Jesslyn tengah membuka laptopnya. Ia tengah mengerjakan jawaban untuk beberapa soal yang akan ia berikan pada gurunya. Soal-soal yang kata Zee sangat sulit. Bahkan daritadi gadis itu tak henti mengoceh banyak tentang betapa kesalnya dirinya karena banyak yang tidak ia pahami.
"I'm really going to pull out my hair this way! How can he give me so many questions to make me nauseous ?!" ucapnya yang tak sudah-sudah marah kepada banyaknya lembar jawaban.
“Ayolah! Kau harus semangat. Kakakku suka sekali dengan gadis yang pintar”
“Are yous seriously?! Kau kira aku sangat pintar hingga paham semua materi yang di berikan oleh pria tua itu?! Aku bahkan sudah muak dan akan menatap foto kakakmu saja sekarang”
“Hei! Kau bahkan dekat dengan si es batu Mike. Kenapa tidak minta dia saja?”
“Si es batu itu hanya akan mendiamkan diriku karena aku banyak bicara. Huh menyebalkan” ucapnya yang kembali membuat Jesslyn tertawa. Mereka hanya teleponan. Tapi dari suara itu saja Jesslyn mampu membayangkan bagaimana wajah sahabatnya itu sekarang. Pasti dia tengah memutar bola matanya lalu memajukan bibirnya yang katanya sangat seksi dan mampu membuat siapapun akan terpesona dan tertarik padanya. Jesslyn sangat paham dengan Zee. Lagipula gadis ini bukannya meminta bantuan pada sahabat masa kecilnya Mike. Malah hanya diam dan menelepon Jesslyn juga menanyakan sedang apa Sean. Memang sangat aneh sekali dia.
Jesslyn kembali membaca bukunya dengan Zee yang terus mengumpat di seberang sana. Jesslyn hanya tertawa mendengarnya. Entah apa saja yang di lakukan gadis itu. Dari suara keripik yang tengah di buka, suara botol soda, umpatan-umpatan yang takkan pernah tinggal, dan banyak lainnya. Bahkan Jesslyn meyakinkan kalau gadis itu hanya akan banyak umpatan daripada jawaban yang akan ia tulis. Memang kelakuannya sangat ajaib sekali. Persis seperti sepupunya.
“ARGHHHH!! TOLONG KATAKAN PADA SEAN AKU INGIN DIA MENIKAHIKU! AKU SUDAH TIDAK TAHAN DENGAN RUMUSAN YANG SEKARANG INI!”
“Setidaknya kerjakan walau hanya satu atau dua daripada kau hanya mengumpat Zee”
Zee yang di seberang sana melotot tajam. Matanya bahkan bisa saja mencelat dari tempatnya kalau saja ia lupa berkedip. Suara di seberang sana bukanlah suara Jesslyn melainkan suara Sean yang sekarang tengah menertawakannya. Zee sudah tidak punya muka sekarang. Dia sudah kepalang malu lalu menutup panggilan secara sepihak dari seberang sana. Sean yang mengetahuinya hanya tertawa pelan dengan kelakuan gadis yang menjadi sahabat adiknya itu. Bahkan dia tak henti tertawa dengan pesan masuk yang tak lama di kirimkan oleh Zee.
Aku akan menenggelamkan kepalaku sebentar untuk menghilangkan ingatanku. Aku mohon padamu selama itu aku harap kau tetap makan dengan rajin karena aku akan marah.
Begitulah isi dari pesan yang di kirimkan oleh Zee. Sean tertawa kembali dan membuat Jesslyn ikut tersenyum melihat kakaknya yang tertawa lepas setelah sekian lama lelaki itu lebih memilih untuk menjadi pribadi yang tertutup dan tak mau di singgahi oleh siapapun. Termasuk dengan pasangan yang akan menemaninya. Fokusnya hanya pada Jesslyn dan itu membuat Jesslyn merasa bahwa dia telah gagal menjadi adik yang baik yang bisa membanggakan kakanya. Dia hanya bisa sakit-sakitan dan menangis. Dia hanya bisa membuat Sean kesulitan. Dan sekarang, secara perlahan ia akan membuat Sean membuka hatinya pada yang lain.
