Penjaga sudah menyebutnya sejak loop kesembilan kehidupan Renjana: seseorang di kereta itu, yang mati dalam ledakan, yang kalau hidup akan memulai segalanya. Selama ini Renjana memperlakukannya sebagai abstraksi—sebuah teka-teki tanpa wajah. Tapi sekarang, dengan visi palsu Penjaga membusuk di belakang kepalanya, Renjana paham: kalau ia ingin tahu kebenaran loop ini, ia harus memberi wajah pada Si Pemicu.
Seseorang di gerbong kedua. Seseorang yang naik kereta menuju Tanah Abang, jalur tiga, dan mati pukul 07.45. Tapi gerbong kedua penuh—puluhan orang tiap loop. Mana yang Penjaga begitu mati-matian ingin pastikan tetap mati?
Renjana menyusun rencana yang membutuhkan kesabaran loop—satu-satunya sumber daya yang ia punya tak terbatas, dan satu-satunya yang membayar tubuhnya tiap kali ia pakai.
Loop demi loop, ia naik gerbong kedua pukul 07.30, saat masih lengang, dan duduk di pojok mengamati. Ia menghafal setiap penumpang yang masuk. Ibu dengan keranjang belanja. Pemuda dengan earphone. Kakek yang tertidur. Mahasiswi dengan tumpukan buku. Karyawan berdasi. Perempuan muda membawa map dokumen. Wajah demi wajah, ia tanamkan ke ingatan, sebab ingatan adalah satu-satunya buku catatan yang bertahan.
Pada awalnya tampak mustahil. Terlalu banyak orang. Bagaimana ia bisa tahu siapa yang penting?
Lalu ia mengubah taktik. Alih-alih mengingat semua, ia memilih satu penumpang per loop, dan mencegah orang itu naik kereta. Ia menabraknya di peron, mencuri tasnya, memancingnya ke arah lain—apa pun untuk membuat satu orang itu tidak naik gerbong kedua. Lalu ia menunggu 07.45, dan mengamati: apakah ledakan tetap terjadi? Apakah ada yang berubah?
Loop pertama, ia mencegah si ibu keranjang belanja naik. Ia menabraknya di tangga peron, pura-pura terpeleset, menumpahkan belanjaannya hingga jeruk dan bawang menggelinding ke segala arah. Perempuan itu mengomel, sibuk memunguti, dan kereta berangkat tanpanya. Renjana menunggu. Ledakan tetap datang, 07.45, tepat waktu, tak berubah. Penjaga di sudutnya tetap tenang, menatap melatinya.
Loop berikutnya, pemuda earphone. Renjana mencopet earphone-nya, memancingnya berdebat, menahannya di peron sampai kereta lewat. Tetap meledak. Penjaga tetap tenang.
Kakek tertidur. Mahasiswi dengan tumpukan buku. Karyawan berdasi. Satu per satu ia singkirkan, dengan tipuan kecil yang ia asah tiap loop—tersandung, salah arah, pertanyaan palsu soal jadwal. Dan satu per satu ledakan tetap datang, tak goyah, seakan orang-orang itu hanyalah angka dalam jumlah korban, bukan poros dari apa pun. Penjaga, di tiap loop, tak bergeming.
Tubuhnya membayar tiap loop. Rambutnya semakin memutih—ia melihatnya di cermin retak tiap pagi, helai demi helai kelabu yang dulu tak ada. Sebuah loop ia mencoba menahan si karyawan berdasi terlalu keras; karyawan itu berteriak minta tolong, petugas datang, dan dalam keributan itu Renjana terhuyung ke tepi peron tepat saat kereta lain melaju. Pukul nol menelannya lebih awal. Ia bangun dengan tulang yang nyeri, punggung yang berdenyut, dan lingkaran hitam yang semakin dalam di bawah matanya. Berapa lama lagi, pikirnya, sampai aku jadi seperti Dharma? Tapi ia terus.
Sampai pada satu loop, ia mencegah perempuan muda dengan map dokumen.
Renjana menghadangnya di peron, pura-pura tersandung, menjatuhkan map itu. Kertas-kertas berhamburan. Perempuan itu—muda, mungkin pertengahan dua puluhan, rambut diikat sederhana, wajah serius—berlutut panik mengumpulkan dokumennya. "Maaf, maaf," kata Renjana, ikut berlutut. Saat ia membantu, ia melihat sekilas tumpukan kertas itu: foto-foto stasiun, denah lama, dokumen berstempel resmi yang sebagian terbakar di tepinya. Lalu peluit kereta berbunyi. Perempuan itu mengumpat pelan, menyambar mapnya, dan—karena Renjana telah menghambatnya cukup lama—tertinggal kereta. Ia berdiri di peron, menatap kereta menuju Tanah Abang berangkat tanpa dirinya.
07.45.
Renjana menahan napas, mengawasi jalur tiga.
Dan untuk pertama kalinya dalam puluhan loop, sesuatu terasa berbeda. Cahaya putih tetap datang—ledakan tetap terjadi—tapi sepersekian detik sebelum dunia padam, Renjana melihat Penjaga di sudut peron, dan wajah perempuan tua itu tidak tenang seperti biasa.
Wajah Penjaga panik.