"Kita tidak bisa terus begini," kata Renjana. "Bekerja sendiri-sendiri, mengulang hal yang sama. Kita buang loop seperti orang kaya buang uang. Padahal kita miskin waktu."
Mereka di kedai kopi lagi. Dharma tampak sedikit lebih baik pagi ini—mungkin tidur, kalau bisa disebut tidur, di antara dua reset memang ada bedanya. Tapi tangannya masih bergetar saat ia mengangkat cangkir.
"Lalu apa usulmu?" tanya Dharma.
Renjana mengeluarkan secarik kertas dan pena yang ia pinjam dari kasir kedai. Ia tahu kertas itu tak akan bertahan menembus reset, tapi menuliskannya membantunya berpikir, seperti dulu.
"Pembagian tugas," katanya. "Selama ini kita berdua mengejar semua hal sekaligus. Penjaga, Si Pemicu, sumber SMS, cara mematahkan loop. Hasilnya kita sama-sama berputar di tempat. Mulai sekarang kita bagi."
Ia menggambar dua kolom kasar di kertas.
"Kamu," ujarnya, menunjuk Dharma, "punya pengalaman ratusan loop. Kamu hafal pola ledakan, kamu tahu gerakan Penjaga, kamu yang bisa memindahkan ransel. Tugasmu: tahan garis depan. Tetap pindahkan ransel biar korban minim. Dan—ini yang penting—awasi Penjaga. Pelajari kapan dia bergerak, ke mana dia pergi, siapa yang dia sentuh."
Dharma mengangguk pelan. "Dan kamu?"
"Aku kejar Si Pemicu. Orang di kereta yang katanya kalau hidup memulai kiamat—atau menurut versimu, kalau mati menjaga Penjaga tetap berkuasa. Salah satu dari kita harus tahu siapa orang itu. Karena selama kita tidak tahu, kita berdebat soal bayangan." Renjana meletakkan pena. "Kalau aku temukan siapa Si Pemicu, kita bisa uji. Pindahkan dia keluar gerbong. Lihat apa yang terjadi. Lihat siapa yang berbohong—kamu atau Penjaga."
Dharma diam lama. Di luar, hujan rintik mulai turun seperti yang selalu terjadi sebelum pukul nol di sebagian loop. Tetes-tetesnya menggambar garis-garis di kaca jendela kedai.
"Kamu tahu kenapa aku ragu, kan?" kata Dharma akhirnya.
"Karena kamu tidak sepenuhnya percaya aku."
"Dan kamu tidak sepenuhnya percaya aku." Dharma tersenyum tipis. "Kita berdua membawa SMS yang berbeda. Aku bilang Rabu kebebasan. Penjaga bilang Rabu kiamat. Kamu tidak tahu mana yang benar. Mungkin aku berbohong. Mungkin aku ini perpanjangan tangan sesuatu yang lebih buruk dari Penjaga. Kamu tidak tahu."
Renjana tidak menyangkalnya. Karena itu benar. Di dunia yang mengulang tanpa henti, di mana ingatan adalah satu-satunya mata uang, kepercayaan adalah barang paling mahal yang tak mampu mereka beli.
"Tidak," kata Renjana pelan. "Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal: kalau kita tidak bekerja sama, Penjaga menang tanpa harus melakukan apa pun. Dia cuma perlu menunggu kita habis sendiri-sendiri. Dia punya keabadian. Kita punya tiga helai uban dan tangan yang gemetar."
Dharma menatap tangannya sendiri, yang memang bergetar di atas meja.
"Jadi," lanjut Renjana, mengulurkan tangan, "ini bukan perjanjian dua orang yang saling percaya. Ini perjanjian dua orang yang sama-sama kepepet. Kamu jaga garis depan. Aku cari kebenaran. Kalau salah satu dari kita berbohong, biar waktu yang membongkarnya. Tapi sampai itu terjadi, kita sekutu."
Dharma menatap tangan yang terulur itu lama sekali. Hujan menderas. Jam di dinding kedai—jam biasa, jam yang ikut reset—menunjuk 07.38.
Lalu Dharma menyambut tangan Renjana. Genggamannya dingin, dan lebih lemah dari yang Renjana harapkan.
"Sekutu," kata Dharma. "Sampai waktu membongkar."
Saat tangan mereka berjabat, lonceng pintu kedai berbunyi. Seseorang masuk. Renjana menoleh—dan jantungnya melompat. Di ambang pintu, dengan keranjang melati di lengannya dan tetes hujan di rambut putihnya, Penjaga berdiri menatap mereka berdua.
Ia tersenyum, dan berkata pelan, suaranya menembus deru hujan: "Perjanjian yang manis. Sayang sekali aku sudah mendengar semuanya."