One weeks later
Isabelle Thompson POV
Sudah seminggu aku seperti ini. dipagi hari aku terbangun dengan rasa mual. Lalu memuntahkan semua makan malamku ke toilet. Aku juga kurang nafsu makan dan selalu mual jika mencium aroma kopi. Aku selalu menginginkan hal-hal aneh seperti makanan. Kemarin aku ingin makan bayam dengan mentah. Entah kenapa aku juga tidak tahu, sampai pengurus rumah Mrs. Joe bertanya padaku. Dia bingung dengan sikapku yang aneh. Aku hanya menjawab tidak tahu tanpa menghentikan aktivitasku.
Kepalaku sering terasa pusing dan aku selalu saja mengantuk. Apa aku sakit? disaat aku sedang sibuk, rasa mual kembali muncul dan aku harus pamit permisi kepada pasienku untuk berlari ke kamar mandi. “Belle?” panggil Luna dari ambang pintu ruang kerjaku.
Aku memijat kepalaku dan menatapnya. “Ada apa Luna?” Tanyaku dengan suara serak.
“Kau tidak apa-apa?”
“Entahlah sudah seminggu aku seperti ini. aku rasa aku harus ke dokter.” Luna terkikik geli mendengar penuturanku. Aku hanya menatapnya bingung.
“Apa kau lupa? kau itu seorang dokter,” jawab Luna ketika tawanya sudah berhenti. Aku mengerutkan kening dan langsung tersadar apa yang dia maksud.
“Kau benar. Tapi aku tidak mungkin memeriksa diriku sendiri,” jawabku asal.
Luna mengangguk. “Tentu saja aku tahu itu. sini biar aku coba periksa dirimu.”
Aku menghela napas dan berdiri. Luna menutup pintu dan menguncinya. Aku melepaskan jas labku dan berjalan menuju tempat para pasien saat diperiksa. Aku berbaring dan Luna mengeluarkan stethoscope dari dalam kantung jas labnya. Dia mulai memeriksaku. Dahinya berkerut menandakan kalau dia sedang berpikir keras. Setelah selesai memeriksaku, dia menyuruhku untuk ke ruangan Dr. Marshal. “Kenapa memangnya?” Tanyaku. “Aku pikir aku hanya flu biasa. Tidak perlu sampai ke Dr. Marshal. Lagipula dia dokter kandungan.”
“Untuk memastikan saja.”
Aku menatapnya bingung, tapi tidak berkomentar apapun. Aku mengikuti Luna yang berjalan di depanku. “Apa yang kau lakukan ketika menghilang dari club?” tanyanya tiba-tiba.
“Uhh—“ aku tidak mampu menjawabnya. Aku sama sekali belum menceritakan apapun mengenai kejadian itu pada Luna. Karena aku sendiri berusaha melupakannya.
“Aku ingin penjelasannya setelah kita bertemu dengan Dr. Marshal, kau mengerti?”
Aku rasa saat ini Luna sedang bertindak sebagai kakakku bukan sahabatku. Aku hanya bisa menghela napas pelan dan mengangguk. Aku harus menceritakannya.
***
Setelah menjalani beberapa test, Dr. Marshal kembali duduk di depanku sambil membuka hasil test yang aku jalani. Beberapa saat hanya ada keheningan sesekali bunyi kertas memenuhi ruangan dan juga suara degup jantungku. “Congratulations.”
Aku mengerutkan kening.“Ada apa memangnya?” Tanyaku bingung.
“Kau positif hamil Isabelle. Umurnya baru seminggu, tapi aku bisa memastikan kau hamil. Kita bisa mengeceknya kembali di beberapa minggu kedepan.” Aku tertegun. Tanganku seketika beralih ke arah perutku. Mengelus perutku yang masih terasa datar. Aku hamil? Di perutku terdapat janin? Tapi bagaimana? Oh astaga! Apa jangan-jangan malam itu saat kami melakukan s*x, kami tidak menggunakan pengaman sama sekali? Ya ampun. Aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan. Dr. Marshal menatapku aneh. “Jadi aku hamil? bukan flu?”
“Tentu saja. Kenapa kau berasumsi seperti itu Isabelle?”
Aku mengerang frustasi. “Apa yang harus kukatakan pada dad?”
“Mr. Thompson? Beliau akan senang mendengarnya.” Lalu dia menyodorkan sebotol vitamin dan beberapa obat lainnya. “Ini vitamin prenatal. Diminum tiga kali sehari. Lalu ini obat pereda mual dan Ini obat penghilang sakit kepala. Oh iya jangan sampai stress berlebihan Isabelle. Di trisemester pertama adalah waktu yang paling rawan bagi seorang calon ibu mengalami keguguran. Kalau kau menemukan hal mencurigakan di masa kehamilanmu, jangan sungkan untuk bertemu denganku.“
Aku mengangguk dan meraih semua obat yang ada di atas meja. Aku mengucapkan terima kasih dan berdiri. aku berjalan meninggalkan ruangan. Lalu langkahku terhenti. “Dr. Marshal?” aku menoleh ke arahnya.
