Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Athena baru sampai mansion. Dia melihat mansion yang sepi, dimana Arvel dan Fiona? Apa mereka pergi? Mencoba berjalan saja Athena melihat Arvel yang berada di dapur sambil menatapnya tajam.
"Bersiap-siaplah!"
"Bersiap-siap kemana?"
"Rumah mommy," jawab Arvel.
"Apa aku boleh mengajak Archio?" Tanya Athena takut, sejak tadi Arvel terus menatapnya tajam. Pria itu berubah dingin lain, sangat berbeda dengan kemarin-kemarin saat Fiona tidak ada.
"Tak apa, cepatlah bersiap-siap!"
Athena masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap, untung saja Archio tidak tidur jadi dia bisa dengan mudah memandikannya. Tak mungkin dia hanya mengganti baju Archio saja tanpa mandi, dengan telaten dia memandikan Archio sambil sekali-kali mengajaknya berbicara.
Setelah hampir 30 menit bersiap-siap akhirnya Athena dan Archio sudah siap untuk berangkat, dia mencari Arvel. Sampai akhirnya dia melihat Arvel yang sudah berada di ruang tamu. "Tuan," panggil Athena pelan.
Arvel mengalihkan pandangannya dari Fiona ke Athena, "kenapa lama?" Tanya Arvel dingin. Gadis itu selalu saja terlambat, memang tidak menghargai waktu sama sekali. "Aku sudah lama menunggumu."
"Maaf tuan."
"Jangan macam-macam kau nanti!" Fiona mulai memperingati Athena. Dia sebenarnya tidak rela Athena pergi dengan Arvel, tapi apa boleh buat? Ini demi hubungannya dengan Arvel, jangan sampai ini dari kekasih itu tahu semuanya.
"Baik nyonya."
"Sudahlah kau tenang saja." Arvel memeluk Fiona, dia berusaha menyakinkan wanita itu. Awalnya tadi dia tak ingin mengajak Athena pergi ke rumah Alia, tapi mau tak mau dia harus mengajak Athena, bila tidak maka Alia akan mengomelinya habis-habisan.
Flashback
Arvel sedang menemani Fiona menonton film, rasanya aneh sekarang. Kenapa dia malah malas untuk menemani Fiona? Bosan adalah satu kata yang menggambarkan keadaan bersama Fiona saat ini. Dia membuka ponselnya karena ada pesan masuk, lalu membukanya. Ternyata dari sang ibu.
Ada kabar buruk, ternyata Alia menyuruhnya untuk datang ke mansion dengan Athena. Bisa gawat ini, keberadaan Fiona akan terancam jika dia menolak. Tadi dia juga sempat mengatakan jika datang sendiri saja tanpa Athena, tapi ibunya terus saja memaksanya untuk dayang dengan Athena.
"Siapa?" Tanya Fiona.
"Mommy," jawab Arvel singkat.
"Oh..."
"Mommy menyuruhku untuk ke mansion."
"Sendiri?"
"Bersama p*****r itu."
"Kau tidak mungkin mengajaknya kan?"
"Mau bagaimana lagi? Kalau aku mengajakmu, mommy akan tahu kalau kau tinggal di sini." Arvel terus saja bingung,. Fiona selalu saja tidak mengerti. Bagaimana bisa dia mengajak Fiona menemui Alia disaat ibunya itu begitu membenci wanita itu? Bukannya bahagia, pasti Fiona akan sakit hati nanti.
"Tidak! Kau tidak boleh pergi!"
"Kau mau mommy tahu semuanya? Kalau iya, silahkan ikut." Arvel menjawabnya dengan malas, biar Fiona tahu seberapa tidak sukanya Alia. Bisa jadi juga kekasihnya akan dihancurkan oleh sang ibu, Alia akan berusaha memisahkannya dengan Fiona.
"Tapi kan---"
Belum sempat menjawabnya Arvel sudah memotongnya, Fiona sudah terlalu banyak bicara. "Apa yang kau takutkan sampai kau melarangku?" Seharusnya Fiona percaya dengannya, bukan malah curiga berlebihan seperti tadi.
Fiona langsung kaget dengan suara Arvel yang sedikit meninggi, setelah sekian lama dia kembali mendengar Arvel menggunakan nada tinggi saat berbicara dengannya. "Kau menggunakan nada tinggi? Itu tandanya kau membentak ku."
