“Mau makan apa sekarang?” Tanya Al dengan tangan yang tak henti untuk mengiris beberapa bahan makanan yang akan ia sajikan pada Jesslyn. Gadis itu pagi ini sudah mampir ke rumahnya karena Sean pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Jesslyn bertanya apakah dia boleh kesana dan Al mengizinkannya. Maka dari itu gadis ini sudah ada di rumahnya sejak pagi tadi.
“Apapun itu aku mau. Asal jangan beri aku racun,” candu Jesslyn dan di beri senyuman hangat oleh Al. Posisi duduk Jesslyn di dekat pantry. Dia duduk sambil menopang dagunya dan menatap kekasihnya yang tampan dengan balutan kaos putih. Ah, memang Al selalu saja tampan dan membuatnya bahagia walau hanya menatapnya. Al mendekatkan wajahnya dan mengecup pelan bibir kekasihnya yang sangat merona walau tak di sentuh oleh lipstik yang menyala.
“Aku bahkan tak hanya memberi racun pada makanan mu sayang,” Al mencondongkan wajahnya dan menyatukan keningnya dengan Jesslyn, “Aku akan memberikan matamu atau darahmu sebagai penghias makanan ini. Kau akan menikmatinya lebih dalam lagi,” ucap Al yang langsung di beri pelototan oleh Jesslyn. Wajah Jesslyn menunjukkan kepanikan namun Al menyukainya. Bahkan dia membiarkan gadis itu menatapnya terus dan dia malah memberikan selai strawberry pada roti. Jesslyn meneguk ludahnya kasar dan kini tangannya gemetaran. Tiba-tiba tubuh Jesslyn seakan melayang saat ini. Ternyata Al sedang menggendongnya. Jesslyn yang kaget dan masih mempercayai ucapan Al langsung saja meronta minta turun dengan paksa.
“Aku mau turun. Tt- tolong tu-runkan aku” lirihnya yang langsung di beri ciuman hangat oleh Al. tubuh Jesslyn di letakkan di pantry dengan Al yang berada di depannya. Jesslyn kaget namun ia memejamkan mata memasrahkan apa yang akan di lakukan oleh Al. Kekasihnya yang sangat ia cintai ini. Tangan Jesslyn perlahan mengulur ke leher Al. Al tersenyum dalam ciumannya dan makin menarik Jesslyn ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap punggung Jesslyn pelan dan terasa lembut juga menghangatkan Jesslyn. Kaki Jesslyn sendiri sudah melingkar dengan indahnya di pinggang Al. Demi Tuhan, Al sangat tampan dan ia yakini sebagai jelmaan dewa Yunani yang bahkan sekarang ketampanan Al membuatnya gila. Dan jangan lupakan bagaimana lelaki itu menggigit bibirnya dengan gemas hingga memberikan lumatan-lumatan yang sekiranya mampu membuat Jesslyn merasakan dadanya bergetar saat ini. Ciuman Al mampu membuat ia mabuk padahal dia tak meminum sama sekali wine, champagne ataupun cocktails. Namun ciuman ini sangat memabukkannya dan mampu memberikan banyak sensasi yang membuat kepalanya seakan kebas dan perutnya serasa di beri banyak kupu-kupu. Bahkan saat ciuman itu turun di lehernya, Jesslyn banyak merasakan bahagia yang sudah lama tak ia rasakan lagi.
“Why is your face so pretty? Why are your lips so cute as if I want to eat them. Why is your body so fragrant that I forgot what I was planning in my brain. You make me Crazy,” lirih Al.
“I don’t know. All I know I love you very much” balas Jesslyn dengan suara sangat lirih. Al menggeram dan sekali lagi melahap bibir manis yang seakan menjadi candunya. Al di buat gila oleh ciuman yang ia rasakan dengan Jesslyn. Entah apa yang ada di otaknya sekarang. Ia ingin sekali menggigit bibir itu dengan sangat kuat. Membuat bibir kecil itu berdarah dan bahkan susah untuk Jesslyn bernafas. Namun rasa bibir Jesslyn mampu membuatnya sangat gila. Dia ingin sekali merasakannya lebih dalam lagi dengan segala kelembutan yang ada. Ini gila!
