Dee sudah terbangun dari tidur ayamnya sejak Aram membuka pintu kamar rumah sakit seperti ingin mengajak orang berkelahi—sangat brutal.
“Bisa tidak? Lebih pelan saat membuka pintu?” Dengan wajah cemberut dia berkomentar.
“Tidak.” Singkat, jelas, dan menjengkelkan. Itulah yang pikirkan Dee pada saat mendengar jawaban datar adiknya dengan wajah sok polos. Sepertinya Dee harus mengisi stok kesabarannya untuk menghadapi adiknya di masa mudanya ini.
“Ayo pulang, obat sudah aku tebus. Tidak ada masalah sama kaki dengan hasil ronsen ini,” kata Aram saat dirinya mendorong kursi roda di bawah tempat tidur.
“Salep penghilang bekas luka jangan lupa,” kata Dee mengingatkan.
“Udah.”
“Perban buat ganti,” kata Dee lagi.
“Kak, di rumah semua sudah ada. Berhenti cerewet.” Saat remaja itu berbicara, tubuhnya yang tinggi menelusupkan tangan kanannya di bawah lutut Dee dan tangan kiri di punggung gadis itu, dengan mudah menggendong kakaknya untuk duduk di kursi roda.
Dee sedikit terkejut lalu tersenyum kemudian, “ Terimakasih adekku yang tampan.”
“Apa sih? Bikin merinding saja,” Aram bertindak mengusap kedua lengannya dan memandang Dee dengan jijik. Namun saat pemuda itu mendorong kursi roda kakaknya keluar dari ruangan, tidak dapat di pungkiri pemuda itu tersenyum.
“Normalnya setelah di puji orang akan mengatakan terimakasih,” gerutu Dee.
“Memang keluarga Efendy ada yang normal?” Aram balik bertanya.
Dee merenung sejenak sebelum menjawab, “Tidak ada sih.”
“Nah kan?”
Keduanya berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang tampak agak ramai. Lantai ruangan Dee berada di lantai tiga rumah sakit. Jadi mereka membutuhkan lift untuk turun ke bawah. Karena Dee menggunakan kursi roda, maka Aram mengambil lift khusus yang di peruntukkan untuk pasien dengan kursi roda.
“Eh, biaya rumah sakit sudah di bayar?” tanya Dee saat Aram menekan tombol lantai tiga saat hendak memasuki lift.
“Oh, tadi sudah di bayarkan oleh Kak Alex. Bahkan tadi saat aku menebus obat, aku tidak perlu membayar lagi. Semua sudah di bayarkan. Keren juga ya dia?”
Lift terbuka. Kebetulan tidak ada orang lain yang berada di lift tersebut.
Aram mendorong Dee untuk masuk ke dalam lift dan menekan tombol tutup.
“Loh? Kenapa dia yang bayar?” Dee langsung menoleh ke adiknya—heran.
“Dia kan tidak salah apa-apa. Itu hanya kecelakaan yang kebetulan saja dia menimpaku.” lanjut Dee. Meskipun sempat kesal karena masalah siang tadi dimana dia seperti di terlantarkan, tapi Alex telah menggendongnya dan bahkan merujuknya ke rumah sakit.
Dee ingat saat memasuki IGD tadi, Alex seolah sangat hapal seluk beluk rumah sakit ini bahkan tahu siapa dokter yang menjaga hari ini. Otak Dee langsung berputar cepat. Tidak akan pernah ada orang yang hapal dokter jaga kecuali dia adalah pekerja atau mungkin anak pemilik rumah sakit.
“Aram, jangan-jangan Alex itu pemilik rumah sakit ini ya?”
“Mana aku tahu? Kalau di lihat dari nama lengkapnya, seharusnya tidak. Rumah sakit Hyder ini sepertinya dimiliki oleh keluarga Hyder. Lagipula setahuku Senior itu yatim piatu.”
“Hah? Yatim piatu?” Dee tidak pernah mendengar hal ini dari Al.
Lift kembali terbuka. Aram mendorong Dee keluar dan kembali berjalan menyusuri lorong lantai satu rumah sakit.
“Kak, aku ke toilet dulu ya. Kamu tunggu di sini jangan kemana-mana. Aku sebentar doang.”
“Eh, Tapi…” Dee kembali menutup mulutnya ketika melihat Aram telah jauh lari ke depan menuju toilet. Dee juga sempat melihat adiknya itu seperti bertanya letak toilet pada salah satu petugas medis sebelum punggungnya menghilang dari pandangan Dee.
“Adikmu aktif.”
“Astaga!” Dee langsung memegangi dadanya ketika melihat sosok Al yang tiba-tiba saja muncul di depannya.