"Sudahlah, tidak ada gunanya aku berbicara panjang lebar denganmu. Kau juga tidak mengerti," balas Arvel. Berbicara dengan Fiona hanya akan membuat emosinya terpancing, belum lagi pasti wanita itu akan menangis hanya karena sebuah masalah kecil seperti ini.
Fiona memeluk Arvel, "maafkan aku." Fiona menumpahkan air matanya. "Aku hanya takut kau sudah ada rasa dengan jalang itu," lanjutnya. Perasaannya terus saja mengatakan jika lambat laun Arvel akan mencintai Athena, lali setelah itu dia ditelantarkan.
"Itu hanya perasaanmu, aku hanya mencintaimu." Arvel membalas pelukan Fiona, dibalik sikap sok berani Fiona, wanita itu tetap wanita yang sangat cengeng. "Jangan menangis lagi! Aku mau ke bawah sebentar."
Flashback end
Di dalam mobil hanya ada suara alunan musik yang meramaikan suasana, mereka sama-sama diam, sampai Archio menangis membuat Arvel dan Athena khawatir. Athena berusaha menenangkan Archio dengan memberikan s**u, tapi itu tidak membuat Archio berhenti menangis. Dia bingung setengah mati, tidak biasanya Archio rewel.
Arvel menepikan mobilnya, dia berusaha membantu Athena untuk menenangkan Archio. "Sini biar aku gendong," ujarnya. Dia tahu pasti Archio kecapekan dan ingin tidur, seharian anak itu ikut Athena pergi.
Athena langsung menyerahkan Archio untuk dipangku Arvel, dia yakin jika Arvel bisa mengatasi semua ini. Dan yang benar saja, Archio diam saat Arvel menggendongnya. Dia bernafas lega, sekarang Archio semakin dekat dengan Arvel.
Tapi kenapa Archio kelihatan sangat dekat dengan Arvel? Akhirnya Arvel kembali melajukan mobilnya dengan masih memangku Archio. "Biar aku saja." Dia ingin mengambil Archio, tapi dengan cepat Arvel melarangnya.
"Tak usah."
"Kita bisa dalam bahaya."
"Aku bisa mengatasinya."
"Jangan membuat kita dalam bahaya."
"Bawel sekali kau ini."
Setelah beberapa menit mereka sampai di sebuah mansion yang sangat mewah, para penjaga membukakan pintu gerbang untuk Arvel. Athena sangat merindukan Alia, mereka memasuki ruang tamu. Di sana sudah ada Alia, Sean, dan Selena yang menyambut mereka.
"Akhirnya datang juga," kata Sean.
"Athena! mommy merindukanmu."
"Athena juga," sahut Athena.
"Sudahlah mom, anak mommy cemberut tuh," ejek Sean yang melihat Arvel yang cemberut. Adiknya memang tidak pernah berubah, bisa dilihat dari raut wajahnya. "Kau tidak bawa oleh-oleh? Mana ada datang ke mansion hanya dengan tangan kosong?"
"Banyak bicara kau, kak."
"Sini-sini mommy peluk." Alia beralih memeluk Arvel, dia memeluk anak bungsunya dengan sangat erat. Tidak sengaja matanya menangkap sosok anak kecil di dalam gendongan Arvel, dia baru sadar sekarang. "Ini siapa?" Tanyanya.
"Ini Archio," kata Arvel.
"Mommy ingin menggendongnya." Alia mengambil Archio dari gendongan Arvel, dia suka dengan Archio. Anak itu terlihat sangat manis, apalagi dia tidak menangis saat digendongnya tadi. "Tampan sekali, grandma suka dengan mu sayang."
"Mommy! aku juga mau menggendong bayi tampan itu." Selena mendekat ke arah Alia, dia juga tidak mau kalah sekarang. "Archio memang tampan, pantas saja dia sangat menggemaskan seperti ini."
Athena akhirnya menceritakan bagaimana dia bisa bertemu Archio, mereka menerima Archio dengan senang hati, bahkan dari tadi Alia ingin terus menggendong Archio. Begitu juga Selena, sehingga Alia dan Selena dari tadi terus berebut untuk bisa menggendong Archio.
