Bulan Desember adalah bulan yang di sukai oleh Jesslyn. Di karenakan musim salju yang menjadi penyebabnya. Hanya di musim salju ia bisa dengan bebas bermain di luar. Karena orang orang jarang yang mau keluar jika salju turun. Banyak es, dingin dan membuat semua orang kesusahan. Tapi tidak dengan Jesslyn. Gadis ini akan lebih leluasa bermain di luar tanpa melihat orang orang yang banyak ataupun asing baginya. Biasanya dia akan keluar bersama Sean atau sahabatnya. Tapi sekarang ia harus di dalam kamar dan tak bisa keluar karena alerginya yang masih sakit. Wajahnya masih sangat pucat dan luka di tubuhnya masih belum sembuh.
Ia benci saat dimana dirinya tak bisa melakukan apapun. Maka dari itu, ia memaksa sekolah walau masih sakit. Tapi ia tak akan lolos dari ceramah Sean terlebih dahulu. Pria itu benar benar sangat protective jika menyangkut dengan Jesslyn. Bahkan dulu waktu Jesslyn SD, Jerry meninggalkan Jesslyn di sekolah sendirian. Jesslyn pulang dengan jalan kaki sambil menangis. Dan Sean marah pada Jerry karena tak bisa menjaga Jesslyn.
Sesampainya di sekolah, Jesslyn turun dari mobil setelah tak melewati kesempatan omelan panjang dari Sean. Jesslyn menghela nafas ketika bel sekolah telah berbunyi. Setidaknya ia takkan mendengarkan omelan Sean yang berkepanjangan. Jesslyn masuk ke kelasnya. Tak sabar menjumpai Al.
"Hei kau sekolah?," tanya Zee. Dia tau karena Sean meneleponnya untuk menemani Jesslyn. Di sebabkan ia harus meeting mendadak di kantornya. Dan ia meminta tolong pada gadis yang katanya menyukainya itu. Zee ya senang karena dapat merawat calon ‘adik ipar;nya. Sebenarnya Zee sudah menyukai Sean dari awal ia dan Jesslyn masuk sekolah. Tapi Sean yang kaku dan cool takkan peka dengan kode yang di berikan Zee. Tidak jauh beda dengan sang adik.
"Iya aku bosan di rumah selama 2 hari ini," jawabnya dan duduk di bangku yang sudah ada Jerry disana. Semakin hari Jerry seakan menjauh darinya dan ia tak tau mengapa. Apa karena Jerry melihat Jesslyn yang sudah sering bersama dengan Al daripada dirinya?. Sebenarnya ia tidak suka situasi dimana Jerry harus menjauh seperti ini. Bahkan omelan Jerry tak lagi memenuhi telinganya setiap hari. Biasanya pria itu akan memberikan omelannya setiap apapun yang Jesslyn lakukan. Tapi sekarang semuanya seperti telah hilang semenjak Al datang di kehidupannya.
Setelah berbincang, guru datang bersamaan dengan Al yang sudah mau duduk ke bangkunya. Al tersenyum dan di sambut juga oleh Jesslyn. Di usap lembut kepala Jesslyn sebelum ia duduk di bangkunya. Al sering menghubunginya ketika ia sakit. Bahkan mengirimkan makanan ke rumah Jesslyn tanpa sepengetahuan Sean. Karena jika Sean tau, mungkin ia takkan memberikan pada Jesslyn langsung. Pasti akan di periksa olehnya dulu. Entahlah, kakaknya itu seperti menjaga barang yang tak boleh tergores sedikitpun.
Pelajaran di mulai dan semua murid fokus belajar. Kecuali Al yang tengah menyusun rencana untuk menyakiti gadis itu. Ia akan membuatnya menderita dan kesakitan setiap waktu. Bel istirahat berbunyi, Jesslyn dan Al berlalu ke kantin. Mereka bergandengan tangan untuk menyusuri lorong menuju kantin. Semua mata mengarah pada mereka. Bagaimana tidak? Jesslyn si gadis pemalu namun sangat cantik dengan lesung pipi yang melubangi pipi chubbynya. Dan Al si pria cool tapi easy going karena ia selalu tersenyum pada siapapun.
