Langit sudah kehilangan warna. Di proyek, hanya lampu sorot di gantung dan bunyi molen tua yang terus menggerung seperti tenggorokan yang tak pernah kenyang.
Andra ditugaskan lembur. Gantian dengan beberapa buruh senior yang sudah kelelahan atau pura- pura sakit mencret. Jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Tubuhnya remuk, tapi ia menolak mundur. Baginya, kerja keras adalah satu- satunya jalan untuk dihargai.
Di sisi proyek belakang, Andra membantu tim kecil menuang cor untuk sloof yang telat digali. Di sekitarnya hanya tiga orang Bang Gito, tukang muda bernama Bayu, dan satu pria lain yang baru ia lihat malam ini, pendiam, wajahnya hampir tak terlihat karena tertutup buff.
Suara molen berhenti.
Bng Gito : “Ndra, kamu istirahat bentar. Gantian sama Bayu, kita istirahat dulu Ndra” ( kata Bang Gito sambil menghisap rokok ).
Andra mengangguk. Ia duduk di tumpukan bekisting yang belum terpasang, membuka helmnya dan mengelap wajah.
Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat ke arah belakang kontainer proyek tempat yang biasanya sepi, tapi kini tampak ada aktivitas.
Dua pria dari siang tadi yang berpakaian rapi berdiri di dekat pintu samping kontainer. Satu dari mereka membuka gembok dengan kunci sendiri, masuk dengan membawa senter kecil. Tak lama, dua pekerja lain datang membawa drum logam yang sebelumnya disimpan di situ.
Pintu dibuka sebentar. Andra tak melihat jelas, tapi sempat mencium bau menyengat. Bukan solar. Bukan oli. Sesuatu yang lebih tajam. Lebih... kimiawi.
Tiba- tiba seseorang menyentuh bahunya.
Reno : “Jangan liatin ke situ, Ndra,” ( bisik suara pelan ).
Andra menoleh. Reno.
Andra : “Lo ngapain di sini, No? Kirain gak lembur.”
Reno duduk di Andra dan bng Gito, suaranya tetap rendah.
Reno : “Gak Ndra,, gw gabut aja di bedeng, jadi ngelihatin lu..”
Andra menatap temannya sebentar, lalu menunduk.
Andra : “Itu... yang drum- drum tadi. Kayak bukan solar buat alat deh no.”
Reno : “Iya.” (Reno menjawab singkat).
Bng Gito : “Gak usah tanya- tanya Ndra. Yang nanya- nanya, biasanya besoknya udah gak kelihatan.” ( menyauti obrolan mereka )
Andra menelan ludah. Diam.
Bng Gito : “No Lu inget Pak Dion? Yang dulu ngajarin Lu motong besi pertama kali?”
Reno : (mengangguk)“Yang ramah itu, suka nyetel radio kan tok?”
Bng Gito : “Iya. Dia. Tiga minggu lalu dia liat sesuatu. Katanya sih, kontainer itu dipakai buat nyimpen yang bukan- bukan. Dia sempat ngomong ke gw juga. Dua hari kemudian... dia ‘pulang kampung’ katanya.”
Andra : “Beneran pulang bng. ?”
Bng Gito : “Entahlah Ndra. Nomornya mati. Gaji terakhir gak diambil.”
Mereka Hening sejenak.
Bng Gito : “Lu takut, Ndra?”
Andra menatap Reno.
Andra : “Takut. Tapi lebih takut kalau gue diem bng, dan gak tahu apa yang lagi gue injak setiap hari.”
Bng Gito : “Ya udah. Tapi pelan-pelan, Ndra. Dunia ini lebih dalam dari yang keliatan. Kita bukan cuma bawa semen. Kita bawa rahasia orang. Kalau salah langkah... bisa ketimbun coran sendiri.”
Reno : "penasaran boleh Ndra,, tapi jangan di urusin kerjan yang bukan kerjana kita"
Andra : "iya no,, iya bng Gito."
Ia berhenti penasaran tapi dalam hatinya, malam ini seperti membuka celah pertama dari lorong gelap yang tak pernah ia bayangkan.
Dan di antara suara molen yang kembali menderu, bau semen basah, dan lampu proyek yang berkelip ia tahu satu hal mulai malam ini, ia tidak bisa lagi berpura- pura.