"Sudahlah honey, biar mommy saja yang menggendong nya, nanti kita bikin yang lebih lucu," ucap Sean asal dan langsung mendapatkan plototan dari Selena. Apa yang salah? Tidak ada yang salah sama sekali di dalam ucapannya tadi.
"Benar kata Sean, nanti bikin sendiri saja."
"Kau ini bikin malu," bisik Selena.
"Sini biar Archio sama aku." Arvel merebut Archio dari gendongan Alia, dia tidak tahan melihat anaknya yang menjadi bahan rebutan. "Kalian tidak usah menggendong Archio lagi, seperti anak kecil saja."
Mereka akhirnya melanjutkan obrolan mereka, Athena tersenyum senang bisa merasa sedekat ini dengan mereka. Bahkan ia bahagia bisa berada ditengah-tengah keluarga bahagia ini. Arvel sangat beruntung masih bisa merasakan memiliki sosok ibu dan keluarga yang begitu mencintai pria itu, sedangkan dirinya?
"Ar, kau tidak ada rencana untuk memberikan Archio adik?"
Perkataan Sean berhasil membuat Arvel terdesak, kaget tentu saja, siapa yang tidak kaget dengan pertanyaan menyeramkan seperti itu? Sialan memang kakaknya, sengaja sekali. "Uhuk...uhuk..." Tatapan matanya langsung berubah, dia tidak terima dengan pertanyaan tadi.
"Benar itu, mommy juga menginginkan cucu perempuan," tambah Alia membuat Arvel melototkan matanya. Sebenarnya dia tidak masalah, hanya mereka memang suka menggoda Arvel. Anaknya yang satu itu akan langsung emosi, padahal mereka hanya bercanda. "Iya kan Athena?"
Rasanya Athena ingin sekali pergi dari hadapan mereka semua, pipinya sudah merah padam karena godaan mereka. "Iya mommy." Dia tidak tahu harus menjawab apa? Raga gugup semakin membuat dirinya malu. Kenapa juga Arvel tidak menjawab?
"Tuh... kau mendengarnya kan? Athena saja sudah setuju." Sean mencoba untuk menggoda sang adik, dia suka melihat itu. Arvel terlalu menganggap semuanya serius, itulah yang membuat adiknya mudah dibodohi hanya dengan candaan seperti ini.
"Archio masih kecil," jawab Arvel.
"Gak papa, semakin cepat semakin baik." Selena malah mendukung Alia dan Sean, akhirnya sekarang Arvel seperti disudutkan. "Nanti jarak umur Archio dan adiknya masih satu tahunan lebih, jadi tidak masalah."
"Tidak ada topik lain?"
Karena Archio sudah tidur Alia menyuruh untuk membawanya ke kamar, sekarang mereka sedang berada di meja makan. Athena khawatir dengan Archio yang kini berada di kamar, dia takut Archio terbangun dan menangis.
"Kalian menginap di sini ya," pinta Alia.
"Tapi----" Athena sedikit tak enak.
"Iya, nanti kita menginap." Perkataan Arvel berhasil membuat Athena menoleh padanya, tak apa sesekali mereka menginap. Lagipula memang salah? Dia hanya mencoba untuk menghindari Fiona dulu.
"Gitu dong."
"Gimana kalau kita Minggu depan pergi ke Hawaii? Pasti akan sangat menyenangkan jika kita ke sana bersama-sama," saran Selena. Dia hanya ingin membuat Athena merasa bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga Erlio, mereka akan sangat kompak sebagai sebuah keluarga.
"Mommy setuju," sahut Alia semangat.
"Sean juga setuju."
"Kau mau kan, sayang?" Tanya Alia.
"Iya mommy," jawab Arvel yakin.
Makan malam selesai, Arvel dan Athena menuju kamar untuk istirahat. Athena juga ingin melihat keadaan Archio, dia sekarang begitu takut meninggalkan Archio sendirian. Arvel menarik gagang pintu dan membukanya, setelah itu dia melihat Archio yang terbangun tapi tidak menangis, melihat s**u Archio sudah habis dia berniat untuk membuatkannya lagi.
"Mau kemana?" Tanya Arvel.
"Membuatkan s**u untuk Archio."
