Jam sudah lewat pukul dua dini hari.
Andra terbangun. Bukan karena mimpi buruk, bukan karena suara ngorok. Tapi karena suara kecil yang aneh suara logam yang tergesek perlahan, seperti rantai diseret di atas tanah berpasir. Ia membuka matanya perlahan. Barak masih gelap, hanya satu sudut remang karena lampu dari luar menerobos lewat celah papan.
Suara dengkuran masih bersahutan. Tapi suara asing itu tetap terdengar, lebih jelas sekarang: “srek… srek… klik…”
Andra duduk pelan. Tak ingin membangunkan siapa pun. Ia menyingkapkan handuk kecil dari telinganya, lalu berdiri tanpa suara. Kakinya menyentuh lantai papan yang dingin dan berderit sedikit. Ia melangkah ke celah dinding barak salah satu papan di situ agak renggang, cukup untuk mengintip keluar.
Dari celah itu, ia melihat... kontainer kantor. Lampunya menyala samar. Padahal seharusnya sejak tengah malam semua sudah mati. Di dekat pintu belakang, tampak dua bayangan bergerak. Satu berdiri berjaga, satu lagi membongkar sesuatu dari kontainer sebelah kantor.
Andra menahan napas. Cahaya senter kecil menyinari sekejap. Sesuatu dibungkus plastik gelap. Bukan bahan proyek. Bukan peralatan proyek.
Gerakan mereka rapi. Seperti sudah dilakukan berulang kali. Tak ada suara percakapan. Hanya kode tangan. Satu dari mereka membuka bagian plastiknya. satu lagi nenyenteri dan melihat sekeliling.
Lalu, suara lain terdengar. Langkah kaki mendekat ke arah bedeng pekerja.
Andra langsung menjauh dari celah, kembali ke tempat tidurnya, pura-pura tidur. Ia menarik handuk ke wajah, tubuhnya menegang. Langkah kaki berhenti tepat di depan barak. Diam beberapa detik. Lalu berbalik pergi.
Andra menahan napas hingga detak jantungnya kembali melambat.
Ia tidak tahu siapa yang tadi berdiri di luar. Tapi ia yakin satu hal malam ini, sesuatu sedang dipindahkan. lalu di sembunyikan. Dan ia... hampir melihat terlalu banyak.
Di bedeng, suara ngorok kembali jadi latar belakang nada tempat tidur pekerja. Tapi kini, bunyinya terdengar lebih jauh. Lebih asing. Andra mencoba memejamkan mata lagi, tapi tidurnya tak lagi tenang.
Dalam kepalanya, domba- domba yang sempat ia hitung sebelum tidur... kini berubah jadi bayangan hitam. Melompat tanpa suara, tapi matanya merah menyala.
Dan cicak di langit- langit pun terasa seperti sedang mengawasinya sebelum dia tertidur lelap.
Pagi yang Tak Sama,, Suara ayam kampung dari kejauhan berbunyi dan diiringi bunyi mesin bor yang baru menyala membangunkan Andra.
Ia membuka mata perlahan. Tidur semalam seperti tidak benar- benar tidur. Tubuhnya berbaring, tapi pikirannya tetap terjaga. Bayangan dua orang tadi malam masih terpatri jelas di kepalanya. dan langkah kaki orang yang berhenti di depan barak.
Ia duduk, menggosok mata, lalu bangkit dengan malas. Reno sudah duduk di pojok barak, merokok sambil menggulung kaus kaki yang bau nauzubillah.
Reno : "Bangun juga lo," ( kata Reno tanpa menoleh).
Andra : "Nggak nyenyak tidur gue, No."
Reno : "Kebanyakan mikir atau kebanyakan liat Sesil?" (Reno menyeringai setengah malas).
Andra tidak menjawab. Ia mengambil handuk dan bersiap untuk cuci muka.
Andra : "No..." gumamnya.
Reno : (menoleh). "Hm?"
Andra : "Tadi malem gue bangun. Ada orang mencurigakan di belakang membuka kontainer."
Reno langsung diam. Asap rokoknya melambat keluar dari mulutnya. Ia menatap Andra.
Reno : "Lo yakin?"
Andra : "Gue liat. Dua orang. Bawa senter kecil. dan satu lagi gw gak tau dimana"
Reno menghela napas panjang. Ia berdiri dan menepuk bahu Andra.
