Keesokan paginya, Sean melihat bibir Jesslyn yang masih merah."Kenapa dengan bibirmu Jes?! Apa yang kau makan?!" marahnya. Seperti biasa, ia overprotective pada adiknya. Jesslyn mengambil roti dan memakannya sambil menjelaskan pada Sean apa yang terjadi padanya.
"Aku makan mie di sekolah. Ternyata bibi kantin membuatnya terlalu pedas. Jadinya, aku makan mie tersebut dan lihatlah bibirku menjadi seksi begini," candanya. Itu tak berpengaruh bagi Sean. Ia merasa aneh dengan Jesslyn belakangan ini. Sepertinya adiknya itu sering celaka semenjak dekat dengan Al. Apa Al yang membuat ini semua?. Apa jangan-jangan bukan karena makanan. Tapi ciuman atau biasa di sebut first kiss? Dalam berhubungan. Tidak, Jesslyn-nya tak mungkin seperti itu. Adiknya ini sangat polos. Jauh dari hal yang seperti itu.
"Aku tidak mau tau. Jangan makan sembarangan lagi mengerti!" tegas Sean. Jesslyn hanya mengangguk lemah karena tatapan Sean sangat tajam seperti menusuk dan bahkan mengulitinya.
Hari ini Jerry mengajak Jesslyn pergi ke toko buku. Jesslyn memang sudah berjanji pada Jerry untuk menemaninya berbelanja buku. Ya, mereka sudah mau memasuki semester akhir. Tidak boleh lagi ada waktu santai dan bermain main. Jka Jesslyn bermain main, ia akan mendapatkan ceramah panjang yang akan memenuhi telinga gadis itu. Oh ayolah! Mana ada yang mau di ceramahi panjang bahkan karena hal sepele sekalipun. Ingat, Jesslyn hidup di antara pria possessive. Ia sangat kesal jika dua orang pria ini selalu melarangnya ini dan itu. Seperti siang ini, Jesslyn awalnya mau berjalan jalan dengan Al, tapi Sean tak memberikan izin dan malah menyuruhnya belajar. Lalu karena ia bosan, ia berjalan jalan dengan Jerry walau ke toko buku.
Kini Jesslyn tengah duduk di perpustakaan besar di kota Los Angels. Ia membaca buku mengenai musik sedangkan Jerry membaca buku mengenai arsitektur. Ya, Jesslyn menginginkan menjadi pianis terkenal dan bermain piano di hadapan semua orang. Tapi mungkin sedikit susah mengingat ketakutan Jesslyn pada semua orang belum hilang. Ia masih berusaha terapi dengan dokter Noel agar traumanya sembuh. Ia bertekad mau sembuh agar jika ia berjalan jalan dengan Al, ia tak memerlukan lagi yang namanya inhealer. Jadi Al tak perlu malu jika mereka date. Ngomong ngomong soal date, Jesslyn dan Al memang belum ngedate bersama. Apa tak salah jika kedua pasangan belum ada date kerika mereka berpasangan. Andai saja ia mempunyai kakak yang normal yang mau mem memberikan ia waktu untuk date, mungkin ia takkan sedih seperti ini. Bagaimana dia akan semakin dewasa kalau saja kakaknya selalu protective padanya.
“Kenapa?” tanya Jerry tanpa mengalihkan buku dari pandangannya. Ia melihat Jesslyn gelisah sembari melihat jam. Ya, Jerry tak tau saja bahwa kakaknya itu melarangnya untuk pergi. Ia langsung menyuruh Jerry mengajak Jesslyn pergi setelah mendengar Jesslyn mau pergi dengan Al. Sean seakan melarang Jesslyn untuk dewasa.
“Kau tidak suka pergi denganku?,” Jerry menanyakan kembali pada Jesslyn dengan wajah datar. Ia sebenarnya malas ke perpustakaan. Tapi karena Sean mengatakan bahwa ajak Jesslyn ke suatu tempat, jadinya Jerry mengajak Jesslyn ke perpustakaan. Ia tau bahwa Jesslyn akan pergi bersama dengan Al. Maka dari itu ia setuju untuk mengajak Jesslyn pergi. Daripada ia melihat Jesslyn bersama dengan Al. Lebih baik ia mengajak Jesslyn pergi. Setidaknya biarkan dia sesekali egois untuk melepas rasa rindunya pada Jesslyn. Sudah lama mereka tidak bersama.
