Renjana berdiri begitu cepat sampai kursinya jatuh ke belakang dengan bunyi keras. "Sejak kapan kamu di situ?"
Penjaga tidak menjawab langsung. Ia melangkah masuk, menebar aroma melati basah ke seluruh kedai, dan duduk—tanpa diundang—di kursi kosong di samping meja mereka. Para pelayan dan pengunjung lain tidak menoleh sedikit pun. Bagi mereka, perempuan tua penjual melati ini sama tak terlihatnya seperti udara. Hanya Renjana dan Dharma yang melihatnya sebagai apa adanya.
"Pertanyaan yang salah, Nak," kata Penjaga lembut. "Bukan sejak kapan aku di sini. Tapi sejak kapan aku tidak di sini." Ia meletakkan keranjangnya di meja. Melati di dalamnya segar, putih, harum. "Aku ada di setiap loop. Aku ada di setiap sudut. Kalian berbisik di kedai ini, dan kalian pikir aku tidak mendengar? Aku mendengar setiap pukul nol. Aku sudah mendengar perjanjian kalian ini... entah berapa ratus kali."
Dharma mencengkeram tepi meja. "Dia menggertak, Renjana. Dia tidak bisa di mana-mana sekaligus."
"Tidak bisa?" Penjaga menoleh pada Dharma, dan senyumnya memudar. "Kamu yang masuk loop di usia tiga puluh dua dan sekarang sudah hampir lima puluh. Kamu yang lupa namanya sendiri tadi pagi—jangan kira aku tidak tahu itu. Berani-beraninya kamu bilang aku menggertak." Suaranya tetap lembut, dan justru itu yang membuatnya mengerikan. "Kalian membagi tugas. Dharma jaga garis depan, awasi aku. Renjana kejar Si Pemicu. Apa aku salah?"
Renjana merasa darahnya membeku. Kata demi kata yang baru saja mereka ucapkan, diulang persis. Penjaga benar-benar mendengar semuanya.
"Kenapa kamu cerita kalau memang sudah tahu?" tanya Renjana. "Kenapa tidak diam saja dan biarkan kami gagal?"
Penjaga mengambil setangkai melati dari keranjang, memutarnya pelan di antara jari-jarinya. "Karena aku lelah, Nak. Lelah melihat kalian terus mencoba. Aku ingin kalian berhenti. Aku ingin kalian mengerti bahwa tidak ada jalan keluar yang tidak berujung kehancuran. Aku menjaga loop ini bukan untuk menyiksa kalian. Aku menjaganya untuk mencegah sesuatu yang jauh lebih buruk dari pukul nol."
"Kiamat Rabu," ujar Renjana datar.
"Kiamat Rabu." Penjaga mengangguk. "Dan karena kalian tidak mau berhenti dengan kata-kata, mungkin kalian akan berhenti dengan rasa sakit."
Ia mematahkan tangkai melati di tangannya.
Dan di luar, terdengar teriakan.
Bukan teriakan biasa. Renjana mengenal suara itu—peluit petugas keamanan. Lalu langkah berat, lalu pintu kedai didorong terbuka, dan di sana berdiri Sudarmo, petugas berkumis tebal itu, dengan dua petugas lain di belakangnya. Tapi kali ini Sudarmo tidak ragu. Tidak ada keraguan sesaat seperti di loop-loop awal. Matanya langsung terkunci ke Renjana.
"Itu orangnya!" seru petugas muda di belakang Sudarmo. "Yang bawa ancaman bom! Ada laporan dia bilang stasiun mau meledak!"
Renjana tidak pernah berkata apa pun pada siapa pun di loop ini. Ia menghabiskan seluruh pagi di kedai bersama Dharma. Tidak ada cara petugas tahu—kecuali ada yang memberi tahu mereka.
Penjaga berdiri, mengambil keranjangnya, dan berjalan ke pintu tanpa seorang petugas pun melihatnya. Di ambang pintu, ia berhenti tepat di samping Renjana dan berbisik, "Kamu lihat? Aku tidak perlu membunuhmu. Aku cuma perlu satu kata di telinga yang benar. Aku tahu rencanamu sebelum kamu menyusunnya, Nak. Selalu begitu."
Lalu Sudarmo menubruknya, tangan-tangan kuat mencengkeram lengan Renjana, menyeretnya ke lantai. Dharma bangkit untuk membantu, tapi tubuhnya yang lemah membuatnya terlambat selangkah—seorang petugas mendorongnya kembali ke kursi.
"Renjana!" teriak Dharma.
Tapi Renjana sudah diseret keluar, ke hujan, jauh dari stasiun, jauh dari gerbong, jauh dari Si Pemicu yang harus ia cari. Loop ini hangus. Mereka menyabotasenya sebelum dimulai.
Jam menara di kejauhan berdentang. 07.41. Empat menit lagi. Dan untuk pertama kalinya Renjana mengerti dengan jelas: melawan Penjaga bukan sekadar melawan keabadian. Ini melawan musuh yang membaca pikiranmu sebelum kamu memikirkannya.