Reza-lah yang menemukannya, bukan sebaliknya. Itu yang membuat Larasati hampir menjatuhkan gelasnya saat lelaki itu duduk di kursi seberang meja warung makan tempat ia sedang makan sore, tanpa suara, seakan muncul dari udara. Larasati sudah berhati-hati. Ia tidak menghubungi siapa pun, tidak meninggalkan jejak, berpindah losmen tiap beberapa malam. Bahwa Reza bisa menemukannya berarti dua hal sekaligus, dan keduanya menakutkan: Reza punya kemampuan melacak yang melampaui dirinya, dan kalau Reza bisa, maka yang lain pun mungkin bisa.
'Jangan menatapku seperti melihat hantu,' kata Reza pelan, mengambil daftar menu seakan ia pelanggan biasa, matanya menyapu warung dengan gerakan terlatih. 'Habiskan makananmu. Kita dua orang yang kebetulan semeja. Jangan ada yang ganjil.'
Larasati memaksa tangannya berhenti gemetar dan melanjutkan menyuap, meski nasi terasa seperti pasir di mulutnya. Pikirannya berlomba. Pak Damar memperingatkan bahwa audit dingin memburu siapa pun orang dalam yang membantunya, dan Reza adalah orang dalam itu. Kehadiran Reza di sini, di hadapannya, adalah pelanggaran terhadap setiap aturan keselamatan yang telah ia bangun dengan susah payah. Atau—pikiran yang lebih gelap menyelinap—ini jebakan. Reza membawa pemburu di belakangnya, sengaja atau tidak.
Seakan membaca wajahnya, Reza berkata pelan, 'Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Apakah aku masih bisa dipercaya. Apakah aku membawa orang. Apakah aku akhirnya menyerah dan menjualmu.' Ia meletakkan menu. 'Wajar kamu berpikir begitu. Selama ini aku cuma memberimu petunjuk, isyarat, lalu menghilang. Aku bermain aman. Aku membantumu dengan satu tangan sambil tangan lain tetap di dalam sistem, menjaga diriku tetap bersih.' Ia menatap Larasati lurus, dan untuk pertama kali sejak Larasati mengenalnya, tidak ada lagi kabut di mata itu, tidak ada lagi keambiguan. 'Itu sudah selesai. Aku tidak bisa lagi.'
Reza menceritakannya dengan singkat dan tanpa drama, dengan cara orang yang sudah memutuskan dan tidak mau menyesalinya. Audit yang dipimpin orang baru itu—keras, dingin, sistematis, persis seperti yang Pak Damar gambarkan—sudah merayap mendekat. Mereka memeriksa setiap log akses, setiap jejak digital tiga bulan terakhir. Reza, dengan kehati-hatian seorang yang ikut membangun sistem dan tahu cara kerjanya, telah menghapus dan mengaburkan jejaknya sebisa mungkin. Tapi ia tahu, dengan kepastian seorang teknisi yang jujur pada dirinya sendiri, bahwa cepat atau lambat mereka akan menemukan benang yang menautkannya ke pintu pemuatan malam itu, ke isyarat-isyarat yang ia berikan, ke Larasati. 'Begitu mereka menemukannya,' kata Reza, 'aku selesai. Bukan dipecat. Selesai dengan cara yang sama mereka berniat menyelesaikanmu. Jadi aku berhitung. Kalau aku akan jatuh juga, lebih baik aku jatuh sambil melakukan sesuatu yang berarti, bukan sambil bersembunyi menunggu mereka datang.'
'Kenapa?' tanya Larasati, suaranya rendah. Pertanyaan yang sama yang ia tanyakan pada Pak Damar di pemakaman, pada Pak Hadi di rumah cucunya. Kenapa, sekarang, setelah sekian lama bermain aman.
