"Lagi."
Kata itu adalah hal pertama yang ada di kepala Renjana saat ia terbangun. Plafon retak, Selasa 06.00, bubur ayam—semua latar yang kini terasa seperti penjara—tak lagi mengejutkannya. Yang mengejutkan adalah satu kata dari bibir laki-laki berjaket abu-abu itu.
Lagi. Seakan ia tahu Renjana sudah mengulang ini. Seakan ia juga mengulanginya.
Renjana duduk, menyandarkan punggung ke dinding. Otaknya bekerja keras. Kalau laki-laki itu juga terjebak dalam loop, maka ia bukan sekadar pelaku. Ia adalah kunci. Mungkin ia tahu kenapa semua ini terjadi. Mungkin ia tahu cara keluar.
Atau mungkin, justru dialah yang membuat semua ini.
Renjana memutuskan: loop ini, ia tidak akan mencoba membuang ransel atau memperingatkan orang. Loop ini, ia akan mengejar laki-laki itu. Ia akan menghadangnya sebelum ia naik kereta. Ia akan memaksanya bicara.
Ia bangkit, bergerak cepat. Ia melewatkan kopi Bang Topan, melewatkan anak dengan bola merah, melewatkan semua titik yang sudah ia hafal. Ia berlari ke stasiun, dan kali ini ia tidak menuju peron jalur tiga, melainkan ke pintu masuk—tempat di mana laki-laki itu akan datang.
Renjana sudah tahu polanya. Laki-laki itu masuk lewat pintu timur, melewati penjual koran, lalu menuju jalur tiga sekitar pukul 07.28. Renjana akan menunggunya.
Pukul 07.25, ia berdiri di dekat penjual koran, matanya mengawasi pintu timur. Hujan rintik membasahi lantai stasiun. Orang-orang berlalu-lalang. Dan tepat pukul 07.27, sosok itu muncul—jaket abu-abu, tudung menutupi kepala, ransel hitam di punggung, langkah tenang yang tak terburu-buru.
Renjana menghadangnya. "Berhenti."
Laki-laki itu berhenti. Perlahan, ia mendongak, dan dari bawah tudungnya, wajah itu muncul. Tirus, pucat, dengan bekas luka tipis di pelipis kiri. Usianya mungkin pertengahan empat puluhan. Matanya—mata yang sama dinginnya yang Renjana lihat di kereta.
"Kamu," kata laki-laki itu pelan. Tidak terkejut. Justru terdengar seperti... lelah. "Akhirnya kamu sampai juga ke titik ini."
"Kamu tahu soal loop," kata Renjana, suaranya bergetar menahan emosi. "Kamu mengulang hari ini, sama seperti aku. Siapa kamu? Kenapa kamu menanam bom itu?"
Laki-laki itu tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. "Banyak yang ingin kamu tanyakan. Tapi kita tidak punya waktu. Tidak pernah cukup waktu." Ia melirik jam besar. 07.29. "Enam belas menit lagi sebelum semuanya berulang. Kamu mau pakai untuk apa?"
"Aku mau kamu hentikan ini. Jangan ledakkan stasiun."
"Aku tidak meledakkan stasiun." Suaranya datar. "Aku mencoba menghentikannya, sama sepertimu. Sudah ratusan kali. Mungkin ribuan. Aku sudah lupa hitungannya."
Renjana terdiam, dadanya naik turun. "Tapi... ransel itu. Bomnya. Kamu yang membawanya ke gerbong."
"Aku memindahkannya." Laki-laki itu menatap Renjana dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Aku memindahkannya menjauh dari pusat penumpang, supaya korbannya lebih sedikit. Itu satu-satunya hal yang berhasil aku ubah, setelah entah berapa ratus loop. Mengurangi korban dari tiga ratus jadi seratus delapan puluh. Itu kemenanganku. Satu-satunya."
Suaranya pecah di kata terakhir, dan untuk pertama kalinya, Renjana melihat sesuatu di balik wajah dingin itu: keputusasaan yang dalam, kelelahan yang melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan.
"Siapa namamu?" tanya Renjana, lebih lembut.
"Dharma." Laki-laki itu menghela napas. "Dan aku sudah terjebak di hari ini jauh lebih lama darimu, Renjana."
Renjana tersentak. "Bagaimana kamu tahu namaku?"
"Karena," kata Dharma, dan ada sesuatu yang mengerikan dalam tatapannya, "ini bukan pertama kalinya kita bertemu. Ini bukan pertama kalinya kamu menghentikanku di pintu ini. Kamu cuma tidak ingat. Kamu tidak pernah ingat."
Jam besar berdentang. 07.30.
"Kalau kamu mau tahu kebenarannya," kata Dharma, "ikut aku. Sekarang. Sebelum loop berulang dan kamu lupa lagi."