“Bukan seperti itu,” segah Jesslyn. “Aku hanya sedang lapar sekarang,” alibi Jesslyn dengan tersenyum sembari memegang perutnya. Al menatap mata Jesslyn. Kemudian ia mengacak rambut panjang Jesslyn dengan gemas. Ia meletakkan buku di tempatnya kembali. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan mengajak Jesslyn ke mobil. Roda mobil melaju dengan kecepatan sedang. Jerry mengajak Jesslyn untuk makan siang di restoran sushi yang sering ia kunjungi. Jesslyn itu suka sekali dengan sushi. Bahkan ia akan menghabiskan seluruh sushi yang ada di hadapannya.mSesampainya di restoran, Jerry memarkiran mobilnya dan membukakan pintu untuk Jesslyn. Ia tau kalau Jesslyn akan melompat jika melihat restoran makanan yang sangat ia sukai itu. Bahkan ia akan menjerit dan mencubit lengan Jerry ketika ia merasakan nikmatnya sushi yang masuk ke dalam mulutnya. Dasar kecil kecil tapi rakus!. Badan kecil tapi kalau soal makan, jangan tanyakan keraguannya. Ia bahkan makan dua kali lipat di banding dengan Jerry jika di hadapkan dengan sushi. Bahkan ia akan bertengkar jika Jerry mengambil bagiannya.
“Enak kan?,” tanya Jerry yang melihat Jesslyn mengunyah sushi dengan lahap. Tanpa mempedulikan semua orang yang menatapnya seakan anak itu sangat rakus jika makan. Memang suasana di restoran itu tak ramai. Tapi ada beberapa orang yang melihat kea rah mereka seperti anak yang kekurangan makan.
“Tentu saja. Jangan meragukan sushi buatan uncle Dave. Aku bahkan ingin sekali ia memasakkan sushi untukku setiap saat,” ucap Jesslyn dengan masih mengunyah makanan
“Yasudah nikahi saja dia”
“Kau gila!. Mana mungkin aku menikahi pria yang sudah mempunyai anak dan istri. Bahkan 3 anak lagi” ucap Jesslyn dengan suara yang sangat menggebu-gebu seolah dia sangat kesal.
“Tapi kau mau ia memasakkanmu setiap saat,”
“Tapi bukan menjadi istrinya juga. Aku kan bisa datang kesini setiap hari. Dasar menyebalkan,” sungut Jesslyn dan mendapat cuitan di pipinya. Jerry sangat gemas ketika Jesslyn merajuk seperti ini. Ia sangat manis apalagi saat mempoutkan bibir mungilnya.
Jerry masih mencubit pipi Jesslyn dan Jesslyn pun membalas dengan menggigit tangan Jerry. Jerry meringis kesakitan dan kembali mencubit pipi Jesslyn dengan sangat gemas. Orang-orang yang ada disana bahkan tertawa melihat kegaduhan yang dilakukan oleh Jesslyn dan Jerry. Mereka seperti melihat drama yang menayangkan kisah friendzone. Ya kalau saja mereka tahu salah satunya korban friendzone, mereka pasti akan menertawainya. Jesslyn menjambak rambut Jerry sampai akhirnya tangan Jesslyn terperosot dan memposisikan badannya yang sangat dekat dengan Jerry. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Untung suasana di restoran tidak ramai dan mereka berdua duduk di paling pojok ruangan.Mata mereka masih terkunci satu sama lain. Menatap dengan manik mata yang sulit di artikan. Jesslyn bahkan tak sanggup menahan helaan nafas dari Jerry yang menyeruak ke lehernya. Jerry mendekatkan bibirnya dan hendak mencium Jesslyn. Mata Jesslyn pun tertutup secara otomatis tanpa di perintah. Namun tiba tiba suara berat membuat kegiatan yang mau mereka lakukan terhenti seketika.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Al dengan wajah datar. Jesslyn langsung berdiri tegak dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
“A- ak- aku sedang makan siang bersama Jerry,” jawab Jesslyn dengan sedikit terbata bata. Ia takut jika Al salah sangka padanya dan mengira ia telah berselingkuh denganv pria lain padahal mereka baru berhubungan hamper satu bulan. Tidak, ia tidak mau Al mengaggapnya begitu. Maka dari itu matanya mengkode pada Jerry yang tengah asyik makan agar menjelaskan pada Al apa yang sebenarnya terjadi.
