Tangan Jesslyn masih bergetaran akibat kegiatan yang mereka lakukan tadi. Matanya menyayu dengan perlahan namun Al seolah tak mengizinkan dirinya untuk istirahat. Maka dari itu matanya masih saja terbuka sampai sekarang. Pikirannya berkelana kesana kemari.
“Apa yang kau pikirkan? Merasa menyesal begini denganku?” tanya Al dengan suara yang lirih namun terdengar berat dan sexy di telinga Jesslyn. Jesslyn hanya menggeleng sebagai jawabannya. Walau terasa sakit di hatinya, namun ia menikmati apa yang dilakukan oleh Al terhadapnya. Ia tersenyum lalu duduk sejenak menatap sekitar kamar Al yang berwarna hitam. Jesslyn tidak paham kenapa kamar pria itu berwarna hitam dengan furnitur zaman dahulu.
“Kamar mu kenapa berwarna hitam? Aku bahkan baru tau ada warna cat hitam,”
“Itu darah,” ucap Al dan membuat Jesslyn melotot ke arahnya. Jesslyn termudur beberapa saat setelah Al ingin kembali meraup bibirnya, “Bahkan warnanya sudah sedikit memudar dari waktu ke waktu. Aku hanya berharap akan mendapatkan korban lainnya agar warnanya tidak pudar”
Jesslyn kembali meringis saat Al menekan dadanya yang terkena pisau. Kemudian pria itu menjilatnya dengan gerakan sensual yang membuat Jesslyn bisa saja gila karenanya. Jesslyn mendorong d**a Al kemudian mengutip pakaiannya dan memakainya segera. Al hanya melihatnya dengan kekehan yang makin membuat Jesslyn merinding setengah mati.
“Sayang, aku suka bercanda dan kau tidak bisa di ajak bercanda,” kekeh Al yang membuat Jesslyn makin takut. Ah, apakah jika Al memotong jari Jesslyn gadis itu akan menampakkan wajah yang sama. Wajahnya yang ketakutan ini membuatnya senang. Namun wajahnya yang berada di bawahnya dan mendesahkan namanya lebih terlihat cantik dan b*******h.
“Aku ingin pulang. Aku takut nanti pelayan akan mengatakan hal tidak-tidak pada kakakku. Aku tidak mau hal itu terjadi padaku. Maka dari itu antar aku pulang Al,” ucap Jesslyn namun dengan cepat Al menarik tangan Jesslyn. Matanya menatap lembut Jesslyn yang ketakutan padanya.
“Aku hanya bercanda sayang. Kenapa kau ketakutan?”
“Kau tau aku punya trauma mendalam di masa lalu dan dengan entengnya kau mengatakan dirimu layaknya psycopath gila yang akan menghabisi diriku kapan saja. Aku benci kau, Al. Candaanmu mungkin lucu bagimu namun tidak untukku,” teriak Jesslyn dan membuat Al merasa bersalah. Sial! Wajah gadis itu mengingatkannya pada ibunya yang menangis karena bertengkar dengan kakaknya alias pamannya Al. Al menarik tangan itu pelan dan memeluknya erat.
“Aku minta maaf. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi jika menganggumu,” ucap Al dengan nada lirih dan menghirup aroma rambut kekasihnya. Walau mereka berkeringatan akibat kegiatan mereka tadi, Al tetap saja bisa mencium aroma wangi itu pada Jesslyn. Tubuh wanitanya sangatlah wangi dan mampu membuat Al selalu saja ketagihan saat menciumnya. Seakan tubuh Jesslyn memberikan ketenangan yang mendalam padanya. Jika saja ia bisa menciumya setiap hari apakah akan tetap menenangkannya juga? Apakah Al perlu memtong bagian tubuh wanita ini agar kamarnya di penuhi harum yang menguar dari tubuh gadis kecil yang ternyata sangat nakal ketika mereka bergulat di ranjang? Benar-benar membuatnya gila.
