Semenjak mendengar percakapan Ipar dan Mertua, Aku semakin berhati-hati dalam bersikap. Berbicara seperlunya saja, jika kerjaan rumah sudah beres Aku lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Rasanya semakin sungkan untuk beraktivitas sebab takut merasa serba salah.
Kubiarkan kamar Mbak Ipar tetap berantakan, tidak kusentuh barang sedikitpun, bantal masih tergeletak di lantai maupun canteng bekas minum keponakan yang telah Ia gunakan tadi pagi.
Aku melihat mertua melintas didepan kamar anak perempuannya itu, terlihat wajah kesalnya sambil melirikku yang tengah menyapu diruang tamu.
Tampak sekali-kali Ia mendumel, tapi ku hiraukan.
"Kukerjakan salah, tidak kukerjakan lebih salah lagi," lirihku.
Tapi bodoh amat yang penting Aku udah membereskan kerjaan yang lain.
***
Ku atur temperatur panas pada setrika, Aku berinisiatif untuk menyetrika baju-baju suamiku, rasanya untuk beraktivitas diluar kamar sudah merasa risih, dan hanya kamar ini satu-satunya tempat yang membuatku merasa nyaman.
Dari balik kamar Aku mendengar perbincangan mertua dengan seseorang
"Kae loh Ning kamare," begitu kata terucap
Tiba-tiba pintu kamar yang kututup setengah itu seperti didorong dan akhirnya terbuka lebar.
"Lagi ngopo mbak," ujar wanita separuh baya itu, yang sudah berdiri menghalangi pintu.
"koyok nguno kui, yen Ora dijak ngobrol Yo Ora enek suworo ne," sergah Ibu Mertua.
Aku hanya terdiam berpura-pura tidak mengerti tentang apa yang diperbincangkan. Meskipun Aku sudah sedikit paham arti kata yang dilontarkan. Hanya ku balas dengan senyum lalu melanjutkan pekerjaanku.
Sedikit kegaduhan terdengar dari ruang tengah, entah apa yang sedang diributkan oleh anak Mbak Ipar, ada-ada saja hal-hal yang diributkan. Sekali-kali terlihat Ibu Mertua melerai cucu-cucu lelakinya itu dengan cara membelakkan kedua bola mata, Sementara teman Ibu Mertua masih saja mengajakku berbincang, tapi sekarang dengan bahasa yang netral.
"Anakku juga belum hamil, sudah masuk 6 tahun mbak," jelasnya
"Belum rezeki buk, kalau ingin dikata hamil,sekarang juga pun Aku sangat ingin. Hanya saja qodarullah belum rezekinya." balasku.
Mungkin karena rasa pengen tahu Ibu Mertua apa yang kami sedang perbincangkan, namun tidak bisa Ia dengar sepenuhnya sebab posisinya yang sedang menenangkan cucu-cucu nya akhirnya merasa kesal dan kulihat Ia menendang salah satu cucu lelakinya.
Arogan sekali menurut ku.
Mereka meninggalkanku sendiri didalam kamar, namun masih kudengar mereka saling berbincang diluar sana.
Sekarang belajar berpura-pura untuk tidak tahu apa yang diperbincangkan namun sebenarnya tahu adalah pelajaran yang paling kusenangi.
"Cihh ... Dasar orang-orang bermuka dua," gumamku.
***
Aku duduk di meja makan bersama Suamiku, meskipun tidak ikut makan Aku selalu menemaninya hingga selesai. Ku lihat Mbak Ipar membuka penutup kuali yang tergeletak diatas kompor, sementara tangannya yang kanan memegang piring berisi nasi, matanya terbelalak saat mengetahui isi dari kuali itu, lucu sekali. Memang baru saja menggoreng ikan, tetapi Aku menggoreng satu ekor saja khusus Suamiku, Berusaha Aku menahan tawa ini, tampak sekali-kali Ia melirik meja ingin memastikan hidangan apa yang masih disini.
"Kamu tidak ikut makan Nis?" ucapnya sambil menghampiri kami kemudian memastikan hidangan diatas meja, hanya dua iris tempe goreng dan juga sedikit sisa capcay yang kubuat khusus untuk suami.
"Sudah tadi Mbak," jawabku.
"Oh pantas, lauk nya habis," celahnya Tanpa merasa sungkan,dan mengambil langsung tempe yang ku hidangkan untuk Suami.
"Iya Mbak,Aku sengaja masak sedikit karena Ibu bilang tidak usah masak banyak-banyak." tegasku.
