Renjana terbangun dengan satu kata terbakar di benaknya.
Penjaga.
Plafon retak. Selasa 06.00. Bubur ayam. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda. Ia ingat. Ia ingat Dharma. Ia ingat kedai kopi, bekas luka di lengan, dan kata terakhir itu—Penjaga.
Renjana terduduk, jantungnya berdebar. Dharma bilang ia selalu lupa. Tapi kali ini ia tidak lupa. Kenapa? Apa karena ia akhirnya bertemu Dharma cukup sering hingga ingatannya mulai bertahan? Atau karena petunjuk itu begitu penting hingga sesuatu di dalam dirinya menolak melepaskannya?
Apa pun alasannya, ia tidak akan menyia-nyiakannya.
Ia bangkit, meraih buku tulisnya, dan menuliskan semuanya secepat yang ia bisa, meski ia tahu buku itu akan lenyap. Dharma. Loop ribuan kali. Ledakan tak bisa dicegah. Loop ini buatan. Cari Penjaga—orang yang sama di tempat yang sama tiap loop, yang tidak pernah jadi korban.
Orang yang tidak pernah jadi korban.
Renjana memejamkan mata, memutar kembali setiap loop di kepalanya. Siapa yang selalu ada di stasiun? Siapa yang ia lihat di setiap putaran?
Penjual melati di sudut peron. Petugas keamanan, Sudarmo. Pemuda berjaket kulit di tiang. Perempuan tua penjual melati...
Ia berhenti. Penjual melati.
Setiap loop, perempuan tua itu ada di sudut yang sama, menjual melati yang sama. Renjana tak pernah melihatnya bergerak jauh dari sudut itu. Dan saat ledakan terjadi—Renjana mencoba mengingat—apakah perempuan itu pernah jadi korban? Apakah ia pernah melihat mayatnya, lukanya, kepanikannya?
Tidak. Renjana tak pernah melihat perempuan itu terluka. Bahkan saat ia berteriak di peron pada loop ketiga, perempuan itu hanya menatapnya dengan tenang dan berkata, "Sabar, Nak. Sabar." Setenang seseorang yang tahu bahwa apa pun yang terjadi, ia akan baik-baik saja.
Tangan Renjana mengepal. Mungkinkah?
Ia harus memastikan. Loop ini, ia akan pergi langsung ke penjual melati itu.
Pukul 07.20, Renjana sudah berdiri di peron stasiun, matanya terpaku pada sudut familiar itu. Dan di sana ia duduk—perempuan tua berkebaya lusuh, rambut putih disanggul, keranjang melati di pangkuannya. Sama persis. Selalu sama persis.
Renjana mendekat, jantungnya berdebar. "Permisi, Bu."
Perempuan itu mendongak, dan senyumnya—senyum itu membuat bulu kuduk Renjana berdiri. Karena itu bukan senyum penjual yang berharap dagangannya dibeli. Itu senyum seseorang yang sudah menunggu.
"Kamu ingat," kata perempuan itu pelan. Bukan pertanyaan. "Akhirnya, kamu ingat."
Renjana mundur selangkah. "Ibu... Ibu tahu soal loop."
"Tentu aku tahu." Perempuan itu meletakkan keranjang melatinya ke samping, dan tiba-tiba seluruh kelusuhan di wajahnya seakan menjadi topeng yang longgar. Matanya tajam, jernih, sama sekali tak setua penampilannya. "Aku tahu segalanya tentang hari ini, Renjana. Aku yang menjaganya."
"Menjaga?" Suara Renjana tercekat. "Menjaga apa?"
"Loop." Perempuan itu menatapnya dengan tatapan yang membuat Renjana merasa telanjang, seakan setiap rahasianya terbaca. "Selasa ini. Pukul nol yang selalu kembali. Aku yang menjaganya tetap berputar. Dan kamu, Nak, adalah satu-satunya yang terus berusaha mematahkannya."
Jam besar menunjukkan 07.32. Tiga belas menit.
"Kenapa?" Renjana hampir berteriak. "Kenapa Ibu lakukan ini? Berapa banyak orang yang sudah mati karena loop ini? Dharma bilang ratusan, ribuan kali—"
"Dharma." Perempuan itu menghela napas, dan ada kesedihan di sana. "Jadi kalian sudah bertemu lagi. Laki-laki yang malang. Dia tidak pernah mengerti. Dia kira ini hukuman. Padahal ini perlindungan."
"Perlindungan dari apa?!"
Perempuan itu berdiri, dan meski tubuhnya kecil dan bungkuk, ada kekuatan dalam dirinya yang membuat udara di sekitar Renjana terasa berat.
"Dari apa yang terjadi kalau loop ini berhenti," katanya. "Kamu pikir ledakan ini adalah bencana, Renjana? Ledakan ini adalah satu-satunya hal yang menahan bencana yang jauh, jauh lebih besar. Selama Selasa ini berputar, dunia di luar sana aman. Begitu loop berhenti..." Ia menatap Renjana dengan mata yang penuh peringatan. "Begitu loop berhenti, Rabu akan datang. Dan Rabu, Nak, adalah hari kiamat."