Setiba Andra di lokasi proyek, ia tidak beristirahat dan langsung memutuskan untuk bekerja. di proyek ia disambut debu yang beterbangan di antara suara mesin bor dan teriakan para pekerja untuk saling komunikasi.
Udara masih pagi, tapi panasnya sudah seperti siang. Beberapa tukang sedang mendorong gerobak semen, dan ada yang memanggul besi panjang ke dalam fondasi yang belum jadi.
Andra berdiri kaku di pintu masuk area proyek, memegang helm kuningnya erat. Dadanya bergemuruh. Di sampingnya, Reno bersiul santai sambil melambaikan tangan ke salah satu tukang.
Reno : "Tenang aja, Ndra. Hari pertama tuh yang penting jangan panik. Ikutin alur."
Andra hanya mengangguk.
Tiba- tiba suara berat menggelegar dari arah belakang:
Mandor : "KALAU MAU NGANGGUR, DI RUMAH AJA NGOCOK! DI SINI KERJA, BUKAN NONTON!"
Andra kaget. Seorang pria bertubuh besar, berkulit gelap yang terbakar matahari, mengenakan rompi oranye pudar dan helem putih proyek lusuh, berjalan mendekat sambil memegang rokok surya.
Mandor : "Lu anak baru ya?"
Andra : ( mengangguk ). "Iya, Pak. Saya… Andra."
Mandor : ( melirik Reno ). "Kamu bawa temen ya? Yaudah, tanggung jawab ya. Jangan sampe si anak baru ini pingsan di tengah panas."
Namanya Pak Guntur, sang mandor. Keras, galak, tapi katanya adil.
Reno : ( menepuk bahu Andra ), "Gas, Ndra. Ini latihan hidup."
Andra diberi tugas sederhana di hari pertama mengangkut batu dan membawa adukan, adukan tersebut untuk tukang yang memasang batukali. tugas ‘sederhana’ itu, jadi siksaan ketika ia belum pernah bekerja fisik seumur hidup.
Tangannya gemetar dan melepuh, punggungnya pegal hanya dalam satu jam. Keringat mengucur ke p****t tanpa henti, dan napasnya tersengal karena kebiasaan rokok ilegal.
Namun, setiap kali hampir menyerah, Andra menoleh ke arah pagar proyek…
Dan membayangkan ibunya berdiri di sana, tersenyum bahagia karena anaknya mendapat pekerjaan.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, tapi matahari rasanya tepat di atas kepala. isi kepala Andra di penuhi dengan indahnya orang meneguk nutrisari dari warung proyek.
Dan saat itu Andra mengangkat sekarung semen untuk dibawa ke tempat orang mengaduk semen, tempatnya bersebelahan dengan orang yang merakit kerangka besi tebeam.
Reno : “Ndra! Arah sebaliknya, yang sana buat pengecoran lantai!”.
Suara Reno terdengar, tapi sayangnya terlambat.
Andra sudah menjatuhkan karung semen itu tepat di tumpukan pasir dan koral.
BRAKK!
Serbuk semen beterbangan.
Tiba tiba teriakan menggelegar, menggema di seluruh proyek.
Pelaksana Proyek : “SIAPA YANG NGEJATUHIN SEMEN DI SINI!?”
Pelaksana Proyek : "SEMENYA BEDA,! BRO"
Pak Guntur berjalan cepat ke arah suara itu, matanya menyala seperti ingin membakar siapa saja.
Andra : ( berdiri kaku. Tangannya masih gemetar ). “Sssss, ss s, saya, Pak…”
Pak Guntur : ( mendekat, menatap langsung ke matanya ). “Kamu pikir ini proyek Abal abal?! Ini proyek elit, Bro! salah taruh bisa bikin salah komposisi!”
Pelaksana Proyek : "ini tempat ngaduk untuk slab lantai bro, bukan untuk adukan pondasi batu kali".
Pak Guntur : "kamu jangan diam- diam saja bertanya,,! kalau di proyek, gitu".
Andra menunduk, hatinya tercekat. Pekerja lain hanya melirik sekilas lalu kembali bekerja.
