Isabelle Thompson POV
Aku sedang mempelajari dokumen tentang diagnosa salah satu dari pasienku. Menjadi seorang dokter bedah sangatlah menguras tenaga dan sebagai bagian Humas, beban yang ada dipundakku sangatlah berat. Apalagi suatu saat aku akan menggantikan posisi Robert di rumah sakit ini. Ketika suara ketukan terdengar. “Masuk.”
Lalu pintu terbuka dan Luna berjalan masuk. dia memegang sebuah majalah di tangannya. Aku menaikkan sebelah alis matanya dan bertanya. “ada apa Luna?”
Luna duduk di depanku dan mulai membuka majalah gossipnya. Kemudian dia mulai mencari berita yang bagus. Selama beberapa saat dia tidak mengatakan apapun padaku dan hal itu membuatku sedikit merasa khawatir. “Aku putus dengan Vincent.” Tiba-tiba dia berkata seperti itu padaku.
Aku menatapnya terkejut.
“Dia selingkuh Belle … dengan wanita yang tinggal di sebelah apartementnya.”
“Lalu kenapa kau tidak menangis?”
Luna mengedikkan bahunya acuh. “Entahlah. Aku rasa aku memang tidak mencintainya dan menganggap hubungan ini main-main.”
Aku hanya bergumam tidak jelas. Aku bersyukur kalau Luna tidak merasa sakit hati. Aku hanya takut kalau dia merasa tersakiti dengan pria bernama Vincent itu. “Jadi apa rencanamu?”
“Aku akan terbang ke New York. Aku dikirim ayahmu untuk melakukan tugas.”
Aku berteriak. “APA?!” aku berdiri dan berjalan memutari meja lalu berdiri disamping Luna yang masih sibuk membaca majalah. “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”
“Aku baru diberitahu sejam yang lalu.”
Aku duduk di bangku kosong samping Luna dengan lemas. “Tapi bagaimana denganku?” lirihku. “Aku tidak bisa menghadapi kehamilan ini seorang sendiri dan belum lagi perjodohan itu. Berapa lama kau akan pergi?”
“Untuk waktu yang lama kurasa, tenang saja aku akan menjadi supportmu saat itu terjadi Isabelle. Tidak perlu khawatir.” Aku memeluk Luna dan mulai menumpahkan air mataku di bahunya. Aku tidak mengatakan padanya kalau aku akan terbang ke New York lusa.
***
Three days later
Manhattan, New York
Aku kembali mengecek alamat gedung apartement mewah yang ada di depan mataku. Sama dengan apa yang tertera di kertas yang diberikan sekretaris Xavier padaku. Knightwise residence. Salah satu gedung apartement termewah yang ada di New York. Satu apartemennya dijual mencapai puluhan juta dollar dan hanya orang kaya yang mampu membeli apartemen di gedung ini. aku bisa melihat semua orang yang keluar masuk gedung menggunakan pakaian formal ataupun mewah. aku menatap pakaian yang aku kenakan. Hari ini aku hanya menggunakan dress warna biru dongker selutut yang dipadu padankan dengan sepatu flat hitam. Barang mahal yang saat ini kugnakan hanyalah tas selempang Dior hitam pemberian Robert. Bahkan rambutku Cuma diikat ponytail. Jika tahu bahwa gedung ini memiliki standar pakaian, maka sudah bisa dipastikan aku jauh dari standar yang pihak gedung gunakan.
Aku tahu keamanan gedung ini sangat ketat, sehingga tidak munkin aku masuk melalui pintu lain atau menerobos lift begitu saja, jadi dengan langkah pasti aku berjalan memasuki pintu berputar. Memasuki lobby gedung, aku langsung disambut suasana elegan gedung apartemen ini. Astaga aku tidak tahu apa aku sanggup atau tidak untuk tinggal di tempat meah seperti ini.
Aku melirik jam tangan yang melingkar di lengan kiriku. Pukul delapan pagi. Aku menghela napas dan berjalan menuju resepsionis yang ada disana. Setelah melakukan administrasi dan sebagainya, akhirnya salah satu petugas mengantarku ke tempat dimana Xavier tinggal yang tidak aku sangka berada di lantai teratas dan merupakan sebuah penthouse.
Aku menghentakkan kakiku tanpa henti. Tanganku memelintir dress yang aku kenakan dan berdoa semoga tidak terjadi masalah apapun saat aku bertemu dengannya. Saat sudah tiba, si petugas mempersilahkan aku keluar lalu aku mendapati sebuah lorong menuju salah satu pintu besar yang terletak di ujung.
Aku baru mengulurkan tangan untuk memencet bel ketika pintu mahogani besar itu terbuka dan menampilkan muka seorang wanita yang aku kenal. Pakaiannya berantakan dan aku tahu apa yang baru saja terjadi, karena aku belum lama berada di tempatnya.
“Luna?” lirihku.
Mataku mulai berkaca-kaca saat seorang pria muncul dibelakangnya dengan wajah merah. Aku tahu dia marah. Entah karena apa aku tidak mau tahu. Luna menatapku bersalah dan dia berusaha mencoba untuk meraihku. Aku melangkah mundur dan dengan sekejap tanganku menyentuh perut seolah dengan begitu aku dapat melindungi janin yang ada di kandunganku. “Isabelle hear me out.” Suara Luna membuatku berhenti melangkah mundur.
Xavier hanya menatapku intens. Aku bisa melihat sekelebat emosi disana, namun hanya sekejap dan setelah itu hanya tatapan datar. Aku tahu gerakanku saat ini disadarinya dan juga Luna. Aku menggeleng. “Aku tidak tahu harus berkata apa,” gumamku pelan. Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini. semuanya bercampur menjadi satu. Kecewa karena dikhianati? Aku rasa ini yang kurasakan, tapi apa alasannya? Aku bukan kekasih avier. Buat apa aku merasakan hal seperti ini?
Dan entah kenapa kami semua berkumpul di waktu yang seperti ini, dengan keadaan yang masing-masing berbeda. Aku tidak tahu apa yang takdir mainkan kepada kami bertiga. Aku menatap mereka berdua datar dan mengangkat kepalaku tinggi-tinggi. Aku tidak peduli lagi kalau Xavier tahu atau tidak mengenai kehamilan ini. aku akan merawat anak ini sendiri dan aku tidak membutuhkannya di hidupku.
Aku akan pergi darinya dan menganggap bahwa semua ini adalah mimpi buruk.