Mata Jesslyn melihat kembali bagaimana Al seakan mengejeknya dan megatakan hal yang membuatnya kesal. Namun ia menahannya karena ia tak mau menjadi pusat perhatian lagi seperti tadi. Sudah cukup perlakuan yang tadi ia dapatkan dari banyak orang. Dia tak mau mendapatkan tatapan yang membuatnya bisa saja pingsan di tempat karenanya. Dia tak ingin cari ribut saja.
Pelajaran olahraga membuka pagi mereka. Mr Harry masuk dan menyuruh semua murid mengganti baju olahraga. Semua murid mengganti baju mereka terkecuali Jesslyn. Ia mengarah ke ruang musik dan bermain piano di sana. Karena suatu hal yang membuatnya tak bisa mengikuti pelajaran yang sebenarnya sangat ia sukai. Jesslyn tidak bisa terkena sinar matahari terlalu lama. Dia berbeda, kulit putih pucat dan mata berwarna abu abu menjadi berbeda dengan yang lainnya. Bahkan saat SD ia home schooling. Sampai saat SMP, ia belajar untuk terkena sinar matahari. Tapi penyakitnya itu hanya dapat bertahan beberapa menit saja. Kemudian ia akan pingsan jika 30 menit terkena sinar matahari.
Jesslyn memainkan tuts pianonya. Lagu Perfect- Ed Sheeran menjadi pilihannya untuk di mainkan. Suara piano yang sangat indah terdengar mengalun saat tutsnya di sentuh dengan lihai oleh Jesslyn. Tiba tiba ia teringat kenangannya saat bersama mamanya dulu.
Gadis kecil yang tengah bermain piano bersama ibunya di ruang tamu. Dengan lihai ibunya mengajarkan sang putri bermain piano. Dan putrinya mendengarkan dengan saksama.
"Ma,kalau Jesslyn sudah besar, Jesslyn mau seperti mama ya," seru gadis yang berumur 6 tahun itu. Di samping ibunya yang sangat cantik berumur 27 tahun.
"Iya sayang, nanti kalau kamu sudah besar dan jadi pianis terkenal, jangan lupa sama hal yang mama ajari," mamanya mengelus kepala Jesslyn lembut."Jangan pernah menutup mata dan hati ketika kamu bermain musik. Gunakan hati ketika mengalunkan melodi yang di ciptakan," seru Jesslyn mengulang perkataan sang mama setiap ia bermain piano.
"Anak pintar," Mamanya mengelus rambut Jesslyn."Dan jangan lupakan perasaan akan membuat hidup musik yang kamu alunkan."
" Siap mamanya Jesslyn yang cantik," Jawab Jesslyn dengan senyuman sumringah.
Jesslyn tersenyum ketika mengingat kejadian dulu. Perkataan mamanya membuat Jesslyn semangat untuk bermain piano. Ketika ia sendiri hampir tidak bisa berdiri karena sumber kebahagiannya di rebut paksa oleh Tuhan. Setelah memainkan lagunya, suara tepukan tangan keluar dari arah belakang Jesslyn mengagetkannya.
"Perfect," seru laki laki itu yang tak lain adalah Al. Pria itu menatap mata Jesslyn dengan sangat intens. Kemudian tersenyum dan mengelus surai cokelat gadis tersebut. Darimana mucul keberanian Al mengelus rambutnya, pikir Jesslyn.
"Emm k- kau sedang a-apa?. Bukannya ini pelajaran olahraga ya?," tanyanya gugup tanpa menatap mata Al. Jantungnya tak bisa berdetak normal. Bahkan nafasnya saja seperti tercekat.
"Aku sedang malas," Al melepas tangannya dari rambut Jesslyn. "Waktu mau keluar, aku melihatmu ke ruang musik bukannya ke lapangan. Jadi aku mengikutimu," tambahnya.
"Haha iya, aku tidak bisa berolahraga karena sesuatu"
"Kenapa?"
"Emm saat aku kecil, aku tidak bisa keluar rumah. Kau tidak lihat warna kulitku berbeda. Bahkan warna rambutku putih ke abu abuan," jelas Jesslyn sembari menunjuk apa yang di katakannya.
"Kenapa bisa begitu?"
"Aku terkena suatu kelainan yang menyebabkanku tidak terlalu bisa terkena paparan sinar matahari. Maka dari itu aku tidak bisa olahraga atau mengikuti kegiatan outdoor," gamblangnya. Jesslyn merasa aneh kenapa ia menceritakan masalahnya pada orang lain. Biasanya Jesslyn akan merasa takut jika di ajak bicara oleh orang asing. Tapi ini, ia bisa menceritakan penyakitnya pada orang lain selain Kakaknya, Jerry, Zee dan Mike.
"Ohh, kasihan," ucapnya tapi dalam hati Al, dia menertawai gadis itu. Memang pantas ia mendapat penyakit tersebut. Seharusnya Tuhan mencabut nyawanya saja dari dulu. Oh mungkin Tuhan mau Al yang mencabut nyawa gadis polos ini, pikirnya.
