Al berjalan dan berhenti sampai di depan perpustakaan. Memperbaiki sedikit penampilannya yang berantakan karena wanita jalang tadi. Sebenarnya ia kurang puas. Ia ingin memotong telinganya dan membuat lidahnya menjadi souvenir atau kalau tidak hadiah untuk Jesslyn. Pasti dia senang. Ia membawa sup tapi berisi udang untuk Jesslyn. Jesslyn alergi terhadap udang. Dan Al tahu itu, karena Jesslyn sendiri yang menceritakan padanya waktu di taman. Jesslyn menceritakan semua hal pada Al. Dan itu adalah hal yang bagus untuk meluruskan rencananya.
“Sebelumnya minumlah jusnya terlebih dahulu. Supaya tubuhmu tetap sehat dan bugar saat kita melakukan kegiatan kita seperti malam itu. Kau kan meneyukainya,” goda Al pada Jesslyn.
“Al! Apakah kau akan mengatakan itu terus-terusan sepanjang hari? Aku sangat malu saat kau mengatakan dengan lantang perkara kita di malam itu. Dan bagaimana kalau ada yang dengar,”
Al mengambil tangan Jesslyn lalu di kecup pelan tangannya. Al menciumnya dengan lembut dan membuat hati Jesslyn merasakan kedamaian. “Apakah kau tau? Kalau bisa aku akan mengatakan pada seluruh dunia. Kau adalah kekasihku dan bidadariku. Kau yang membuat aku kembali mengalami segala kebahagiaan dan perasaan lainnya yang selama ini tidak pernah ku rasakan lagi. Lalu apa yang akan ku lakukan sekarang,” tangan Al terjulur mengusap pipi kekasihnya, “Aku akan mencintaimu sampai kapanpun itu. Aku akan selalu bersamamu sampai kita bisa sama sama mengerti kehidupan yang lebih baik dan menjalani kehidupan dengan yang serius. Kau tahu? Setiap malam aku selalu saja memimpikan dan membayangkan bagaimana kalau kita bersama sampai kita tua dan sampai kita masuk ke dalam kubur. Bagaimana rupa anak-anak kita dan bagaimana mereka akan memanggil nama kita. Apakah kau memimpikannya juga?”
Jesslyn menggeleng pelan kemudian mengerjapkan matanya, “Aku belum berani mempimpikan hal itu denganmu. Aku bahkan tidak pernah membayangkan kau denganku yang aneh-“
“Sst, baby. Apakah kau tau seberapa bencinya aku dengan ucapanmu tadi? Rasanya aku ingin mengoyak bibir ini dan menjadikannya pajangan di kamarku jika kau mengatakan hal seperti itu. Listen to me, apakah kau tau, aku juga kadang merasa tidak pantas denganmu yang menurutku spesial dan selalu saja membuat aku berdebar. Namun satu hal yang akan aku ubah diriku agar pantas bersamamu.” Al mendekatkan wajahnya dan berbisik lirih, “Aku akan mencintaimu lebih dalam setiap harinya. Aku akan selalu mengucap syukur karena memilikimu dengan cara itu aku akan selalu merasa pantas denganmu yang cantik dan menggemaskan ini,” ucap Al dan tangannya tetap saja mengusap pelan pipi wanitanya. Al memang mampu membuat Jesslyn merasakan banyak perasaan dan membuatnya selalu saja berbunga-bunga.
“Apakah kau tulus mencintai diriku Al? Atau ada sesuatu yang lain yang membuat dirimu mencintaiku dan selalu saja ingin bersamaku. Karena ku rasa kita hanya berkenalan sebentar dan kau sudah mantap ingin mengajakku berhubungan dan bahkan membayangkan kisah hidupmu bersamaku. Aku rasa untuk ukuran cinta pada pandangan pertama itu adalah sesuatu hal yang aneh” ucap Jesslyn dan membuat Al terdiam dengan perkataan kekasihnya itu. Dia berpikir perlahan untuk menemukan jawaban atas apa yang di katakan oleh kekasihnya itu. Dan Al juga sedikit heran bagaimana Jesslyn yang polos berbicara hal yang bahkan aneh seperti ini.