Reno : "Ndra... ini proyek. Kadang, yang kita liat bukan cuma semen sama batu bata."
Andra : (mengerutkan dahi). "Maksud lo?"
Reno : "Maksud gue, ada hal- hal yang... mendingan lo pura- pura gak liat aja."
Andra : "Tapi kalo—"
Reno : "Ndra." (Reno memotong). "Lo baru. Baru numpang hidup di dunia ini. Jangan bikin urusan sama sesuatu yang bisa ngubur lo sebelum fondasi selesai dituang."
Andra terdiam. Ucapan Reno bukan main- main. Ada nada pengalaman dan rasa takut di baliknya.
Reno : "Sarapan, yuk,". (menghibur Andra).
setelah mencuci muka,, mereka keluar dari barak, berjalan ke arah warung Sesil.
Kabut pagi belum benar- benar hilang. Proyek mulai hidup lagi suara potongan besi, gerobak roda satu yang berderit, dan tukang- tukang menguap sambil membawa ember cor.
Sesil menyambut mereka dengan senyum seperti biasa.
Sesil : "Sarapan kah, b***k korporat ?" (sapanya sambil menuang kopi hitam ke gelas).
Reno : "Kopi dua, nasi goreng satu, Sil,"
Andra hanya tersenyum kecil. Matanya masih berat.
Sesil memperhatikan wajah Andra.
Sesil : "Kurang tidur Ndra.?"
Andra : (mengangguk pelan). "Tidur gue kemarin gak nyenyak ... banyak suara dengkuran."
Sesil : (tertawa kecil). " banyak pikiran kali..?"
Reno menimpali sambil mengunyah.
Reno : "Banyak suara esek- esek, Sil. Suara yang... gak semua orang bisa denger."
Sesil menoleh, tatapannya berubah sedikit lebih serius. Ia mendekat pelan, lalu menaruh secangkir kopi di depan Andra.
Sesil : "Kalau suatu hari kamu denger suara yang gak seharusnya, Ndra... pura- pura gak denger aja, ya."
Andra menatap Sesil.
Sesil tersenyum, tapi senyumnya terasa menggantung. Ada sesuatu yang ia tahu, tapi tak ia katakan.
Pagi itu, kopi terasa lebih pahit. Dan nasi goreng yang biasanya jadi penghibur, kini cuma makanan yang harus ditelan di tengah proyek yang pelan- pelan menunjukkan wajah aslinya.
Setelah makan pagi,, pagi berlalu seperti biasanya. Andra melihat adukan semen diangkut, bata dipasang, baja ditarik. Tapi ada sesuatu yang ganjil di hari itu Bang Gito tidak datang.
Biasanya, Bang Gito sudah datang paling awal. Dia tukang senior yang selalu cerewet soal level adukan dan posisi begisting. Suaranya yang keras sering terdengar dari ujung proyek ke ujung lain. Tapi hari ini, sunyi.
Andra : “Bang Gito kemana ya?” ( tanya Andra ke salah satu rekan).
Muji : “Gak tau Ndra. Gak nongol dari tadi,” (sahut seorang tukang bernama muji).
Muji : “Mungkin libur kali Ndra.".
Tapi Reno yang biasanya santai,, justru hari ini terlihat gelisah karena Gito tidak muncul. Ia diam lebih sering dari biasanya. tatapannya ke arah kontainer sebelah kantor dan ia terlihat curiga.
Siang itu, saat waktu istirahat, Reno duduk bersama Andra di bawah pohon pisang di belakang kontainer gudang, tempat biasa ia ngadem, kontener tersebut berjauhan dengan dua kontainer kantor dan kontainer sebelahnya kantor.
Reno : “Gue gak enak hati, Ndra, di kontainer sebelah kantor”(ucap Reno tiba- tiba).
Reno : “Soal Bang Gito?”
Andra : "Emang bng Gito kenapa no, apa hubungannya sama kontainer sebelah kantor..?"
Reno : "kan dia cerita semalam kalo Pak Dion itu cerita ke dia.."
Andra : "lalu masalahnya dimana no..?"
Reno : "kalo mengetahui cerita berbahaya yang mendengarkan jadi bahaya Ndra".
Andra merinding dan ia mulai was- was tetapi tetap penasaran. ada apa..? dan kenapa..?. dan ia mulai terbayang suara pengusik di kontener smalam.