Renjana mengikuti Dharma keluar dari stasiun, menembus hujan rintik menuju sebuah kedai kopi kecil di seberang jalan. Mereka duduk di sudut, jauh dari jendela. Dharma memesan dua teh hangat dengan gerakan otomatis seseorang yang sudah melakukannya ribuan kali.
"Mereka tidak akan ingat kita di sini," kata Dharma. "Tidak akan ingat apa pun. Saat loop berulang, semuanya kembali ke awal. Hanya kita—kita yang terjebak—yang membawa ingatan."
"Kenapa kita?" tanya Renjana. "Kenapa kamu, kenapa aku?"
Dharma memutar gelas tehnya. "Aku tidak tahu pasti. Tapi aku punya teori. Dengarkan, karena kita cuma punya lima belas menit, dan setelah itu kamu akan lupa semua ini."
"Aku tidak akan lupa."
"Kamu selalu bilang begitu." Senyum pahit. "Lalu loop berulang, dan kamu kembali jadi orang yang berteriak di peron, mengira hari ini baru pertama kali. Aku sudah melihatmu melewati semua tahap itu, Renjana. Panik. Memperingatkan. Mengamati. Menemukan ransel. Menemukanku. Setiap kali, kamu sampai di titik ini, lalu lupa, lalu mulai lagi dari nol."
Renjana merasa mual. "Maksudmu... aku sudah pernah duduk di sini? Bicara denganmu? Berkali-kali?"
"Berkali-kali," Dharma mengangguk. "Kamu pelan, tapi kamu konsisten. Setiap putaran besar, kamu kembali ke sini. Itu sebabnya aku tahu kamu akan datang. Itu sebabnya aku menunggu."
Renjana mencengkeram gelasnya. "Kalau kamu sudah ribuan loop, kenapa belum berhenti? Kenapa ledakan masih terjadi?"
Wajah Dharma menggelap. "Karena ledakan itu tidak bisa dicegah. Aku sudah coba segalanya. Membuang ransel—muncul ransel lain. Menembak pelaku aslinya—muncul pelaku lain. Mengevakuasi stasiun—keretanya tetap meledak, di terowongan, membunuh lebih banyak. Setiap kali aku menutup satu jalan, takdir membuka jalan lain. Seakan ledakan ini... harus terjadi. Seakan ada sesuatu yang memaksanya terjadi, apa pun yang kita lakukan."
"Itu tidak masuk akal."
"Tidak ada yang masuk akal soal hari ini." Dharma menatapnya tajam. "Tapi ada satu hal yang aku yakini sekarang. Loop ini bukan kecelakaan kosmik. Ini buatan. Seseorang—atau sesuatu—menciptakan loop ini dengan sengaja. Dan ledakan itu adalah jangkarnya. Selama ledakan terjadi, loop terus berputar."
Renjana mencerna kata-kata itu. "Jadi kalau kita mau keluar dari loop, kita tidak boleh mencegah ledakan. Kita harus mencari tahu siapa yang membuat loop ini."
Dharma terdiam lama. Lalu ia mengangguk pelan. "Itu kesimpulan yang sama yang aku capai. Tapi aku terlambat menyadarinya. Aku menghabiskan ratusan loop hanya untuk menyelamatkan orang. Mengurangi korban. Dan setiap nyawa yang aku selamatkan, aku bayar mahal." Ia menggulung lengan jaketnya.
Renjana menahan napas. Lengan Dharma penuh dengan bekas luka—garis-garis tipis memutih, seperti goresan yang tak terhitung jumlahnya.
"Setiap loop meninggalkan jejak," kata Dharma. "Pada tubuh. Pada pikiran. Tubuhmu menua lebih cepat dari dunia di sekitarmu. Aku masuk loop ini di usia tiga puluh dua. Lihat aku sekarang. Aku terlihat empat puluh lima, mungkin lebih. Padahal di luar sana, di kalender dunia, baru lewat satu hari. Selasa yang sama. Selalu Selasa yang sama."
Renjana menatap tangannya sendiri. Ia teringat lingkaran hitam di bawah matanya, otot yang nyeri, kelelahan yang menumpuk. Ia masih muda—dua puluh delapan—tapi berapa lama lagi sampai ia jadi seperti Dharma?
"Itu harganya," bisik Renjana. "Itu yang aku bayar tiap kali gagal."
"Itu yang kita bayar," koreksi Dharma. "Dan harga itu naik terus. Karena itu, dengarkan baik-baik. Aku akan kasih tahu kamu satu hal sebelum kamu lupa. Satu petunjuk yang aku temukan setelah ribuan loop, yang mungkin bisa kamu lanjutkan kalau aku..." Ia berhenti, menelan ludah. "Kalau aku sudah tidak sanggup lagi."
Renjana mencondongkan tubuh. "Apa? Apa petunjuknya?"
Dharma menatap jam dinding kedai. 07.41. Empat menit.
"Bukan ledakan yang jadi jangkar loop ini," kata Dharma pelan, suaranya nyaris berbisik. "Tapi seseorang yang ada di stasiun setiap loop. Orang yang sama, selalu di tempat yang sama, yang tidak pernah jadi korban. Aku menyebutnya Penjaga. Cari dia, Renjana. Cari Penjaga. Dia kuncinya."
"Siapa? Tunjukkan padaku!"
Dharma membuka mulut untuk menjawab.
07.45.
Cahaya putih menelan segalanya.