"Padahal aku ingin sekali normal seperti orang lain," Jesslyn menampakkan wajah muramnya. Mengingat ia memang tak normal dari remaja lainnya. Al yang menyadari perubahan wajah Jesslyn hanya mendengus melihat anak dari pembunuh ternyata polos. Berarti mudah untuk menyiksa gadis ini. Hanya perlu pendekatan saja. Kemudian menghancurkannya. Astaga! Tangan Al gatal seakan ingin sekali mencabik wajah lembut itu.
"Maukah kau mengajakku berjalan jalan?," tanya Al memecah keheningan mereka. Jesslyn kaget dan menganga tak percaya. Al mengajaknya jalan? That's really?
"Kemana?"
"Ketempat yang kau suka setelah pulang sekolah," ucap Al. Jesslyn menimang nimang pemikirannya. Dia masih aneh dengan perasaan nyamannya pada orang. Trauma masih menyelimutinya kala dekat dengan orang lain. Tapi saat bersama Al, entah mengapa ia tak merasakan ketakutan. Malahan tenang dan nyaman. Apakah penyakitnya sudah sembuh?.
"Bagaimana?," tanya Al lagi. Akhirnya ia mengangguk setuju dan mengajak Al ke tempat yang ia sukai. Tapi sebelum itu ia harus berhadapan dengan Jerry. Sang sahabat protective. Alasan apa yang bisa di gunakan untuk pergi bersama Al?.
Setelah lonceng berbunyi, semua murid keluar dari kelas. Jesslyn yang sudah di tunggui oleh Jerry di depan pintu menggigit bibir bawahnya untuk memikirkan alasan apa yang bisa ia gunakan. Masih dengan wajah yang sedikit lesu, Jesslyn mengarah pada Jerry yang menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Ada apa? Daritadi ku lihat kau gelisah," tanya Jerry mengusap wajah lembut Jeslyn. Ia menangkup pipi Jesslyn Dan merapikan anak rambut yang menutupi wajah imut Jesslyn. Demi Tuhan, Jesslyn sangat cantik bila di lihat sedekat ini. Bagaimana mungkin Jerry tak menyukai sahabatanya ini. Wajah polos dan imut selalu membuat Jerry jatuh setiap harinya pada Jesslyn.
"Emm tidak apa apa," Jesslyn menarik nafas panjang. Tapi tiba tiba ada junior Jerry di basket memanggilnya dan menyuruh Jerry ke lapangan. Jerry menatap Jesslyn, bagaimana mengantar Jesslyn pulang. Seperti tahu tatapannya, Jesslyn tersenyum.
"Tidak apa apa, aku bisa pulang naik taksi,"
"Yakin?"
"Iya, kau tidak usah khawatir," akhirnya Jerry tersenyum dan beralih ke lapangan. Baguslah, setidaknya otak Jesslyn tidak hangus untuk memikirkan alasannya pada Jerry. Ia menghela nafas dan melangkahkan kakinya mencari Al.
Jesslyn mengarah ke tempat parkir. Di sana sudah ada Al yang menunggu di motornya. Al memberi helm pada Jesslyn dan langsung mengarah ke tempat tujuan. Sesampainya disana, Jesslyn di gandeng tangannya oleh Al. Ia hanya merona saja mendapat perlakuan dari Al.
"Tempat apa ini?," tanya Al mengedarkan pandangannya. Bunga bunga yang mekar dengan indah, pohon yang rindang dan udara yang menyejukkan membuatnya sedikit tenang.
"Indah bukan?," tanya Jesslyn dengan senyuman sumringah. Membuat Al tertegun karena senyuman Jesslyn sangat manis menurutnya. Tapi tenang, senyuman itu akan hilang. Tunggu beberapa bulan atau hari saja. Senyuman itu akan mengeluarkan melodi yang benar benar sangat indah untuk di dengar oleh Al.
"Indah,"Al menghela nafas dan duduk di samping Jesslyn."Kau sering kesini?," tanya Al.
"Iya, aku sering kesini saat merasa sedih. Karena tempat ini menenangkan pikiranku," jeda Jesslyn. " Emm Al apa kau pernah jatuh cinta?," tanya Jesslyn tiba tiba. Entah ada apa ia seperti ingin tau tentang pria di depannya ini. Rasa penasaran dan senang datang bersamaan saat dengan Al. Ia juga ingin tau perasaan Al padanya. Ia takut kalau memang ia jatuh cinta jangan sampai sendirian. Harus timbal balik bukan?.
"Belum"
"Kenapa?"
"Karena perasaanku telah mati," tegas Al dengan tatapan sarkas ke Jesslyn yang tengah menatap ke depan yang tertanam banyak bunga di sana.
Karena keluarga bodohmu itu yang menghancurkan hidupku ,Jesslyn.
"Apakah kau tau? Perasaan tidak bisa mati. Kau bisa menghidupkannya kembali dengan cinta yang kau buat untuk seseorang," jelas Jesslyn dengan menatap hamparan indah di matanya.
"Kalau begitu, kau mau mencoba jatuh cinta padaku?,"