“Ya ada apa lagi?”
“Tolong jangan beritahukan ini pada ayahku. Aku ingin memberikan berita ini padanya sendiri. Jadi tolong rahasiakan keadaanku.“ Dr. Marshal awalnya terlihat ragu, namun pada akhirnya dia menganggukkan kepala sambil memberikan senyum ramah, kemudian aku menggumamkan terima kasih sekali lagi sebelum aku berjalan keluar dengan perasaan sedikit lega.
Tepat ketika aku keluar dari ruangan Dr. Marshal, mataku menatap Luna yang sedang bersedekap sambil menyender di dinding. Dia menatapku lekat dan aku hanya bisa menelan ludahku. Aku tahu dia tahu dan dia ingin aku menceritakan semuanya padanya. Aku menghampirinya. “Jadi apa yang ingin kau tahu?”
“Semuanya.”
Aku mengangguk paham. “Baiklah.” Aku berbalik dan berjalan menuju ruanganku sendiri. Selama berjalan hanya satu pertanyaan yang melintas di benakku.
Apa yang harus aku lakukan?
***
Selama sisa hari itu, aku hanya mengurung diri di ruang kerja. Luna sudah tahu semuanya dan di sela kesibukannya dia mendatangiku dan mengecek keadaanku. aku menyuruh suster yang menjadi asistenku untuk menghapus semua jadwalku. Aku mengacak rambut dengan frustasi. apa yang harus kulakukan untuk menghadapi masalah ini?
Aku tidak mungkin melenyapkan janinku sendiri. Dia adalah darah dagingku dan aku ibunya. Aku tidak setega itu. saat aku tahu kehadirannya aku langsung menyayanginya, tapi yang jadi permasalahan bagaimana aku memberitahu hal ini kepada … Xavier? Apa aku harus ke kantornya yang ada di New York? Tidak mungkin bukan? Aku tidak tahu kantor cabang perusahaan KHE di Los Angeles. Hidupku kacau. Belum lagi lusa adalah acara perjodohanku dan bagaimana aku mengatakannya pada mereka semua? Diana dan Robert akan kecewa padaku. astgaa Isabelle kenapa kamu bisa masuk kedalam kekacauan seperti ini?
Aku memutuskan untuk diam.
***
Saat makan malam, aku hanya bisa diam dan memainkan makanan yang ada di depan mataku. Diana dan Robert saling bertatapan bingung dengan tingkah lakuku yang aneh. “Ada apa denganmu sayang?” Tanya Diana lembut sambil mengelus tanganku.
“Tidak ada mom.”
“Benar tidak ada? Apa kamu memikirkan soal perjodohanmu?”
Itu salah satunya, jawabku dalam hati. Tentu aku tidak mengatakannya dan memutuskan untuk tersenyum dan menggeleng. “Tidak mom.”
Diana hanya diam. Dia tidak berusaha untuk membuka mulutku. Dia tahu kalau aku belum siap untuk menceritakan masalahku dan dia tidak memaksaku untuk bercerita. “Oh iya, bicara soal perjodohan. Acara itu akan diundur sampai bulan depan.”
“Kenapa memangnya?” tanyaku bingung.
Robert mengedikkan bahunya. “Entahlah. Mereka menghubungiku tadi siang dan memundurkan jadwalnya. Lagipula aku rasa ini terlalu cepat untukmu jadi aku menyetujuinya tanpa bertanya lebih jauh.” Aku merasakan keringat mengucur di tengkukku. Bagaimana keadaan perutku saat itu? apakah sudah membesar? Aku menghitungnya dan aku yakin perutku belum terlihat besar, tapi kalau saat membesar nanti bagaimana?
Aku hanya bisa menelan ludah dan menyuapkan makan malamku dengan enggan. Diana dan Robert sedang asyik berbincang mengenai masa lalu mereka dan sama sekali tidak menyadari ketidaknyamananku.
***
Ketika aku berbaring diatas tempat tidur malam itu, pikiran-pikiran kembali muncul di kepalaku. dengan reflex aku mengelus perutku yang masih datar. Aku tersenyum dan meneteskan air mata. “Apapun yang terjadi kamu adalah prioritasku. Tidak perlu khawatir. Kamu adalah anakku dan aku akan melakukan segala cara untuk menjagamu.”
Aku terisak.
Aku harus mencoba lebih dewasa dan mencari jalan keluar. Satu-satunya jalan keluar yaitu memberitahukan kehamilanku ini pada Xavier Knight. Aku beranjak dari atas tempat tidur dan meraih Iphone yang ada diatas nakas kecil samping tempat tidur. Aku memesan tiket pesawat ke New York dan mencari alamat kantor pusat KHE. Setelah semua selesai, aku mulai bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.