“aa...” suara cewek yang keluar. Aku kaget. Dan kusingkapkan topi dari kepalanya. Rambut panjang terurai. Dengan paras cantik ada didepanku. Dia tak lain adalah kim.
“Kau, kenapa?”
“maaf mas”. Jawabnya.
“kim ya, kenapa kamu mengikutiku?”
“Aku cuma mau mengawasi mas saja” katanya.
“Ehh.. kenapa?” tanyaku.
“Mas habis terluka karenaku, tentu aku tak bisa tinggal diam kan” jawabnya.
“Tapi kenapa harus sembunyi sembunyi seperti ini, aku bisa salah sangka lo.”
“maaf mas” dia menunduk tampak menyesali.
Kuajak kim ke kafe terdekat. Disana kami ngobrol. Kim tampaknya sangat berterima kasih karena aku menyelamatkannya waktu itu. Dia tak menyangka aku bisa berani melawan mereka yang dengan senjata.
"mas waktu itu hebat sekali, mas tau siapa mereka?" tanya kim.
"eh, siapa ya emangnya mereka kok kayaknya heboh sekali, masa langsung masuk berita begini sih?" tanyaku.
"mas tau kedua orang itu adalah buronan kelas kakap. satunya pengedar narkoba dan satunya pembunuh berantai 5 orang wanita lo, mas nggak takut?"
"eh, kok serem ya, kalau tau mereka palingan aku pikir pikir untuk nolong"
"eh kok gitu, jahat deh" kim tersenyum kesal padaku. yang malah membuatku tersipu malu.
Tak kusangka aku telah melawan penjahat beneran. Tampaknya hukum memang tak membela mereka berdua, mereka langsung didakwa hukuman seumur hidup. Karena kasus narkobanya. Dan beberapa korban pembunuhan juga datang untuk ikut memberatkan terdakwa.
“makasih mas” Senyum manis kim merekah. Senyuman manis kim sudah menjadi pengobatan tersendiri bagiku, seperti sembuh. Tentu aku tak mengharapkan lebih. Tak mungkin lah bisa mendapatkan hati kim.
Kim memberikan nomor WA kepadaku. Sejak saat itu kami menjadi semakin dekat tentu sebagai teman. Kim sangat perhatian kepadaku, hampir setiap hari pasti kim menanyakan kapan aku tidur, sudah makan apa belum, dan obrolan lainnya seolah aku adalah pacarnya.
“halo mas, mas lagi apa, tebak kim sekarang lagi apa, kim sekarang lagi nelpon lo hahah lucu nggak”
Kim setiap hari juga berusaha ngelawak walaupun selalu garing semua lawakannya. Tapi itu kurasakan sangat mengena dihatiku. Aku merasa sangat diperhatikan sekali. Tentu aku diam diam suka dengan perlakuan kim kepadaku dan mengharapkan lebih, aku ingin kim juga memiliki perasaan yang sama. Tapi rasa sadar diri ku membuatku untuk melepaskan kim dan melupakan kim. Dari pada semakin besar perasaanku ini. Kucoba menghapus kontak ku dan aku berganti nomor. Kuhapus juga nomor kim.
"permisi, mas!!" kim meneriakiku dari balik pintu rumahku ternyata esoknya kim mendatangi rumahku dan ingin menemuiku. Aku tak menemuinya.
Esoknya lagi, dan esoknya lagi dia selalu menungguku keluar. Aku berusaha menghindari kim dengan mencoba untuk tak menemuinya. Kuharap itu bisa menghilangkan perasaanku ini.
Hari itu hujan lebat sekali, kupikir kim tak akan datang kerumahku, tapi prasangkaku salah. Dia sudah ada didepan pintu dan kembali mengetuk pintu. Kulihat kim tampak kedinginan. Aku gak tega melihatnya. Kubukakan pintu dan kutarik kim masuk kerumah. Dia langsung memelukku.
“Kamu kedinginan, ganti baju sana”
“nggak mau” kata kim.
“nanti sakit lo dek kim”
"Nggak papa” jawabnya.
“dek kim, kenapa ya”? Tanyaku pura pura polos.
“Mas menghindari adek ya” kata kim.
“Cuma karena itu”
“aku khawatir tak bisa menemui mas lagi” jawabnya mengagetkanku.
Jawaban itu membuatku semakin berharap lagi.
“dek kim, begini ya. Waktu itu aku menolongmu hanya kebetulan saja. Tak seharusnya kamu berterima kasih dengan cara seperti ini.” Jawabku.
“Maksud mas”? Tanyanya.
“Kim, perlakuanmu ini sudah sangat berlebihan. Orang lain juga pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku. Tapi aku masih punya sadar diri. Siapa aku.” Jawabku.
“aku nggak berlebihan kok mas”
“Terus bagaimana kamu bertanggung jawab kalau aku...” aku terhenti.
“Kalau apa mas”? Tanya nya.
“Sepertinya kamu memang wanita pemikat ya. Aku tak ingin ini berlanjut kim. Aku tak ingin perasaanku semakin besar dan membuatku menjadi gila.”
“mas”?
“sudahlah, sekarang tolong jangan datangi aku lagi. Semuanya sudah impas, kamu sekarang bebas kim”
Setelah hujan reda sebaiknya kamu pulang, Tiba tiba sentuhan dari belakang mengagetkanku.
“aku suka mas” kata kim sambil memelukku dari belakang.
“kamu jangan mempermainkan perasaanku kim”
Aku berbalik melepaskan pelukannya dan mencoba menjauhkan dirinya.
“Apa mas perlu bukti”? Tanya kim.
Kim tiba tiba langsung mencium bibirku.
Emmnhh...
Aku sangat shock mendapat ciuman pertama dari wanita secantik kim.
“apa mas tidak percaya sama kim”? Kim berhenti bertanya dan kembali menciumku.
“mas percaya”? Kim kembali bertanya dan kembali menciumku lagi.
“percaya”? Diulanginya lagi.
Kulepaskan ciumannya dan kujawab.
“Aku menyukaimu kim, Aku percaya dengan perasaanmu " kupeluk erat kim, dan kami kembali berciuman.
"udah lah"
"mmmnn" pipi merah merona menghiasi wajah cantiknya.
“dek kim, ganti baju sana, aku ingin ajak kamu kesuatu tempat, banyak yang ingin aku bicarakan denganmu disana.”
“nggak bisa disini aja mas” jawab kim.
“kalau disini takutnya aku kebablasan” kataku
“maksud mas?” tanya kim.
“dek kim, sekarang kamu berada dirumah cowo, bisa aja aku buat macam macam lo sama kamu” kataku.
“mas emangnya berani” tantangnya.
Langsung kugendong kim, dan kubawa kekamarku, disana kim kaget dia tak menyangka aku berani juga.
“mas mau ngapain adek, mau perkosa adek kim ya” tanyanya.
“Kamu ganti baju sana, apa perlu dipaksa” kataku.
“Oh, kukira.”
Beberapa menit kemudian.
“Sudah mas, bajunya pas, kok mas punya baju cewek, punya siapa ya” sambil melihat ku dengan pandangan cemburu.
“nama pemiliknya ada dibalik bungkusnya itu.” Kataku menunjukkan bungkus dari pakaian itu.
“Kim, ini untukku?” kim kaget.
“selamat ulang tahun kim, maaf terlambat.”
“makasih mas” kim kembali memelukku
dan kubalas juga dengan mesra.