Alex memandang gadis yang bahkan tidak bisa duduk dengan benar di atas lantai dengan lutut berdarah yang merembes kain perban. Perasaan bersalah untuk pertama kalinya muncul di benaknya. Dia pada awalnya hanya ingin tiduran dengan santai sebelum kembali ke kelas. Siapa yang akan tahu bahwa dua gadis yang bahkan dia tidak tahu siapa namanya itu terus mengikutinya.
Dia biasa menjadi pusat perhatian, namun dua gadis yang mengejarnya ini terlalu agresif di titik menjadi memuakkan. Puncaknya saat dia ingin menuruni tangga menghindari mereka, salah satu gadis bermain trik dengan pura-pura tersandung dan ingin menjatuhkan diri pada dirinya. Alex reflek menghindarinya, namun naasnya kakinya tergelincir hingga dia harus jatuh. Dan hasilnya…Alex tidak akan mengatakan apapun.
Bel sekolah telah berdering. Suara rekaman robotik tentang jam istirahat terdengar. Ruangan sepi kini mulai sayup-sayup di penuhi oleh suara para siswa yang kemungkinan telah keluar dari kelas.
Dee merasakan tangannya semakin sakit dan kakinya mati rasa. Melihat bahwa Aram hanya bertanya tanpa segera menggendongnya, Dee merasakan amarahnya memuncak kembali.
“Apa kamu akan terus bertanya tanpa bertindak? Demi Tuhan! Aku kesakitan!” teriakan Dee menyadarkan kedua remaja lelaki itu.
“Kita ke rumah sakit,” kata Aram. Pemuda itu berjongkok hendak menggendong kakaknya namun langkahnya telah di dahului oleh sepasang tangan lain yang telah meraih tubuh Dee.
“Aku akan bertanggung jawab,” kata Alex dengan tubuh Dee di gendongannya. Bertepatan dengan itu, banyak murid yang baru saja keluar dari kelas melihat adegan yang membuat mereka mematung dan pada akhirnya menjadi sebuah kerumunan.
“Apa? Alex, kamu tidak perlu melakukannya. Aku akan memanggil pengawalku untuk mengantarnya ke rumah sakit,” kata salah satu gadis yang memiliki rambut hitam sebahu dengan pita merah muda di sisi kiri rambutnya. Gadis itu cantik, bersama dengan gadis lain di sisi kirinya mereka memandang Dee dengan pandangan tidak suka bahkan jijik. Wajah Aram langsung menghitam saat melihat mereka menatap kakaknya seperti itu.
“Tidak perlu. Keluarga kami sudah menunggu, aku akan mengantarnya.” Nada Aram jelas terdengar marah. Aram berdiri untuk mengambil alih Dee dari Alex namun Alex menghindarinya,
“Aku katakan bahwa aku akan bertanggung jawab.”
“Senior, saya bisa mengantarnya sendiri.”
Alex tidak menjawab namun kakinya langsung melangkah lebar menuruni tangga terakhir menuju parkiran. Aram terpaku sejenak sebelum akhirnya sadar dan mengikuti sosok Alex yang membawa kakaknya.
Saat itu Dee tidak terlalu peduli siapapun yang mengantarnya. Rasa sakit yang dia derita memenuhi akal sehatnya. Dalam hati dia juga sedikit merasakan takut dengan ingatan kecelakaan yang dia alami di kehidupannya yang asli.
Namun berbeda dengan semua murid yang ada di IBS. Saat Alex membawa Dee keluar dari sekolah dengan menggendongnya, itu bertepatan dengan semua murid yang telah keluar untuk istirahat. Bahkan jika mereka malas untuk keluar kelas, mereka akan tetap tertarik dengan sebuah foto yang di kirim salah satu murid di forum sekolah.
Saat semua siswa di forum melihat foto yang beredar tentang bagaimana seorang Alex menggendong seorang gadis yang juga memakai seragam siswi dari sekolah mereka. Pertanyaan tentang siapa gadis beruntung itu yang telah berhasil membuat pangeran es nomor satu di sekolah menggendongnya mulai memenuhi komentar foto di forum.
Pada akhirnya salah satu siswa baru ada yang mengatakan bahwa itu kemungkinan adalah murid kelas sepuluh A-2 sang ratu drama. Siang itu forum sekolah mendadak terdapat diskusi panas.
Aram, Dee dan Alex jelas tidak tahu hal itu dan sepertinya juga tidak peduli. Aram kira Alex hanya akan menggendong kakaknya sampai di parkiran mobil. Supir mereka telah menunggu keduanya, jadi setelah Alex meletakkan Dee di kursi penumpang, Aram dengan senyum ramah berkata, “ Terimakasih Senior, saya akan…”
Pintu mobil tiba-tiba terbuka dan tertutup. Alex masuk di dalamnya duduk di kursi penumpang tepat di sebelah Dee duduk.
“Hah?” Aram mengerjapkan matanya bingung.