"Sini, Archio biar sama aku." Arvel mendekati Athena dan langsung menggendong Archio, setelah Athena pergi ke dapur untuk membuat s**u. Sedangkan Archio tampak senang saat dia menggendong anak itu, tak tahu kenapa? Dia begitu gemas dengan pipi chubby Archio, tak sekali dua kali dia terus saja mencium pipi chubby itu.
Karena gerah Arvel membuka bajunya, dia meletakkan Archio di tempat tidur dulu setelahnya dia menggendong Archio lagi. "Hai sayang, nanti kita beli mainan. Daddy akan membelikan mobil-mobil atau miniatur dinosaurus?" Bodoh sekali Arvel, anak seusia Archio belum bisa bermain dengan mainan seperti itu.
Athena yang baru masuk kamar terkejut dengan keadaan Arvel yang telanjang d**a sambil menggendong Archio, kenapa dia malah gugup melihat keadaan Arvel seperti itu? Mencoba menghilangkan rasa gugupnya dia menghampiri Arvel. "Biar aku saja."
Arvel menyerahkan Archio kepada Athena, tubuh Arvel rasanya sudah sangat lelah. Dia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, saat-saat sepertinya inilah yang bisa membuatnya sedikit tenang, tidak ada lagi Fiona yang terus saja mengganggu.
Archio sudah tidur, Athena bingung, apa Arvel tak marah jika Archio tidur dengannya? Athena tak apa tidur di sofa asal Archio di tempat tidur. Dia melihat Arvel yang sedang memainkan ponselnya, lalu dia menghampirinya. "Eum.... Apa boleh kalau Archio tidur di tempat tidur?"
Arvel menatap Athena tajam, gadis itu semakin aneh saja. "Apa-apaan kau? Kalau Archio tidak tidur di tempat tidur, apa kau akan menidurkannya di lantai?" Dia kaget bagaimana bisa Athena berpikir seperti itu? Masih ada juga gadis oon seperti Athena.
"Umm... Lalu?"
"Biar dia tidur bersamaku." Arvel mengambil Archio dan menidurkannya di sampingnya, maklumi saja Athena masih 18 tahun. Masih sangat bodoh dan oon dalam merawat seorang bayi, bisa-bisanya Alia menjodohkannya dengan gadis seperti Athena.
Athena pergi untuk tidur di sofa, dia tahu Arvel tidak akan mau tidur satu ranjang dengannya. Saat Athena akan merebahkan tubuhnya di sofa suara Arvel membuatnya terkejut, seketika dia langsung duduk.
"Kenapa tidur di situ?"
"Aku tidur di sini saja."
"Apa ranjang ini begitu sempit sampai kau tidak ingin tidur disitu?" Arvel sekarang berubah menjadi tidak jelas, dulu dia tidak sudi tidur dengan Athena. Tapi kini dia malah ingin tidur dengan gadis itu? Ada apa dengannya? Jangan sampai karena dia sudah sedikit demi sedikit membuka hatinya untuk Athena.
Athena bingung harus berkata apa? Arvel amnesia atau apa? Bisa-bisanya pria itu lupa. "Tapi kau sendiri yang dulu melarang ku tidur satu ranjang denganmu. Kau lupa?" Dia baru saja mendapatkan keberanian untuk mengatakan itu, yang lebih jelasnya dia sudah sangat berani sekarang dengan Arvel.
"Itu dulu, sekarang tidurlah di sini!"
7.00 a.m
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Alia sedikit bingung karena baik Athena dan Arvel sama-sama belum bangun. Dia berinisiatif untuk membangunkan mereka, dia memegang gagang pintu kamar dan ternyata malah terbuka, Arvel tidak menguncinya.
Saat masuk dia kaget bukan main, Archio sudah bangun tapi Arvel dan Athena masih nyenyak dengan tidurnya. Karena tak tega melihat Archio yang sudah bangun, dia menggendongnya dan membawanya keluar. Bagaimana bisa Arvel dan Athena tidur berpelukan sedangkan Archio sudah bangun, Alia mengajak Archio turun. Sean dan Selena sudah berada di ruang keluarga.
"Loh Arvel sama Athena mana?"
"Mungkin semalam baru membuatkan adik untuk Archio jadi mereka belum bangun." Ucapan Alia berhasil membuat Sean dan Selena melongo mendengarkan, dia juga berpikir semalam Arvel dan Athena langsung berusaha membuatkan adik untuk Archio.