Tangan Al sangat pas dengan tangan Jesslyn yang kecil. Bahkan tangan Al sangat hangat dan mampu membuat desiran darah terus tak terhenti pada Jesslyn. Sepertinya ia membutuhkan udara banyak mengingat Al sangat sering membuatnya kekurangan oksigen. Dia hanya mengulum senyuman saat melihat beberapa siswa menatap mereka iri. Ada sedikit rasa bangga tersendiri bagi Jesslyn karena Al, kekasihnya ini sangat popular. Beda dengannya yang seakan menjauh dari jangkauan orang orang yang mau medekatinya.
"Duduk disini biar aku pesan makanan," kata Al dan berlalu ke stan makanan. Jesslyn hanya senyum-senyum melihat punggung Al. Pacarnya itu sangat menawan. Tingginya, wajahnya yang maskulin dan tatapan mata Al yang terkadang sedikit mengherankan arti tatapan Al padanya. Terkadang hangat tapi terkadang seperti ingin memangsanya. Tidak, Jesslyn menggelengkan kepalanya. Itu hanya halusinasinya karena takut dan traumanya yang masih ada.
Cinta pandangan pertama memang sangat berpengaruh. Dan itu yang di rasakan Jesslyn sekarang. Buktinya, sekarang ia berani ke kantin dan menyapa beberapa kakak kelas walau hanya dengan senyuman saja. Sepertinya Al adalah obat dari penyakit yang selama ini ia derita.
"Ini jus mangganya dan mie," Al menyodorkan makanannya ke Jesslyn. Jesslyn langsung memakannya dengan lahap. Al melihat Jesslyn yang makan dengan wajahnya yang sedikit kotor. Al mengambil tisu dan membersihkan mulut Jesslyn. Jesslyn hanya merona dan kembali makan. Sampai tibanya ketika Jesslyn makan mie, ia merasakan pedas yang teramat. Ia mengipas ngipas wajahnya dan meminum jus. Tapi jus tersebut terasa asin. Apa lidahnya yang salah atau jusnya?.
"Ini Jes air putih," Al menyerahkan minuman air putihnya. Senyumsmirk menghias bibirnya. Wajah merah Jesslyn mampu membuatnya tertawa terbahak bahak. Dia memang sengaja menambahkan saus cabai ekstra pedas yang sangat banyak pada Jesslyn. Dan bodohnya Jesslyn tak melihat itu. Gadis ini bodoh atau polos, pikir Al. Ia masih melihat Jesslyn yang masih dengan wajah yang merah karena kepedasan. Penderitaan Jesslyn seperti hiburan ‘drama’ baginya.
"Astaga, ada apa denganmu?," tanya Jerry tiba tiba datang dari arah stan makanan."Apa yang kau makan ha?!" bentaknya. Jesslyn hanya menangis karena sumpah demi Tuhan, makanan itu sangat pedas. Dia percaya ini bukan seperti saus biasa yang ia makan. Tapi cabai yang sangat banyak dan mampu membuat orang yang memakannya bisa merasakan tenggorokannya panas.
"Pedas sekali Jer," Jesslyn menangis dan Jerry langsung memberikan air hangat kepada Jesslyn "Tenggorokanku sakit sekali," lirih Jesslyn dengan memegang lehernya yang terasa terbakar.
Jerry membawa Jesslyn ke UKS dengagn menggendong sahabatnya itu ala bridal style. Jesslyn di beri obat oleh dokter sekolah. Kemudian Jesslyn di suruh istirahat oleh dokter tersebut. Wajah Jesslyn masih merah dan bibir gadis itu menjadi besar. Sepertinya ini di sengaja .Mana mungkin bibi kantin yang melakukannya. Jesslyn selalu memesan mie yang sama. Dan bibi kantin tau itu. Karena Jesslyn tidak bisa makan pedas. Apa Al yang melakukannya?. Tapi kenapa? Bukannya Al mencintai Jesslyn?.
Sedangkan Al yang penasaran dengan keadaan Jesslyn langsung mengarah ke UKS. Di lihatnya Jesslyn yang terbaring lemah dengan bibir di kompres menggunakan kain. Rasanya dia ingin tertawa kuat melihat Jesslyn menderita begini. Dia harus merasakan sakit yang teramat atas pelampiasan orangtuanya. Dan inilah barulah awal. Masih ada rencana rencana lainnya yang akan menyusul mereka.
Jesslyn melenguh karena terbangun dan matanya menangkap Al yang sedang menatapnya dengan intens "Kau kesini?," tanya Jesslyn.