Seketika Ia hanya terdiam lalu pindah duduk dilantai di depan TV.
Aku tidak mau lagi masak untuk semua, Aku tidak mau lagi beberes rumah tanpa aba-aba dari Ibu Mertua, Aku beberes hanya untuk yang lebih penting,seperti ruang tamu dan halaman depan, ruang tengah lebih sering ditempati oleh Ipar dan anak-anaknya apalagi kamarnya, masa bodoh sekarang, Mau berantakan sejak mereka berangkat pagi sampai akan pulang pun tidak akan pernah mau lagi Aku bereskan. Pokoknya Aku mau bersikap bodoh amat dan menjaga jarak semenjak ku dengar mereka mencelah cara kerjaku.
Mertua baru saja pulang dari rumah tetangga, tidak ada lain selain duduk bergosip hingga menjelang petang.
Aku ikut masuk ke dalam kamar setelah Suamiku beres dari makannya, sebelum akhirnya Aku mendengar ocehannya karena sudah pasti Dia akan lapar setelah bergosip ria dengan para tetangga diluar sana.
"Kamu ini tidak tau simpan makanan untuk orang tua!" sergahnya kepada anak perempuannya itu.
"Lah Aku loh buk, pulang kerja cuma makan tempe sama sedikit sayur sisa Akil." kilah Mbak Ipar.
Aku hanya tertawa geli dalam hati, mendengar perdebatan mereka, siapa suruh ketika Aku masak banyak dikata boros makanan, giliran masak sedikit mengeluh seperti ini lagi karena tidak kebagian. Jelas tidak bisa kebagian, makanan banyak saja kadang keponakan-keponakan suka dobel mengambil lauknya, dan setelah ku fikir-fikir memang boros sekali mereka.
Adzan magrib pun telah berkumandang, biasanya Aku ikut berkumpul di depan TV tapi kali ini lebih memilih untuk berdiam didalam kamar.
Aku meraih Al-Qur'an diatas nakas, sambil menunggu kepulangan Suami dari masjid.
Terdengar knop pintu terbuka, seperti biasa setelah sholat, kami menyempatkan untuk membaca Qur'an. Tapi beberapa saat kemudian pintu kamar digedor-gedor seseorang dari luar, Kami tersentak kemudian saling berpandangan, Suamiku berdiri lalu membuka pintu,
"Kenapa Bu?" sahut Suamiku.
"Kamu kenapa jam begini sudah tutup pintu?"
Aku memicingkan mata, sementara Ibu Mertua sedikit melongokkan kepala ke dalam kamar seakan memastikan Aku sedang apa.
"Itu gas-nya sudah habis, Ibu mau makan tidak ada lauk," lanjutnya lagi.
Aku hanya terdiam, tidak memberi respon bahkan berdiri dari duduk pun. Kebiasaan sekali orang tua ini, bukan hanya sekali bahkan sudah berkali-kali ketika melihat pintu kamar tertutup dan tahu aku dan suami di dalam ,Dia akan menggendor-gedor pintu kamar, dipanggilnya anaknya, ada-ada saja yang diperbuatnya entah itu minta diantar ke warung, minta dibuatkan sesuatu, biar anaknya keluar dari kamar. Aku merasa benar-benar risih bahkan kamar saja rasanya tidak ada privasi karena suka main nyelonong masuk saja.
"Kamu kalau masak tidak usah banyak-banyak, boros-boros makanan, kalau mau makan baru masak lagi," begitu yang dikatakan tadi siang saat Aku ingin masak, padahal niat masak banyak biar nanti sisa dipanasi kembali jika ingin makan dan tidak perlu repot-repot untuk mengolah lagi. Tapi rasakan sendiri sekarang perut sudah lapar pengen makan tapi hidangan sudah habis, gas pun habis.
***
"Kamu kok cemberut, diam saja sejak tadi," tanya Suami.
"Mas, Aku rasanya serba salah dirumah ini, yang ku kerjakan selalu tidak cocok sama Ibu maupun Mbak mu, apa yang ku kerjakan menurut nya tidak pas, tidak ku kerjakan yah lebih salah lagi," terangku.
"Sabar yah sayang," sesingkat itu Ia menjawab, padahal rasanya benar-benar dongkol selama jalan 3 tahun ini seatap,sedapur dengan mereka. Sudah berbagai problem yang kuhadapi ,setiap ku luahkan keluh kesah ini ,Suami hanya enteng menjawab tanpa memberi jalan keluar yang membuatku bisa merasa legah.