Aku berusaha untuk menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga Suamiku, meski terkadang Aku mulai merasa ada gesekan-gesekan konflik antara Mertua maupun Ipar didalam rumah itu. Tapi Aku selalu ingat pesan dari Mama, hati manusia itu terkadang ada yang seperti batu dan juga ada yang seperti tanah liat, kalau yang satunya seperti batu maka kamu yang seharusnya berusaha menjadi seperti tanah liat. Biar yang terjadi adanya saling menyatu.
Kalau kadang Aku mendengar sindiran entah dari Ipar ataupun Mertua, Aku diam kan saja dan ternyata benar cara itu menyelamatkan suasana, beberapa menit kemudian kembali saling berkomunikasi lagi.
Aku selalu mengajak komunikasi Mertua ataupun Ipar meski itu sekedar basa-basi, sekalipun yang ku dapati kurangnya feedback, Aku juga selalu berusaha mengambil hati mertua dengan cara mengerjakan kerjaan rumah tanpa perintah. Sebisa mungkin ku perlihatkan kepedulian ku sebagai keluarga baru.
Aku juga selalu mengikuti tata cara mertua dalam hal apa pun itu.
Sebentar lagi Aku dan Suami akan sampai rumah setelah kemarin weekend dan memenuhi hajatan tempat teman. Dan telah ku tepis atas rasa ingin tahu ku tentang story Mbak Ipar yang kemarin.
Aku membawa tentengan buah tangan untuk ketiga keponakan jagoanku itu.
Dari ujung jalan kulihat Ibu Mertua mengangkat jemuran yang telah kering. Motor melaju memasuki garasi, tiga jagoan sudah berjejer didepan pintu tatkala mendengar suara motor khas om-nya itu. Dan nampak snyum sumringah terlukis pada wajah tirus mereka.
Sementara Ibu mertua masuk meletakkan pakaian yang baru saja diambilnya,
Aku memberikan tentengan kresek pada keponakanku satu persatu. Sejenak ku letakkan tas diatas kursi.Tiba-tiba Ibu Mertua menghampiri mereka. Aku terdiam tatkala salah satu cucu di sentil tanganya.
"Jajan-jajan wae," sergahnya.
Kemudian melemparkan pandangan juteknya padaku.
Seketika rasanya lemas menyaksikan mimik wajahnya yang tidak ramah itu. Kresek plastik yang sedang ku pegang yang tadi nya ingin kuberikan padanya seketika ku urungkan. Hanya ku letakkan pada atas meja.
Aku masuk kedalam kamar mencoba menenangkan fikiran, "semestinya sedari awal Aku menolak untuk tidak ikut, karena awalnya saja ketika kami akan berangkat raut wajah Ibu sudah terlihat sedatar itu," gumamku.
Samar-samar kudengar percekcokan antara Suamiku dan Ibunya di ruang tengah.
"Pulang tanpa membawa apa-apa dikata pelit.
Pulang membawa apa-apa dikata boros-boros.
Ah serba salah rasa nya," gerutuku lagi.
Masa bodoh ah,
Yang penting sudah berusaha menjadi sebaik-baiknya Menantu.
***
Ku usap peluh yang menempel pada keningku, panasnya terik siang ini rasanya membakar lemak tubuhku. Ku bopong masuk kasur yang tadi ku jemur, sebab basah di ompoli anak-anaknya Mbak Ipar.
Terkadang Aku menggerutu kalau bukan Ibu Mertua yang menyuruh tidak akan kulakukan ini, enak saja kalau pagi semua sudah pada berangkat, sementara Aku dibebankan oleh tumpukan bekas tidur mereka yang berserakan.
Kamar mereka yang berantakan sudah jauh lebih rapi dan tidak terlihat sumpek. Ibu Mertua selalu mengajakku berbenah disaat anak-anak mereka tidak dirumah. Mungkin Ibu Mertua tidak ingin rempong mengoceh dengan keberadaan mereka yang justru membuat rumah semakin berantakan, fikirku.
Namun dari sisi ini Aku banyak belajar tentang kebiasaan Ibu Mertua dalam mengerjakan sesuatu, mulai dari tata meletakkan barang seharusnya dimana, sarung bantal harus diganti setelah berapa lama digunakan dan lain-lain. Sebagai orang baru yang masuk kedalam keluarga baru, seharusnya pandai-pandai membawa diri, dan tentu harus menurut dengan aturan-aturan yang sudah lama dibentuk boleh mereka, dan Aku memahami itu.
