak mau?"
"Sudah 15 kali kau menanyakan hal itu."
"Benarkah?"
"Iya Ashley."
"Hati-hati di jalan nanti."
"Aku pulang dulu, dimana tuan Allard?"
"Kenapa mencarinya, apa kau suka?"
"Aku hanya ingin berpamitan."
"Kayaknya sibuk."
"Kalau begitu nanti tolong sampaikan salam ku dan ucapan terima kasih untuknya. Aku pergi dulu, Ashley."
Ashley langsung melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah Athena, di dalam hatinya ada sesuatu yang ingin dia ungkapkan. Setelah Athena pergi Ashley menghampiri Allard yang berada di ruangannya, tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk. Matanya melihat kakaknya yang sedang berkutat dengan dokumen-dokumen penting. "Kakak dapat salam dan ucapan terima kasih dari Athena."
Allard langsung menatap sang adik, dia harus menanyakan hal yang dari tadi masih mengganjal di hatinya. "Apa benar Archio itu anak Athena?" Dia masih tak percaya kalau Athena sudah memiliki seorang anak, padahal gadis itu masih sangat muda.
"Kakak suka?"
"Apa maksudmu?"
"Kakak suka sama Athena kan?"
"Tidak!" Bantah Allard.
"Aku tahu kakak tertarik dengan Athena, sebenarnya Archio itu bukan anak kandung Athena." Awalnya yang bagus untuk menjodohkan kakaknya dengan Athena, siapa tahu setelah itu Athena bisa mendapatkan kebahagiaan yang selama ini sahabatnya cari.
"Hah? Apa yang kau katakan?"
Ashley menceritakan bagaimana Athena bisa bertemu dengan Archio, dari gelagat Allard sudah sangat ketahuan. "Lagipula kalau kakak suka aku dukung, walaupun Athena sudah memiliki suami tapi pernikahan mereka tidak didasarkan cinta."
"Apa kau bilang?"
"Suami Athena tidak mencintai Athena."
Ucapan Ashley berhasil membuat Allard kaget bukan main, ternyata hal yang dibicarakan Ashley membuatnya dari tadi terus saja tidak percaya. "Lalu kenapa mereka menikah, bukankah Athena masih muda?"
"Karena mama dari suami Athena ingin Athena yang menikah dengan anaknya," balas Ashley. Kakaknya sudah mulai ingin tahu lebih dalam tentang Athena, berita bagus ini. "Mungkin kalau kakak suka dengan Athena tak apa, aku malah mendukung, Athena berhak bahagia. Sekarang suaminya malah masih berhubungan dengan kekasihnya."
Allard yang mendengar itu merasa kasihan dengan Athena, tidak disangka-sangka rupanya. "Sebenarnya kakak sedikit tertarik padanya," ujarnya uang malah membuat Ashley melotot.
"Benar kan? sudah kuduga."
"Mungkin kakak coba dekati saja Athena."
"Kau ingin aku merebut istri orang?"
"Bukan begitu, coba dekati saja dulu. Aku tidak tega melihat Athena sedih hanya karena terus melihat kemesraan antara suaminya yang selingkuhannya," sahut Ashley. Sahabatnya butuh suami yang bertanggung jawab, tidak suami yang sangat b******k.
"Aku tidak akan melakukan itu, mungkin saja cepat atau lambat suaminya akan mencintainya," tolak Allard. Memang dia tertarik kepada Athena, tapi dia tidak ingin mengganggu rumah tangga seseorang. "Semuanya hanya tentang waktu."
"Bagaimana kalau nanti Athena cerai dengan suaminya? Apa kakak mau mendekatinya?"
Allard langsung menatap tajam adiknya itu, Ashley terlalu mendukung Athena bercerai rupanya. "Apa-apaan kau ini? seharusnya kau mendukung hubungan mereka," balas Allard yang tidak tahu bagaimana jalan pikiran adiknya.
"Aku setuju kalau Athena bersama kakak."
"Biarkan dia bahagia bersama suaminya."
"Kita lihat saja nanti."