Loop reset sebelum mereka bisa mendobrak pintu hijau, dan Renjana terbangun dengan detak jam itu masih bergema di kepalanya. Tik. Tik. Tik. Sebuah jam berdetak di ruang yang seharusnya mati. Dan Penjaga, mengawasi dari ujung lorong dengan ketakutan di wajahnya.
Renjana baru hendak bangkit ketika ia menyadari ia tidak sendirian di kamar kosnya.
Penjaga duduk di kursi reyot di sudut kamar, keranjang melati di pangkuannya, seolah ia sudah menunggu di sana sejak sebelum loop dimulai. Renjana terlonjak, punggungnya menempel dinding.
"Bagaimana Ibu masuk—"
"Loop punya celah, Nak, kalau kamu sudah hidup di dalamnya cukup lama." Suara Penjaga lembut, lelah. Topeng tua di wajahnya tak lagi tampak seperti topeng; ia hanya tampak seperti perempuan tua yang capek. "Aku tak datang untuk menghentikanmu kali ini. Aku datang untuk menunjukkan sesuatu. Karena kamu mulai percaya pada suara-suara yang tidak kamu pahami, dan aku tak bisa membiarkanmu buta."
"Dua kali Ibu menghalangiku. Kenapa aku harus percaya—"
"Kamu tidak harus." Penjaga mengulurkan tangan, dan di telapaknya terbaring setangkai melati. Putih, segar, satu-satunya yang tidak menghitam. "Tapi kamu boleh melihat. Bukan kata-kataku. Bukan kata-kata Dharma. Lihat sendiri apa yang ada di balik Rabu yang dijanjikan kebebasan itu. Sentuh ini, dan aku akan menunjukkan apa yang aku lihat. Sekali, dulu. Saat aku membiarkan loop berhenti."
Renjana menatap melati di telapak keriput itu. Setiap nalurinya berteriak waspada. Ini bisa jadi tipuan, ilusi, jebakan yang dirancang untuk menariknya kembali ke pihak Penjaga. Tapi ia juga lelah ditarik ke sana-sini oleh kata-kata. Dharma menyuruhnya percaya. Pesan kedua menyuruhnya tidak percaya keduanya. Penjaga menyuruhnya melihat. Setidaknya melihat adalah sesuatu yang bisa ia uji.
Ia mengulurkan tangan dan menyentuh melati itu.
Dunia retak.
Renjana berdiri di tengah jalan kota yang ia kenal—tapi bukan kota ini. Langit berwarna oker keruh, bukan kelabu hujan. Asap mengepul dari gedung-gedung yang runtuh. Di kejauhan, suara—bukan klakson, bukan kereta, tapi dentuman, raungan, dan jeritan yang menyatu jadi satu gemuruh panjang. Orang-orang berlarian, wajah-wajah berlumur jelaga dan darah. Seorang anak duduk sendiri di trotoar, menangis tanpa suara, di sebelah sesuatu yang Renjana paksakan untuk tidak menatap terlalu lama. Bau—gosong, anyir, dan sesuatu yang manis-busuk yang membuat perutnya melilit.
Rabu, bisik suara Penjaga di benaknya, menggema dari mana-mana dan tak dari mana pun. Inilah yang kamu bebaskan kalau loop pecah. Bukan kiamat dalam api dan belerang. Tapi ini. Dunia yang terbakar dari dalam karena satu nyawa yang seharusnya padam tetap menyala.
Renjana berputar, mencari celah, mencari bukti bahwa ini palsu. Tapi setiap detail terasa nyata—retakan di aspal, asap yang menggigit matanya, dingin angin yang membawa abu. Terlalu nyata.
Lalu, sama tiba-tibanya, ia kembali. Kamar kos. Plafon retak. Melati di telapaknya layu menjadi cokelat, lalu hitam, lalu abu yang berjatuhan ke lantai.
Renjana terengah, keringat dingin membasahi punggungnya. Tangannya gemetar.
"Itu... itu tidak mungkin nyata," katanya, tapi suaranya tak yakin.
"Aku tidak memintamu percaya." Penjaga berdiri, mengangkat keranjangnya. Di pintu, ia berhenti, dan menatap Renjana dengan tatapan yang nyaris menyerupai kasih sayang. "Aku cuma memintamu sabar, Nak. Sebelum kamu mematahkan satu-satunya hal yang menahan itu semua." Ia melangkah keluar, dan suaranya melayang kembali, halus seperti melati yang gugur. "Sabar."
Renjana terduduk sendirian, abu hitam berserakan di lantai kamarnya, dan untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan melangkah maju, keyakinannya goyah.