“Mungkin kau menganggapku aneh karena melakukan hal itu padamu?”
“Maksudmu?”
“Ku pikir aku mencintaimu karena kauj memiliki mata yang indah seperti mata ibuku. Suaramu yang lembut juga seperti ibuku. Kau memiliki potensi dimana aku selalu merasa nyaman dan selalu membuat diriku merasa bahwa aku masih memiliki kebahagiaan di dunia ini setelah orangtuaku pergi meninggalkanku. Aku sangat mencintai mereka dan aku hanya berharap mereka juga akan selalu mencintaiku selamanya. Namun karena kesalahan itu membuatku tak bisa mendapatkan cinta yang utuh hingga aku dewasa. Dan denganmu aku merasakan banyak kebahagiaan yang selama ini menghilang dariku. Aku merasakan itu” ucap Al dengan lembut.
“Baiklah. Aku terima alasanmu. Dan aku harap kau tidak membohongi diriku Al” ucap Jesslyn dan di beri anggukan oleh Al. setidaknya dia bisa lolos dari percakapan sialan ini.
"Tapi..kenapa lama sekali?," tanya Jesslyn dengan wajah lemas karena belum makan dari pagi.
"Maaf tadi ada sesuatu," Al menyerahkan makanannya."Ayo makan, aku suapi ya," katanya kemudian di angguki Jesslyn. Ia selalu senang setiap perlakuan manis Al selama beberapa minggu mereka menjalin hubungan. Al tersenyum kemudian menyuapkan makanannya. Jesslyn tidak melihat apa yang di bawa Al. Ia fokus pada tugasnya tanpa tau bahwa Al sedang menyiksanya.Tiba tiba tubuh Jesslyn terasa panas. Gatal menjalar di tubuhnya. Ia menjerit kesakitan seakan tubuhnya terbakar. Jesslyn masih terisak tapi Al hanya menatapnya dengan senyuman yang sulit di artikan. Seringai jahat muncul tatkala Jesslyn mencakar wajahnya.
"Arghh gatal sekali Al," teriak Jesslyn dengan menangis terisak. Al yang mendengar isakan pacarnya itu menyeringai dan tersenyum seakan memenangkan lotre. Air mata Jesslyn sudah turun dengan deras. Al hanya menatap bagaikan film indah yang ia harap akan terus di lihatnya setiap hari. Perasaan senang dan bahagia akan selalu ada setiap bersama Jesslyn.
“Al kumohon bantu aku. Bawa aku pulang,” cicit Jesslyn dengan masih menggaruk tangannya yang sudah mengeluarkan darah akibat garukan dari kuku panjangnya. Al yang sudah puas dengan rencananya berniat mengantar Jesslyn pulang. Di dalam perjalanan, ia tak berhenti tersenyum setiap Jesslyn menjerit kesakitan. Bagai nada yang sangat indah baginya. Dan ia akan selalu ingin mendengar teriakan yang mewakili sakit yang di rasa orangtuanya.
Setelah sampai di rumah, ia mengetuk pintu rumah Jesslyn. Terlihat Sean yang seperti habis pulang bekerja. Sean khawatir dan menyuruh Al membawa Jesslyn ke kamarnya Sean yang mendengar teriakan Jesslyn langsung tau bahwa adiknya sedang alergi dengan melihat bintikan di sekitar tubuhnya. Pasti dia memakan udang. Di ambilnya obat alergi Jesslyn dan menyuruhnya meminum obat. Setelah Jesslyn tenang, Sean dan Al keluar dari kamar Jesslyn yang bernuansa pink itu. Mereka duduk di ruang tamu dan Sean menatap Al dengan tatapan bertanya. Biasanya adiknya itu tak pernah membawa orang ke rumah. Kecuali Jerry, Zee dan Mike. Dan sekarang ia membawa pria yang sepertinya baru dikenal olehnya. Apa Jesslyn sudah mulai sembuh? pikirnya.