"Iya, bagaimana keadaanmu?," Al duduk di bangku ranjang Jesslyn kemudian mengusap rambut Jesslyn dengan lembut seakan ia khawatir pada Jesslyn.Acting, sepertinya Al bisa mendapatkan pengharagaan sebagai aktor terbaik. Aktingnya sangat bagus dan natural.
"Iya, aku baik baik saja," jawab Jesslyn lemas. Perutnya sangat sakit dan tenggorokannya masih panas hingga sekarang. Dia tidak mau mengatakannya karena takut membuat Al merasa bersalah. Secara Al yang memberinya makanan. Walaupun ia sedikit curiga pada Al karena saat dia kepedasan tadi, Jesslyn sekilas melihat Al tersenyum puas. Mungkin dia salah paham karena kepedasan saja.
"Maafkan aku membuatmu sakit,"kata Al dengan aktingnya yangberwajah merasa bersalah.
"Tidak, aku tau kau pasti tidak sengaja meletakkan sausnya kan?,"
"Iya, aku benar benar tidak tau kalau itu adalah saus cabai yang sangat pedas,"
"Aku mengerti. Karena kau sudah sangat lapar jadi tidak bisa membedakan mana sambal mana bukan ya kan?," canda Jesslyn pada Al dengan tawanya. Gila! Bagaimana gadis ini tidak salah paham pada Al sekalipun. Setidaknya ia harus marah saat ini. Benar benar gadis yang mudah ditipu.
"Sepertinya aku makin menyukaimu." elus Al pada rambut Jesslyn. Jesslyn merona untuk kesekian kalinya. Al tersenyum secara tak sadar ia seperti merasakan kebahagiaan saat melihat Jesslyn merona malu karena dirinya. Harus di akuinya, senyuman Jesslyn sangat manis. Lesung pipi yang sangat dalam membuat gadis itu benar benar imut. Mungkin jika Jesslyn bukan mangsanya, ia kan jatuh cinta pada Jesslyn. Tapi apakah ada cinta di hati Al? rasanya tak mungkin mengingatnya yang sangat tidak merasa berdosa setiap kali membunuh ataupun melakukan mutilasi pada korban-korbannya.
“Aku juga menyukaimu Al. Jadi ku mohon jangan tinggalkan aku walau keadaan dari diriku yang mungkin sulit kau melihatnya. Tolong jangan lepaskan aku. Jika kau mau melepaskanku, tolong katakan padaku agar aku bisa bersiap siap,” ucap Jesslyn. Al langsung berdiri dan mengecup kiening Jesslyn lama. Entah apa yang membuatnya ingin melakukan itu. Yang jelas, hatinya seperti sakit mendengar Jesslyn mengatakan itu.
Jesslyn pulang sekolah bersama dengan Al. Jerry sedang ada latihan basket siang ini. Maka dari itu Jesslyn bersama dengan Al. Setelah sampai rumah, Al pamit pulang. Jesslyn masuk ke rumah dan langsung ke kamarnya. Di hempaskan tubuhnya di kasur. Mengingat betapa khawatirnya Al padanya tadi. Jesslyn bangkit dan mengambil diary pink nya di meja belajar. Di bukanya diary tersebut dan ia menulis puisi.
Teruntuk hati
Sudah biasakah kau dengannya?
Dia, orang baru yang masuk ke hatimu
Pelipur lara yang telah setia berjaga
Demi menjauhkan sakit dan air mata
Bolehkah aku tersenyum?
Saat melihatnya datang kemari
Astaga! Ku rasa kabar jantungku tak baik
Dengarlah ritmenya tak beraturan saat hanya di tatap saja
Ku nyatakan
Aku jatuh Cinta
~Jesslyn~
Jesslyn menutup diarynya. Meletakkan buku tersebut di dadanya. Ia tersenyum senang dan bahagia. Rasanya ia selalu tersenyum jika bersama Al. Sepertinya ia benar benar sudah suka pada pria itu. Walau sebenarnya ia sedikit ragu pada Al. pasalnya pria itu selalu menatapnya sarkas. Memang tidak sering. Tapi pernah Jesslyn tak sengaja melihat Al yang menatapnya dengan tatapan memangsa . Mungkin itu hanya prasangkanya saja atas trauma yang di deritanya. Jesslyn hanya paranoid ketika melihat hal semacam itu.