Mereka menghabiskan tiga hari mengurung diri di gudang tembakau, hidup dari nasi bungkus yang dibeli Bu Surti dan air yang dijatah tetes demi tetes, menyusun keping demi keping menjadi sesuatu yang utuh. Larasati merentangkan kertas-kertas di lantai semen, menimpanya dengan batu agar tak tertiup angin, dan untuk pertama kali sejak semuanya dimulai, ia tidak lagi menebak. Ia membaca.
Di tengah, ia letakkan peta koridor menara yang ia hafal—setiap menara yang pernah ia sentuh dengan tangannya sendiri, plus yang ditambahkan Reza dari data pusat. Lalu mereka tandai. Menara dengan modul dispersi terpasang mereka beri tanda merah. Reza membacakan dari cakramnya, Larasati menggambar. Satu per satu, garis merah itu menyebar di atas peta seperti pembuluh darah—dan polanya, ketika lengkap, membuat keduanya terdiam.
Ini bukan empat desa. Ini bukan satu koridor. Garis merah membentang dari pedalaman Jawa Tengah, menyeberang ke timur, melompati selat, menjalar ke Nusa Tenggara. Puluhan menara. Belasan koridor. Sebuah jaringan kemarau buatan yang skalanya jauh melampaui apa pun yang pernah Larasati bayangkan ketika ia berdiri ketakutan di Menara 14 berbulan-bulan lalu, memotret awan yang tak pecah dan mengiranya kerusakan kalibrasi.
"Lihat polanya," kata Reza pelan, menunjuk dengan ujung pena. "Yang merah—yang dikeringkan—tidak acak. Tidak juga semata daerah yang menolak menjual tanah, seperti yang dulu kamu kira. Itu terlalu sederhana." Ia menggeser tumpukan dokumen akuisisi. "Lihat. Setiap koridor merah, dalam enam sampai dua belas bulan setelah dikeringkan, tanahnya berpindah tangan ke salah satu dari lima perusahaan. Wanagraha cuma satu. Ada empat lagi. Dan kalau kamu telusuri kepemilikan empat itu ke atas—" ia membentangkan bagan yang ia susun, kotak-kotak nama perusahaan yang saling terhubung garis, "—mereka semua bermuara ke satu induk usaha. Satu payung."
Larasati mengikuti garis-garis itu dengan jarinya, dari Wanagraha ke induk, dari induk ke anak-anak usaha lain, dan kepalanya mulai pening oleh skema yang sengaja dibuat berlapis-lapis agar tak ada satu orang pun bisa melihat keseluruhannya. Itu kejeniusan dingin dari rancangan ini: tak seorang pun di lapangan tahu lebih dari secuil. Notaris hanya tahu satu transaksi. Teknisi hanya tahu satu menara. Sopir truk tangki hanya tahu satu rute. Bahkan ia, Larasati, selama ini hanya melihat lembahnya sendiri. Konspirasi sebesar ini bisa berjalan bertahun-tahun tanpa terdeteksi bukan karena tak ada yang melihat, melainkan karena tak ada yang diizinkan melihat lebih dari sepetak kecil yang ditugaskan kepadanya.
"Lalu aliran uangnya," lanjut Reza, dan inilah bagian yang membuat tangannya sendiri gemetar saat membentangkannya. "Tanah yang dibeli murah karena kering—begitu Protokol Kemarau dihentikan, atau begitu air dialihkan kembali ke sana, nilainya melonjak. Lahan kering tak berharga jadi lahan beririgasi mahal hanya dengan memutar keran hujan. Mereka tidak cuma mengeringkan untuk menekan harga. Mereka mengeringkan untuk membeli, lalu mereka berencana mengairi lagi untuk menjual mahal. Air itu sendiri yang jadi alat menggandakan nilai."
"Beli murah waktu kering, jual mahal waktu basah," kata Larasati, suaranya hampa. "Dan mereka yang memegang tombol kering-basah."
"Mereka yang memegang tombol kering-basah," Reza mengangguk. "Plus, jangan lupa truk-truk tangki itu. Air dijual balik ke korban selama masa kering. Jadi mereka untung tiga kali dari air yang sama: untung dari menahannya, untung dari menjualnya kembali ke yang haus, dan untung dari menjual tanah yang nilainya mereka mainkan. Air yang sama. Tiga kali untung."
Larasati duduk bersandar ke karung tembakau bekas, menatap peta merah di lantai. Selama ini ia mengira ia melawan sebuah kebijakan yang keliru—Protokol Kemarau, rancangan SMAN yang salah arah, yang bisa diluruskan kalau saja kebenaran terbongkar. Tapi peta di hadapannya menunjukkan sesuatu yang lebih dingin. Ini bukan kebijakan yang keliru. Ini mesin yang bekerja persis seperti yang dirancang. Kekeringan bukan efek samping. Kekeringan adalah produknya. Sumur kering di Sumberalas, kambing yang dijual ibunya, tanah retak tempat ia menangis—semua itu bukan kerusakan sistem. Itu adalah sistem yang berfungsi sempurna.
"Reza," katanya pelan, "ini bukan SMAN yang kebablasan. SMAN cuma alatnya. Tangan yang memegang menara. Tapi yang merancang ini—yang mendapat untung dari setiap tetes yang ditahan—ada di atas SMAN." Ia menatap bagan kepemilikan, kotak induk usaha di puncaknya yang masih kosong namanya, hanya tercatat sebagai sebuah perusahaan investasi dengan nama netral yang tak berarti apa-apa. "Pertanyaannya bukan lagi siapa yang menahan hujan. Pertanyaannya: siapa yang diuntungkan kalau hujan ditahan. Ikuti uangnya, dan kita temukan wajah yang sebenarnya."
Reza menatap kotak kosong di puncak bagan itu, kotak yang menaungi segalanya, dan untuk pertama kali sejak ia kabur dari pusat, ada ketakutan yang berbeda di wajahnya—bukan ketakutan dikejar, melainkan ketakutan akan apa yang akan mereka temukan jika benar-benar membuka kotak itu.
"Saya punya daftar distribusi laporan," katanya akhirnya, suaranya rendah. "Siapa yang menerima salinan Protokol Kemarau setiap bulan. Wirasena ada di situ. Bu Pranata ada di situ. Tapi ada satu nama lagi di paling atas daftar. Nama yang bukan dari SMAN, bukan dari Wanagraha. Nama yang seharusnya tidak punya alasan menerima laporan teknis sebuah program cuaca." Ia menelan ludah. "Kamu yakin mau tahu siapa?"
Larasati menatap peta merah yang terbentang di lantai—seluruh penderitaan yang terhampar dalam garis-garis itu, semua sumur kering dan keluarga yang pindah dan kawan-kawan yang ditangkap—lalu menatap Reza, dan rahangnya mengeras.
"Buka," katanya.