“Kau selalu saja mengatakan semuanya candaan. Apakah emnurutmu lucu sekali candaan yang kau lontarkan padaku itu? Sama sekali tidak ada lucunya Al. Aku merasa risih dengan hal yang kau ucapkan padaku. Aku sangat membencinya,” ucap Jesslyn dengan suara bergetar. Al diam saja lalu mengusap punggung sempit itu dan meletakkan kepalanya di ceruk leher kekasihnya.
“Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah padaku?” lirih Al dengan suara lembut.
“Antarkan saja aku pulang. Aku ingin pulang dan mandi lalu mengerjakan tugas”
“Atau kau hanya mau bertemu dengan temanmu itu? Aku tidak menyukainya” sinis Al.
“Apakah kau akan begini terus dengan selalu saja menyalahkan Jerry? Dia bahkan yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi dan selalu ada disaat baik dan buruk kehidupanku”
“Tapi kurasa apa yang dia katakan di dalam ponselmu hanyalah ungkapan karena pacarnya jarang waktu untuknya dan bisa dengan pacar terus. Kau tidak merasakan itu?
“Al,” lirih Jesslyn lalu mengecup pelan bibir Al. “Kami hanya teman biasa dan tidak ada yang spesial kecuali memang dia adalah sahabat masa kecilku. Tapi kenapa kau selalu saja mempermasalahkan apa yang kami lakukan atau bagaimana kami dekat,”
“Aku tidak mempermasalahkannya. Namun aku hanya merasa kenapa dia harus menanyakan dirimu selalu? Dan marah-marah seperti tadi. Kau kan pacarku,”
Jesslyn diam saja setelahnya. Kemudian Al mengangkat Jesslyn dan membuka baju wanita itu dan mendorong tubuhnya ke dalam kamar mandi. Dan setelahnya mereka melakukan hal yang sama seperti tadi malam. Mencari kepuasan dan memecahkan masalah dengan ciuman mereka.
-/-
Setelah tahu bahwa Jesslyn dan Al berhubungan. Membuat Jerry semakin lama semakin menjauh dari Jesslyn. Tidak jauh sepenuhnya. Hanya jengkel saja. Ia harus menata hatinya yang telah jatuh pada sahabatnya sendiri. Seperti sekarang, ia meninggalkan Al dan Jesslyn yang masih di dalam perpustakaan untuk mengerjakan tugas tambahan. Ia senang kalau misalkan Jesslyn bahagia. Ya itu cukup baginya. Al yang akan meluruskan rencanya berpamitan pada Jesslyn untuk membeli makanan. Tapi ketika di lorong kelas, ia bertemu dengan gadis yang tak lain siswi di kelasnya. Gadis itu bernama Iris. Ia datang dan mengajak Al berbincang.
"Hei inikan sudah pulang sekolah kenapa kau masih disini?," tanya gadis itu dengan tatapan nakal. Gadis? Mungkin ia bukan gadis lagi mengingat kelakuannya sekarang. Ingin sekali ia merusak wajah yang di tebali oleh make up yang sangat berlebihan. Dan menjadikan mata wanita itu menjadi meatball. Pasti menyenangkan sekali. Sial! Dia sudah tidak sabar.
"Aku sedang mengerjakan tugas," jawab Al ramah dengan senyuman palsunya. Kemudian gadis itu menggerayangi d**a bidang Al. Al yang merasa jijik tapi juga senang. Karena hari ini dia dapat mangsa yang bagus. Sepertinya siang ini ia bisa merasakan darah yang segar.
"Maukah kau bermain bersamaku?," godanya dengan tatapan yang benar-benar membuat Al akan melakukan banyak hal agar gadis itu mati dengan rasa sakit yang sangat. Juga jangan lupa dengan Al yang akan melakukan banyak hal juga agar Iris bisa menjerit dengan nikmat akibatr permainannya. Mengantarkan gadis itu ke pintu neraka dan itu akan menyenangkannya.