Dari jendela kaca yang setengah terbuka, Alex membuka suaranya, “Aku juga perlu ke rumah sakit.”
Aram masih bingung. Ya terus? Kalau mau ke rumah sakit pergilah! Bukankah dia juga punya mobil pribadi?
“Aram, kalau kamu tidak segera masuk aku akan meninggalkanmu!” Dee berteriak dari dalam mobil yang menyadarkan Aram. Pada akhirnya pemuda itu tidak punya pilihan lain selain membuka pintu samping supir dan masuk.
***
“Tidak ada patah tulang. Hanya luka luar yang memang perlu di rawat. Usahakan tidak terkena air dulu, dan untuk salepnya sesuai dengan permintaan ini adalah resep salep agar tidak meninggalkan bekas luka.”
Aram mendengarkan apa yang di katakan dokter padanya di ruangan VIP tempat Dee berbaring saat ini. Luka Dee telah di balut kembali, sebenarnya dia juga bisa pulang setelah melakukan semua pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan bahwa tidak ada tulang yang patah akibat jatuh dari tangga. Sedangkan Alex, Aram tidak tahu kemana dirinya pergi setelah mengantarkan Dee ke IGD. Aram jelas mengikuti sosok kakaknya, tidak terlalu memperhatikan kemana Alex setelah mengantar mereka.
“Untung saja tidak ada patah tulang,” Aram berkata saat dia melihat dokter kembali setelah menjelaskan keadaan Dee.
Dee berkacak pinggang di duduknya, “Kamu bilang untung? Aku sangat ingin mengganti adik ketika melihat ‘adikku’ justru sangat peduli pada orang lain tanpa melihat kakaknya yang tengah terkapar di lantai yang dingin!”
Aram meringis, “hehe…maaf, Kak. Tapi Alex adalah senior yang aku kagumi. Dia itu pemain basket yang menjadi legenda. Dia juga…” Aram terus mengoceh tentang bagaimana dia mendewakan seorang Alex.
Tanpa Aram sadari, ketika dia memuji dengan menggebu-gebu sosok Al yang baru muncul terlihat memiliki wajah bangga di balik kacamata hitamnya itu.
Dee mendengus, “Terus saja puji,” gumamnya malas.
“Kak, aku akan menebus obat ini sebelum kita pulang. Kamu tunggu di sini saja.” Aram melihat catatan resep, dia baru ingat bahwa dia seharusnya segera menebusnya di apotik rumah sakit.
“Mmm. Oh, jangan katakan apapun sama Mama,” Dee mengingatkan.
“Bukankah terlambat? Aku kan sudah telepon supir, itu kan supir pribadi Papa, tentu saja mereka tahu.”
Mendengar jawaban polos Aram, mulut Dee ingin membuka namun kembali menutup. Sudahlah, paling banyak ibunya hanya akan mengomel.
Dee mengalihkan pandangannya pada Al yang tiba-tiba saja muncul di sampingnya dengan penampilan yang masih sama.
“Kemana saja kamu?”
“Ada beberapa urusan yang harus aku tangani,” jawab Al dengan wajah datar ciri khasnya.
Dee tidak bertanya lagi, dia lelah sekali hari ini. Jadi tanpa menghiraukan Al, Dee merebahkan badannya. Sambil berpikir mungkin dia akan menggunakan kursi roda untuk pulang nanti, Dee mulai menutup matanya. Mungkin karena dia lelah atau mungkin karena efek obat bius di kakinya, Dee sangat mudah jatuh dalam mimpi.
Saat Dee tengah terlelap, sesosok pemuda membuka pintu ruangan VIP yang di tempati Dee. Alex meletakkan sekantung buah apel dia letakkan di atas meja. Pemuda itu mengamati Dee sebentar, berhenti lama pada kaki yang terbalut perban sebelum menarik pandangannya.
Alex tidak mengucapkan apapun atau melakukan apapun, dia hanya diam memandangi Dee yang tertidur lelap. Dia menghirup nafas dalam-dalam seolah dia benar-benar ingin memenuhi paru-parunya dengan oksigen sebanyak-banyaknya. Alex tidak tahu kenapa, bahwa dia baru menyadari saat dia jatuh memeluk Dee siang tadi, hidungnya mencium aroma menyegarkan dari parfum gadis itu. Aroma itu sangat menenangkan, dan membuat pikirannya jernih. Karena itu untuk kali pertamanya Alex sama sekali tidak jijik untuk menyentuh gadis itu.
Alex seolah ingin menanyakan sesuatu, namun melihat bagaimana gadis itu tertidur, Alex mengurungkan niatnya sebelum akhirnya pergi. Lagipula mereka tidak dekat satu sama lain untuk menanyakan merek parfum yang di pakai oleh gadis itu.
Di sisi lain, Al terlihat mengikuti gerakan Alex, sama sekali tidak terlihat bahwa dia adalah seorang tunanetra.