Jesslyn kembali merebahkan tubuhnya pada ranjang hangatnya. Kini matanya berpendar ke langit-langit kamar. Sepi dan sunyi. Sean sudah kembali masuk ke dalam kamarnya. Tadinya Sean ingin tidur di sini bersama dengan Jesslyn. Namun Jesslyn malas mendengarkan segala ocehan Sean nantinya. Dia ingin menikmati malam yang sunyi tanpa harus di paksa untuk tidur karena dia belum mengantuk sama sekali. Maka dari itu ia memilih sunyi yang menemaninya.
Segala ingatan dan memori buruk di masa lalu masih saja terngiang di kepalanya setelah pembicaraan panjang yang telah mereka katakan tadi. Jesslyn masih sangat membenci anak laki-laki yang sudah merusak kebahagiaan keluarga kecilnya. Seharusnya anak laki-laki itu saja yang mati agar Jesslyn tak perlu menemui namanya kesepian. Dia tidak perlu merasa iri pada orang-orang yang masih memiliki orangtua lengkap sedangkan dirinya tidak. Seharusnya ia masih bisa merasakan kenikmatan hangat pelukan kedua orangtuanya andai saja kejadian buruk di masa lalu tidak menerpa kehidupan mereka hingga mereka mengalami banyak kesulitan karenanya. Bagaimana mereka harus jatuh bangun menggapai segala impian tanpa orangtua.
Kerasnya hidup di masa lalu mampu memberikan trauma mendalam bagi Jesslyn. Ia selalu merasa di hantui dan selalu saja merasa ketakutan saat dirinya sendirian. Ingatan itu masih jelas tentang bagaimana cara anak kecil itu memutilasi ibunya. Wajahnya yang tampan dan imut tertutup oleh seringaian jahat yang berpendar di wajahnya. Jesslyn masih sangat takut dengan darah. Kadang ketika dia sedang mengalami bulanan yang sering di alami para wanita, ia akan menangis tersedu-sedu karena merasakan dadanya yang sesak dan kepalanya yang memberat akibat ia mengingat bagaimana anak lelaki itu menatap tajam padanya sambil membunuh orangtuanya. Jesslyn jelas sangat takut pada wajah itu dan ia harap ia takkan pernah bertemu lagi dengannya. Karena jika mereka bertemu lagi dan dia masih mengingat wajah Jesslyn, pasti dia akan di bunuh. Walau Sean akan siaga di dekatnya. Kemungkinan buruk pasti akan selalu ada.
BUGH
Suara lemparan yang sangat kuat itu membuat Jesslyn ketakutan. Dia merangkak ke ujung kepala kasur dan melilitkan tubuhnya dengan selimut biru mudanya. Tangannya bergetar karena sekali lagi temboknya di lempar dengan batu. Jesslyn yang semakin ketakutan langsung menghubungi Sean. Namun tak di angkat. Kemudian menelepon Jerry juga tidak di angkat. Jesslyn ingin lari namun kakinya sangat lemas sehingga ia hanya bisa pasrah agar suara itu dan orang yang melemparnya akan menghilang setelahnya. Namun suara itu tidak juga berhenti. Jesslyn memberanikan dirinya untuk melihat keluar. Dia perlahan melongokkan kepalanya dan melihat ada seseorang yang memakai pakaian serba hitam menghadap ke kamarnya. Jesslyn menarik nafas panjang karena dia ketakutan menatap mata pria yang sudah melihatnya dengan tatapan yang tajam. Walau wajah itu tertutup sepenuhnya oleh topeng hitam, Jesslyn bisa melihat mata itu seakan menyala saat melihatnya. Jesslyn langsung berlari ke ranjangnya. Dia sangat takut dan gemetaran saat melihat wajah itu. Kejadian di masa lalu menghampirinya seakan ia akan mati pada hari ini juga. Tangannya sudah gemetaran tak menentu. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya bahkan deru nafasnya sudah tak beraturan membuat kepalanya pusing seketika. Dia menangis karena memang belakangan ini perasaannya kacau. Dia selalu mendapatkan ancaman.
Tadi pagi bahkan ia sudah melihat ada banyak sekali surat kaleng yang tercecer di teras rumahnya. Jesslyn tau kalau sekarang dia sedang tidak aman. Maka dari itu ia ketakutan namun dia juga lupa tidak memberitahu Sean masalah yang ia hadapi sekarang.
Drrt
“Halo Al. Al aku sedang dalam masalah,” ucap Jesslyn dengan suara yang sangat bergetar takut.
“Maksudnya?” balas Al dengan nada yang snagat tenang jauh dari Jesslyn yang ketakutan.
“Ada yang melempar tembok kamarku dengan menggunakan batu. Al aku takut” lirih Jesslyn yang menangis dengan terisak. Tentu saja dia takut. Pria itu makin brutal melepmpar temboknya.