“Al, give me a break to breathe for a moment” lirih Jesslyn yang langsung di angguki oleh Al. Al terkekeh pelan dan mampu membuat Jesslyn kembali merasakan rona di pipinya seakan muncul dengan perlahan. Dia bisa saja gila sekarang kalau misalnya begini caranya. Al mampu membuka atensi besar terhadap dirinya. Dan mampu juga memberikan banyak sekali getaran dalam dirinya yang seakan akan membuatnya bisa meledak dalam beberapa momen.
“Al sudah ya. Kan kamu sedang menyiapkan aku sarapan,” Jesslyn mendorong d**a Al pelan.
“Aku juga mau sarapan, baby”
“Ya sudah masak sana! Apalagi yang kamu tunggu. Kan katanya lapar,”
“I want to eat you, baby” bisik Al dan membuat Jesslyn menegang. Jesslyn memejamkan matanya kembali namun suara dering ponsel mampu membuat mereka berdua terhenti.
“What happen,babe?”Al mendelikkan matanya saat kata itu keluar dari bibir Jesslyn. Ia ingin sekali memakan bibir itu dengan nyata hingga hanya padanya ia akan mengatakan kata manis itu.
“Kau dimana?! Aku mencarimu kemana-mana tidak ada ketemu sama sekali”
“Aku sedang di rumah, Al” ucapnya pelan karena takut mendengar suara kuat Jerry.
“Pagi begini di rumahnya? Apa kau gila? Semenjak dengannya kau bahkan tak ada memberikan aku waktu untuk bicara denganmu bahkan meneleponmu pun aku tidak bisa. Jahat sekali kau”
Ucapan itu terputus dengan juga berakhirnya acara menelepon-telepon mereka. Wajah Jesslyn langsung cemberut karena ucapan yang di lontarkan oleh Jerry. Bagaimana bisa sahabatnya itu mengatakan hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya. Oh ayolah, dia juga ingin sekali bermain dengan siapapun bukan hanya dengan Jerry atau Zee dan Mike. Lagipula dia memiliki kekasih yang harus juga ia perhatikan bukan? Bagaimana bisa ucapan Jerry membuatnya sedih?
“Apakah kau ingin pulang?” tanya Al sambil memasukkan makanan ke dalam piring. Wajahnya terlihat datar dan ia malas menatap Jesslyn, “Kurasa setelah ini kau pulang saja” ucapnya lagi.
“Kenapa? Bukankah kita akan berjalan-jalan ke taman dan tempat lainnya?”
“Bukankah sahabat terbaikmu menyuruhmu pulang dan meluangkan waktu untuknya?”
“Al, wajar saja dia berperilaku seperti ini. Bahkan kalau aku di posisinya aku akan melakuk-“
“Melakukan hal yang sama? Bagaimana kalau kita having s*x sekarang? Aku ingin mendorong semua emosi ku ke dalam dirimu. Dan kita lihat apa reaksinya nanti? Aku harap dia akan jijik denganmu dan bahkan tidak mau melihatmu. Oh, bahkan tidak mau menyentuhmu. Apakah kau akan mau melakukannya pada ku sekarang? Ah, apakah kalau kita melakukan di dapur-“ Suara tamparan mengalun dengan kerasnya di dalam apartemen yang lebar itu. Mata Jesslyn memanas dan membuat Al merasakan sesak itu menggerayangi dadanya. Namun dengan cepat ia juga menatap Jesslyn dan mengambil baju bawah Jesslyn kemudian merobeknya. Mata Jesslyn memanas. Tangannya gemetaran dan dia membiarkan Al melakukan apapun itu padanya.
