Xavier James Knight POV
“No Isabelle! No!” teriak Luna berusaha mengejarnya. Aku hanya menatap tubuh Isabelle yang memasuki lift. Dia menatap kami berdua sesaat sebelum pintu lift tertutup. “No… don’t go!” lirih Luna dan akhirnya jatuh terduduk. Dia menangis dengan keras. Aku hanya berdiri tidak bergeming di tempatku. Aku tidak menyangka kalau akan begini jadinya. Aku dan Luna sama-sama sedang dalam keadaan mabuk dan aku tidak bisa menolak ajakannya semalam, hingga pada akhirnya aku membawa Luna ke Penthouseku.
Ya, aku b******a dengannya dan entah kenapa aku tidak merasakan apapun ketika melakukan hal itu, tidak seperti yang aku rasakan bersama dengan Isabelle. Hanya perasaan bersalah yang masih terasa dihatiku. Saat kami berdua tersadar di pagi harinya, Luna memakiku dan menghujatku dengan kata-kata kasarnya. Mungkin ini memang salahku, jika seandainya saja aku bisa menghindarinya, tapi Luna juga bersalah dalam hal ini, karena dia yang terlebih dahulu mendekati serta menggodaku. Apalagi aku akan segera bertunangan dengan Isabelle,
Dan ya, inilah tawaranku.
Aku menawarkan kepada Mr. Thompson untuk menikahkan Isabelle padaku jika ingin mendapat support Knight penuh, bukan hanya berdasarkan kontrak. Lagipula dengan tawaranku ini, dua keluarga besar dapat bersatu dalam sebuah ikatan keluarga. Tentu saja dia menyetujuinya saat itu juga dan aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Sayangnya acara perjodohan ini ditunda karena keluargaku sedang berada di Italia dan baru akan kembali bulan depan. Aku juga sudah mengatakan rencana ini kepada keluargaku dan mereka sangat menyetujuinya apalagi ibuku yang ingin sekali melihatku menikah. Aku tersadar ketika sebuah pukulan mendarat di pipiku. Aku tersentak kesamping dan mengerang sakit. aku merasakan rasa metalic di mulutku dan aku tahu kalau aku berdarah. Aku menatap Luna marah. Mungkin dia adalah teman masa kecilku dulu sama seperti Isabelle, tapi aku tidak bisa menoleransi sikapnya. Sekarang aku menganggap dia hanya sebagai salah satu dari sekian banyak wanita yang aku tiduri. Bukan lagi orang yang penting dihidupku. Kecuali Isabelle tentunya.
Semuanya sudah berubah. aku bagaikan orang asing oleh mereka dan itu yang membuatku merasa kesal.
“IT’S BECAUSE OF YOU MY BEST FRIEND NEVER WANT TO SEE MY FACE AGAIN!” Luna berteriak di depan wajahku. Wajahnya merah karena emosi yang sangat besar. Lalu dia melayangkan tinjunya lagi ke arahku. Kali ini aku bertindak cepat dengan menghalangi tangannya dengan tanganku lalu aku menarik tubuhnya kedalam dekapanku. “Apa maksudmu Luna? Bukankah kau sendiri yang menawarkan tubuhmu itu padaku? aku hanya pria normal dan menerimanya sukarela. Jadi jangan salahkan aku. Aku tidak bisa menerima sikapmu ini. aku tidak peduli kita punya masa lalu bersama. Kau hanya salah satu wanita bagiku.”
Luna tertegun. Kilatan sedih dan kecewa terpancar di matanya. Seketika rasa bersalah kembali menghantamku. Aku menyesal mengatakan apa yang aku katakan pada Luna. Dia berusaha melepaskan rangkulanku, tapi aku tidak melepaskannya malah mempererat rangkulanku. Luna menunduk. “Kau berubah, aku sudah tidak mengenalmu lagi Xavier,” gumam Luna lalu dia diam sejenak. dia mengangkat kepalanya dan menatap mataku dengan kebencian yang kentara sekali “begitu juga denganku Mr. Knight. Aku hanya menganggapmu sebagai pria asing yang menjadi pasangan one night standku semalam. Karena kau sahabatku pergi dengan rasa sakit hati sedangkan dia sedang mengandung!” kali ini Luna berkata dengan nada yang semakin keras dan berteriak di akhir kalimatnya.
Aku membeku. Apa yang baru saja dia katakan?