Pernah sekali Suami menegurku hanya karena perkara melihat Ibunya menyapu halaman depan.
"Kok Ibuku yang menyapu?" ujarnya kala itu.
Padahal disaat yang bersamaan Aku baru saja selesai mengepel lantai rumah. Aku hanya terdiam untuk tidak berdebat, karena benci perdebatan. Meski sering kali berdebat dengan batin maupun fikiranku sendiri.
***
Pandanganku tertuju pada jendela kamar, berharap pujaan hati segera tiba, sore seperti ini biasanya sudah jam pulang para pekerja termasuk Mbak Iparku. Belum lama pandanganku berpindah pada jam dinding, terdengar suara motor masuk ke garasi, namun itu sepertinya Mbak Ipar. Bersamaan kegaduhan anak-anaknya saat berlari menyambut kedatangannya.
"Lebih baik ku selesaikan lipatanku, sembari menanti Suami," lirihku.
Kuletakkan pakaian pada almari, sayup-sayup ku mendengar perbincangan Mbak Ipar dibubuhi dengan gelak tawa Ibu Mertua.
"YA AMPUUN RAPI SEKALI, HEMMMM...
SOK RAJIN !" kalimat bernada ketus itu jelas terdengar di telingaku.
Tak henti-hentinya kumendengar gelak tawa seakan meledek sesuatu, entahlah apa yang diperbincangkan oleh mereka, tetapi rasa ini seakan peka semenjak Mbak Ipar bergabung tinggal bersama.
Senyumku terurai tatkalah melihat pujaan hatiku melintas dari balik jendela. Seperti biasa ketika pulang dari kerja Suamiku selalu saja membawa tentengan meski tanpa ku meminta, tidak hanya untukku tetapi untuk yang lain juga. Namun kali ini Ibu Mertua tanpa protes, yang biasanya suka mengkritik soal jajanan.
Aku duduk ikut berkumpul di depan TV,menyantap jajanan yang dibawa Suami, sebisa mungkin untuk selalu berbaur dengan keluarga intinya, Aku juga melihat Mbak Ipar tidak seketus nada bicaranya seperti yang ku dengar tadi.
***
Ku tolak ajakan Suami untuk ikut bersamanya menonton sepak bola yang terletak tidak jauh dari rumah bersama keponakan, karena rasanya badanku agak kurang fit untuk diterpa angin jalanan, lagi pula lipatan ku belum semuanya kumasukkan kedalam almari.
"Siapa Menantu kesayangan Ibu?"
"Istrinya Akil?"
"SOK RAJIN!"
Kembali kumendengar kalimat itu berulang-ulang, perut mereka seakan dikelitik dengan suara tawa meledek, baru saja duduk makan dan bercanda bersama mereka, Aku malah kembali jadi bahan olok-olokanya. Aku rasa mereka tidak tahu Aku di dalam kamar, mereka fikir Aku ikut bersama Suami.
Aku hanya diam dan mengambil kesempatan ini untuk mengulik sifat mereka, puas rasanya mendengar mereka menceritakan ku. Padahal Aku selalu berusaha menempatkan sikap dan sifatku sebagaimana mestinya.
Serba salah,
Namun tidak mengapa setidaknya Aku bisa tahu kalau ternyata karakter mereka memang seperti itu. Dan ternyata batin ini cukup peka.
Rasanya aku mulai terusik, mulai merasa risih, karena semenjak keberadaan Mbak Ipar ada-ada saja hal-hal yang dibuatnya agar problem itu tercipta. Tapi Aku lebih banyak diam sekarang. Aku selalu mengingat pesan Mama.
Meski tinggal di dalam pondok Mertua, yang harus lebih kudengar itu adalah Suamiku. Aku boleh patuh aturan Ibu Mertua tapi Perkataan Suami adalah yang harus ku utamakan. Dan selama Suami berada di pihak ku maka Aku akan baik-baik saja, lagian juga Aku tidak pernah neko-neko. Ku ikuti semua sesuai alurnya. Serta Aku selalu berdoa agar rumah tanggaku selalu baik-baik saja, dijauhkan dari segalah perusak dalam bentuk apapun itu.