Disisi lain Athena terbangun karena merasa ada beban di tubuhnya, dia menoleh ternyata itu tangan Arvel. Tanpa pikir panjang dia langsung mencari keberadaan Archio, tapi nihil Archio tidak ada di tempat tidur. Dia panik sendiri, bahkan hal itu sampai membuat Arvel terbangun karena dirinya terus bergerak.
"Kenapa kau ini?" Tanya Arvel.
"Itu--- itu."
Arvel tak paham dengan ucapan Athena, dia baru saja bangun tapi sudah melihat tingkah aneh Athena. "Itu itu apa?" Dia ikut khawatir, karena sejak tadi Athena seperti sedang mencari sesuatu. "Kau ini kenapa?"
"Archio," jawab Athena.
Arvel melirik ke sampingnya, kenapa dia baru sadar kalau Archio tidak ada? Anak itu tidak ada di tempat tidur, padahal semalam tidur di tempat tidur bersamanya. "Kenapa diam saja? Biar aku cari dibawah."
"Baiklah."
Arvel berlari ke luar kamarnya dengan masih telanjang d**a, bagaimana bisa Archio tidak ada di kamar? Mata Arvel menelusuri setiap sudut mansion, dan tepatnya di ruang keluarga sudah ada Alia, Sean, dan Selena yang sedang bercanda dengan Archio. "Mommy," panggil Arvel.
Mereka menoleh ke arah Arvel dengan tatapan yang sulit diartikan, tentu saja hal itu membuat Arvel heran kenapa mereka malah tersenyum jahil ke arahnya? Bahkan tidak ada yang bersuara sama sekali setelah dia datang, tidak perlu berlama-lama lagi dia langsung merebut Archio dari Alia.
"Bagaimana tadi malam?" Tanya Sean.
"Baik-baik saja? Kenapa memangnya?" Bingung Arvel tidak mengerti apa yang dibicarakan Sean, dia masih santai-santai saja. "Bahkan sangat nyenyak, hal tidak penting seperti itu kenapa ditanyakan? Memang tidak jelas kau kak."
"Lancar buat adik untuk Archio?"
Damn, ternyata itu yang dimaksud mereka, Arvel diam seribu bahasa tak tahu harus mengucapkan apa? Mereka semakin menggodanya saat tahu dirinya dengan keadaan telanjang d**a. Kenapa dia baru menyadarinya? Dia belum memakai bajunya. Lebih baik dia tak mengindahkan ucapan mereka dan langsung pergi ke kamarnya, kalau dia masih di sana maka mungkin saja mereka akan terus menggodanya.
Athena melihat Archio yang sudah berada di dalam gendongan Arvel, dia menghampiri Arvel dan menggendong Archio. "Syukurlah," kata Athena lega saat Archio baik-baik saja. Dia kira anak itu kenapa-kenapa, apalagi anak itu tidak ada di sampingnya.
"Archio biar mandi sama aku." Arvel malah kembali membawa Archio, dia membawanya ke kamar mandi tanpa mendengarkan persetujuan dari Athena. Dia ingin mandi bersama anak itu, pasti Archio akan senang nanti.
Athena menyiapkan pakaian untuk Archio, sambil menunggu Arvel dan Archio selesai, dia memutuskan untuk ke bawah dan membantu menyiapkan sarapan. Di sana dia melihat Alia dan Selena yang menata makanan di meja makan, ia menyapa mereka. "Pagi mommy, kak Selena."
Mereka menoleh melihat Athena yang baru datang. "Loh Archio mana?" Tanya Selena yang tidak melihat Archio bersama Athena.
"Mandi."
"Mom, kita jadi ke Hawaii Minggu depan?"
"Jadi dong," balas Alia menjawab Selena.
"Kau ikut kan, Athena?" Tanya Selena.
"Aku ikut Arvel."
Disisi lain Arvel dan Archio sedang berendam di bathtub, Archio tampak tertawa lepas saat Arvel terus mengajaknya berbicara. "Sini biar daddy gigit pipinya." Dia pura-pura ingin menggigit pipi chubby Archio, hal itu semakin membuat Archio tertawa.
Mereka tertawa lepas, Archio memukul-mukul air dan membuat cipratan-cipratan air di bathtub. "Udah ya main airnya, sekarang udahan dulu mandinya." Arvel memakaikan handuk di tubuh Archio, bisa kedinginan nanti anaknya.
