Isabelle Thompson POV
Malam harinya, saat mobil Luna berhenti di salah satu bar terkenal di LA aku tidak bisa menepis perasaan aneh yang muncul di benakku. Aku punya firasat kalau malam ini akan terjadi sesuatu dan aku merasakan kalau telapak tanganku basah dengan keringat dingin. Aku punya firasat yang kuat dan itu selalu terbukti. ditambah lagi Robert ingin berbicara serius denganku besok pagi. Menambah rasa gugup yang ada di dalam hatiku.
“Oh ayolah Belle … kau terlihat seperti wanita yang belum pernah ke club malam,” ujar Luna saat mesin mobil sudah mati. Aku menoleh ke arahnya dan mendapatinya sedang memulas bibir dengan lipstick merah. Aku mengerutkan kening mendengar komentarnya.
“Bukan begitu … hanya saja aku punya firasat buruk.”
“Tentang? Kalau yang kau maksud mengenai Robert jangan kau pikirkan. Mungkin dia hanya ingin membahas rumah sakit denganmu Belle.”
“Entahlah mungkin kau benar,” gumamku, tapi aku tidak bisa mengenyahkan perasaan aneh dari hatiku ini. aku membuka clutch yang ada di pangkuanku dan mengeluarkan bedak compact dari dalamnya. Aku membukanya dan mulai menepuk wajahku dengan bedak tersebut. setelah selesai touch-up aku dan Luna keluar dari mobil dan berjalan memasuki club malam yang sudah penuh.
***
“Berikan aku gelas itu!” teriakku berusaha mengambil gelas Kristal yang dipegang Alex. Dia berusaha menghentikanku meminum bourbon yang aku pesan lima belas menit yang lalu.
“Tidak! kau sudah mabuk Isabelle! Dan aku sebagai temanmu mengerti bagaimana sifatmu saat kau mabuk!”
“Oh ayolah … hanya segelas saja,” ujarku memohon. “Aku belum semabuk itu hanya sedikit tipsy.”
Alex memutar bola matanya. “Itu yang kamu katakan lima menit yang lalu,” gumamnya jengkel.
“Benarkah?” tanyaku bingung. Aku menatap kesekeliling ruangan. Semua teman wanitaku pergi ke lantai dansa untuk berdansa bersama pria asing. Alex, Luke, Gideon, Rome, dan Vincent— yeah Vincent. Mereka memutuskan untuk duduk di tempat mengawasi para wanita yang sedang berdansa. Aku tidak heran kalau Vincent tidak cemburu saat Luna berdansa dengan pria lain. aku hanya mengerutkan kening saat memikirkan pria itu. “Baiklah kalau begitu—“ aku berdiri dan menepuk dress hitam sepaha yang aku kenakan agar kerutannya menghilang. “—aku akan berdansa bersama yang lain,” ujarku riang dan berjalan menuju lantai dansa dengan sepatu heels Louboutin yang tingginya sepuluh senti.
Aku berjalan dengan terhuyung. Saat tiba di lantai dansa, aku mulai menggerakkan tubuhku mengikuti alunan music. Beberapa pria sudah mengelilingiku dan mencoba berdansa denganku. aku terus menggerakkan pinggulku dan sesekali mengeluarkan gerakan sensualku kepada pria yang mengelilingiku. Untung saja aku ikut kelas dance saat duduk di bangku kuliah. Jadi tubuhku sudah lentur dan aku merasa seperti sudah alami saat berdansa.
Seketika sepasang lengan yang kekar mengelilingi pinggangku dan aroma parfum juga maskulin memenuhi rongga hidungku. Aku berani bertaruh parfum yang orang ini kenakan sangatlah mahal karena wanginya membuatku seperti disurga. “She’s mine,” desis orang itu yang aku simpulkan sebagai pria. Karena suara baritonenya begitu s*****l dan membuatku mendesah. Aku bisa mencium aroma mint dan sedikit alcohol dari nafasnya. “Apa yang sedang kau lakukan disini?”
aku tersenyum dan berbalik ke arahnya. Aku kembali menggerakkan tubuhku, tapi pria yang sedang memelukku sama sekali tidak bergerak. Dia hanya menatapku intens. aku tidak tahu dia siapa karena pandangan mataku sudah mengabur. Aku hanya melihat matanya yang berwarna abu-abu yang seiring waktu menggelap. “Bersenang-senang!” teriakku tidak memedulikan sekelilingku.