Setelah coran selesai dituangkan menjelang tengah malam. Lampu sorot dimatikan satu per satu, dan suara molen yang sejak sore menggerung kupingnya kini berhenti total. Yang tersisa hanya suara angin, serak genset dari kejauhan, dan kaki- kaki lelah yang menyeret diri pulang ke bedeng untuk tidur.
Andra berjalan pelan ke bedeng pekerja, tubuhnya seperti digantung batu. Punggungnya sakit, kaki terasa berat, dan matanya nyaris tak bisa dibuka karena lelah.
Sebelum menuju bedeng, Andra menyempatkan diri ke kamar mandi umum. Sebenarnya lebih tepat disebut bak mandi terbuka, karena tak ada sekat, tak ada pintu, hanya dinding setinggi d**a yang mengelilingi bak beton memanjang seperti kolam ikan yang tak terurus.
Cahaya lampu neon yang menggantung di kabel tipis membuat semuanya terlihat pucat. Beberapa buruh sudah lebih dulu di sana ada yang sedang sabunan, ada yang cuma mengguyur badan sekali dua kali, lalu lanjut ngobrol sambil merokok dengan handuk dililit asal.
Airnya dingin. Selalu begitu, entah siang atau malam.
Andra berdiri di ujung bak, membuka bajunya perlahan. Rasa lengket di kulitnya sudah tak tertahankan. Ia mengambil gayung, menyendok air, dan mengguyur tubuhnya.
Byurrr…
Air menghantam kepala dan punggung seperti cambukan es. Nafasnya langsung tertahan.
bang Arul : “Kaget lu ya, Ndra!” ( salah satu buruh senang bercanda meski wajahnya seperti belum pernah tersenyum ).
Andra : “Biasa, Bang. Air proyek, rasa kutukan,” sahut Andra sambil menggigil.
Beberapa yang lain tertawa. Obrolan di sekelilingnya bercampur tentang kerjaan yang kurang beres, tentang mandor yang makin galak, sampai tentang Sesil, si penjaga warung.
tetapi Andra tidak terlalu menghiraukan obrolan tersebut. ia sangat capek dan ingin lansung tidur di bedeng, sehabis mandi Andra lansung ke bedeng untuk beristirahat.
Sampai di bedeng, Andra membuka pintu pelan. Bau keringat, debu, dan kaki yang sudah berhari- hari tak kena sabun langsung menyerbu hidungnya. Barak itu sempit, kayu- kayunya berderit tiap kali dipijak, dan hanya diterangi lampu bohlam redup yang bergoyang terkena angin malam.
Tempat tidur bukan ranjang. Hanya papan tripleks sempit beralaskan tikar tipis, dijejerkan tanpa sekat. Di beberapa sudut, ada kaki- kaki menggantung. Beberapa buruh tidur melintang, sebagian dengan tangan di atas kepala, sebagian lagi sudah ngorok seperti motor diesel mogok.
Andra menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur, melepas kaosnya, dan menarik napas panjang. Punggungnya menempel di papan keras, tapi tak ada yang lebih nikmat dari berbaring setelah kerja rodi. Ia memejamkan mata.
“KRRRRRHHHHKK…”
Satu suara ngorok dari arah kiri.
“HRRRGHH… kghhh… ffff… HRRGHH!!”
Suara balasan dari kanan.
Dengkuran bersahutan seperti orkestra, masing- masing punya irama sendiri, saling bersaing tanpa sadar.
Andra membuka satu mata, memutar tubuh ke kiri. Tidak nyaman. Ia membalik ke kanan. Lebih buruk. Di atasnya, ada suara kayu berbunyi setiap kali si penghuni di atas mengubah posisi.
Ia menutup telinga dengan handuk kecil. Tidak banyak membantu. Tapi ia pasrah. Di tempat ini, tidur bukan soal nyaman. Tidur adalah satu- satunya kemewahan yang bisa dicuri dari kerasnya hidup.
Perlahan, tubuhnya menyerah. Mata berat. Dengkuran yang tadi mengganggu mulai terdengar seperti latar belakang jauh seperti suara mesin proyek yang sudah terlalu akrab untuk dihindari.
Dan di antara lelah, suara dengkur, dan malam yang tak menawarkan ketenangan, Andra pun membayangkan domba melompat dan menghitungnya, hingga ia tertidur lelap. Dengan mimpi yang mulai gelap dengan cicak dan nyamuk yang berekosistem.