Renjana berdiri terpaku, kata-kata perempuan itu menggema di telinganya. Rabu adalah hari kiamat.
"Ibu bohong," katanya, suaranya bergetar. "Ibu cuma mau membenarkan semua kematian ini. Ratusan orang mati tiap Selasa. Bagaimana itu bisa disebut perlindungan?"
"Karena ratusan lebih sedikit dari miliaran." Perempuan tua itu—Penjaga—berbicara dengan ketenangan yang justru lebih mengerikan dari kemarahan. "Dengar baik-baik, Renjana, karena loop akan berulang dan aku tak yakin kamu akan ingat lagi sejauh ini. Selasa, pukul 07.45, ledakan di Stasiun Kota Lawang. Itu adalah titik di mana segalanya bercabang. Kalau ledakan terjadi sesuai takdirnya, loop berputar, dan dunia tetap utuh. Tapi kalau ledakan itu dicegah—kalau garis waktu dibiarkan maju ke Rabu—maka rangkaian peristiwa yang jauh lebih buruk akan terjadi. Perang. Wabah. Kehancuran. Aku sudah melihatnya. Sekali. Dan aku bersumpah tak akan membiarkannya terjadi lagi."
Renjana menggeleng, menolak percaya. "Tidak masuk akal. Bagaimana ledakan kecil di satu stasiun bisa mencegah kiamat?"
"Karena seseorang di kereta itu," kata Penjaga, "seseorang yang mati dalam ledakan itu, adalah orang yang—kalau ia hidup—akan memulai segalanya. Aku tak akan beri tahu namanya. Karena kalau kamu tahu, kamu akan mencoba menyelamatkannya, dan kamu akan menghancurkan dunia tanpa sadar. Ledakan ini membunuh satu orang yang harus mati, dan ratusan lain hanyalah... kerusakan yang tak bisa dihindari."
Renjana merasa tanah di bawah kakinya bergeser. Selama ini ia mengira ia adalah pahlawan—satu-satunya yang bisa mencegah bencana. Tapi kalau perempuan ini benar, maka justru usahanya mencegah ledakan itulah yang akan membawa bencana lebih besar.
"Dharma tahu ini?" tanya Renjana.
"Dharma menolak percaya, sama sepertimu sekarang." Penjaga menatap jam besar. 07.38. "Dia menghabiskan ribuan loop mencoba menyelamatkan semua orang, dan setiap kali ia hampir berhasil mencegah ledakan, aku harus campur tangan. Aku harus memastikan ledakan tetap terjadi. Itu tugasku. Itulah kenapa aku ada di sini, setiap loop, menjaga agar pukul nol selalu kembali."
"Jadi Ibu... Ibu yang memastikan orang-orang ini mati. Berulang kali."
"Ya." Tidak ada penyesalan dalam suaranya, hanya beban yang tampak telah ia pikul terlalu lama. "Dan aku akan terus melakukannya. Sampai akhir zaman, kalau perlu. Karena alternatifnya jauh lebih buruk."
Renjana mundur, kepalanya berputar. Ada terlalu banyak hal yang harus dicerna. Penjaga yang menjaga loop. Dharma yang melawannya. Ledakan yang harus terjadi. Orang misterius di kereta yang kematiannya menyelamatkan dunia. Dan dirinya, terjebak di tengah semuanya, tak tahu siapa yang harus dipercaya.
"Bagaimana aku tahu Ibu tidak berbohong?" tanyanya akhirnya. "Bagaimana aku tahu Ibu bukan dalang dari semua ini—yang menciptakan loop demi alasan Ibu sendiri?"
Untuk pertama kalinya, Penjaga tersenyum—senyum yang lelah, hampir manusiawi. "Kamu tidak tahu. Itulah tragedinya, Nak. Dalam loop ini, kebenaran selalu punya dua wajah. Dharma akan bilang aku iblis. Aku akan bilang aku penyelamat. Dan kamu harus memilih siapa yang kamu percaya, tanpa pernah benar-benar yakin." Ia mengangkat keranjang melatinya. "Tapi ada satu cara untuk tahu pasti."
"Apa?"
"Cegah ledakan itu." Mata Penjaga menyala. "Cegah, dan biarkan Rabu datang. Kalau aku berbohong, tidak akan terjadi apa-apa, dan kamu bebas. Tapi kalau aku benar..." Ia membiarkan kalimatnya menggantung. "Maka kamu akan menyaksikan akhir dunia dengan mata kepalamu sendiri. Dan tidak akan ada loop lagi untuk memperbaikinya. Karena begitu Rabu datang, Selasa hilang selamanya."
Jam besar berdentang. 07.43. Dua menit.
Renjana menatap perempuan tua itu, lalu menatap peron yang ramai, orang-orang yang tak tahu apa-apa, kereta di jalur tiga yang sebentar lagi membawa kematian mereka. Pilihan yang mustahil menekan dadanya: percaya pada Penjaga dan biarkan mereka mati demi dunia, atau percaya pada Dharma dan pertaruhkan segalanya.
"Aku butuh waktu," bisik Renjana.
"Waktu," Penjaga tersenyum getir, "adalah satu-satunya hal yang kita punya tak terbatas. Dan satu-satunya hal yang tak pernah cukup."
07.45.
Cahaya putih.