“Ternyata aku semurahan itu di matamu Al?” tanya Jesslyn dengan tangan yang bergetar dan wajah yang sudah pias. Al membiarkan gadis itu menangis dan bahkan tak memberikan atensi lebih pada Jesslyn. Tangannya bergerilya ke seluruh tubuhnya dan membuat Jesslyn menegang. Suara isakan tangis bahkan sudah mengalun dalam apartemen itu. Namuan Al hanya tersenyum kemudian memegang pisau kecil yang sudah lama ia sembunyikan. Pikirannya sudah bergerilya ingin membuat gadis ini hancur dan meregang nyawa dengan cepat. Matanya sudah lelah melihat gadis ini bernafas dengan tenang. Maka dari itu ia merobek pakaian depan Jesslyn dengan pisau kecil itu. Jelas saja, pisau itu menembus hingga d**a Jesslyn kena oleh sayatan pisau Al.
“Ku pikir jika kita melakukannya dengan langkah ekstrim akan lebih bagus daripada hanya biasa saja. Ku pikir kita memang harus melakukan hal yang tak biasa sayang” ucap Al kemudian menggendong Jesslyn dan menjatuhkan gadis itu ke ranjang besarnya. Matanya tak urung terlepas dari wajah Jesslyn yang membuat emosinya memuncak. Nafas gadis itu bahkan sangat membuatnya terganggu. Dia ingin sekali memasukkan pistol ke dalam bibir sialan itu. Namun ia urungkan dengan memberikan ciuman panas dan membuat Jesslyn sesak nafas. Tangan Jesslyn kembali bergetar dan memukul kuat d**a Al. Ia menikmatinya? Tidak, harga dirinya bahkan seakan sudah hancur sejak tadi. Tangannya berontak lebih kuat saat Al berusaha melepaskan celana jeans pendeknya. Tangan Jesslyn memukul dengan kuat namun Al tak menggubrisnya.
“Kau menolaknya namun kenapa disini malah basah?” ucap Al dengan memegang inti dari Jesslyn. Kepala Jesslyn terasa berat dengan permainan yang di lakukan oleh Al. Bagaimana pria itu menaik-turunkan jarinya dengan kuat hingga dalam. Rasanya kepalanya hampir pecah namun tiba-tiba terasa ringan karena entah kenapa di bawah seakan mengeluarkan banyak cairan.
“Wow, tidak menyukainya namun kau malah keluar banyak, gadis kecil. Apakah kau mau yang lebih dari ini? Kita bisa melakukannya sekarang dan setelah itu kau tunjukkan pada sahabatmu” Jesslyn mengambil tangan Al dan menyentuhkan wajahnya pada tangan besar Al. Al kesal dan langsung saja mencekik Jesslyn. Bayangan masa lalu menghampiri dirinya dan mampu membuat dia gila. Tubuh Jesslyn kembali bergetar setelah pelepasan keduanya. Al membuat Jesslyn gila. Bahkan tangan itu kembali merayap ke dadanya. Memberikan banyak sensasi yang asing dan baru saja di rasakan oleh Jesslyn. Bibir Al sudah merayap ke berbagai tempat. Nafas Jesslyn jelas terdengar dengan kuat dan seakan mengalun dengan indahnya. Al menarik wajah Jesslyn kemudian merayap ke atasnya. Jesslyn menarik tangan Al dan meletakkan kembali ke dadanya. Dia sudah di penuhi oleh gairah. Bahkan sedari tadi ia tak berhenti untuk mendesah.
“Ohh Al” teriak Jesslyn saat Al sudah masuk ke dalam dirinya. Kepalanya kembali memberat saat gerakan yang dilakukan oleh Al mampu membuat dia gila. Matanya berkabut gairah dan Al sangat menyukainya. Tangannya kembali memegang bawah Jesslyn dan tak lupa dengan gerakannya yang tak berhenti naik turun. Jesslyn melupakan banyak hal. Bahkan namanya sendiri juga dia bisa saja melupakannya. Wajah Al tepat di hadapannya. Mencium pelan bibir Jesslyn dan mencium leher jenjang itu. Seminggu mereka berpacaran hanya diam saja atau memasak makanan. Sekarang, seakan mereka ingin sekali membuka garis besar itu dan membuat jalanan kembali normal, Jesslyn memasrahkan tubuhnya pada Al. Dia menikmnatinya, dia mendesahkan nama Al dan itu mampu membuat Al merasakan kebahagiaan tak terbendung.