Arvel mengeringkan tubuh Archio dan memakaikannya baju yang sudah disiapkan Athena, setelah ini mereka akan turun. "Anak daddy tampan sekali," pujinya sambil terus menciumi pipi dan perut Archio.
Athena yang baru saja masuk kamar langsung disuguhkan pemandangan Arvel yang sedang bercanda dengan Archio, dia merasa bahagia ternyata Arvel begitu menyayangi Archio. Dia melangkahkan kakinya untuk mandi, sekarang waktunya dia yang mandi.
Sedangkan Arvel dan Archio yang sudah rapi turun ke bawah untuk sarapan, di sana sudah ada Alia, Sean, dan Selena yang berada di meja makan. Arvel begitu senang berada di mansion Alia, selain tidak bertemu Fiona, dia juga merasa nyaman tinggal disini.
"Ihh.... cucu grandma tambah ganteng deh, puji Alia. Saat dia ingin menggendong Archio dengan cepat Arvel melarangnya, memang menyebalkan sekali anaknya itu.
"Biar sama aku saja mom," larang Arvel.
"Athena belum siap?" Tanya Selena.
"Mandi," jawab Arvel dengan wajah datarnya. "Setelah sarapan Arvel mau langsung pulang, bolehkan mom?" Izinnya. Mungkin mengajak Athena dan Archio jalan-jalan bukanlah ide yang buruk, sekalian mereka bersenang-senang nanti.
"Kan masih pagi, kenapa tidak nanti sore saja?" Bantah Alia yang berusaha menahan Arvel agar tetap disini. Dia sebenarnya ingin Arvel dan Athena tinggal disini, dengan begitu dia bisa mengetahui semua yang terjadi di hubungan Arvel dan Athena. Sayangnya Arvel menolaknya, anak itu memilih untuk membeli mansion sendiri.
"Arvel ada urusan," sahut Arvel.
"Ya sudah tak apa."
"Maaf, Athena telat." Athena baru saja datang, dia agak lama mandi tadi. Mereka menoleh ke arahnya sambil tersenyum tipis, tapi tidak untuk Arvel yang hanya diam sambil menatapnya datar. Selalu saja begitu, Arvel terkesan sangat cuek tapi juga kadang pria itu bersikap sangat perhatian.
"Iya, gak papa kok sayang," balas Alia.
Saat melihat Athena tiba-tiba Archio menangis, Arvel khawatir saat Archio tiba-tiba menangis. Tadi juga baik-baik saja, lalu kenapa anak itu malah menangis kencang? Sepertinya karena ingin digendong Athena.
"Kasih Athena, kayaknya Archio minta digendong Athena," suruh Alia.
Arvel menuruti kata-kata Alia, dia memberikan Archio kepada Athena yang sudah duduk di sebelahnya. Dan benar saja Archio langsung diam saat Athena yang menggendongnya, mungkin Archio merindukan Athena. Mereka sarapan dengan tenang, Archio sudah tidak rewel lagi di pangkuan Athena.
Setelah makan Arvel ingin pulang, Alia sudah menahannya tapi lagi-lagi dia tak mau. Alhasil dia dan Athena akan tetap pulang sekarang, berlama-lama di mansion membuatnya pusing sendiri, Sean selalu saja menjahilinya. "Arvel pergi dulu mommy," pamitnya sambil memeluk Alia.
"Janji dulu, kau harus ikut ke Hawaii Minggu depan," ancam Alia yang masih tak rela Arvel pergi. Padahal dia masih ingin melihat Archio dan Athena, bisa berkumpul lagi seperti tadi malam.
"Iya mommy."
"Athena pamit pulang dulu mommy."
"Iya sayang, hati-hati di jalan."
Sekarang mereka dalam perjalanan pulang, Athena dari tadi sibuk bercanda dengan Archio. Sedangkan Arvel hanya diam saja, tidak ada yang mereka bicarakan. Setelah beberapa menit Archio malah sudah tertidur pulas, itu membuat sekarang hanya ada dirinya dan Athena. Hanya ada kecanggungan di antara mereka, Athena juga sepertinya tidak berani mengajaknya bicara.