Jerry menghela nafas berat dan menatap Al dengan tatapan datar, “Iya dia makan siang denganku. ada masalah denganmu?,” tanya Jerry dengan suara menantang. Jesslyn kemudian mengambil tasnya dan mengajak Al keluar dari restoran tersebut. Tak lupa ia mengatakan pada Jerry kalau ia akan pergi bersama Al. Jerry hanya mendengus kesal karena biar bagaimanapun mereka hanya bersahabat. Tidak mungkin Al melarang Jesslyn pergi dengan Al. Beginilah rasanya jika menyukai sahabat sendiri. Hanya akan tersakiti tanpa bisa mengobati sakit itu
Jesslyn mengenggam tangan Al yang sedikit mengeras. Bahkan terlihat otot otot pria itu seakan keluar dari tempatya. Jesslyn hanya bergidik ngeri melihat Al yang ia tak tau kenapa menjadi begini. Jesslyn menarik Al ke taman yang di belakang restoran. Di restoran ini memang terdapat taman yang sangat indah yang sering di kunjungi Jesslyn. Tau sendiri Jesslyn suka tanaman dan di taman juga ia takkan banyak melihat orang orang berlalu lalang sehingga ia tak perlu takut pada siapapun.
Setelah sampai di taman, Jesslyn segera mengajak Al duduk. Masih dengan wajah yang terlihat kesal, Jesslyn memegang tangan Al dan menatap kedua mata Al dengan pandangan sayup. Al yang melihat mata Jesslyn tiba tiba nafasnya tercekat. Ada apa dengannya daritadi?. Padahal awalnya ia hanya mau menyapa Jesslyn dan ingin meracuni makanan gadis tersebut dengan membawakan sushi yang baru Al pesan. Ya, Al memesan sushi tersebut dan meletakkan obat pencuci perut di dalamnya. Bahkan ia menambahkan zat kimia berbahaya di dalam makanan Jesslyn. Tapi itu tak jadi saat matanya melihat Jerry yang hendak mencium Jesslyn. Bagai lupa dengan rencananya, di jatuhkan piring tersebut dan menghampiri Jesslyn yang masih menutup matanya.Entah kenapa hati Al panas melihat mereka berdua. Mungkin karena Al tidak suka Jesslyn bahagia dan tersenyum maka dari itu ia marah dan ingin sekali mencaci maki. Tapi rasanya beda. Seperti ada yang mengganjal di hatinya dan membuat Al ingin sekali menusuk mata Jerry yang menatap Jesslyn untuk di jadikan meatball. Atau menjadikan tubuhnya yang tersentuh dengan Jesslyn menjadi makanan anjing di rumahnya. Sumpah demi Tuhan ia tak tau apa yang terjadi pada otaknya sekarang. Sepertinya ia harus melakukan ritualnya agar otaknya kembali jernih seperti sediakala.
“Kau kenapa? Ada apa sampai kau marah seperti ini?” tanya Jesslyn dengan lembut.
“Kau menyukai Jerry?,”tanya Al dengan wajah yang datar.
“Tidak, aku hanya menyukaimu Al,” ucap Jesslyn dengan nada yang agak kesal. Bagaimana pula Al selalu menanyakan hal yang sama berulang-ulang dan membuat Jesslyn suntuk mendengarnya. Kenapa dia bisa memberikan asumsi yang bahkan tidak pernah benar?