Luna memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan tubuhnya dari rangkulanku. Dia menyeka air mata dan berteriak. “Ya! Dia mengandung Mr. Knight! Dia mengandung anakmu! Dan karena ulahmu kau tidak akan bertemu dengan anakmu begitupun dengan ibunya lagi! Aku akan jamin itu!” setelah berkata seperti itu Luna membalikkan badannya dan pergi meninggalkanku yang masih membeku ditempat.
Isabelle hamil.
***
Aku menghubungi Mr. Thompson dan bertanya dimana Isabelle berada. Dia justru balik bertanya padaku. “Bukankah dia datang menemuimu?” aku mengerang frustasi.
“Apakah kau memberitahu Isabelle kalau aku yang akan menikahinya?”
“Ya sebelum berangkat ke New York aku memberitahunya. Aku sedikit terkejut saat dia mengatakan kalau dia ingin bertemu denganmu lalu aku mengatakannya.”
Aku mengacak rambut dengan gusar.
Aku sudah kehilangan Isabelle sebelum aku membuatnya menjadi milikku. Aku hanya diam dan memutus sambungan tanpa berkata apapun. Lucas masuk keruanganku. “Apa kau sudah mendapatkan lokasi dimana Isabelle berada?”
Lucas menggeleng pelan. “Tidak sir. Di bandara juga tidak ada daftar nama Ms. Thompson sebagai penumpang menuju California yang menandakan dia masih di New York.”
“Temukan dia! Aku tidak mau ada berita negatif mengenai keberadaannya Lucas atau kau mendapatkan konsekuensi dariku.”
Lucas mengangguk dan melangkah pergi. Aku menghempaskan tubuh di atas kursi kerjaku dan memutarnya. Pandangan kota New York terlihat sangat jelas. Mobil terlihat sangat kecil dan orang-orang terlihat seperti semut. Aku mengusap rambutku frustasi. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan
Dimana kau Isabelle?
***
Satu jam kemudian, aku mendapat telepon dari Mr. Thompson kalau pertunangan dibatalkan dan itu atas permintaan Isabelle sendiri. Aku berusaha memohon padanya, tapi pria paruh baya itu tidak mau mendengarku. Aku rasa Isabelle sudah menceritakan semuanya pada ayah angkatnya. Aku hanya bisa menatap nanar dokumen yang ada di depanku. Khawatir dengan keadaan Isabelle juga janin yang ada di perutnya. Pantas saja saat dia melihatku bersama Luna dia langsung memegang perutnya seolah berusaha untuk melindungi apa yang ada di dalamnya. Kenapa disaat aku membutuhkan keahlianku dalam membaca seseorang aku malah terlihat seperti orang bodoh?
Suara ketukan kembali terdengar dan Lucas bersama beberapa anak buahnya masuk. “Bagaimana?” tanyaku dingin.
Mereka semua menggeleng. Memberikan jawaban negative padaku. amarahku sudah mencapai puncak dan saat itu juga aku menggebrak meja. “Kalian semua tidak becus!!” teriakku. “Kalian hanya mencari seorang wanita dan tidak menemukannya sampai sekarang?”
Lalu mereka semua menunduk, hanya Lucas yang masih menatapku. Dia tahu sifatku dan dia sudah terbiasa. Aku salut padanya. Dia adalah salah satu sahabatku, bahkan aku menganggapnya sebagai adik, tapi disaat situasi seperti ini aku tidak akan memberikan perlakuan berbeda pada Lucas.
Aku menyentakkan dasi yang mengelilingi leherku dan melepaskannya. Aku melemparkannya asal dan melepaskan jas yang aku kenakan. Aku sudah sangat kesal dan aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan. Aku ingin sekali menangis. “Cari dia lagi,” perintahku datar. Mereka semua mengangguk dan berjalan keluar. Lucas tetap berada di dalam ruangan. Dia adalah seorang mantan agen CIA dan bekerja padaku sudah tiga tahun. Dia sangat loyal padaku. dia mempunyai skills yang hebat dan aku bangga akan hal itu, tapi tidak sekarang.
“Aku berjanji kita akan menemukannya Xavier,” gumam Lucas berusaha menenangkan monster yang ada di dalam tubuhku. Amarahku sendiri. Aku tidak berbalik kearahnya dan hanya menatap langit New York dalam diam. Tanganku aku masukkan ke dalam saku celana menyembunyikan kepalan tangan yang menunjukkan emosiku saat ini. Dia tidak tahu apa yang kurasakan. Sama sekali tidak tahu. “Kita akan segera menemukannya dan membawanya padamu Xavier. Jadi bersabarlah.”
Aku hanya mengangguk dan memilih untuk memejamkan mata, menganggap semua ini hanyalah mimpi. Mimpi yang buruk.