"Loh ini bukan jalan pulang." Bingung Athena melihat Arvel yang melewati jalan arah mansion mereka, pria itu mengambil rute yang salah. "Jalannya kelewat, putar balik ayo!"
"Diam saja, jangan banyak bicara!"
Athena diam tak berani menjawab ucapan Arvel, dia bingung mau ke mana sebenarnya Arvel? Katanya mau pulang, tapi kenapa malah dia mengambil rute yang lebih jauh? Dia hanya bisa mengerutkan keningnya, kenapa Arvel malah ke kebun binatang? Dia keluar mobil saat Arvel juga keluar. Pikirannya tak habis pikir kenapa Arvel malah ke kebun binatang? Apa Arvel ingin menemui seseorang di sini?
"Archio biar sama aku." Arvel mengambil Archio dari gendongan Athena, karena gadis itu masih diam di tempat, dia dengan teganya meninggalkan Athena yang masih diam di belakang. Lelet sekali, banyak bicara juga, siapa lagi kalau bukan Athena.
Dengan cepat Athena menyusul mereka, karena merasa berisik Archio terbangun. Mereka mengelilingi kebun binatang, dari tadi Archio sangat senang, dan dia hanya mengikuti mereka yang terus berkeliling. Banyak pengunjung yang memperhatikan Arvel dari tadi, kenapa rasanya Athena tidak suka mereka memandang Arvel seperti itu?
Saat sedang asyik berkeliling, tiba-tiba ponsel Arvel berbunyi. Dia melihat siapa yang menelponnya? Dan ternyata Fiona yang menelpon. Pasti ada masalah lagi dengan wanita itu, atau mungkin Fiona sedang banyak tingkah. "Kenapa?" Tanya Arvel.
"....."
"Sebentar lagi."
"....."
"Tunggu." Arvel menuju parkiran mobil.
Athena hanya mengikutinya, padahal baru sebentar di sini. Arvel sudah mau langsung pulang, mungkin saja Arvel ada pekerjaan mendadak. "Kita pulang? Ada masalah apa?" Dia mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada pria itu.
"Fiona sakit."
Setelah 15 menit akhirnya mereka sudah sampai mansion, Athena keluar dari mobil. Saat dia masuk di ruang tamu sudah terdapat Fiona yang sedang duduk di sofa, kata Arvel tadi wanita itu sakit lalu kenapa wajahnya sama sekali tidak seperti orang sakit?
"Darimana saja kau?" Fiona bangun dan menghampiri Athena, "seneng banget ya? Berduaan dengan Arvel dari kemarin." Sebenarnya dia masih sedikit sebal dengan Athena, gadis itu membuatnya iri kemarin.
"......." Athena diam.
"Apa kau memanfaatkan bayi haram ini agar bisa dekat dengan Arvel?" Tanya Fiona dengan nada tidak sukanya. "Pasti iya kan, kau memungut bayi itu untuk membuat Arvel bersimpati kepadamu. Cih menjijikkan sekali...."
Athena yang mendengar Fiona mengatakan itu mendongakkan kepalanya, keterlaluan sekali ucapan fiona tadi. Ingin rasanya dia membungkam mulut Fiona menggunakan tangannya, tapi nanti Arvel salah paham kepadanya.
"Dasar p*****r! lebih baik kau buang bayi haram mu itu," bentak Fiona. Dia sudah tidak tahan lagi mengeluarkan semua kata-kata kasar, gadis itu pantas mendapatkan hinaan seperti ini.
Plak.... Dengan cepat Athena menampar pipi Fiona, dia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Fiona sudah sangat keterlaluan, tidak selamanya dia akan tetap diam. "Sudah cukup! Aku muak mendengar semua hinaan itu!"
"Apa yang kau lakukan?" Arvel yang baru datang terkejut dengan tindakan Athena, dia dibuat bertanya-tanya saat melihat Athena menampar Fiona. "Kau ini kenapa hah? Fiona sedang hamil."
"Dia menamparku." Fiona berlari ke arah Arvel dan memeluknya, dia akan memanfaatkan kesempatan ini. "Padahal aku sama sekali tidak menghinanya, aku hanya menyatakan tentang kegiatan kalian kemarin."