“Kenapa kau memakai pakaian seperti ini?” Tanya pria itu lagi. dia menegaskan pertanyaannya dengan menyentuh tubuhku dari area pinggang hingga ke area bokongku.
Aku mengerutkan kening. “Kenapa? Ini cocok denganku. Luna yang mengatakannya sendiri,” gumamku bingung.
“Aku tidak suka,” gumam pria itu.
Suaranya yang begitu indah membuat gairahku naik. Atau mungkin pengaruh alcohol yang mempengaruhiku? Karena yang selanjutnya aku tahu adalah pria itu menarikku pergi dan membawaku ke kamar hotelnya.
Setelah itu kami menghabiskan malam di kamarnya.
***
Keesokan paginya, aku mengerang karena mataku merasakan cahaya matahari yang menyilaukan masuk dari celah tirai. Aku membuka mata dan mengerjapnya pelan. aku mengusap wajahku dan tersadar saat ada sepasang tangan yang melingkari tubuhku dan memelukku erat.
Aku terkesiap. Apa yang terjadi semalam?
Aku memutar otakku berusaha mengingat kejadian semalam. Aku ingat pergi ke club bersama Luna, minum segelas strawberry mojito dan bourbon, berdansa, bertemu pria asing, dan Oh My Gosh! Aku ingat sekarang. Aku melirik tubuhku yang hanya tertutupi sehelai selimut.
Aku merasakan rasa ngilu dan tidak nyaman dibagian bawahku dan aku tersadar kalau aku bukanlah seorang perawan lagi. Aku melihat tangan yang melingkar di pinggangku. Perlahan aku mengikutinya hingga sampai pada tubuh seorang pria. Tubuhnya sangat sempurna dengan eight packs dan otot yang ada di lengannya aku berasumsi kalau pria ini rajin berolah raga. Astaga aku menyerahkan keperawananku kepada orang asing.
Aku terus menatap tubuh pria ini lalu beralih ke leher dan berakhir pada wajahnya. Aku terkesiap untuk yang kedua kalinya. Xavier! Xavier Knight! Aku melakukan s*x dengan cinta pertam—maksudnya dengan teman semasa kecilku.
Rasa panik melandaku.
Tanpa berpikir dua kali aku menyingkirkan lengannya dan beranjak dari kasur. Aku meringis ketika melihat bercak darah diatas seprai putih. Tanda kalau ini adalah nyata, kalau aku tidak lagi perawan. Dengan langkah yang aku rasa aneh dan sesekali meringis ketika rasa ngilu terasa. Aku berjalan mencari pakaian dan barang-barangku. Setelah selesai aku meninggalkan kamar hotel.
Berharap untuk melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
***
Aku mengatur napas saat pintu ruang kerja Robert berada di depanku. Aku mengetuknya pelan dan memutar gagang pintu itu. aku mengintip dan melihat ayah angkatku sedang berkutat dengan layar computer dan beberapa berkas dokumen yang bertebaran diatas meja. Dia mendongak dan melihatku. “Masuklah Belle.” Aku menarik napas panjang sebelum berjalan memasuki ruangan.
“Apa yang ingin dad bicarakan denganku?”
“Kapan kamu ke pantai dengan semua temanmu?”
Aku diam sejenak. “Saat musim panas mungkin.”
Robert mengangguk paham. Lalu dia menautkan kedua tangannya diatas meja. Dia menatapku dengan serius. “Kita akan mengadakan acara makan malam. Minggu Depan jadi aku ingin kamu hadir Isabelle. Aku tidak mau ada alasan kali ini.”
Aku mengerang. Astaga minggu depan aku janji nonton bioskop dengan Luna. “Kenapa aku harus hadir? Aku ada acara dengan Luna.”
“Batalkan Belle,” ujar Robert dengan tegas.
“Baiklah.”
“Ini demi kepentinganmu juga.”
“Apa maksudmu dad?”
Aku tidak tahu lagi ekspresi yang tertera di wajahku saat Robert mengatakan kalimat selanjutnya. “Karena malam itu adalah acara perjodohanmu.”
WHAT THE HELL?!!