“Aku hanya aneh saja dengan tingkahnya. Dia sangat lucu”
“Kenapa tidak menyukainya saja? Kau bisa saja menyukainya dan kau takkan kesepian”
Sean terdiam dan menatap Jesslyn lamat, “Apakah kau berniat meninggalkanku, Jes?”
“Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?”
“Aku kira kau mengatakannya karena kau sudah punya kekasih dan tidak mau di jaga olehku”
“Apa yang kau katakan? Bagaimana bisa kau mempunyai pemikiran yang seperti itu?”
“Ya bisa saja kan kau sudah memiliki kekasih dan tidak mau di jaga olehku lagi maka dari itu kau menyuruhku memiliki kekasih dan kau akan bebas dengan pacarmu yang sangat jelek itu”
Jesslyn tertawa ringan mendengarkan apa yang di katakan oleh kakaknya itu. Sudah jelas Sean cemburu pada Al dan menjadikan pria itu cemberut bahkan dari kemarin. Biasanya kalau Sean keluar kota atau bekerja, pria itu akan menyempatkan menelepon Jesslyn. Namun belakangan ini pria itu tidak melakukannya. Bagaimana melakukannya, Jesslyn saja selalu menelepon Al sampai berjam-jam dan membuat Sean semakin emosi. Sean menjadi cemburu karena itu.
“Hei,” Jesslyn mendekati Sean dan merangkum wajah pria itu, “Apakah kau tau, di bandingkan dengan Al, aku sangat menyayangimu. Lebih dari apapun di dunia ini, kau adalah yang pertama Sean. Hanya kau yang ada di hidupku di saat kita banyak melewati kesulitan. Kau kakak terbaik yang menjagaku. Kau yang selalu memelukku di saat mama tidak bisa lagi memelukku. Kau yang memberikan banyak hal untukku di saat papa sudah tidak bisa lagi melakukannya. Dan walaupun aku mendapatkan pangeran dari negeri manapun, kau adalah satu-satunya yang bertahta di hatiku karena kau lah keluarga yang aku punya di dunia ini. Maafkan adikmu yang selalu menyulitkanmu. Aku akan menjadi adik yang baik dan kuat nantinya,” ujar Jesslyn pelan.
Sean tersenyum lalu mencium tangan Jesslyn yang masih di pipinya. Menjadi kakak sekaligus orangtua memang bukanlah perkara yang sangat muda. Mengorbankan waktu dan tenaga hanya untuk Jesslyn sang adik yang ia harap tidak akan merasakan yang namanya sepi ketika mereka hnaya berdua saling menguatkan. Bagaimana terkadang hidup tak menyenangkan namun Sean sembunyikan dari Jesslyn karena dia tidak mau adiknya tau betapa kejamnya dunia yang hendak ingin ia datangi. Sean tidak akan membiarkan Jesslyn mengalami banyak kesulitan karenanya. Ia tidak mau adiknya merasakan bahwa dia hanya di dunia ini sendirian. Dan Sean berusaha semaksimal mungkin agar kejadian itu tak terjadi pada adiknya. Dia tidak akan membiarkannya.