Reno menghampiri diam- diam dan menarik Andra ke samping, setelah Pak Guntur dan Pelaksanaan Proyek pergi dengan dengusan kesal.
Reno : “Lu oke, Ndra?”
Andra mengangguk pelan. Tapi hatinya hancur.
Andra : “Malu bodoh, dan bego...” ( gumanya ).
Tapi di balik semua itu, ia tahu ini pelajaran.
Satu kesalahan di proyek bisa mengacaukan segalanya. Bukan hanya soal fisik, tapi tanggung jawab.
Setelah itu jam 11.30 istirahat Andra di ajak ke warung oleh Reno. Reno mengenalkan kepada orang warung bahwa Andra temanya satu kampung supaya bisa untuk bon di warung tersebut.
Pemilik warung tersebut bernama Kardi, adik dari Pak Guntur Mandornya Andra dengan 3 anggota pelayan cewek. pemilik warung tersebut membolehkan Andra untuk bon di warungnya, dengan perjanjian 2 minggu potong gaji.
Andra di layani untuk mengambil makan dengan porsi yang sangat banyak dan lauk pilihan Andra.
Andra : "jangan segitu mba, nasinya kebanyakan itu".
Reno : hahahaha.. ndra,, ndraa,, "di proyek harus makan banya seperti ini ni".
Andra : ( kaget melihat piring Reno ). "lu kelaparan apa". hahah. hahah
sesil pelayan warung pun tersenyum sambil mengurangi porsi nasi makan Andra.
Reno : "makan segitu di gua 2 jam doank tenaganya".
Andra : "serius no.. ?"
Reno : "kamu lihat aja nanti ndra.!"
Sesil : "mungkin dia belom terbiasa makan banyak bang,,"
Reno : "nanti pasti dia kewarung lagi.! hahahahahah".
Sesil : "tidak apa- apa kok bang Andra!, sering- sering aja kewarung bng"
Andra hanya tersenyum mendengar celoteh sesil.
Setelah makan siang seadanya, nasi sayur dan telor dadar, dengan teh manis dalam cup 1x pakai. keduanya berjalan mencari tempat istirahat yang sedikit lebih redup di balik tumpukan besi dan kayu untuk begisting.
Reno : "Di situ aja, Ndra. Ada bayangan dari kontainer. Adem dikit walau keras duduknya,"
Reno menunjuk ke sisi barat proyek, tempat sebuah kontainer penyimpanan material yang memberikan naungan dari matahari.
Mereka duduk berdampingan di atas tumpukan begisting.
Andra merebahkan punggungnya perlahan, menaruh helem kuning di sampingnya dan menghela napas panjang.
hhhhuuuuuhhh,,.
Reno duduk dengan lutut ditekuk, memandangi langit yang nyaris tak berawan.
Reno : "Lu gak nyangka, ya, kerja proyek beginian bisa capek banget."
Andra : "Hmm," ( mengangguk ). "Gue kira cuma angkat- angkat doang. Ternyata... angkat beban hidup juga."
Reno : ( tertawa ). "Gaya lu udah kayak orang lama kerja di sini."
Andra ikut tersenyum, tapi jauh di dalam hatinya masih terbayang kesalahan paginya. teringat wajah Pak Guntur yang seperti kingkong saat memarahinya. Ia merasa malu. Dan rasa bersalah.
Andra : "Reno... Hmm,, ? Kenapa lu betah kerja di sini?" ( tanya Andra pelan ).
Reno menatap lurus ke depan. Lalu menjawab, masih dengan nada dering ringan.
Reno : "Gue juga punya alasan, Ndra. Bukan karena kuat, tapi karena… gak punya banyak pilihan."
Reno : "lagian pelayan warungnya juga bohay- bohay ndra.."
Andra : "Anak biadab"..
Reno : hahaha,, ahahaha,,
Hening sejenak. Hanya suara palu dan mesin dari kejauhan yang mengisi udara.
Di balik semua tawa dan obrolan ringan, Andra merasakan ada luka yang tak jauh beda dari dirinya sendiri. Di dunia proyek ini, semua orang sedang bertahan dengan caranya masing-masing.