“Tenang. Aku akan kesana. Jangan kunci kamar mu agar mudah aku memasukinya”
Setelah itu panggilan langsung putus. Jesslyn kembali merasakan dadanya sesak. Kepalanya sekarang sangat pening dan bahkan pandangannya semakin menghitam. Ketakutan itu benar-benar membuatnya seakan sudah di jemput oleh malaikat maut secara paksa. Dia tidak mau meninggalkan semuanya dengan cara begini. Dia harus tetap hidup untuk kebahagiaannya. Mata Jesslyn membulat saat ia melihat pemuda yang baru saja ia telepon langsung masuk ke kamarnya. Dia langsung berlari memeluk Al sampai pemuda itu kelimpungan dan mereka jatuh di atas kasur dengan Al yang berada di bawahnya. Jesslyn menangis meraung-raung dengan pelukan yang semakin kuat. Dia merasa aman sekarang karena Al berada di sisinya.
“Hei, sudah aku ada disini. Kenapa masih saja menangis hm?” ucap Al sambil menyelipkan rambut Jesslyn yang masih setia dengan suara isakannya. Bahkan nafasnya sudah tak beraturan.
“Aku takut. Hiks aku takut kejadian dulu terulang lagi padaku. Tolong lindungi aku Al, ” ucap Jesslyn. Al meringis pelan. Jesslyn bodoh yang malang. Dia tidak tau bahwa malaikat maut yang membunuh kedua orangtuanya sekarang sedang ia peluk dan mintai pertolongan.
“Sudahlah jangan menangis lagi. Aku sudah ada disini dan kau akan aman bersamaku” kata Al. Jesslyn menganggukkan kepalanya. Wajahnya masih saja menampakkan kesedihan. Namun tangisannya sudah lumayan reda dan Al merasa sangat lega. Dia lelah dengan segala tangisan yang di lakukan para manusia ini. Kenapa mereka harus menangis setiap saat? Melelahkan.
“Aku baru saja pergi. Kenapa bisa-bisanya kau langsung ada yang menyerang begini?”
“Aku tidak tau. Awalnya aku hanya membaca buku di sini namun suara itu tiba-tiba datang dan membuatku ketakutan. Aku hendak menelepon Sean namun kau langsung meneleponku dan aku meminta kau kesini.” Jesslyn mendongakkan kepalanya, “Al aku minta maaf merepotkanmu”
Al tersenyum sangat manis dan membuat Jesslyn meleleh. “Aku tidak merasa di repotkan”
“Terima kasih kalau begitu” ucap Jesslyn dengan lirih. Kini nafasnya sudah lumayan bisa di atur dengan tenang. Walau tangan dan kakinya masih gemetaran, namun Jesslyn berusaha menghilangkan rasa gemetar itu. Dia terus menenangkan dirinya sambil mengatur dirinya .Mereka berpelukan dan hanya ada diam yang menyergap keduanya. Jesslyn merasakan kenyamanan dalam pelukan kekasihnya. Ia merasa kalau dunia tidak akan menyakitinya sekarang. Karena Al pasti akan menghukum orang-orang yang akan melukainya. Dia akan tetap aman dengan Al. seperti itulah pikirannya sekarang. Al adalah pahlwannya.
“Kenapa jam segini masih bangun? Seharusnya kau sudah tidur. Ini hampir pagi sayang”
“Aku dudah berusaha tidur namun tadi kami membicarakan hal random dengan Sean”
“Membicarakan apa? Sesuatu hal yang penting?”
Jesslyn tertawa pelan, “Tidak, hanya membicarakan masa kecil saat semua kebahagiaan kami masih utuh. Di saat aku masih bisa tertawa dengan kedua orang tua ku dan berlibur bersama” ucap Jesslyn dnegan nada yang terdengar pilu dan menyakitkan. Al hanya menatap datar langit- langit kamar Jesslyn dengan pikiran kosong. Seakan ucapan Jesslyn tadi adalah kiasan saja.
“Al, apa kau sering merindukan kedua orang tua mu?” tanya Jesslyn saat mereka diam saja.
“Hm, sering sekali. Apalagi kalau malam. Aku selalu teringat mereka”
“Apakah Tuhan begitu egois hingga mengambil orangtua kita Al? Aku bahkan tidak menyangka kalau aku akan menjadi yatim-piatu di usia dini. Dan aku tidak menyangka juga orangtua ku meninggal karena di bunuh oleh anak kecil yang sangat jahat sekali” lirih Jesslyn.
Al kembali di selimuti oleh diam dan hanya suara helaan nafas dan detik jam dinding yang menyergap telinganya. Dia tadi hanya ingin meneror Jesslyn agar gadis itu stres dan depresi. Kenapa jadi dia yang stres dengan pertanyaan yang menghinggap di pikirannnya karena ulah Jesslyn?