“Bisa tidak, untuk kemunculan tidak selalu mengagetkan?”
“Kamu terkejut?” Al justru balik bertanya.
Dee kehilangan kata-kata. Orang normal pasti akan terkejut jika melihat orang yang tiba-tiba muncul.
“Kenapa hari ini kamu selalu menghilang? Memang ada ya? Hantu memiliki banyak urusan?”
“Aku bukan hantu,” Al menolak dengan tegas.
“Baiklah…oh, aku baru tahu bahwa kamu yatim piatu saat ini? Lalu bagaimana caranya kau sekolah di IBS? Alex juga membayarkan biaya rumah sakit ini.”
“Kamu akan tahu nanti. Sekarang seharusnya kamu punya cara untuk mendekatinya,” kata Al mengalihkan pembicaraan.
Dee tahu hal itu, namun dia tidak terus memaksa Al untuk menjawab.
“Maksud kamu apa?”
“Besok kau bisa membuatkan dia bekal sarapan buatanmu sendiri dari rumah untuk berterimakasih.”
“Kamu gila ya? Tidak lihat kakiku seperti ini, masa iya aku harus memasak? Aku kan juga ingin cuti sekolah supaya kakiku cepat sembuh.”
“Oh, maaf. Aku tunanetra, jadi aku tidak tahu kakimu cukup parah.” Ada perubahan ekspresi pada wajah Al.
Hening menyelimuti mereka dalam beberapa detik. Saat melihat wajah bersalah Al, hati Dee mendadak merasakan perasaan yang bersalah. Dia lupa bahwa Al tidak dapat melihat. Dan kakinya juga tidak separah seperti yang dia katakan.
“Maaf, itu…”
“Tidak apa. Aku hanya basa-basi. Meskipun aku tidak dapat melihat, namun aku bisa melihat dengan anggota indra lain, jadi tidak usah berbohong berakting sedih. Aku tahu kau baik-baik saja. Dan kau harus ingat bahwa waktumu cuma seratus hari untuk mencegah Alex bunuh diri. Jika tidak…”
“Pergi saja kamu!” Dee langsung melemparkan tas sekolahnya pada sosok tembus Al. Menyesal telah berpikir bahwa Al akan sedih dengan perkataannya. Dia memang roh tidak berperasaan!
“Aku akan pergi dulu kalau begitu,” kata Al yang langsung menghilang tanpa mendengar jawaban dari Dee.
“Kamu!” Dee makin emosi. Namun ketika dia hendak mengumpat kembali, bisikan di sekitarnya membuatnya tertegun.
“Ya ampun…apa karena kakinya dia jadi tidak waras ya?”
“Mungkin saja, kasihan…cantik, sih. Sayang gila.”
Dee menengok kanan dan kiri. Akhirnya sadar bahwa di mata orang lain dia hanya berbicara seorang diri. Dia segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Melirik ke sekitar seolah mencari keberadaan seseorang.
“Aduh… Aram kemana sih? Dia buang air besar atau batu sih? Lama sekali.” Dee kembali meratap. Sepertinya hari ini Tuhan begitu sayang padanya, sehingga membuatnya berkali-kali dalam masalah.
Tanpa Dee tahu, sebenarnya Aram telah kembali beberapa saat yang lalu. Namun pemuda itu menghentikan langkahnya ketika mengamati perilaku Dee yang tidak normal. Dengan wajah cemas dia menelpon nomor mamanya.
“Ma, kayaknya kak Dee butuh psikiater deh.” Dia langsung berkata saat telepon itu tersambung dengan mamanya.
***
Dee kebingungan. Entah bagaimana saat ini dirinya berakhir duduk bertiga berdempetan di mobil milik Alex. Dia tengah dengan kanan Alex dan kiri Aram. Sedangkan di samping pengemudi ada seorang lelaki yang belum Dee lihat siapa dan apa hubungannya dengan Alex.
Melihat bagaimana mewahnya mobil ini, Dee berpikir bahwa meskipun yatim piatu, namun jelas Alex lebih sejahtera dibandingkan dengan dia.
Dee menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ini semua karena Aram! Dee lama menunggu Aram datang, sehingga dia segera mendorong kursi roda seorang diri keluar dari rumah sakit. Dee merasa malu jika terus di lobi rumah sakit menunggu dengan tatapan orang-orang yang memandangnya aneh.
Namun saat menuruni tangga khusus untuk kursi roda di depan rumah sakit, tangan Dee tergelincir sehingga kursi roda itu menggelinding cepat.
