Pagi berikutnya—loop berikutnya—Renjana berdiri di depan cermin retak kamar mandi kosnya, dan untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat.
Selama ini ia terlalu sibuk mencegah ledakan, memburu Penjaga, mengejar Dharma, sampai lupa memperhatikan tubuhnya sendiri. Tapi setelah melihat Dharma kemarin, ada ketakutan baru yang tumbuh, dan ketakutan itu menyuruhnya berkaca.
Ia mendekatkan wajah ke kaca buram itu, mengusapnya dengan telapak tangan.
Di pelipisnya—pelipis kanan—ada tiga helai rambut putih. Tiga. Renjana dua puluh delapan tahun. Tiga bulan lalu, sebelum semua ini, rambutnya hitam pekat tanpa cela; ibunya selalu bangga akan itu, bilang rambut Renjana mirip almarhum ayahnya.
Tiga helai putih.
Tangannya gemetar saat ia mencabut satu. Ia menatapnya di bawah cahaya jendela. Putih betulan, akarnya pun pucat. Bukan debu, bukan uban kebetulan.
Renjana duduk di tepi bak mandi, jantung berdebar. Ia mencoba berpikir jernih, seperti dulu ia menulis aturan di buku tulis lusuh yang kini sudah lenyap di setiap reset. Ia menyusun aritmatika gelap di kepalanya.
Dharma masuk loop di usia 32, tampak 45-an sekarang. Penuaan tiga belas tahun, kira-kira. Dharma sudah ratusan, mungkin ribuan loop. Anggap saja seribu loop. Berarti, kasarnya, satu helai uban atau satu kerut untuk setiap sekian belas loop. Penuaan tidak terjadi tiap putaran—kalau begitu Dharma sudah jadi tengkorak—tapi menumpuk perlahan, seperti tetesan air yang akhirnya melubangi batu.
Tiga helai putih untuk Renjana. Ia mencoba mengingat sejak kapan ia mulai membawa ingatan—loop kedelapan dalam hidupnya, kalau ia masih memakai istilah aneh itu. Sejak saat itu ia sudah melewati... berapa? Lima puluh loop? Seratus?
Tiga helai. Berarti masih panjang. Berarti tubuhnya belum dimakan separah Dharma.
Tapi itu juga berarti satu hal yang lebih dingin: setiap helai rambut hitam yang berubah putih adalah pasir di jam pasir. Dan jam pasir itu hanya mengalir ke satu arah. Tidak ada reset yang mengembalikan ubannya jadi hitam. Reset hanya mengembalikan dunia—bukan dirinya.
"Aku punya waktu," gumamnya. "Tapi tidak banyak."
Di luar, Bang Topan menyodorkan kopi tanpa diminta, seperti biasa. Renjana menerimanya, dan untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu yang menyakitkan: Bang Topan akan terus muda. Bang Topan akan terus persis sama, gigi ompong di kiri, tawa hangat, di setiap loop, selamanya, tanpa membayar apa pun. Karena Bang Topan tidak ingat. Karena yang tidak ingat tidak membayar.
Hanya yang terjebak yang menua. Hanya yang sadar yang dimakan.
Itu hukuman yang kejam, pikir Renjana. Kesadaran sendiri yang jadi racunnya.
Ia berjalan ke stasiun lebih awal pagi ini. Bukan untuk mencegah ledakan—ia sudah tahu ia tak bisa, belum bisa. Ia datang untuk berdiri di peron dan menatap jam menara, jam besar dengan angka Romawi yang berdentang menuju 07.45 setiap kali.
"Kamu dan aku," bisiknya pada jam itu. "Kita berlomba. Kamu menahan pukul nol. Aku menua. Siapa yang habis duluan?"
Penjual melati tua—Penjaga—duduk di sudutnya yang biasa. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Perempuan tua itu tersenyum, senyum yang sabar dan dingin, senyum orang yang tahu ia punya semua waktu di dunia.
Tentu saja ia tahu, pikir Renjana, perutnya mengencang. Penjaga tidak menua. Penjaga adalah jamnya sendiri.
Itulah ketidakadilan terbesar dari permainan ini. Renjana dan Dharma melawan dengan tubuh yang habis. Penjaga melawan dengan keabadian.
07.45 datang. Cahaya putih. Gemuruh. Panas.
Dan dalam kegelapan, sebelum bubur berteriak lagi, Renjana berpikir: aku harus mempercepat. Sebelum tiga helai jadi tiga puluh. Sebelum aku jadi Dharma. Sebelum aku lupa kenapa aku melawan.