Sedangkan Athena masih diam, apa yang dia lakukan? Itu pantas untuk Fiona. Kata-kata sudah tidak bisa dimaafkan. Dia sangat tidak rela jika ada seseorang yang menghina Archio, lebih baik dia yang dihina. Lalu bisa-bisanya juga wanita itu berbohong kepada Arvel, sialan memang.
"Berani-beraninya kau."
"Dia menghinaku!" Bantah Athena.
"Apa kau tidak tahu malu? Aku sudah memperlakukanmu dengan baik dari kemarin, tapi tindakanmu tadi sungguh menjijikkan. Apa kau tidak tahu jika Fiona sedang hamil? Tidak bisakah kau berbuat baik kepadanya?" Bentak Arvel penuh emosi, matanya terus menatap tajam Athena.
"Dia yang memulainya dulu!"
"Ternyata hatimu sangat busuk," lanjut Arvel yang tak peduli perkataannya akan menyakiti hati Athena. "Lebih baik kau pergi dari hadapanku!" Seharusnya Athena itu mengerti tentang kondisi Fiona saat ini, bukan malah meladeni Fiona dengan cara menampar.
"Sialan kalian semua, aku sama sekali tidak bersalah." Athena berlari sambil menggendong Archio yang menangis karena bentakan keras Arvel tadi, tidak berguna sama sekali. Arvel juga sangat bodoh, Fiona yang bersalah tapi dia yang disalahkan.
"Hiks... hiks.... dia menamparku."
"Maafkan aku." Arvel mengelus rambut Fiona. "Sekarang jangan menangis lagi, Nanti dia akan sedih melihat mommy nya menangis," katanya sambil mengelus perut Fiona yang masih rata. Walaupun Athena tidak bersalah, tapi tetap saja gadis itu sudah berani main tangan kepada Fiona.
Arvel kini bersama Fiona yang dari tadi sangat manja kepadanya, bahkan wanita itu terus-terusan tidak mau lepas darinya. Tak bisa apa-apa lagi selain menuruti keinginan Fiona, atau nanti wanita itu berulah lagi.
"Aku tidak suka jalang itu ada di sini."
"Apa yang harus ku lakukan? Tidak mungkin aku mengusirnya," balas Arvel. Benar ucapan tadi, dia tidak bisa mengusir Athena begitu saja apalagi Alia berada di pihak gadis itu. Bagaimanapun juga statusnya sekarang dengan Athena saat ini adalah suami istri, dia tidak bisa asal mengusir Athena.
"Lakukan sesuatu pada anaknya itu."
Arvel melotot saat Fiona mengatakan hal itu, Fiona terlalu kejam jika harus melibatkan Archio yang sama sekali tidak bersalah. "Apa-apaan kau? Archio tidak bersalah." Dia tidak terima, ini tidak ada sangkut-pautnya dengan Archio.
"Kenapa kau membelanya?"
"Apa kau gila? Dia masih kecil."
"Setidaknya lakukan sesuatu agar p*****r itu menyesal," sahut Fiona. Dia akan terus mencuci otak Arvel agar pria itu bisa semakin membenci Athena, dia harus bisa memanfaatkan kesempatan yang menghancurkan Athena.
"......" Arvel diam.
"Kalau kau tidak mau, biar aku yang melakukan sesuatu padanya," lanjut Fiona. Jika tidak maka dia yang akan melakukannya sendiri, jika Arvel mengira dia tidak berani, maka pria itu salah besar. "Aku bisa menghabisinya dengan tanganku sendiri, kau tidak perlu ikut campur sekarang."
"Setidaknya jangan menyakiti Archio."
"Aku akan memusnahkan anak haram itu Arvel, dan aku tidak butuh persetujuan darimu." Batin Fiona dalam hati, dia masih belum bisa menerima kehadiran Athena ditengah-tengah hubungannya dengan Arvel. "Kalau begitu buat p*****r itu menyesal," suruhnya yang tak mau kalah.
"....."
"Kenapa diam? Kau tidak bisa menyakitinya kan? Kau sudah mulai suka dengan p*****r itu?" Suara Fiona meninggi. Emosinya tidak bisa ditahan lagi, dari sini sudah terlihat jelas jika Arvel sudah mulai tertarik dengan Athena.
"Silahkan lakukan sesuatu pada p*****r itu, tapi jangan pernah coba-coba menyakiti Archio," geram Arvel.