Renjana terbangun dengan dada yang berdebar seperti baru saja jatuh dari ketinggian. Plafon kamar kosnya yang retak menyambutnya, sama persis seperti kemarin. Ia mengusap wajah, menarik napas, lalu meraih ponsel di atas meja kayu yang reyot.
Selasa, 06.00. Tanggal yang sama.
Ia mengernyit. Pasti salah lihat. Tapi angka di layar tak berubah. Selasa. Padahal ia yakin kemarin sudah Selasa. Kemarin ia ke stasiun, kemarin ia... Renjana menggeleng. Kepalanya berat, seakan ada kabut yang menutupi ingatan.
Di luar, suara penjual bubur ayam berteriak dengan irama yang ia kenal. "Buburrr! Bubur ayam anget!" Persis di detik yang sama, persis dengan nada yang sama. Renjana duduk, jantungnya mulai tak nyaman.
Ia bangkit, membuka jendela kecil. Gang sempit di bawah sana basah karena hujan semalam, dan seekor kucing oranye melompati genangan, lalu bersembunyi di balik tong sampah biru. Renjana menahan napas. Ia ingat kucing itu. Ia ingat melihatnya melompat persis seperti itu.
"Cuma déjà vu," gumamnya pada diri sendiri. "Kamu kurang tidur, Ren."
Tapi déjà vu tidak datang dengan detail sebanyak ini.
Ia mandi dengan air dingin yang menggigit, lalu mengenakan kemeja biru muda yang sudah memudar di siku. Hari ini ia ada wawancara kerja di kantor logistik dekat Stasiun Kota Lawang. Tiga bulan menganggur setelah perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar, dan ini kesempatan yang tak boleh ia sia-siakan. Ibunya di kampung menunggu kabar baik. Renjana berjanji akan memberinya kabar baik.
Di warung depan kos, Bang Topan menyodorkan segelas kopi sebelum Renjana sempat memesan. "Yang biasa, Ren. Kopi item, gula setengah."
Renjana terdiam. "Bang, saya belum pesan."
"Lah, kan tiap hari pesennya itu." Bang Topan tertawa, memamerkan gigi yang ompong di sisi kiri. "Udah, minum. Wawancara, kan? Semangat."
Renjana belum cerita soal wawancara pada siapa pun.
Punggungnya meremang. Ia menyeruput kopi itu—pahit dengan sisa manis, persis seperti yang ada dalam... ingatan? Mimpi? Ia tak bisa menamainya. Ada sesuatu yang salah dengan hari ini, dan ia belum tahu apa.
Pukul 07.15, ia berjalan menuju stasiun. Langit mendung, awan kelabu menggantung rendah di atas atap-atap kota. Trotoar penuh sesak: ibu-ibu menggendong anak, pegawai berdasi yang setengah berlari, pedagang asongan dengan kotak rokok di leher. Renjana mengenal pemandangan ini, tapi pagi ini setiap detailnya terasa terlalu tajam, seakan dunia sedang memutar ulang sebuah film dan ia satu-satunya penonton yang tahu adegan berikutnya.
Seorang anak laki-laki berseragam SD menjatuhkan bola plastik merahnya. Bola itu menggelinding ke arah jalan. Tanpa berpikir, mulut Renjana bergerak lebih dulu dari otaknya. "Awas, Dik—"
Anak itu menoleh, kaget. Sebuah motor melintas cepat, nyaris menyerempet. Anak itu mundur tepat waktu, lalu memungut bolanya dan berlari ke pelukan ibunya tanpa berterima kasih.
Renjana berdiri kaku di tengah trotoar. Bagaimana ia tahu? Bagaimana ia tahu bola itu akan menggelinding, bahwa motor itu akan datang?
"Stasiun," bisiknya. "Aku harus ke stasiun."
Ada dorongan aneh, urgensi yang tak bisa ia jelaskan, seakan tubuhnya tahu sesuatu yang pikirannya belum mau terima.
Stasiun Kota Lawang berdiri megah dengan arsitektur kolonial tuanya—dinding bata merah, jendela tinggi melengkung, dan jam besar di menara depan yang menunjukkan pukul 07.40. Peron penuh. Kereta komuter pertama baru saja berangkat, dan gelombang penumpang baru mengalir masuk. Renjana melangkah ke dalam, mengikuti arus.
Ia melihat seorang perempuan tua berjualan melati di sudut peron. Ia melihat seorang pemuda berjaket kulit bersandar di tiang sambil menatap layar ponsel. Ia melihat dua petugas keamanan mengobrol di dekat pintu masuk. Semua terasa familiar sampai ke ujung kuku.
Renjana menatap jam besar itu. Detik berdetak. 07.41. 07.42.
Sesuatu di dalam dadanya mengencang, seperti pegas yang ditarik terlalu jauh. Ia ingin lari. Ia ingin berteriak. Tapi ia tak tahu pada siapa, atau kenapa.
Kereta menuju Tanah Abang sudah merapat di jalur tiga, menunggu jadwal berangkatnya pukul 07.45. Pintunya masih terbuka. Penumpang berdesakan masuk. Dan Renjana, entah didorong oleh apa, melangkah maju mendekati jalur itu, matanya mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu bentuknya.
Pukul 07.45. Kemudian dunia menjadi cahaya putih.
Suara itu datang lebih dulu dari rasa sakitnya—gemuruh yang membelah udara, panas yang menelan segalanya, dan sebelum Renjana sempat mengerti apa yang terjadi, sebelum ia sempat berteriak, semuanya padam.
Gelap.
Lalu, dalam kegelapan itu, ia mendengar suara penjual bubur ayam.
"Buburrr! Bubur ayam anget!"