Jam 12.30 istirahat usai. Sirine kecil dari ujung barak terdengar nyaring, menggangu tidur siang mereka, sirine itu menandakan waktu untuk kembali bekerja rodi.
Dengan mata merah dan otak setengah sadar,, Andra dan Reno berdiri secara batin yang terpaksa, membersihkan debu dari celana dan baju mereka. Keringat belum benar- benar kering, tapi panas sudah kembali menyengat.
Reno : "Ayo, Ndra. Masih ada pekerjaan yang belum beres," (memakai helmnya dan memasang sarung tangannya).
Mereka kembali ke area proyek. Kali ini Andra ditugaskan oleh Mandor Guntur untuk membantu tukang yang mengurusi begisting beton kolom utama itupun sementara. andra lansung bergegas membantu tukang tersebut.
Gito : "Lu bantu tahan begisting kayunya ya. Jangan sampai goyang, biar gw kencengin dulu terotnya " (kata tukang senior bernama Bang Gito, sambil memberi aba- aba ke tukang lain).
Andra mengangguk dan memegang erat bagian kayu begisting. Tangan mulai terasa pegal, tapi ia tak mau mengulang kesalahan lagi.
Gito : "Lu baru kali ini ya di proyek..?"
Andra : "Ia bang!"
Gito : "Gak papa kok,, kalo lu gak mengerti nanya aja"
Andra : "Ok bang"
sembari menahan begisting, Andra tidak sengaja melihat dua orang asing berpakaian rapi masuk ke area proyek.
Orang tersebut,, Mereka tak mengenakan helm, dan hanya memberi isyarat lambaian tangan kepada mandor Guntur dan Plaksana lapangan.
Pak Guntur dan Plaksana lapangan segera menghampiri mereka, lalu mengajak masuk ke dalam kontainer kecil yang difungsikan sebagai kantor sementara. Lalu pintu ditutup.
Andra sempat melirik ke arah Reno yang mengerjakan pembesian tebeam.
Reno : "Jangan di liatin,, fokus aja ndra. ?" (Reno berbicara pelan).
Andra : "Gak tau ni no, tiba- tiba keliatan aja no.?"
Andra : "Namanya juga lewat di depan gw no".
Wajah- wajah itu bukan pekerja biasa. Terlalu bersih. Terlalu formal. Dan satu hal lain salah satunya membawa map tebal dengan stempel perusahaan, tapi Andra sempat melihat stempel yang disamarkan ada logo yang seperti disobek.
Tak lama setelah itu, mobil pickup datang membawa drum- drum logam tanpa label yang berisi solar untuk alat berat galian. Dua pekerja dari luar langsung turun dan dengan tergesa memindahkan drum itu ke belakang kontainer.
Reno : (menyikut Andra pelan). “Biasanya bahan solar kayak gitu dikirim pagi, gak jam segini. Dan... harusnya lewat pintu belakang.”
Andra : “Udahlah, no. Bukan urusan kita juga,” (ucapnya sambil medorong kuat begisting kolom supaya lot dan tegak lurus). “Yang penting kerjaan beres. Gue gak mau dimarahin Pak Guntur lagi.”
Andra : "Malu gw,, malu banget".
Gito : "Hahahaha,, biasa itu ndra. (tertawa mendengar mereka berdua cerita)"
Andra berbicara seperti itu. Tetapi hatinya bertanya- tanya.
Apakah proyek ini benar- benar proyek konstruksi biasa.?
Atau ada permainan sesuatu yang lebih besar... dan lebih gelap dari ini.?
Andra tidak terlalu memikirkan itu, karena menurutnya, ia harus fokus, lalu belajar untuk mengetahui seluk beluk pekerjaan di dunia proyek.
Setelah membantu bang Gito melakukan pekerjaan begisting kolom, Andra lansuang kembali lagi mengambil adukan semen untuk membantu pemasangan batu kali seperti yang dilakukanya sebelum istirahat.
5 jam kemudian adukan semen terakhir sudah disebar dan diratakan, Andra menyandarkan tubuhnya ke tembok setengah jadi. Kaos lusuhnya sudah lengket dengan keringat dan debu. Matahari mulai condong ke barat, tapi pekerjaan masih menyisakan beberapa jam.
Reno : “Ndra, warung dulu yok,”
Andra hanya mengangguk lesu. Tubuhnya penat, tenggorokannya kering. lalu ia memintak izin ke tukangnya untuk ke warung dulu.
