Karena Jesslyn tidak bisa makan pedas. Apa Al yang melakukannya? Tapi kenapa? Bukannya Al mencintai Jesslyn? Sedangkan Al yang penasaran dengan keadaan Jesslyn langsung mengarah ke UKS. Di lihatnya Jesslyn yang terbaring lemah dengan bibir di kompres menggunakan kain. Rasanya dia ingin tertawa kuat melihat Jesslyn menderita begini. Dia harus merasakan sakit yang teramat atas pelampiasan orangtuanya. Dan inilah barulah awal. Masih ada rencana rencana lainnya yang akan menyusul mereka. Dan Al sendiri tidak akan sabar melakukan rencananya.
Jesslyn melenguh karena terbangun dan matanya menangkap Al yang sedang menatapnya dengan intens "Kau kesini?," tanya Jesslyn dengan nada yang sangat lirih dan terdengar pilu.
"Iya, bagaimana keadaanmu?" Al duduk di bangku ranjang Jesslyn kemudian mengusap rambut Jesslyn dengan lembut seakan ia khawatir pada Jesslyn. Acting, sepertinya Al bisa mendapatkan pengharagaan sebagai aktor terbaik. Aktingnya sangat bagus dan natural. Dia sangat jago.
"Iya, aku baik baik saja," jawab Jesslyn lemas. Perutnya sangat sakit dan tenggorokannya masih panas hingga sekarang. Dia tidak mau mengatakannya karena takut membuat Al merasa bersalah. Secara Al yang memberinya makanan. Walaupun ia sedikit curiga pada Al karena saat dia kepedasan tadi, Jesslyn sekilas melihat Al tersenyum puas. Mungkin dia salah paham karena kepedasan saja. Jadi pemikirannya menjadi salah pada kekasihnya. Al tidak mungkin begitu kan?
"Maafkan aku membuatmu sakit,"kata Al dengan aktingnya yang berwajah merasa bersalah.
"Tidak, aku tau kau pasti tidak sengaja meletakkan sausnya kan?"
"Iya, aku benar benar tidak tau kalau itu adalah saus cabai yang sangat pedas,"
"Aku mengerti. Karena kau sudah sangat lapar jadi tidak bisa membedakan mana sambal mana bukan ya kan? Akhirnya kau meletakkan sesuatu yang tidak seharusnya kau letakkan untukku," canda Jesslyn pada Al dengan tawanya. Gila! Bagaimana gadis ini tidak salah paham pada Al sekalipun. Setidaknya ia harus marah saat ini. Benar benar gadis yang mudah ditipu.
"Sepertinya aku makin menyukaimu." elus Al pada rambut Jesslyn. Jesslyn merona untuk kesekian kalinya. Al tersenyum secara tak sadar ia seperti merasakan kebahagiaan saat melihat Jesslyn merona malu karena dirinya. Harus di akuinya, senyuman Jesslyn sangat manis. Lesung pipi yang sangat dalam membuat gadis itu benar benar imut. Mungkin jika Jesslyn bukan mangsanya, ia kan jatuh cinta pada Jesslyn. Tapi apakah ada cinta di hati Al? Rasanya tak mungkin mengingatnya yang sangat tidak merasa berdosa setiap kali membunuh ataupun melakukan mutilasi pada korban-korbannya. Bahkan disaat jeritan-jeritan itu menggema memasuki indra pendengarannya, Al akan tersenyum puas dan bangga dengan kelakuannya. Jadi dia tak mungkin merasakan cinta yang merasuki pemikiran gilanya sekarang. Sepertinya dia akan mengambil job yang di berikan oleh Joshua padanya. Pemikirannya sekarang kacau karena gadis sialan ini. Bagaimana dia punya pemikiran gila dengan menanamkan rasa cinta padanya? Jesslyn memang mampu membuat pemikirannya tidak jernih dan kacau seperti sekarang.