"Who are you?," tanya Sean dengan tatapan menyelidik.
"My name is Al. I am her boyfriend," jawabnya santai.
"You are her boy friend?"
"Yes," Sean tidak percaya adik polosnya itu bisa menjalin hubungan mengingat Jesslyn selalu takut bertemu orang orang. Ia kembali menatap Al dengan tatapan yang meyakinkan. Memastikan bahwa adiknya tak salah memilih orang yang mau berhubungan dengannya. Tak memanfaatkan kepolosan Jesslyn untuk niat tertentu, misalnya.
"Baiklah kau boleh pulang sekarang. Terima kasih telah menjaga adikku," ucapnya dan membukakan pintu untuk Al. Al menundukkan badannya sekitar 90° dan mengarah ke mobil. Sean memang sengaja mengusir Al dengan cara halus. Ia masih mau mengetes sejauh mana Al menyukai adiknya tersebut . Di dalam mobil ia tertawa puas mengingat jeritan yang keluar dari bibir Jesslyn. Jeritan yang bahkan ia ingin pakai untuk menjadi alarm pagi agar ia semangat sekolah. Al masuk ke dalam mobilnya dan masih dengan seringaian yang tak lepas dari bibirnya.
"Ini baru awal Jes, kau akan ku buat lebih menderita lagi daripada ini nanti," seringainya dan menjalankan mobilnya untuk pulang. Di jalan pulang ada perampok yang sedang berlari. Seakan mendapat lotre, Al menancapkan gasnya dan menabrak serta melindas tubuh pria itu. Suara remukan tulang terdengar seperti alunan melodi baginya.
"Sepertinya aku harus menandai hari ini adalah hari keberuntungan," Al menarik nafasnya dan tersenyum."Hari yang indah sekali," ucapnya dan di lanjut tawa yang sangat keras. Pyscopath ini bahkan sepertinya tak peduli dengan mobilnya yang masih terseret oleh daging perampok tadi. Ia menganggapnya sebagai hiasan mobil supaya terlihat lebih indah. Dia benar benar sudah gila. Mungkin tak ada lagi cinta dalam dirinya. Hanya rasa ingin membunuh dan mendengar suara teriakan yang ia buat.
"Dia yang membuat orangtuamu meninggal Al," ucap seorang paman pada anak kecil berumur 7 tahun. Sedangkan di depan mereka duduk 2 pasang suami istri paruh baya dan seorang gadis kecil seumuran Al duduk dengan tangan terikat dan mata tertutup.
"Buat mereka tidak bisa lagi bicara Al. Orangtuamu pasti akan senang melihat anaknya bisa membalaskan dendam mereka. Ayo hancurkan tubuh mereka dan kau akan dapat kepuasan yang tak bisa di ungkapkan kata kata," tambahnya. Al yang masih sedikit ragu mulai menusuk perut 2 pasang suami istri tersebut. Suara siksaan itu entah kenapa membuat Al merasa senang.
"Kau b******k! Bagaimana bisa seorang paman menyuruh keponakannya membunuh?," lirih ayah Jesslyn dengan luka tusuk di perutnya.
"Hai teman nikmati saja permainannya. Kau akan lihat betapa hebatnya pisau membelah dirimu dan mencabut lidahmu" sarkas paman tersebut. Al melanjutkan dengan menusukkan pisaunya di mata sang istri. Di lanjut menancapkan pisau di kedua tangan sang suami. Suara jeritan mereka mampu membuat nafsu membunuhnya kuat. Tak jauh dari situ seorang anak gadis tengah menangis meraung raung melihat orangtuanya tak berbentuk lagi oleh anak kecil.
"It's your time Jesslyn" Al tersenyum smirk dan menancapkan gas mobilnya. Ia akan membuat Jesslyn menderita. Itu janjinya pada ibu dan ayahnya yang katanya dibunuh orangtua Jesslyn.