“Ya Tuhan! Ini dunia apa sih? Kenapa aku begitu sial? Ahh!” Dee berteriak mencoba menghentikan kursi rodanya. Pada akhirnya dia memilih melompat dari kursi roda itu tepat sebelum kursi roda itu menabrak pembatas gerbang. Sedangkan Dee, dia harus menggelepar di lantai luar rumah sakit dengan wajah pucat. Tidak ada adegan pangeran kesiangan menangkap putri sebelum jatuh. Tidak ada adegan romantis. Tidak ada! yang ada hanyalah sosok mengenaskan Dee yang bahkan mau berdiri saja sangat susah!
“Apa yang kamu lakukan? Senam? Kan, aku sudah bilang jangan kemana-mana.”
“Aram!!!” Dee berteriak kesal bukan main.
Kesialan ternyata tidak hanya itu, saat dalam perjalanan tiba-tiba ban mobil mereka bocor. Dan pak Burhan—supir keluarga mereka tidak membawa ban serem. Mulut Dee memompa di dalam mobil. Sepertinya memang dia tengah dalam hari kesialan yang nyata!
Itulah ceritanya bagaimana dia berada di mobil Alex saat ini. Singkatnya Alex melihat mereka berada di tepi jalan dan butuh tumpangan. Pada akhirnya Alex hanya menggendong Dee masuk ke dalam mobilnya dengan wajah datar. Wajah Alex terlihat tidak ikhlas, mungkin menolong mereka berdua karena merasa bersalah telah menimpai Dee di tangga siang tadi. Tapi masa bodoh! Dee sangat lelah hari ini bahkan untuk merasakan rasa malu.
Tiga puluh menit kemudian mobil Limosin yang di kendarai Alex telah masuk ke gerbang rumah Dee. Karena Dee trauma naik kursi roda, dia hanya bisa menguatkan kakinya untuk berjalan tertatih-tatih dengan bantuan Aram membukakan pintu mobil.
“Makasih kak, telah mengantar kami.” Aram berterimakasih ketika dia memapah Dee.
“Ya.” Alex menjawab singkat. Tidak repot-repot mengantarkan kedua saudara itu masuk ke rumahnya.
“Tuan, sepertinya tas gadis itu tertinggal,” kata seorang pemuda dua puluh tahunan yang duduk di kursi depan.
Saat pemuda itu berkata, Alex tanpa sadar memang melihat tas ransel berwarna pink di sampingnya.
“Bawakan kesana,” kata Alex.
“Baik Tuan.”
Pemuda itu akan membuka pintu keluar sebelum suara Alex kembali terdengar, “Tunggu,”
“Biar aku saja.”
“Ya?” Nohan mengerjap bingung. Belum sempat dia mencerna apa yang di maksud tuan mudanya, dia sudah melihat Alex membuka pintu dengan tas ransel di tangannya.
Alex juga tidak tahu apa yang dia lakukan. Kedua saudara itu masih di depan pintu saat Alex hampir mendekati mereka.
“Tas ka-”
“Kyaa!” Dee berteriak saat dia berbalik dan memeluk pinggang Alex dan sedikit berjongkok. Saat itu Dee tidak tahu siapa yang dia peluk karena dia hanya ingin menyelamatkan diri saja.
Byur!
Semburan air dengan bau aneh menerpa wajah Alex tanpa jeda.
“Oh Tuhan!” Ini adalah suara Aram dari belakang.
Alex terdiam. Dia melihat gadis yang memeluknya yang setengah berjongkok, lalu melihat wajah Aram yang syok. Saat memandang ke depan, Alex melihat sosok berpakaian aneh ala hindia dengan botol air kembang yang tinggal separuh, dan tangan kanan memegang menyan dengan asap seperti obat bakar nyamuk.
Wajah Alex yang selalu datar, untuk pertama kalinya menunjukkan ekspresi—syok!
Dee meringis, mendongak hanya untuk mengetahui bahwa dia jatuh di pemuda tertampan satu sekolah yang baru dia temui sehari, target untuk dia dekati, dan juga kunci kembalinya dia. Namun hari ini dia sudah beberapa kali melakukan hal konyol di depan pemuda itu.
“Ya Ampun…! Maaf nak, kami tengah buang sial. Seharusnya ini untuk anak tante, eh malah kena kamu,” sebuah suara merdu datang dari belakang lelaki dengan pakaian aneh yang jelas terlihat seperti—dukun.
“Tenang anak muda, kau beruntung karena kau telah membuang sialmu berkat hal ini,” Dukun itu berkata percaya diri.
Alex mendengus, “Oh ya. Sepertinya memang aku harus membuang sial hari ini,” katanya sarkastik saat mengeluarkan sapu tangan mengelap seluruh wajahnya.
Dee ingin menangis tapi tak punya air mata. Memang benar tidak ada yang normal di keluarga Efendy!