Sesampainya di warung Sesil, si penjaga warung,, yang usianya mungkin baru dua puluh satu, tapi gaya bicaranya seperti janda. Manja, cerewet, dan penuh tawa yang kadang sulit dibedakan dengan sindiran. Ia bisa melayani lima pelanggan sambil menggoda dua orang sekaligus, dan tetap hafal siapa yang ngutang rokok dua minggu lalu.
Andra dan Reno mendekat. Sesil sedang menyusun bungkus mi instan di rak kardus.
Reno : "s**u dua, Sil," (kata Reno).
Sesil :" manis kayak aku,, gak ?" goda Sesil sambil menoleh dengan senyum miring.
Reno : (tertawa) "Yang hambar aja, Sil. dan gede juga kan cocok."
Sesil : "Kamu mah".
Andra hanya diam saja, duduk di bangku kayu.
Sesil : "Ndra…"(Sesil memanggil sambil mencondongkan badan ke arah meja)
Sesil : "Kamu kok pendiem banget sih? Hati- hati, bisa cepat tua, loh ndra."
Reno : "Emang udah tua," (celetuk Reno sambil menyeruput es susunya).
Andra : "setan lu"
Andra : "Lagi capek, Sil."(sambil tersenyum tipis)
Sesil : "Atau...kamu lagi mikirin aku ya?"
Sesil menyilangkan jari jempol dan telunjuk di depan wajah Andra, membuat Reno tertawa keras. Andra geleng- geleng sambil mengambil es susunya dari meja, dan Sesil pun tertawa lepas.
sesudah istirahat merokok. warung mulai sepi. Para pekerja kembali ke proyek, menyelesaikan sisa pekerjaan sebelum matahari benar- benar tenggelam.
Andra dan Reno masih duduk di bangku kayu, menggenggam gelas es s**u yang kini tinggal batu es. Sesil membereskan gelas kotor sambil menyekap meja kayu lapuk dengan lap basah.
Andra menatapnya sebentar, lalu bicara pelan.
Andra : "Kamu tinggal di warung ya. ?"
Sesil tidak langsung menjawab. Tangannya tetap sibuk, tapi gerakannya melambat.
Sesil : "Ia ndra,, Aku janda,"
Andra : "oh,, maaf aku gak tau Sil".
Sesil : "dulu suamiku tukang juga. Kerja di proyek jembatan. dua tahun lalu".
Sesil : "makanya Aku mengenal warung proyek".
Andra : "oh,, begitu"
di sela- sela mengobrol dengan Sesil Andra di panggil oleh Mandor Guntur.
Guntur : “Ndra! bantu ngecor bentar !”
Suara keras Mandor Guntur terdengar dari arah proyek, membelah sore yang nyaris tenang.
Andra : "Siap,, Pak" (jawabnya setengah berlari)
Andra langsung bangkit dari bangkunya, ia hampir menjatuhkan gelas es susunya. Sebelum benar- benar melangkah pergi, Andra sempat menoleh ke arah Sesil dan tersenyum canggung.
Andra : "Makasih susunya."(sembari berlari)
Sesil : "Hati- hati, ndra". (sesil tersenyum)
Matanya mengikuti Andra yang tergesa berlari sambil membetulkan helmnya yang miring. Seperti anak baru dimarahi guru olahraga. Canggung, tapi tulus. Dan entah kenapa... Sesil mengganggap itu lucu.
Reno : "jangan kamu lihatin terus sil" (sambil memperhatikan Sesil melihat Andra)
Sesil : "gak kok no,, lucu aja dia lari ketakutan gitu"
Reno : "ya begitulah,, namanya juga baru, apalagi tadi dimarahi Mandor Guntur"
Sesil : "tapi sifat aslinya gmana no. ?"
Reno : "baik Sil,, setia kawan, dan berani juga"
Sesil : "jadi pengen dekat deh"
Reno : "Haha,, hahah,, hahah, ganjen kamu Sil"
Sesil : "gak kok no,, penasaran aja"
Reno : "sama gw lu gak penasaran. ?" (menaikan alisnya)
Sesil : " gak sama sekali,, makasi hahah"
Reno : "kurang ajar kamu,, hahah"
Reno : "ya udah gw istirahat dulu"
Sesil : "gak lembur kamu no.?" (tanya Sesil sambil membereskan gelas)
Reno : "gak Sil,, besok palingan lemburnya"
Reno melangkah pergi, menyisakan Sesil sendiri di warung kecil yang sudah sepi. Tapi matanya masih sesekali menoleh ke arah proyek. Ke arah Andra yang sudah mulai mendorong molen coran bersama tukang- tukang lainnya.