"Ya, come on," Al tersenyum smirk dan membawa Iris ke gudang sekolah. Di bukanya seragam Al dan ia menarik tengkuk gadis itu kemudian menciummnya dengan ganas. Iris yang snagat tidak sabar membuka seragam Al dengan kasar. Menaiki tubuh itu dan memeluknya erat. Iris hanya bermain sendiri karena Al ingin melihat wanit itu menggerayangi tubuhnya. Dia akan menonton detik-detik dimana wanita ini akan menyesal dengan apa yang di lakukannya pada Al sekarang. Al akan membiarkan dia menjerit nikmat karena sudah mencapai klimaksnya.
“Al, ahhh bergeraklah sayang. Aku mau kau menghujamku hingga keras,”
“Aku ingin menikmati wajah cantik dan bergairahmu dulu lalu aku akan membuatmu menjerit lebih lagi dan meminta tolong padaku. Bisakah kau melakukannya?” tanya Al yang di angguki antusias oleh Iris. Bodoh! Gadis ini bahkan benar-benar bodoh dan juga murahan. Tidak taukah bahwa sekarang Al sudah mengeluarkan banyak sekali emosi dan bisa saja dia mati sekarang.
Al yang sudah mencapai orgasmenya kini membanting tubuh Iris ke ranjang bekas disana. Iris tersenyum bahagia saat Al menggoda intinya. Bahkan bibirnya tak henti untuk menyebut dan membanggakan milik Al yang mampu membuatnya merasakan kebahagiaan hanya dengan cara pria itu memasuki dirinya. Al hanya tertawa melihat bagaimana kini Iris sudah lelah dan ingin sekali tidur. Namun Al tidak memberinya kesempatan untuk itu. Iris malahan di suruh menungging dan menghadap wajahnya ke atas untuk menjambak rambut w************n yang sudah sangat senang hati dan berbangga hati menyentuh dirinya. Namun itu tidaklah mengapa karena Al juga menimati perlakuan w************n ini. Ia bahkan ingin sekali lebih lagi membuat Iris menjerit dengan jeritan versi Al. Tentu saja jeritan kenikmatan bukan?
“Oh Al! ini gila. Kenapa nikmat sekali?!” jerit wanita itu seakan ia menikmati bagaimana Al menghujamnya dengan gila. Ah, Al sangat suka juga bagaimana gadis ini memohon untuk tidak membuatnya tidak bisa berjalan karena hentakan yang di hasilkan oleh Al mampu membuatnya gila. Di sela ciuman mereka, Al mengeluarkan pisau yang selalu di bawanya kemudian menusuk perut gadis itu. Suara jeritan Iris kuat tapi malah membuat Al sangat senang.
"Suaramu indah sekali sayang," katanya dan menggoreskan pisau di pipi Iris. Di sayatnya dengan perlahan seakan Iris dapat membuat rasa permainannya menyenangkan.
"Kau gila!," jeritnya di sela kesakitannya.
"Aku gila karena mu" ucap Al dengan senyuman yang sangat mengerikan dan membunuh.
"Lepas- Arghh." Al tertawa kemudian menancapakan pisau di tenggorokan gadis itu. Setelah itu ia membersihkan tangannya dan di bakarnya tubuh Iris. Dia mengambil seragamnya tersenyum sadis seperti tak berdosa.
"Terima kasih sayang, kau memang menyenangkan," kata Al kemudian berlalu pergi menyusul Jesslyn di kelas. Hari ini mungkin kesenangannya berlipat ganda. Mendapat mangsa dan membuat derita Jesslyn. Sepertinya dunia sedang berpihak padanya. Mungkin karena dulu dia sering sekali membunuh para oenjahat di jalanan dan sekarang dia mendapatkan kebaikannya.