Reza diam sejenak, memandang ke luar jendela warung, ke jalan kota provinsi yang mulai menyalakan lampu-lampunya. 'Aku ikut membangunnya,' katanya akhirnya. 'Bukan kamu saja yang tangannya kotor. Aku menulis sebagian kode yang menjalankan dispersi itu. Aku mengkalibrasi model yang menyembunyikan jejaknya. Aku ada di ruang-ruang tempat keputusan dibuat, dan aku diam. Aku bilang pada diriku sendiri itu bukan urusanku, aku cuma menjalankan tugas teknis.' Ia menoleh kembali pada Larasati. 'Lalu kamu muncul. Teknisi lapangan biasa yang seharusnya tidak melihat apa pun, yang seharusnya menerima saja dan diam seperti kami semua. Dan kamu tidak diam. Kamu mempertaruhkan segalanya—keluargamu, kebebasanmu—untuk hal yang bahkan tidak menguntungkanmu.' Suaranya merendah. 'Aku tidak bisa terus melihat itu sambil bersembunyi di balik dalih bahwa aku cuma teknisi yang menjalankan tugas. Karena kamu juga cuma teknisi yang menjalankan tugas, dan kamu memilih sebaliknya.'
Larasati menelan ludah. Ada sesuatu yang melegakan sekaligus mengerikan dalam mendengar itu. Selama berhari-hari ia berjuang sendirian, menutup setiap pintu pada orang-orang yang ia sayangi demi melindungi mereka. Dan sekarang seseorang yang tahu sistem ini dari dalam, yang punya akses dan pengetahuan yang tak ia miliki, menawarkan diri untuk berdiri di sisinya. Tapi tawaran itu datang dengan harga yang ia tahu betul.
'Kalau kamu membantuku sungguhan,' kata Larasati, 'bukan dengan isyarat dan menghilang, tapi sungguhan—kamu jadi buronan sepertiku. Mereka akan memburumu sama seperti mereka memburuku. Mungkin lebih, karena kamu tahu lebih banyak. Kamu tidak bisa lagi pulang. Tidak ada gaji, tidak ada nama baik, tidak ada keselamatan.' Ia menatap Reza, memastikan lelaki itu benar-benar mengerti apa yang ia tukar. 'Kamu yakin?'
Reza tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai kelegaan daripada kebahagiaan. 'Aku sudah jadi buronan sejak malam aku menunjukkanmu pintu pemuatan itu,' katanya. 'Aku cuma belum mengakuinya sampai sekarang.' Ia mencondongkan tubuh sedikit, menurunkan suaranya. 'Dan aku tidak datang dengan tangan kosong. Aku tahu cara melawan satu hal yang akan mereka pakai untuk menghancurkanmu. Mereka akan bilang datamu palsu. Bahwa kamu mengarang, memalsukan, menyabotase. Itu senjata paling kuat mereka, karena bukti yang bisa dibantah keasliannya tidak lebih dari tuduhan kosong.' Mata Reza menyala dengan sesuatu yang teknis dan tajam. 'Tapi sistem itu meninggalkan sidik jari, Laras. Setiap file resmi yang dihasilkan SMAN, setiap dokumen protokol, ditandai dengan tanda tangan sistem yang tidak bisa dipalsukan dari luar. Aku bisa mengajarimu cara membuktikan bahwa kartu yang kamu bawa itu asli—keluar dari jantung sistem mereka sendiri. Begitu kamu bisa membuktikan itu, tuduhan data palsu mereka runtuh.' Ia bersandar kembali. 'Itu yang aku bawa. Bukan cuma diriku. Cara membuat buktimu tak bisa dibantah.'
Larasati menatapnya lama, di warung yang bising oleh dentang piring dan obrolan orang-orang yang tak tahu apa-apa, dan untuk pertama kalinya sejak ruang kendali itu terkunci, ia merasa beban di pundaknya sedikit bergeser—bukan menghilang, tapi terbagi. Ia mengangguk pelan. 'Tunjukkan padaku,' katanya.