“Aku juga menyukaimu Al. Jadi ku mohon jangan tinggalkan aku walau keadaan dari diriku yang mungkin sulit kau melihatnya. Tolong jangan lepaskan aku. Jika kau mau melepaskanku, tolong katakan padaku agar aku bisa bersiap siap. Agar aku tak kecewa,” ucap Jesslyn. Al langsung berdiri dan mengecup kening Jesslyn lama. Entah apa yang membuatnya ingin melakukan itu. Yang jelas, hatinya seperti sakit mendengar Jesslyn mengatakan itu.
Jesslyn pulang sekolah bersama dengan Al. Jerry sedang ada latihan basket siang ini. Maka dari itu Jesslyn bersama dengan Al. Setelah sampai rumah, Al pamit pulang. Jesslyn masuk ke rumah dan langsung ke kamarnya. Di hempaskan tubuhnya di kasur. Mengingat betapa khawatirnya Al padanya tadi. Jesslyn bangkit dan mengambil diary pink nya di meja belajar. Di bukanya diary tersebut dan ia menulis sesuatu yang sangat ia rasakan sekarang pada kekasihnya itu.
“Al, thank you and I really love you so much”
Jesslyn menutup diarynya. Meletakkan buku tersebut di dadanya. Ia tersenyum senang dan bahagia. Rasanya ia selalu tersenyum jika bersama Al. Sepertinya ia benar benar sudah suka pada pria itu. Walau sebenarnya ia sedikit ragu pada Al. pasalnya pria itu selalu menatapnya sarkas. Memang tidak sering. Tapi pernah Jesslyn tak sengaja melihat Al yang menatapnya dengan tatapan memangsa . Mungkin itu hanya prasangkanya saja atas trauma yang di deritanya. Jesslyn hanya paranoid ketika melihat hal semacam itu.
-/-
“Kau harus membunuh para manusia j*****m yang akan mendarat ke canda setelah ini, Al. Aku harap kau bisa membunuh mereka tanpa sisa. Aku mau mereka mati dengan mengenaskan,”
“Pemisi Joshua. Kau menyuruh aku yang bahkan menembak dengan sasaran yang tepat walau aku tak melihatnya secara utuh?” tanya Al dengan meminum cocktail pada mini bar Joshua.
“Ah, ayolah bung. Aku bahkan sudah seharusnya memberikan dirimu banyak pujian dan banyak penghargaan atas apa yang kau lakukan sekarang padaku dan pada perusahaanku. Aku sedikit heran juga, kenapa kau tidak melakukan penyekapan pada manusia k*****t yang menganggumu”
“Siapa maksudmu?” tanya Al dengan kepala dimiringkan dan alisnya yang di naikkan.
“Sean dari perusahaan tekstil terkenal itu. Aku tidak lupa bagaimana keluarganya sangat berpengaruh atas kematian orangtuamu. Aku yakin kau sudah melakukan pembunuhan dan pemboikotan perusahaannya. Namun dari yang ku dengar psycopath gila ini malah jatuh cinta pada adiknya Sean. Apakah kau gila?” ucap Joshua dengan nada meremehkan.
Al tertawa keras lalu kembali menyesap cocktailnya, “Aku bahkan sudah melakukan penyiksaan pada adiknya itu, aku berhubungan dengannya karena untuk mempermudah jalanku saja”
“Dude, Sean so smart. He must know you. Dia bukan manusia yang mudah di bohongi oleh orang lain. Apakah kau yakin kalau dia tidak melakukan background check padamu?”
Al hanya terdiam dengan lontaran yang di ajukan oleh Joshua. Dia juga berpikir demikian. Tidak mungkin Sean tidak melakukan background check terhadapnya sedangkan dia mendekati adiknya yang sangat polos dan bodoh itu. Sial, dia harus menghentikan rencana Sean yang akan menggagalkan seluruh rencananya. Karena dia sudah setengah jalan dan tak mungkin berhenti.
