Renjana tiba di stasiun pukul 07.28, napasnya tersengal, kaosnya basah oleh hujan dan keringat. Ia langsung menuju dua petugas keamanan yang mengobrol di dekat pintu masuk—orang yang sama, posisi yang sama.
"Pak!" serunya. "Pak, tolong, harus segera evakuasi stasiun ini. Akan ada ledakan!"
Petugas yang lebih tua, berkumis tebal dengan name tag bertuliskan SUDARMO, menatapnya curiga. "Ledakan? Ledakan apa, Mas?"
"Pukul 07.45. Di jalur tiga, dekat kereta menuju Tanah Abang. Akan ada ledakan besar. Banyak yang mati. Tolong, evakuasi sekarang."
Kedua petugas itu saling pandang. Petugas yang lebih muda menyeringai geli. "Mas dapat info ini dari mana?"
Renjana terdiam. Bagaimana ia menjelaskannya? Bahwa ia sudah mati dua kali pagi ini? Bahwa ia hidup di hari yang sama berulang-ulang?
"Saya... saya cuma tahu. Percaya saya, Pak. Tolong."
Sudarmo menghela napas, raut wajahnya berubah dari curiga menjadi kasihan. "Mas, kami ngerti kalau Mas lagi ada masalah. Tapi nggak bisa main ancam-ancam ledakan di tempat umum begini. Itu pidana, lho."
"Saya tidak mengancam! Saya memperingatkan!" Suara Renjana meninggi, dan beberapa penumpang menoleh. "Tolong, dengarkan saya. Pukul 07.45 stasiun ini akan meledak. Suruh semua orang keluar!"
Petugas muda meraih radio di bahunya. "Pak Sudarmo, kayaknya perlu kita amankan dulu, nih. Takutnya beneran ada apa-apa, atau orangnya yang—" Ia memutar jari di samping kepala.
Renjana menatap jam besar. 07.31. Empat belas menit.
Ia tidak punya waktu untuk berdebat. Ia berbalik dan berlari ke tengah peron, lalu berteriak sekuat tenaga. "Semuanya! Tolong dengarkan! Stasiun ini akan meledak pukul 07.45! Tolong keluar! Selamatkan diri kalian!"
Reaksi yang ia dapat bukan kepanikan, melainkan tatapan. Tatapan jengkel, tatapan kasihan, tatapan takut—tapi bukan pada bahaya, melainkan pada dirinya. Seorang ibu menarik anaknya menjauh. Seorang pemuda merekam dengan ponsel sambil tertawa. "Orang gila viral, nih."
"Saya tidak gila!" Renjana berputar, menatap wajah-wajah itu satu per satu. "Ada di antara kalian, perempuan penjual melati di sudut sana. Pukul 07.45 dia akan ada di sini. Anak muda berjaket kulit di tiang itu—dia juga akan mati. Kalian semua! Tolong, percaya saya!"
Penjual melati di sudut itu memandangnya dengan mata renta yang penuh iba. "Sabar, Nak," katanya lembut. "Sabar."
Tak ada yang bergerak. Tak ada yang pergi.
Tangan kekar mencengkeram lengan Renjana. Sudarmo dan petugas muda menariknya. "Ikut kami, Mas. Tenang dulu. Kita ngobrol di kantor."
"Tidak! Lepaskan! Kalian tidak mengerti—pukul 07.45! Lihat jamnya! 07.45!"
Mereka menyeretnya menjauh dari peron, menuju ruang petugas. Renjana meronta, tapi dua orang dewasa terlalu kuat untuknya. Ia menoleh ke arah jam. 07.39.
"Tolong," suaranya kini memohon, putus asa. "Saya mohon. Cuma keluarkan orang-orang. Lima menit. Cuma lima menit."
Mereka mendudukkannya di kursi besi dalam ruangan sempit. Sudarmo menutup pintu. "Nah, sekarang Mas tenang dulu. Saya ambilin air. Nama Mas siapa?"
"Renjana," jawabnya otomatis, matanya tak lepas dari jam dinding kecil di ruangan itu. 07.42.
Tiga menit.
"Pak Sudarmo," katanya pelan, suaranya kini tenang, terlalu tenang. "Tolong, untuk terakhir kalinya. Keluar dari stasiun ini. Bawa orang-orang. Saya tidak gila. Saya cuma... saya cuma tahu apa yang akan terjadi."
Sudarmo menatapnya, dan untuk sesaat ada keraguan di matanya. Hanya sesaat.
07.44.
Renjana memejamkan mata. Ia sudah tahu. Ia sudah mencoba. Dan ia gagal.
"Maafkan saya," bisiknya pada orang-orang yang tak bisa ia selamatkan. "Maafkan saya."
07.45.
Dunia menjadi cahaya putih.