Renjana terbangun dengan dada yang berdebar seperti baru saja jatuh dari ketinggian.
Plafon retak. Ponsel di meja. Selasa, 06.00.
Ia melompat dari kasur, napasnya tersengal. Tangannya gemetar saat meraih ponsel. Tanggalnya tetap sama. Jamnya tetap sama. Tapi tubuhnya ingat sesuatu—panas, cahaya putih, gemuruh yang membelah udara.
Ledakan.
Renjana terduduk di lantai, punggungnya menempel pada dinding dingin. Keringat membasahi kaosnya meski pagi terasa sejuk. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, mencoba menata napas yang berantakan.
"Itu cuma mimpi," katanya pada dirinya sendiri. Tapi suaranya sendiri terdengar tak yakin. "Mimpi buruk. Cuma mimpi buruk."
Di luar, penjual bubur berteriak. Detiknya sama. Nadanya sama.
Renjana membeku.
Ia bangkit, menghampiri jendela, dan membukanya dengan tangan gemetar. Kucing oranye itu melompati genangan, lalu bersembunyi di balik tong sampah biru. Tepat seperti yang ia lihat. Tepat seperti yang ia ingat.
"Tidak," bisiknya. "Tidak mungkin."
Ia mencoba berpikir jernih, mengurutkan kembali apa yang terjadi. Ia bangun. Ia mandi. Ia ke warung Bang Topan. Lalu jalan ke stasiun. Anak dengan bola merah. Lalu stasiun. Lalu—
Ledakan.
Tubuhnya mengingat rasa sakit yang tak pernah benar-benar ada. Ujung-ujung jarinya seakan masih terbakar.
Renjana memutuskan untuk membuktikan bahwa dirinya hanya kelelahan. Bahwa otaknya sedang main-main. Ia akan turun, dan kalau Bang Topan tidak menyodorkan kopi sebelum ia pesan, berarti semua ini cuma halusinasi. Berarti ia hanya butuh tidur.
Ia turun ke warung. Bang Topan menoleh, lalu menyodorkan segelas kopi.
"Yang biasa, Ren. Kopi item, gula setengah." Tawa, gigi ompong di kiri. "Udah, minum. Wawancara, kan? Semangat."
Gelas itu nyaris jatuh dari tangan Renjana.
"Bang," suaranya serak. "Bang Topan tahu dari mana saya mau wawancara?"
Bang Topan mengernyit, bingung. "Lah, tadi malam kamu yang cerita sendiri, Ren. Lupa? Kebanyakan begadang kamu."
Renjana tidak ingat cerita apa pun tadi malam. Karena tadi malam, bagi tubuhnya, sudah lewat. Sudah terjadi. Dua kali.
Ia meletakkan gelas itu dan berlari. Bang Topan memanggilnya, tapi Renjana tak menoleh. Ia berlari menyusuri gang, menabrak ember, menendang genangan, jantungnya berdebar liar. Ia harus tahu. Ia harus melihat sendiri.
Trotoar penuh sesak, sama seperti sebelumnya. Anak SD dengan bola merah. Renjana sudah tahu. Bola itu akan menggelinding ke jalan, motor akan melintas. Tapi kali ini ia tak ingin hanya menonton.
Ia melangkah, menahan bola itu dengan kakinya sebelum menggelinding. Anak itu menoleh, terkejut, lalu tersenyum. "Makasih, Om!"
Renjana menatap bola merah di kakinya, lalu menatap anak itu. Untuk pertama kalinya pagi ini, sesuatu berubah karena dirinya. Anak itu tidak perlu nyaris diserempet motor. Karena ia.
Tapi rasa lega itu hanya sekejap. Karena ia tahu apa yang menunggu di stasiun.
"Stasiun," gumamnya, wajahnya memucat. "Akan ada ledakan di stasiun."
Ia menatap jam tangannya. 07.20. Masih ada waktu. Kalau benar dunia ini mengulang dirinya sendiri, kalau benar ledakan itu akan terjadi pukul 07.45, maka masih ada dua puluh lima menit untuk mencegahnya. Untuk memperingatkan orang-orang. Untuk menyelamatkan mereka.
Renjana mulai berlari menuju stasiun, kali ini bukan karena dorongan yang tak ia mengerti, melainkan karena ia tahu—dengan kepastian yang mengerikan—bahwa ratusan orang sedang berjalan menuju kematian mereka, dan ia satu-satunya yang bisa menghentikannya.
Hujan rintik mulai turun. Langit kelabu menggantung rendah. Dan di kejauhan, menara jam Stasiun Kota Lawang berdiri menunggu, dengan jarum-jarum yang terus bergerak menuju pukul yang sama.