Tidak terasa sudah setengah tahun berumah tangga, Aku dan Suami masih saja menikmati masa-masa berpacaran, kalau hari libur kerja Suami mengusahakan untuk membawaku weekend, katanya healing biar tidak bosan di dalam rumah terus, sejak gadis Aku memang merasa betah kalau di dalam rumah, namun kali ini sudah ada teman hidup yang bisa mengajak kemana-mana, tentu menjadi pengalaman dan kesan yang baru.
"Mau kemana Kil?" tanya Ibu, saat melihat Aku berkemas memasukkan beberapa barang bawaan di dalam bag.
"Mau jalan-jalan Bu, sekalian mau mampir ke tempat teman, ada acara nikahan besok." Suamiku berusaha menjelaskan.
"Jadi kamu nginap?" sahutnya lagi.
"Iya Bu, tidak apa-apa kan? Kan, besok juga libur," balas Suami ku lagi
"Kamu ini setelah menikah tidak betahan di rumah," serang Mbak Ipar sambil berkacak pinggang dan memperhatikan Aku mondar mandir membawa barang bawaan keluar kamar.
Mbak Ipar beberapa bulan ini ikut tinggal di rumah Ibu, Ia baru saja melamar kerja di salah satu pabrik yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Aku juga dengar-dengar akan memindahkan anak-anaknya sekolah dekat dari rumah Ibu. Padahal setahu ku Ia sudah diberi tempat tinggal barang sepetak sama Ibu yang terletak berdampingan dengan rumah Budeh, Sedangkan suaminya ada di Malaysia, Suamiku pernah bercerita kalau dulu sekitar dua tahunan Mbak Ipar tinggal di sana juga tetapi karena Ia merasa tidak betah akhirnya pulang ke Indonesia.
Semenjak Mbak Ipar ikut tinggal dirumah terkadang ada perasaan risih, apalagi soal tugas rumah, lantai yang sudah di sapu ,di sapunya kembali, atau ketika Ia mencuci piring seperti orang yang sedang dalam keadaan kesal menghentakkan beberapa peralatan ditempat nya.
Belum lagi anak-anaknya yang suka mengacak-acak barang yang sudah di tata rapi, rumah tiap hari seperti kapal pecah, bungkusan snack terselip nyempil dibawah kasur atau di bawah kolong bupet TV, handuk terpampang diatas kepala kipas angin dan lain-lain. Terkadang ingin mengeluh karena capek beberes, namun apalah daya jika numpang seperti ini rasa-rasanya juga sungkan jika tidak turun tangan.
"Kalau tidak betah, Aku sudah lama minggat Mbak, ini namanya menyesuaikan waktu saja, hitung-hitung menyenangkan istri, lagian kebetulan ada acara teman, tidak enak kalau sampai tidak hadir," jelas suamiku.
Dari bilik kamar Aku melihat raut wajah judes ipar, begitupun Ibu yang sedari tadi terlihat datar raut wajahnya seakan mendukung pertanyaan dari anak perempuannya itu
"Deee...k, kakak, Oom mau berangkat, kamu ikut tidak?" suara lantang ipar memekakkan telinga,
Aku masih terdiam di dalam kamar, entah mengapa rasanya berat untuk melangkah.
Terdengar suara kaki berlomba berlarian menuju teras.
"Mau kemana Om?" tanya anak berumur 9 tahun itu.
"Mau jalan-jalan," ujar Suami singkat.
"Biasanya juga kalian diajak, ayo ganti baju sana !" tekan Ipar, berusaha mempengaruhi anak-anaknya.
Mendengar perkataan Ipar rasanya hati ini seperti balon yang ditiup kemudian dikempiskan kembali. Nyali menciut untuk keluar dari kamar. Mbak Ipar tipe yang keras,grusah-grusuh dan ceplas-ceplos.
Berbeda dengan adiknya yang bungsu, Aku lebih leluasa bersamanya.
"Tidak usah ikut, perjalanan jauh," tolak Suamiku.
Dari balik jendela kamar Aku memperhatikan mereka, entah apa yang mereka perbincangkan lagi karena bahasa daerah yang membuat Aku agak kesulitan menerjemahkannya, tetapi kalau dilihat dari gelagatnya Mbak Ipar hanya ingin mengcegad agar kami tidak jadi pergi. Tetapi kalah karena Suami kekeuh untuk berangkat lagi pula kami juga sudah berkemas.