“Aku rasa kau telah kecolongan setelah melihat wajahmu yang sekarang menampakkan bahwa kau tengah di landa gelisah. Kenapa mudah sekali kau cerobohnya?”
“Aku lupa dengan Sean. Aku terlalu fokus dengan Jesslyn dan itu sangat ceroboh”
“Jesslyn cantik dan sangat manis. Kau pasti akan kehilangan fokus padanya,” Joshua tersenyum miring dan kemudian sedikit memajukan wajahnya dan berbisik,” Kau bosan? Berikan padaku”
BRAK
Suara gebrakan meja mampu membuat Joshua sedikit kaget namun ia beusaha biasa saja. Dia tau bahwa Al mudah sekali terpancing emosinya. Maka dari itu ia membuat pria itu emosi dengan perlahan dan ia akan tau bagaimana perasaan Al pada Jesslyn. Dan ternyata apa yang di pikirannya memang benar. Al menampik perasaan itu namun Joshua bisa melihat dengan jelas bagaimana nama gadis itu sudah menyusup perlahan ke dalam hatinya. Terlihat bagaimana Al membuat tato di telapak tangannya dan di bahunya dengan nama Jesslyn dan emotikon love.
“Jangan karena kau membiarkan kau bicara santai denganku kau berbicara dengan sialan begitu padaku. Jika kau mengatakannya lagi, aku jamin kau akan mati di tanganku sialan,” desis Al. emosinya memuncak dan mampu membuat Al ingin sekali membunuh orang lain.
“Santai, aku hanya bercanda,” kekeh Joshua dengan suara tertawanya yang manly.
“Aku tidak suka candaan murahmu itu!” desis Al sekali lagi namun sekarang dia sudah duduk. Entah kenapa ucapan dari Joshua mampu membuat emosinya naik. Dia menelan ludahnya lalu mengusak kepalanya dengan kasar. Dia sangat frustasi sekarang. Entah apa yang di pikirannya hingga ia ingin sekali memotong lidah Joshua sekarang. Dia mendapatkan Joshua tersenyum.
“Tenang! Aku tak ada niat menculik gadismu untuk kepuasan ranjangku. Lagipula, kenapa kau marah? Aku hanya memberikan candaan dan juga mengetes kejujuran yang ada pada dirimu”
“MAKSUDMU APA?! KAU MEMBUATKU INGIN MEMENGGAL KEPALAMU?!”
Joshua kembali tertawa dan mampu membuat Al semakin emosi. Dia memukul rahang Joshua dan mereka malah bertengkar dengan saling memukul satu sama lain. Seharusnya dia memang tidak usah memancing manusia dengan sumbu pendek seperti Al. Jadinya begini kan? Lelaki itu emosi dan membuat Joshua hampir tewas karena pukulan maut Al. dia mencoba menghentikannya dan Al juga langsung berhenti. Mereka menatap langit langit ruangan itu.
“Aku mencintai kekasihku yang hanya orang biasa dan tidak mempunyai keunggulan lainnya kecuali mulutnya yang sadis ketika berbicara. Aku mencintainya dan dia menyuruhku menjauhi dunia hitam yang aku jalani. Tapi aku tidak bisa. Dunia ini sudah menjadi duniaku. Namun di sisi lain aku merasa bodoh karena melepaskannya,” Joshua tersenyum pedih dengan air mata yang menggenang di pipinya, “Aku melepaskan dirinya dan membuat diriku menjaloani kekosongan karena kelakuan yang aku lakukan. Aku melepaskannya dan itu adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan. Aku kehilangannya karena aku merasa dunia hitam ini adalah duniaku. Padahal seharusnya aku paham, duniaku adalah dia. Jadi Al, jangan sampai kau merasa menyesal telah melepaskannya. Itu kelakuanmu dan itu akan membunuhmu. Dia duniamu dan bahagiamu”