"Buburrr! Bubur ayam anget!"
Renjana membuka mata. Plafon retak. Ponsel di meja. Selasa, 06.00.
Kali ini ia tidak panik. Kali ini ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit, membiarkan kenyataan yang mengerikan itu meresap perlahan ke dalam dirinya.
Tiga kali. Ia sudah mati tiga kali. Atau lebih, ia tak yakin. Dan setiap kali, ia kembali ke sini—ke kasur reyot ini, ke pagi Selasa yang sama, ke detik yang sama saat penjual bubur meneriakkan dagangannya.
Ia tidak akan bisa lari dari ini. Maka ia harus memahaminya.
Renjana bangkit, mengambil buku tulis lusuh dan pulpen dari laci. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi pikirannya mulai jernih. Kalau ia terjebak di hari yang sama, maka hari ini adalah satu-satunya hari yang ia punya. Dan ia akan mempelajarinya, detik demi detik.
Ia menulis di halaman pertama: ATURAN.
Lalu, di bawahnya:
Satu. Aku bangun setiap pukul 06.00 pagi, hari Selasa. Penjual bubur lewat tepat saat aku bangun.
Dua. Pukul 07.45, Stasiun Kota Lawang meledak. Aku selalu mati, atau hari berulang.
Tiga. Kalau aku mati, atau kalau ledakan terjadi, aku kembali ke pukul 06.00.
Ia berhenti, menggigit ujung pulpen. Ada hal lain yang ia perhatikan, sesuatu yang lebih halus. Setiap kali ia bangun, tubuhnya terasa lebih lelah. Otot-ototnya nyeri tanpa alasan. Pagi ini, ada lingkaran hitam di bawah matanya yang kemarin—atau loop kemarin—belum ada. Seakan setiap putaran meninggalkan jejak pada tubuhnya, meski dunia di sekitarnya tak ingat apa-apa.
Ia menulis:
Empat. Setiap kali aku gagal, aku membayar harganya. Tubuhku ingat. Tubuhku lelah.
Renjana merenung. Berapa lama ini akan berlangsung? Berapa kali lagi ia harus mati? Dan yang lebih penting—kenapa? Kenapa dirinya? Kenapa stasiun ini, hari ini?
Ia memikirkan ledakan itu. Tiga kali ia mengalaminya, dan setiap kali polanya sama. Cahaya putih, gemuruh, panas. Itu bukan kecelakaan listrik atau kebocoran gas—terlalu besar, terlalu tepat waktu. Itu bom. Seseorang menanam bom di stasiun itu, dan meledakkannya pukul 07.45.
Tapi siapa? Dan kenapa Renjana, dari semua orang, yang terjebak mengulang hari ini?
Ia teringat sesuatu. Pada loop pertama, ada dorongan aneh yang menariknya ke jalur tiga, ke titik di mana ledakan berpusat. Seakan ada sesuatu yang memanggilnya, seakan ia memang ditakdirkan berada di sana. Itu bukan kebetulan. Renjana yakin itu bukan kebetulan.
Ia menulis lagi:
Lima. Aku bukan korban acak. Ada alasan kenapa aku yang mengulang ini. Aku harus cari tahu apa.
Ia menatap tulisannya. Lima aturan. Lima petunjuk. Itu belum banyak, tapi itu permulaan.
Renjana berdiri, mengganti baju, dan kali ini ia tidak terburu-buru. Ia tidak akan berlari ke stasiun untuk berteriak pada orang-orang yang takkan percaya. Itu sudah ia coba, dan itu gagal. Ia perlu pendekatan lain. Ia perlu informasi.
Ia akan pergi ke stasiun, ya. Tapi kali ini, ia akan mengamati. Ia akan mencari titik ledakan, mencari siapa yang menanam bom, mencari pola yang bisa ia gunakan. Ia punya satu hal yang tidak dimiliki siapa pun di kota ini: ia tahu apa yang akan terjadi. Dan ia bisa mengulanginya sebanyak yang ia perlukan.
Di warung, Bang Topan menyodorkan kopi. "Yang biasa, Ren."
"Makasih, Bang." Renjana menerimanya, kali ini tanpa terkejut. Ia menatap wajah Bang Topan—wajah yang ramah, yang tak tahu bahwa dalam beberapa jam, kota ini akan berduka. Atau tidak, kalau Renjana berhasil.
"Bang," katanya pelan. "Hati-hati hari ini, ya."
Bang Topan tertawa. "Hati-hati kenapa, Ren? Emang mau ada apa?"
Renjana hanya tersenyum tipis. "Nggak apa-apa. Cuma... jaga diri aja."
Ia meminum kopinya, menatap jalanan basah, dan menyusun rencana. Pukul 07.45 masih jauh. Dan kali ini, ia akan datang sebagai pengamat, bukan sebagai orang gila yang berteriak di peron.
Loop ini, ia bersumpah, akan ia gunakan untuk belajar.