"Sayang ... ! Ayo berangkat!" panggil Suamiku.
Aku berjalan keluar mengenakan ransel dipundak, ekor mata ku sekilas menangkap wajah datar keduanya, sementara suami sembari mencium tangan wanita yang telah melahirkannya itu. Bergantian Aku meminta restu untuk pamit pergi ke wanita yang kusebut Ibu Mertua itu, Mbak Ipar yang sedari tadi berdiri clingak clinguk mencari anak-anaknya.
"Mbak Aku berangkat," ujar ku.
Tidak ada respon dari mulutnya, Ia masih sibuk mencari anak-anaknya di teras samping.
Motor yang Aku tumpangi melaju menjauh meninggalkan mereka yang tengah sibuk menutupi sesuatu, apa mereka tidak senang ? jika Aku dan Suami pergi-pergi? Ah ... Lagian ini kan ajakan dari Suami ku, Aku ingat kata Mama kalau sudah jadi Istri yang perlu Kamu dengarkan nomor satu adalah Suamimu, selama yang dikatakan itu tidak mendatangkan mudharat. Betul juga! lagi pula kan Suami berniat membahagiakan Istrinya.
***
Setengah perjalanan sudah Kami susuri, Aku sangat senang dengan pemandangan disini, Kota tapi masih berdampingan dengan nuansa Pedesaan.
RM. Bukit kecil
Begitu nama yang terpampang pada tempat yang Kami mampiri, sejenak rehat dan mempersilahkan cacing-cacing kecil yang sedari tadi demo pada lambung mungil ini.
Alunan musik khas daerah menemani kebersamaan ditengah-tengah menanti santapan yang akan di hidangkan.
"Sayang, Aku ke belakang dulu yah." Suamiku berlalu sepertinya Ia kebelet ke kamar kecil.
Ku raih tas yang diletakkan di atas meja, tangan ku sibuk mencari benda gepeng yang baru saja terdengar berdering.
Aku terhenyak, tidak sengaja membaca notifikasi yang terpampang di layar handphone suamiku.
"Jangan boros-boros kalau keluar rumah, kamu kan sudah ada istri, istri mu harus pintar masak biar kamu tidak jajan terus."
Begitu kalimat yang kudapati dari notifikasi w******p Suamiku.
Siapa lagi kalau bukan pesan dari Mbaknya.
Aku tidak membuka pesan itu,tetapi jemariku langsung menelusuri isi story-nya.
"DINIKAHI BEN ISO NGURUSI, LAH KOK NAMBAH BEBAN BOJO NE WAE, BOROS-BOROSI."
(34 menit yang lalu).
Aku tidak tahu apa maksudnya.
Cepat-cepat Aku menyimpan handphone Suami, memposisikan tas seperti sediakalah.
Berbarengan pelayan datang, terlihat senyum suami dari arah yang sama. Aku berusaha menutupi apa yang baru saja ku ketahui dengan membantu pelayan meletakkan makanan yang kami pesan.
Aku melirik Suami meraih tas dan berusaha merogoh handphonenya,
"Makan dulu sayang," ajak ku.
Sepertinya Ia telah membuka pesan dari Mbaknya. Hanya dibaca tanpa balasan, Ia tersenyum melirikku sembari mengelus punggung tanganku, Aku tau bahwa ini adalah respon setelah membaca pesan itu, tetapi Aku berpura-pura tidak tahu.
Setelah makan kami berdiam sejenak untuk membiarkan makanan bersemayam bebas di dalam lambung.
Aku membuka handphone ku dan mencari story yang dibuat Mbak Ipar beberapa menit yang lalu, beberapa story memang terpajang tetapi tidak kudapati story yang sama seperti di handphone suami.
Oh itu artinya ...
Aku di-hide.
Dalam perjalanan Aku masih terfikir apa maksudnya Mbak Ipar menyembunyikan story nya dari pengelihatanku?
Aku semakin penasaran sebenarnya apa makna dari kata-kata yang disematkan pada story-nya.
Ingin ku bertanya sama Suami tetapi ku urungkan, karena menurutku ini pasti menyangkut pada diriku. Apa status itu menyinggung tentang Aku ?