Renjana tak tidur—tak bisa, sebab loop tak mengizinkan tidur—tapi sisa hari Selasa itu ia habiskan dengan satu pikiran berputar: apakah visi itu nyata?
Ia mengulang setiap detailnya di kepala. Langit oker. Gedung runtuh. Anak menangis tanpa suara. Bau gosong dan anyir. Awalnya ia menerimanya bulat-bulat—ia merasakannya, mencium baunya, dingin angin abu menyentuh kulitnya. Tapi sekarang, dengan jarak beberapa jam dan kepala yang lebih dingin, kejanggalan-kejanggalan mulai muncul satu per satu, seperti retak halus di kaca yang baru tampak saat cahaya jatuh dari sudut tertentu.
Loop berikutnya, ia memutuskan untuk membedah visi itu, bukan menjalaninya.
Ia memejamkan mata dan memanggil kembali ingatan visinya, memutarnya pelan-pelan seperti rekaman. Dan kali ini ia memperhatikan bukan kengeriannya, melainkan susunannya.
Anak yang menangis di trotoar—Renjana ingat sekarang—mengenakan seragam SD, dengan bola plastik. Bola merah. Persis seperti anak yang ia selamatkan tiap loop. Kebetulan? Mungkin. Tapi dalam dunia yang terbakar dan runtuh, kenapa justru wajah yang muncul adalah wajah yang sudah ia kenal dari Selasanya sendiri?
Gedung-gedung yang runtuh—ia memperhatikan bentuknya. Lengkung jendela kolonial. Bata merah. Itu bukan gedung asing. Itu Stasiun Kota Lawang, hancur, diulang berkali-kali sepanjang cakrawala seakan disalin-tempel. Sebuah dunia kiamat seharusnya penuh hal-hal yang belum pernah ia lihat. Tapi visi itu hanya berisi hal-hal yang sudah ada di kepala Renjana—stasiun, anak bola merah, jalan-jalan yang ia lewati tiap pagi.
Terlalu rapi. Terlalu... dikenal.
Seakan visi itu tidak menunjukkan masa depan, melainkan dirakit dari potongan-potongan yang sudah ada di benak Renjana sendiri. Seakan seseorang mengambil ketakutan-ketakutan yang sudah ia punya dan menyusunnya menjadi sebuah panggung.
Renjana membuka mata, jantungnya berdebar bukan karena takut, melainkan karena curiga.
Ia teringat satu hal lagi. Bau. Dalam visi itu, baunya kuat—gosong, anyir, manis-busuk. Tapi sekarang, mengingatnya, baunya terasa generik, seperti deskripsi bau ketimbang bau itu sendiri. Saat ledakan stasiun menelannya tiap loop, Renjana mencium bau yang sangat spesifik: ozon, logam panas, rambut terbakar. Bau yang tak bisa ia bayangkan sampai ia mengalaminya. Tapi bau dalam visi Rabu adalah bau yang bisa dibayangkan siapa pun yang pernah mendengar kata kiamat.
Visi itu tidak datang dari pengalaman. Visi itu datang dari imajinasi—imajinasi yang dipinjam dari kepalanya sendiri.
"Dia membuatnya," gumam Renjana, dan kata-katanya menggantung di udara kamar. "Penjaga membuat visi itu dari isi kepalaku."
Tapi mengapa, kalau memang nyata, ia perlu memalsukannya? Kalau Rabu benar-benar kiamat, Penjaga tinggal membiarkan Renjana mencegah ledakan dan menyaksikannya sendiri. Ia tak perlu menjahit ilusi dari ketakutan Renjana. Ia tak perlu menyuruh Renjana sabar dan menahannya di gang. Yang menjahit ilusi adalah yang tahu kebenarannya berbeda.
Dingin merayap di tengkuk Renjana. Visi itu bukan peringatan. Visi itu adalah rem—dirancang untuk membuatnya goyah, untuk menahannya di Selasa, persis di saat ia mulai mendekati pintu hijau dan jam yang berdetak di baliknya.
Penjaga ketakutan. Renjana melihatnya di lorong, di wajahnya. Dan orang yang menjaga sesuatu dengan ketakutan adalah orang yang tahu apa yang ia jaga bisa direbut.
Renjana berdiri, keyakinannya kembali, lebih keras dari sebelumnya. Ia tak akan menjadi target dari panggung-panggung yang dibangun orang lain. Ia akan kembali ke kebenaran yang bisa ia sentuh: pintu hijau, jam berdetak, pesan tanpa tanda. Dan satu hal lagi yang Penjaga sebut dalam visinya tanpa sengaja—satu nyawa yang seharusnya padam tetap menyala.
Satu nyawa. Seseorang di kereta itu. Si Pemicu.
Kalau Renjana ingin mematahkan loop, ia harus tahu siapa orang itu.