"Apa ini?" tanya Renjana, tidak memalingkan tubuhnya dari jam itu. Ia memposisikan dirinya di antara Penjaga dan mekanisme tua tersebut, seolah melindunginya—atau mengancamnya. "Katakan apa ini."
Penjaga melangkah masuk pelan. Di dekat jam itu, gerak-geriknya berubah; ada kehati-hatian dalam langkahnya, seperti orang yang mendekati sesuatu yang suci, atau berbahaya, atau keduanya. "Ini," katanya, "adalah pukul nol. Bukan kiasan, Nak. Ini benda nyatanya. Selama ini kamu menyebut '07.45' seolah itu cuma waktu di kalender. Bukan. 07.45 ada di sini, terbungkus kuningan dan kayu, dan selama jarum jam ini tidak bergerak, dunia tidak akan pernah melewatinya."
"Kamu yang membuatnya berhenti."
"Tidak." Penjaga berhenti beberapa langkah dari Renjana. Melati di keranjangnya, anehnya, mulai tampak sedikit layu di tepi-tepi kelopaknya. "Itu kekeliruanmu, Nak. Itu kekeliruan kalian semua. Kalian pikir aku menciptakan loop ini. Kalian pikir aku punya kuasa membuat dan menghancurkannya sesuka hati." Ia menggeleng pelan, dan untuk sesaat ia terlihat sangat tua, sangat lelah. "Aku tidak menciptakan jam ini. Aku hanya menjaganya. Aku Penjaga. Itu sebabnya namaku Penjaga."
Renjana mengernyit. Kepingan baru, kepingan yang tak ia duga. "Kalau kamu cuma menjaga... siapa yang menciptakan?"
Penjaga tidak menjawab. Ia menatap jam itu, dan ada sesuatu di matanya—kerinduan, mungkin, atau penyesalan—yang membuat Renjana yakin perempuan ini menyimpan luka yang jauh lebih dalam dari yang ia akui.
"Jam ini berhenti di 07.45," lanjut Penjaga, mengalihkan pembicaraan. "Selama ia berhenti, Selasa berputar. Tugasku menjaga ia tetap berhenti. Karena kalau ia bergerak—kalau jarum itu maju ke 07.46—maka Rabu datang. Dan Rabu adalah kehancuran. Sudah kukatakan padamu berkali-kali."
"Dharma bilang Rabu adalah kebebasan."
"Dharma," ucap Penjaga, dan kali ini ada kepahitan dalam suaranya, "tidak tahu apa yang ia bicarakan. Dharma melihat sepotong Rabu, satu kali, dan ia pikir ia memahami segalanya. Dia seperti orang yang mengintip satu jendela dan mengklaim tahu seluruh isi rumah."
Renjana menatap jam itu, jarum yang beku di 07.45, cahaya kekuningan yang berdenyut di antara roda-roda giginya seperti napas makhluk yang tidur. Ia memikirkan SMS yang menembus reset. Ia memikirkan ruang yang berada di luar waktu. Dan ia memikirkan satu hal yang baru saja Penjaga akui tanpa sadar.
"Kamu bukan pencipta," kata Renjana pelan. "Kamu cuma penjaga. Berarti ada orang lain. Ada orang yang membuat jam ini berhenti pertama kali. Ada orang yang memutuskan Selasa harus berulang. Dan orang itu—" ia menatap Penjaga lurus, "—orang itu yang sebenarnya tahu apakah Rabu kiamat atau kebebasan. Bukan kamu. Bukan Dharma. Mereka yang menghentikan jam ini di awal."
Untuk pertama kali sejak Renjana mengenalnya, Penjaga tampak gentar. Bukan marah, bukan mengancam—hanya gentar, seperti orang yang rahasianya mulai terkuak.
"Pergi dari sini," kata Penjaga, suaranya rendah dan tegang. "Sebelum jam menara berdentang. Kamu sudah melihat terlalu banyak."
Tapi Renjana tidak bergerak. Karena di balik kaca jam itu, di antara roda-roda gigi yang berdenyut, ia melihat sesuatu yang baru—sesuatu yang membuat darahnya berdesir.
Ada ukiran kecil di pelat kuningan di dalam mekanisme. Dua kata, tergores tangan, sudah lama, sudah pudar.
PROYEK NOL.