Renjana menghabiskan empat loop berikutnya—loop kelima sampai kedelapan, kalau ia masih sanggup menghitungnya—hanya untuk mengamati.
Setiap kali, ia datang ke stasiun lebih awal—pukul 07.15, kadang 07.10—dan berdiri di sudut yang berbeda. Ia menghafal segalanya. Posisi setiap orang. Arah datangnya kereta. Lokasi tepat di mana cahaya putih pertama kali muncul.
Dan setelah empat kematian itu—delapan kali ledakan menelannya sejak semua ini dimulai—ia mulai melihat polanya.
Ledakan berpusat di jalur tiga, tepatnya di gerbong kedua kereta menuju Tanah Abang yang dijadwalkan berangkat pukul 07.45. Bukan di peron. Bukan di ruang tunggu. Di dalam kereta itu sendiri. Sesuatu—atau seseorang—membawa bom ke dalam gerbong itu.
Renjana menulis di bukunya, yang kini selalu ia bawa, meski ia tahu buku itu akan lenyap saat loop berulang. Menulis membantunya berpikir, meski catatannya tak bertahan.
Loop kesembilan—setelah ini, ia tahu, ia akan berhenti menghitung—Renjana memutuskan untuk naik ke gerbong itu. Kalau bom ada di sana, maka ia harus melihatnya. Ia harus tahu bentuknya, siapa yang membawanya.
Pukul 07.43, ia berdiri di peron jalur tiga, jantungnya berdebar meski ia sudah mengalami ini berkali-kali. Kereta sudah merapat di jalur, pintunya terbuka, menunggu jadwal berangkat. Renjana melangkah masuk ke gerbong kedua.
Penuh sesak. Bau keringat dan parfum murah bercampur. Ia menyusuri lorong sempit, matanya menyapu setiap penumpang. Ibu dengan keranjang belanja. Pemuda dengan earphone. Kakek yang tertidur. Mahasiswi dengan tumpukan buku. Mana? Yang mana?
07.44.
Matanya tertumbuk pada sebuah tas. Tas ransel hitam, diletakkan di bawah kursi di ujung gerbong, tanpa pemilik yang jelas. Renjana mendekat, jantungnya melonjak. Tas itu. Pasti tas itu.
Ia berlutut, tangannya terulur untuk membuka ritsletingnya.
07.45.
Cahaya putih.
Renjana terbangun. Plafon retak. Selasa, 06.00. Bubur ayam.
Ia mendesah, mengusap wajahnya yang kini terasa semakin tirus. Tapi ia tersenyum tipis. Karena sekarang ia tahu. Bom itu ada di dalam ransel hitam, di bawah kursi ujung gerbong kedua. Kalau ia bisa membuangnya sebelum 07.45, mungkin—mungkin—ia bisa menghentikan semuanya.
Loop berikutnya, ia langsung menuju gerbong itu. Kereta menuju Tanah Abang berangkat dari Stasiun Kota Lawang—ini stasiun awalnya. Rangkaian itu sudah merapat di jalur tiga jauh sebelum jadwal, menunggu penumpang, lalu dijadwalkan berangkat pukul 07.45. Maka Renjana naik lebih awal, pukul 07.30, masuk ke gerbong kedua selagi masih lengang, agar bisa mengamati siapa yang membawa ransel hitam itu.
Dan ia melihatnya.
Seorang laki-laki. Tinggi, kurus, mengenakan jaket abu-abu dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Ia naik ke gerbong yang sama, meletakkan ransel hitam di bawah kursi ujung, lalu—anehnya—turun lagi ke peron tak lama sebelum kereta berangkat, meninggalkan ranselnya tepat menjelang pukul 07.45.
Renjana mengikutinya dengan mata. Wajah itu. Ia harus melihat wajah itu.
Laki-laki itu menoleh sekilas sebelum turun, dan untuk sepersekian detik, matanya bertemu dengan mata Renjana.
Mata itu dingin. Tenang. Dan—ini yang membuat darah Renjana membeku—mata itu seakan mengenalinya.
Bibir laki-laki itu bergerak, membentuk satu kata tanpa suara, tepat sebelum pintu kereta tertutup di antara mereka.
"Lagi?"
Renjana terpaku. Pintu menutup, laki-laki itu lenyap di peron. Ransel hitam ada di bawah kursi, hanya beberapa meter darinya. Dan kata itu—lagi—berputar di kepalanya seperti lonceng.
Laki-laki itu tahu. Laki-laki itu tahu tentang loop.
07.45 datang sebelum Renjana sempat bergerak. Cahaya putih menelannya, tapi kali ini, di tengah panas yang membakar, ada satu pikiran yang menyala lebih terang dari semuanya:
Ia tidak sendirian dalam loop ini.