“Aku tidak tau kalau nanti kau lebih dewasa dan mengatakan padaku bahwa kau akan menikah. Ku rasa aku akan menangis dan tidak mau keluar rumah juga tidak mau kemana-mana karena peri kecilku akan di ambil orang lain. Peri kecilku yang imut dan sangat ku sayangi ini akan memilih kehidupannya yang lebih baik bersama kekasihnya yang tercinta. Sial, membayangkannya saja membuat diriku sedih dan sakit. Hanya kau Jes yang aku punya di dunia ini. Kalau kau pergi aku dengan siapa? Kalau kau menikah aku akan bagaimana? Kalau kau jarang menemuiku karena kau mengurus suami dan anak-anakmu kelak apakah kau akan menyempatkan diri melihat diriku? Aku berpikir jauh karena aku takut kehilanganmu” Jesslyn yang mendengarnya menitikkan air matanya dan langsung memeluk Sean sangat erat. Ia lepaskan semua rasanya pada pelukan yang sangat kokoh namun hangat di saat bersamaan. Baru kali ini Sean menumpaskan segala keluh kesahnya pada Jesslyn. Biasanya dia hanya akan memeluknya dan menciumnya. Sean memiliki pribadi yang lebih banyak aksi daripada kata-kata. Maka dari itu ia ingin sekali membuat Sean nyaman bicara dengannya dan bisa mengandalkannya dalam situasi apapun. Ia hanya ingin Sean tau bahwa adik kecilnya ini sudah besar dan Sean sudah bisa memberikan lelahnya sesekali pada Jesslyn.
“Aku bahkan tidak pernah berpikir bahwa meninggalkanmu adalah pilihan yang tepat. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku bisa melalukan apapaun tanpa ada dirimu. Lalu bagaimana bisa kau berpikir sejauh itu dan mengatakan bahwa aku akan melupakanmu ketika aku harus hidup dengan keluarga kecilku kelak?” ungkap Jesslyn, “Sean, kau adalah pemilik hatiku yang pertama. Selebihnya mereka adalah orang yang bisa datang dan pergi sesuka mereka. Namun kau, akui yakin dengan sepenuh hatiku kau tidak akan meninggalkan diriku sampai kapanpun dan dalam keadaan apapun. Jadi, hilangkan pikiranmu itu karena aku tidak akan pernah melakukannya”
Sean tersenyum lebar. Ia makin mengeratkan pelukannya pada sang adik. Kemudian membawa adiknya tidur di ranjang besar milik Jesslyn. Mereka berpelukan sambil mengingat bagaimana dulu mereka sulit untuk hidup. Bagaimana dulu Sean harus menenangkan Jesslyn karena Jesslyn yang selalu menangis dan rewel. Mereka memiliki saudara dari pihak mama dan papa. Namun, mereka tidak bisa bergantung pada saudara mama ataupun papa karena mereka tidak terlalu dekat dengan mereka. Dan Sean membuktikan kalau mereka bisa hidup dengan baik walau di asuh oleh perawat yang menjaga mereka. Sean menjadi CEO yang sangat berpengaruh di dunia dan membuka cabang di seluruh dunia. Mereka bisa hidup dengan sukses namun tidak dengan bagaimana mereka hidup dengan kesepian yang selalu saja mendera sanubari mereka. Jesslyn dulu sering sakit dan ia selau menangis saat semua teman-temannya di jemput oleh orangtuanya sedangkan dia tidak. Dia selalu menangis karena para anak-anak akan menjahili dan mencaci makinya ketika dia kecil. Itu berpengaruh pada psikis Jesslyn juga. Dia berhenti sekolah dan menjalani home schooling. Hingga SMA Jerry mengatakan akan menjaga Jesslyn dan menjadi sahabat yang baik agar Jesslyn bisa merasakan sekolah yang sesungguhnya.
“Aku lebih suka kau dengan Jerry daripada Al. Jerry sangat bertanggung jawab dan memiliki pengertian yang tinggi. Kalau Al kulihat sangat urakan” ucapnya dengan nada sarkastik.
“Aku lebih suka kau dengan Zee daripada kau dekat dengan Irene”
“Hei! Aku bahkan tidak dekat dengannya. Aku hanya bekerja biasa dengannya”
Jesslyn hanya diam namun Sean langsung bereaksi mencium pipi Jesslyn sampai gadis itu marah dan memukul kepala Sean. Dan tak lupa juga Sean menggelitiki Jesslyn tepat di area pinggang yang sangat sensitive sekali. Jesslyn menggeliat kesana kemari seperti cacing kepanasan sedangkan Sean semakin semangat menggeletiki Jesslyn. Mereka tertawa mengisi sepi.